MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SKENARIO DAN DRAMA KEHIDUPAN PART 4


__ADS_3

            “Senang bisa mendengarnya, Asha.” Sena membalas senyumanku dengan senyuman darinya. “Rasanya. . . aku sedikit mengerti alasanmu menjadi penulis.”


            “Kukira kau akan menertawakanku. . . tapi sepertinya kamu mengerti, Sena.”


            “Aku mengerti apa yang kamu maksud, Asha.” Sena menganggukkan kepalanya dan kemudian bangkit dari duduknya. “Aku harus segera kembali ke kantor.”


            “Ah ya. . . aku melupakan hal penting itu.” Aku ikut berdiri dan mengantar Sena menuju ke pintu apartemenku.


            Sena memasang sepatunya dan bersiap untuk pergi. “Ah. . . aku lupa. Tolong buka ponselmu, Asha. Ada berita terbaru tentangmu dan kali ini berita itu adalah berita bagus.”


            Aku menganggukkan kepalaku. “Aku akan membukanya setelah kau pergi, Sena.”


            “Baiklah kalau begitu sampai jumpa, Asha.” Sena membuka pintu apartemenku dan melangkah keluar dari sangkarku ini.


            “Sampai jumpa dan hati-hati.” Setelah itu aku menutup pintu apartemenku dan segera mengambil ponsel milikku dan melihat artikel yang dimaksud oleh Sena. Begitu aku mengetik kata Wallflower dalam mesin pencarian, aku menemukan artikel baru yang sepertinya dimaksud oleh Sena.


            Author Wallflower bukan Pelaku Perundungan melainkan Korban Perundungan.


            Aku membaca artikel itu dan menemukan apa yang tertulis dalam artikel itu adalah apa yang sebenarnya terjadi di masa sekolahku. Perundungan itu. . . masa sekolahku yang buruk serta kenangan buruk itu sesuai dengan apa yang tertulis di dalamnya.  Hanya saja. . . alasan aku menerima perundungan itu, tidak dijelaskan dan sepertinya masih tidak ada orang yang tahu tentang hal itu.


            Sudah cukup begini. Ya. . . begini sudah cukup. Aku merasa sedikit lega melihat artikel yang muncul membela diriku. Dalam sekejap. . . aku mengingat ucapan Arata saat aku menolak dirinya masuk ke dalam apartemen milikku.


            “Setelah ini. . . aku akan merusak sangkar dingin milik Author itu dan sekali lagi menjadi bintang keberuntungan untuk Author. Setelah ini. . . aku akan membuat Author membuka pintu ini dengan sendirinya dan berlari ke arahku.”


            Aku tersenyum kecil melihat ke arah artikel itu dengan ingatanku yang memutar kembali saat aku menatap pintu besi dan mendengarkan ucapan Arata itu. Kau berusaha dengan keras hanya untuk membuatku keluar dari dalam sangkar ini. Kenapa kau melakukannya? Bahkan jika kau adalah bintang keberuntunganku sekalipun,, kau tidak perlu melakukan hal sejauh ini untukku, Arata. Kau. . .  memang benalu yang menyebalkan. Tidak salah, aku memberimu sebutan itu.

__ADS_1


*


            Narator’s POV


Dua hari kemudian artikel tentang Author Wallflower kembali muncul. Artikel ketiga yang muncul kali ini seperti dugaan Arata dan Rama adalah artikel yang berniat menjatuhkan Author Wallflower seperti pada artikel pertama yang beredar.


“Hei, Kak.” Arata yang sedang duduk di kursi belakang, melepas safety beltnya dan menunjukkan ponselnya kepada Rama dan Nara yang duduk di kursi depan. Kali ini Rama duduk di kursi penumpang dan Nara yang duduk di kursi pengemudi karena Rama perlu mengerjakan banyak hal.


“Ada apa, Arata? Kenapa kau melepas safety beltmu?” Rama melirik ke arah Arata.


            “Lihatlah ini!” Arata menunjukkan ponselnya kepada Rama. “Sepertinya umpan kita berhasil ditangkap olehnya. Mereka memposting artikel baru lagi dan kali ini membahas tentang perundungan yang menimpa Author di tempatnya bekerja. Sama seperti sebelumnya, mereka membuat Author sebagai pelaku padahal Author adalah korbannya.”


            “Secepat itu rupanya. . . .” Rama membalas ucapan Arata sembari sibuk dengan tablet miliknya dan mengatur beberapa jadwal untuk Arata.


            “Setelah ini. . . aku akan melemparkan bukti dan saksi bahwa Nona Asha memang tidak bersalah dalam dua kasus yang menimpanya. Mereka seharusnya yang meminta maaf kepada Nona Asha dan bukan malah menyalahkan perbuatan buruk mereka kepada Nona Asha.”


