MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
WAKTU DAN TAKDIR YANG MENGIKAT PART 4


__ADS_3

“Apakah saya bicara dengan Nona Asha?”


            Aku menganggukkan kepalaku menjawab panggilan masuk di dalam ponselku. “Ya, itu benar.”


            “Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan jika rumah keluarga Nona semalam mengalami kebakaran dan kemungkinan semua anggota keluarga di dalam kediaman ini telah tewas. Kami harap ... Nona bisa datang ke kantor polisi X untuk memberikan kesaksian dan mengidentifikasi korban.”


            Mendengar penjelasan itu ... aku tanpa sadar melepaskan ponselku dan membuatnya jatuh ke lantai. Air mataku mengalir tanpa aku sadari dan untuk sejenak aku membeku karena tidak bisa mempercayai apa yang baru saja aku dengar.


            “Asha!!”


            “Author!!!”


            Semua orang yang berada di apartemenku langsung mendekat ke arahku begitu melihat apa yang terjadi padaku. Wajah semua orang yang tadinya penuh dengan tawa kini berubah menjadi cemas ketika melihat apa yang terjadi padaku.


            “Author, apa yang terjadi???” Arata yang menyadari air mata mengalir di wajahku langsung memegang wajahku dengan kedua tangannya sembari menghapus air mata yang terus mengalir itu.  “Kenapa menangis, Author??”


            “Asha???? Kenapa kau menangis??” Warda yang melihatku menangis juga langsung bertanya padaku dengan wajah cemas. “Apa yang terjadi, Asha??”


            Aku ingin membuka mulutku dan bicara, tapi tiba-tiba  suaraku tidak bisa keluar dari mulutku dan aku hanya bisa terus menangis. Arata yang tidak tahu apa yang baru saja aku dengar, hanya bisa memeluk tubuhku. Sementara Warda dan Sena hanya bisa melihat ke arahku dan Arata dengan wajah cemas dan sedih.


*


            Arata’s POV

__ADS_1


            Butuh waktu yang lama bagiku untuk membuat Author akhirnya bisa merasa tenang. Tangisannya masih tidak berhenti meski kali ini tidak separah tadi. Setelah pus menangis, Author akhirnya bisa mengatakan apa yang terjadi padanya dan alasan kenapa dia tiba-tiba menangis dan membuat semua orang terkejut.


            “Orang tuaku meninggal dalam kebakaran yang terjadi semalam, itulah yang pihak kepolisian katakan padaku di panggilan yang aku terima tadi.”


            Setelah mendengar ucapan itu, aku bersama dengan Author dan Kak Rama yang sedang menungguku di bawah langsung bergegas menuju ke lokasi di mana rumah orang tua Author mengalami kebakaran. Nona Warda dan Sena tidak bisa ikut dengan kami karena tanggung jawab pekerjaan yang sedang menunggu mereka.


            “Kabari aku, Asha, Tuan Arata.”  Nona Warda mengatakan kalimat itu sebelum berpisah dengan kami dan pergi bersama dengan Sena menuju ke kantor penerbit.


            “Aku mengerti.” Aku membalas ucapan Nona Warda menggantikan Asha yang saat ini sedang kalut dan tidak bisa berpikiran dengan jernih.


            Setelah berpisah, mobil yang dikendarai oleh Kak Rama membawa kami ke lokasi di mana kebakaran terjadi. Perjalanan menuju ke lokasi itu membutuhkan waktu hampir satu jam karena jalanan macet oleh mobil pemadam kebakaran dan banyaknya orang yang datang ke lokasi karena rasa penasaran mereka. Selama perjalanan itu ... Author tidak henti-hentinya menangis. Aku terus memeluknya berusaha untuk menenangkannya.


            Aku tahu saat ini ... hati Author sedang hancur dan pikirannya sedang tidak karuan karena apa yang dialami oleh keluarganya. Di saat seperti ini ... tiba-tiba aku memikirkan ucapan Author beberapa hari yang lalu-ucapannya mengenai keluargaku dan keluarganya.


“Jadi ... kau yang masih punya kesempatan untuk berbaikan dengan keluargamu, kau yang masih dipedulikan oleh orang tuamu, jangan sia-siakan waktu yang kamu miliki. Karena jika mereka sudah tidak memedulikanmu, mereka sudah mengabaikanmu, kau tidak akan punya kesempatan untuk kembali pada mereka lagi.”


