MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
TIDAK DIDUGA DAN TIDAK DISANGKA PART 1


__ADS_3

            Narator’s POV


            Laksmana bersama dengan Leo dan beberapa pasukan kecilnya mendatangi lokasi di mana pemutaran film perdana film Love Like Ectasy. Tapi sesuatu yang tidak mereka duga terjadi begitu tiba di lokasi.


            “Ada apa ini?? Kenapa mereka semua berhamburan keluar?” Leo bertanya pada Laksamana ketika melihat semua undangan berhamburan keluar dengan wajah pucat pasi.


            “Firasatku mengatakan sesuatu yang uruk terjadi. Cepat bantu mereka keluar dan lihat apa yang terjadi di dalam sana, Leo!!”


            “Baik, Pak.”


            Leo bersama dengan beberapa rekannya membantu untuk menenangkan undangan dan membantu untuk keluar dengan tertib. Dengan bantuan security dari gedung, pekerjaan itu bisa selesai lebih cepat. Tapi begitu melihat ke bagian dalam aula, Leo bersama dengan rekan-rekannya terkejut dengan pemandangan yang mengerikan itu.


            “Pak! Ini ...” Leo berteriak memanggil Laksamana.


            Setelah semua undangan keluar, Laksamana masuk ke dalam aula dan melihat pemandangan yang sama dengan Leo-asistennya. “Sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.”


            “Apakah ini adalah pria itu??” Leo bertanya  kepada Laksamana.


            “Mungkin saja. Tapi sebelum itu, temukan lebih dulu Tuan Arata dan Nona Asha! Aku perlu mengajukan pertanyaan kepada mereka berdua.”


            “Pak Detektif!” Dari kejauhan ... seseorang berteriak. Laksmana menolehkan kepalanya dengan mengenali wajah dari orang yang memanggil dirinya. Laksamana melihat pria yang diidolakan putrinya bersama dengan beberapa orang dengan setelan jas hitam yang mengikutinya.


            “Ya, Tuan Arata. Baru saja saya meminta asisten saya untuk menemukan Tuan, tidak disangka Tuan mendatangi saya sendiri sebelum saya melakukan itu.” Laksamana belum menyadari jika Arata saat ini menemuinya dengan wajah cemas dan khawatir.


            “Tolong temukan Author, ah maksud saya, kekasih saya Asha. Karena kekacauan tadi ... saya kehilangan dia. Saya sudah berusaha untuk mencarinya, tapi tidak bisa menemukannya.”

__ADS_1


            Laksamana melihat ke arah Leo dan tanpa bicara sepatah kata pun, Leo mengerti arti dari tatapan Laksamana itu. Bersama dengan beberapa rekannya, Leo langsung bergegas menemukan Asha yang mungkin menjadi sasaran dari kasus ini.


            “Sebelum itu, Tuan Arata. Bisakah saya bertanya?”


            “Silakan, Pak.”


            “Korban ...” Laksamana melihat ke arah korban yang tadi digantung dengan gaun merah di tengah-tengah panggung dan kini sudah diturunkan oleh bawahan Laksamana. “Siapa korban yang tergantung di sana tadi?”


            “Bora. Wanita itu bernama Bora. Dia adalah lawan main saya di film ini, Pak.”


            Laksamana mengingat berkas mengenai Asha dan wanita yang membuat masalah bagi Asha belum lama ini. “Mungkinkah wanita ini yang menyulitkan Nona Asha dan membuatnya sempat terlibat masalah belum lama ini?”


            Arata menganggukkan kepalanya. “Itu benar, Pak.”


            “Ah ... wanita ini rupanya. Dia memang cantik, tapi sayang sekali kepribadiannya berbanding terbalik dengan wajahnya.” Laksamana menatap wajah Bora yang mati yang kini tergeletak di atas panggung yang penuh dengan cairan berwarna merah. Laksamana mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Arata. “Apakah pria ini tadi datang kemari?”


            Laksmana kemudian menjelaskan penemuannya sebelum kemari kepada Arata dan membuat Arata dalam sekejap langsung memasang wajah gelap karena terkejut, tidak percaya, cemas dan takut di saat yang bersamaan.


            “Bapak yakin orang itu adalah Sena??” Arata bertanya sekali lagi untuk memastikan setelah Laksamana memberikan penjelasannya.


