
Yang terjadi selanjutnya, kalian pasti sudah menduganya. Status “kekasih” Arata menempel dengan baik pada diriku. Kantor penerbit di mana aku terikat kontrak, banjir dengan suara telepon berdering. Panggilan-panggilan itu berasal dari para reporter dan wartawan yang ingin mewawancaraiku secara langsung mengenai hubunganku dengan Arata. Karena saat konferensi pers aku tidak banyak bicara dan memberikan penjelasan, kini. . . seluruh perhatian tertuju padaku.
Author Wallflower, wanita beruntung yang bisa menarik hati Arata.
Author Wallflower, wanita paling beruntung di negeri ini. Wanita yang kini dikenal sebagai kekasih Arata.
Mengenal Author Waallflower. Satu dari sepuluh author sukses yang menyembunyikan identitasnya selama ini dan ternyata adalah wanita pujaan Arata-aktor terkenal yang dijadikan calon suami online sejuta wanita di negeri ini.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat ribuan artikel tentang diriku yang kini menyebar luas dalam waktu yang cukup singkat.
Xx1: Aku benar-benar iri dengan Author Wallflower. Tidak hanya pandai dalam menulis dan menduduki satu dari sepuluh posisi Author terkenal, Author Wallflower yang selalu malu-malu menampakkan dirinya itu terlihat cukup cantik dalam kesederhanaannya. Tidak heran jika Arata kita jatuh cinta padanya.
Yy1 membalas komentar xx1: Benar, melihat konferensi pers itu Author Wallflower bahkan memberikan perbedaan yang besar ketika muncul tanpa riasan dan menggunakan riasan ketika duduk di samping Arata. Tanpa Riasan atau menggunakan riasan, Author Wallflower harus dipuji karena kecantikan alami miliknya.
Xx2: Kisah cinta Arata dan Author Wallflower bak kisah romantis dalam novel-novel yang hanya ada dalam khayalan banyak wanita. Meski menggunakan topi dan masker hitam yang menutupi wajahnya, Arata dapat mengenali Author Wallflower dan berlari turun dari podium untuk memeluk Author Wallflower yang berdiri di tengah kerumunan penggemarnya.
Xx1 membalas komentar xx2: Harus kuakui siaran langsung itu bak adegan film dalam film-film romantis. Pelukan Arata benar-benar dramatis dan membuat semua orang yang melihatnya membeku seolah waktu berhenti seperti efek freeze dan slow motion.
Yy2 membalas komentar xx2: Harus kuakui Arata dan Author Wallflower adalah pasangan yang serasi. Mereka pasti dinobatkan sebagai pasangan sensasional dan terbaik tahun ini.
Xx3 membalas komentar xx2: Aku harap keduanya mau ikut acara reality show yang memperlihatkan keseharian mereka sebagai kekasih.
Xx2 membalas komentar xx3: Aku juga ingin melihatnya.
Xx1 membalas komentar xx2: Mengingat bagaimana sebelum ini Author Wallflower terkena skandal, aku yakin artis B pasti iri dengan Author Wallflower.
Xx2 membalas komentar xx1: Aku juga memikirkan hal yang sama.
Zz1: Bagaimana pun aku melihatnya Author Wallflower tidak pantas berada di sisi Arata.
Xx1 membalas komentar zz1: Sebagai penggemar Arata, harusnya kau mendukung pilihan Arata.
__ADS_1
Yy1 membalas komentar zz1: Jangan katakan jika kau iri pada Author Wallflower sama seperti dengan Artis B.
Aku menutup laptopku setelah membaca kolom-kolom komentar di artikel-artikel yang sedang membicarakan diriku. Aku menyandarkan tubuhku di kursi kerjaku dan menatap ke arah langit-langit di apartemenku. Pemandangan serba putih pada langit-langit apartemenku, membuatku mengingat semua hal yang belum lama ini aku lakukan bersama dengan Arata sebagai kekasihnya.
“Author, ayo makan bersama!”
Arata benar-benar memanfaatkan apartemen kami yang bersebelahan. Arata menggunakan apartemenku sebagai alamat baginya untuk memesan makanan dan berbagai barang lainnya. Setiap ada waktu luang, Arata akan datang ke apartemenku hanya sekedar duduk dan makan di depan TV ku. Arata akan datang untuk makan ketika sedang memiliki jadwal kosong. Cara kami berkencan memang tidak seperti kebanyakan pasangan lainnya yang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar: berjalan bersama, bergandengan tangan, makan bersama, bermain ke tempat-tempat wisata bersama dan mengambil foto bersama.
“Apa yang kau lakukan, Author?”
“Bagaimana kalau kita masak bersama hari ini?”
“Apa yang ingin kau makan hari ini, Author?”
“Author, aku ingin menonton film ini. Bagaimana jika kita menontonnya bersama?”