            Dalam sekejap ... pikiran itu masuk ke dalam benakku dan berbicara padaku.


            Haruskah aku berbaikan dengan Ibu dan Ayah? Haruskah aku berbaikan dengan merek agar kelak tidak menyesal seperti Author saat ini? Aku melihat Author yang masih terus menangis dalam pelukanku.  Aku memikirkan beberapa hari yang lalu, Author tiba-tiba teringat pada keluarganya dan mengunjungi rumah lamanya. Hari itu ... Author memilih untuk tidak muncul di depan keluarganya setelah sekian lama karena tidak ingin membuat kebahagiaan keluarganya hancur karena kehadirannya. Dan sekarang yang terjadi?? Author mungkin menyesali pilihannya saat itu karena dalam hitungan hari, keluarganya tewas dalam kebakaran.


            Begitu tiba di lokasi ... Author langsung berlari keluar dari dalam mobil. Author langsung menunjukkan identitasnya kepada pihak kepolisian yang sedang memeriksa lokasi dan sekitarnya. Aku dan Nara yang melihat Author berlari, langsung mengikutinya dari belakang. Sementara itu Kak Rama ... mencari lokasi parkir untuk mobil kami dan nanti akan menyusul kami.


            “Saya Asha, Pak.”

__ADS_1


            “Nona Asha ... akhirnya Nona tiba juga.”


            “Keluarga saya ... di mana keluarga saya?? Apakah semua orang di dalam rumah tewas??”


            Polisi yang ditemui Asha menganggukkan kepalanya dengan wajah sedih. “Ya, Nona. Empat korban yang diduga Tuan dan Nyonya di rumah ini beserta dua anaknya tewas dalam kebakaran ini. Mayat korban sudah kami bawa untuk dilakukan autopsi. Mungkin nanti kami akan membutuhkan DNA Nona Asha untuk memastikan identitas korban dalam kebakaran ini.”


            “Lalu ... kebakaran ini, kenapa bisa terjadi??”


            “Ini masih dugaan, tapi kami rasa ada seseorang yang dengan sengaja membakar rumah ini beserta orang-orang di dalamnya. Kami sudah memeriksa bagian dalam rumah dan tidak menemukan kebocoran gas atau apapun yang bisa menjadi penyebab kebakaran dari dalam rumah. Lalu ... dua korban yang merupakan dua anak sekaligus adik dari Nona Asha, ditemukan di dekat pintu keluar. Keduanya sepertinya berusaha untuk keluar dan menyelamatkan diri tapi mereka tidak bisa keluar. Seperti ada yang sengaja membuat jalan keluar dari rumah ini tidak bisa terbuka.”


            Mendengar penjelasan itu, aku melihat getaran di tangan Author. Aku yang mengenali gejala itu langsung mendekat ke arah Author dan bersiap untuk menangkap tubuh Author jika dia ambruk.


            “Berpeganglah padaku,  Author!”


            Aku mengulurkan tanganku untuk Author agar dia bisa tetap berdiri setelah mendengar kejadian buruk ini.


            “Nona baik-baik saja?”


            Author menganggukkan kepalanya. “Ya, Pak.”


            Aku melihat Author berusaha bertahan dalam situasi ini, meski keadaannya saat ini jauh dari kata baik.


            “Nanti ... kami juga membutuhkan keterangan dari Nona. Mungkin saja ... ada orang yang memiliki dendam dengan keluarga Nona hingga dengan sengaja menyulut kebakaran ini.”

__ADS_1


            Author yang berusaha untuk menguatkan dirinya menatap ke arah rumahnya yang kini telah menjadi puing-puing yang bahkan tidak lagi utuh. Melihat kerusakan yang cukup besar dan bagian bangunan rumah yang nyaris habis dilahap api, aku yakin kebakaran yang terjadi semalam adalah kebakaran yang cukup hebat. Sama seperti kebakaran itu, dendam orang yang tega membakar rumah ini bersama dengan orang di dalamnya pasti juga besar.


            Kira-kira ... siapa orang yang tega melakukan hal ini? Perbuatan buruk apa yang dilalukan oleh keluarga Author hingga harus mengalami pembalasan seperti ini?


__ADS_2