            “Hanya itu?” Arata melihat ke arah jalanan yang dilaluinya.


            “Ya, hanya itu. Tapi jika rencana itu tidak berhasil dan mereka mengeluarkan skandal Nona Asha denganmu, kau yang harus bersiap-siap, Arata. Bukankah kau bilang kau ingin membuka rahasiamu itu sebagai kartu terakhir? Aku akan menyiapkan panggung terbaik untukmu, Arata.” Rama memberi arahan kepada Arata dengan wajah tenang seolah apa yang dilakukan Arata sama sekali tidak akan berpengaruh pada popularitas Arata.


            “Kakak benar-benar mengizinkanku melakukannya? Kakak tidak takut popularitasku menurun dan mungkin aku bisa kehilangan banyak tawaran iklan?”


            “Karena itulah aku bekerja sebagai manajermu, Arata. Aku selalu memperhitungkan setiap langkah yang akan aku ambil dan langkah ini pun, jika berhasil akan membuat namamu semakin terkenal, Arata.”


            Arata memandang Rama dengan wajah sedikit ketakutan. “Kak Rama, kau manajer yang menakutkan.”

__ADS_1


            Di sisi lain. . . .


            Bora sedang menghubungi Lusi ketika berada di dalam mobilnya menuju ke lokasi syuting.


            “Kau benar-benar hebat, Lusi. Tidak aku sangka kau akan menemukan orang yang mengenalnya ketika bekerja di perusahaan konstruksi.”


            “Berkat artikel pertama yang kau lepas, menemukan orang yang mengenal Asha ketika bekerja dulu bukanlah hal yang sulit. Hanya saja. . .”


            “Hanya saja apa??” Bora bertanya kepada Lusi melalui panggilannya dengan mata menatap ke arah tablet miliknya sembari melihat artikel buruk tentang Author Wallflower yang baru saja dirilis oleh reporter suruhannya.


            “Hanya saja. . . aku merasa Asha adalah wanita yang bodoh. Tidakkah kamu berpikir hal yang sama denganku, Bora?”


            “Maksudnya?” Bora bertanya karena tidak mengerti.


            “Perundungan yang diterimanya semasa sekolah, harusnya menjadi pelajaran bagi Asha. Dia bahkan sampai dipindahkan oleh kedua orang tuanya karena tidak sanggup menjalani hari-harinya di sekolah. Dan sialnya lagi. . . setelah semua usahanya memulai kehidupan baru, dia mengalami masalah yang sama dan berakhir dengan cara yang sama.”


            Bora tertawa kecil mendengar ucapan Lusi yang menurutnya juga benar. “Kau benar, Lusi. Bahkan kelinci pun tidak akan masuk ke lubang yang sama setelah sekali jatuh ke dalamnya. Wanita itu benar-benar masuk ke lubang yang sama sebanyak dua kali dan sepertinya masih belum belajar dengan baik setelah dua kali mengalami masalah yang sama.”


            “Benar bukan??” Bora mendengar tawa Lusi karena pikirannya yang sama dengan Bora. “Dan sekarang Asha masuk ke lubang yang sama untuk ketiga kalinya. Bora. Itu artinya dia bahkan lebih bodoh dari kelinci. Dia sepertinya tidak pernah belajar untuk membawa dirinya dengan baik dan seharusnya tidak menyentuh milik orang lain.”


            “Benar. Kau benar, Lusi. Melihat bagaimana dia menjalani hidupnya, jujur aku merasa sedikit kasihan dengannya. Dia baru saja muncul di depan publik sebagai satu dari beberapa tokoh terkenal. Dia baru saja membuka lembaran baru hidupnya. Tapi. . . dia menyentuh apa yang seharusnya tidak disentuhnya dan justru membuatnya berada dalam situasi yang buruk sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Jika saja. . . dia bisa membawa dirinya dengan baik dan tidak menyentuh apa yang tidak seharusnya disentuh, mungkin dia akan terkenal dan menikmati ketenarannya.”


            Bora memandang tajam ke arah artikel di layar tabletnya yang memasang wajah Asha-Author Wallflower yang sedang diusahakannya untuk jatuh dan kehilangan nama baiknya. Sembari menahan rasa amarahnya, Bora bergumam dengan senyuman kemenangannya. “Kali ini. . . aku akan benar-benar menyeretmu ke bawah, Asha. Aku akan menyeretmu dan membuatmu mengerti, tidak seharusnya kau menyentuh apa yang bukan milikmu!”


 

__ADS_1


__ADS_2