            “Tadinya saya tidak yakin. Memang di antara semua kenalan dari Nona Asha ada beberapa orang yang saya curigai. Dari tinggi tubuh hingga cara berjalan, pria bernama Sena ini sangat cocok dengan pria berbaju hitam yang muncul di rekaman CCTV rumah sakit dan CCTV di dekat rumah keluarga Nona Asha. Saya mengunjungi apartemennya untuk mengecek alibinya. Entah itu keberuntungan atau kebetulan, saya bertemu dengan tetangganya yang mengeluh tentang Sena dan akhirnya kami menemukan rekaman CCTV di gedung apartemennya. Saya dan asisten saya kemudian membuka paksa apartemennya dan menemukan banyak gambar Nona Asha di dalamnya.”


            “Pak.” Leo berlari menghampiri Laksamana yang sedang memberikan penjelasan  kepada Arata.


            “Bagaimana??” Laksamana langsung bertanya tentang hasil pencarian dari Leo bersama dengan rekan-rekannya.

__ADS_1


            Leo menggelengkan kepalanya. “Maaf, Pak. kami tidak bisa menemukannya.  Tapi ... Bapak sepertinya harus melihat ini.”


            Laksamana langsung mengikuti Leo dan Arata yang tahu bahwa Asha saat ini mungkin berada dalam bahaya, mengikuti Laksamana. Leo membawa Laksamana dan Arata menuju ke ruang CCTV gedung dan memperlihatkan rekaman ulang kekacauan yang terjadi tadi.


            “Pria itu membawa Nona Asha pergi di tengah keributan tadi, Pak.” Leo menunjuk ke arah Asha yang tangannya ditarik oleh Sena di tengah kekacauan tadi.


            “Sial!!!” Arata memukul meja di depannya karena kesal. “Karena kekacauan tadi, karena baris kursiku dan Asha yang berbeda, aku tidak berada di dekatnya. Tidak pernah aku duga dan tidak pernah aku sangka, pelaku yang selama ini menguntit Asha adalah Sena.”


            “Kejadian tadi ... kekacauan tadi ... memang dilakukan untuk memisahkan Tuan dengan Nona Asha. Pria itu pasti tahu jika selama  ini Tuan selalu menjaga Nona Asha dan bahkan membuat beberapa pengawal menjaganya sepanjang waktu.  Tapi hari ini ... acara ini ... karena ada undangan posisi duduk yang berbeda, pria itu menemukan celah dan kesempatan. Pengawal yang berjaga di bagian luar, lalu Tuan yang duduk jauh dari Nona Asha, itu adalah kesempatan yang ditunggu-tunggunya. Dengan membuat kekacauan, semua orang akan berhamburan keluar dan membuat semua orang kebingungan di saat seperti itu.” Laksamana berusaha menjabarkan apa yang dilihatnya dari rekaman CCTV di mana Sena membawa Asha di tengah kekacauan. “Sepertinya ... pria ini cukup cerdik. Leo!”


            “Ya, Pak.”


            “Kumpulkan semua orang yang mengenal Sena. Aku butuh kesaksian mereka dan mungkin satu di antara mereka ada yang tahu ke mana Sena membawa Nona Asha.”


            “Baik, Pak.”


*


            Aku membuka mataku dan menemukan aku berada di ruang asing yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Di saat yang sama ... rasa pening menyerang kepalaku dan membuat penglihatanku sedikit kabur. Di mana ini? Aku menanyakan hal itu di dalam benakku.


             Krekkk ... Suara pintu terbuka dan membuatku yang masih dalam keadaan pusing, terkejut dan tersentak. Aku berusaha bergerak menjauh, tapi aku baru sadar jika kedua tangan dan kedua kakiku kini terikat ke masing-masing kaki penyangga tempat tidur.


            “Kau sudah bangun, Asha?”


            Dari arah pintu itu, Sena masuk ke ruangan di mana aku berada dan tersenyum melihatku. Senyuman itu ... adalah senyuman asing dan mengerikan yang belum pernah aku lihat dari Sena. Benakku kemudian memutar kejadian sebelum aku kehilangan kesadaran dan akhirnya terbangun di ruangan asing ini.

__ADS_1


            Dialah orang yang menguntitku dan juga membunuh keluargaku. Aku benar-benar tidak pernah menduga dan tidak pernah menyangkanya jika semua kejadian buruk itu adalah ulah Sena.


 


__ADS_2