Kencan yang sering kami lakukan adalah duduk di depan TV di dalam apartemenku, menonton film dan makan bersama. Sesekali aku dan Arata akan makan bersama atau sesekali Arata hanya akan duduk diam di depan TV ku ketika aku sedang sibuk mengerjakan novel keenamku. Atau jika kami tidak punya waktu bertemu karena jadwal Arata yang sedang padat, Arata hanya akan memintaku keluar ke balkon apartemenku dan melihat wajahku.
“Ucapan macam apa itu?” balasku pada Arata yang terhubung dengan panggilan ke ponselku. “Apa kau sedang merayuku, benalu menyebalkan?”
“Ini adalah kata-kata dari dalam hatiku. Melihat wajah Author, mendengar suara Author dan memeluk tubuh Author, rasanya sudah mampu memberiku banyak tenaga.” Arata melihatku dengan tatapan mata yang dalam dan senyuman bahagia di wajahnya.
“Kalau begitu. . . kau tidak perlu memelukku, tidak perlu datang ke apartemenku dan cukup lihat aku saja dari balkon apartemenmu seperti ini.”
“Itu tidak bisa dilakukan, Author. Memelukmu akan mengisi energi hingga 87%, melihat senyumanmu akan mengisi energiku hingga 65%, mendengar suaramu akan mengisi energi hingga 40% dan melihatmu dari kejauhan seperti ini hanya akan mengisi energi hingga 25%.”
“Kau pandai sekali membuat rayuan.” Aku membalas Arata dengan menatap tajam ke arahnya.
“Itu bukan rayuan, Author. Ucapanku itu jujur dari dalam hatiku, Author. Memeluk Author dan mencium aroma tubuhmu, membuatku kembali berenergi.”
Aku tiba-tiba bergidik mendengar ucapan Arata itu. Aku bahkan melangkahkan kakiku sedikit menjauh dari jangkauan pandangan Arata. “Berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, Arata!!”
__ADS_1
Arata tersenyum mendengar laranganku padanya. “Aku tidak akan mengatakannya lagi. Tapi kenapa Author tidak bertanya kenapa pelukan darimu hanya mengisi energiku hingga 87% dan bukan 100%?”
“Aku tidak perlu menanyakan hal itu padamu, Arata. Aku sudah tahu apa yang kau pikirkan ketika mengatakan 87%.”
“Hahahaha.”
Arata tertawa kecil mendengar ucapanku. Tawa itu hanya muncul sejenak dan kemudian wajah Arata menjadi serius. Ibu jarinya mengusap bibirnya yang kemerahan karena riasan di wajahnya dan gerakan itu sudah cukup sebagai jawaban untuk dugaan di dalam benakku. Dugaanku dengan apa yang dipikirkan Arata adalah sama.
“Tidak seru, Author!!! Kau membaca pikiranku lebih dulu!!”
“Aku ini penulis, Arata. Membaca jalan pikiran orang lain adalah sesuatu yang sering aku lakukan untuk karakter dalam tulisanku.”
Kali ini. . . Arata menggigit bibirnya dan berusaha untuk menggodaku lagi. “Energiku bisa terisi hingga 100% jika Author mau menerima ciuman dariku. Dan aku tahu. . . hal itu bukanlah sesuatu yang bisa Author lakukan dengan mudah selama Author masih belum menerimaku sebagai kekasih Author sebanyak 100%.”
“Kau tidak marah?” tanyaku penasaran.
Arata menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku menghargai Author dan setiap pilihan Author. Aku bersedia menunggumu selama apapun, Author. Hanya saja. . .”
“Hanya saja apa?”
“Tolong jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, Author! Aku, hatiku dan perasaanku ini akan terus memikirkan dan merindukanmu. Jangan biarkan aku terlalu lama menunggumu, Author.” Arata memandangku dengan tatapan dalam seolah-olah dia ingin sekali memelukku saat ini. “Author. . .”
“Apa??”
“Bisakah aku memasang label di keningmu itu?”
Aku mengerutkan keningku mendengar ucapan aneh Arata. “Label apa yang kamu maksud?”
“Label bahwa wanita ini adalah milikku seorang dan tidak seorang pun yang bisa menyentuhnya selain aku. Aku sangat-sangat mencintaimu hingga memasang label itu di keningmu, Author.”
“. . .” Aku membeku mendengar ucapan Arata itu dan tidak bisa mengatakan apapun untuk membalas ucapan Arata itu.
__ADS_1
Beginikah rasanya dicintai dengan dalam oleh seseorang? Benakku bertanya pada diriku mendengar ucapan dan melihat tatapan Arata padaku. Inikah perasaan yang diinginkan semua orang hingga membuat banyak orang melakukan apapun untuk mendapatkannya?