MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SOSOK DI BALIK SEBUTAN PENGUNTIT PART 5


__ADS_3

            Narator’s POV


            Di ruang kerjanya, Laksamana duduk menatap laptop miliknya dan memeriksa satu persatu rekaman CCTV di gedung apartemen di mana Asha tinggal. Laksamana melihat ke arah luar jendela kantornya dan menyadari jika langit telah berubah menjadi hitam pekat pertanda malam telah tiba. Laksamana melihat ke arah jam dinding di ruang kerjanya dan melihat jarum jam menunjukkan pukul 11 malam.


            “Ah ... ini bukan pekerjaan yang mudah!” Laksamana mengeluh lelah setelah beberapa jam kedua matanya terus menatap ke arah laptopnya dan dipaksa untuk terus terbuka demi mencari pelaku dari kebakaran yang menewaskan empat orang keluarga Asha.


            Merasa lelah, Laksmana menekan tombol pause pada rekaman CCTV yang sedang dilihatnya dan bersandar ke sandaran kursi kerjanya. Laksamana memijat-mijat keningnya beberapa kali untuk mengistirahatkan kedua mata dan otaknya yang bekerja dengan sangat keras hari ini.


            “Wanita ini ... “ Laksamana menatap berkas Asha yang diterimanya dari tim yang sebelumnya  mengurus kebakaran rumah keluarga Asha. “Dia wanita yang tidak biasa. Pekerjaannya adalah Author terkenal dengan nama Walflower. Kekasihnya adalah Arata-si aktor terkenal. Dua hal ini saja, sudah cukup membuatku terkejut. Tapi ... menilik latar belakang wanita ini dan kehidupannya di masa lalu, aku lebih terkejut lagi. Wanita ini memiliki masa lalu kelam sebagai korban perundungan, bukan hanya sekali tapi dua kali. Karena kasus itu ... keluarganya membuangnya karena dirasa membuat nama keluarganya tercemar. Wanita ini kemudian mengurung dirinya di apartemen hingga akhirnya memutuskan untuk menulis sebagai pekerjaan untuk menghidupinya. Dan belum lama ini, wanita ini terlibat masalah dengan lawan main kekasihnya yang merasa jika wanita ini tidak pantas bersanding dengan Arata.”


            Tuk ... tuk ... tuk.


            Laksamana mengetuk-ngetukkan jarinya dan memeriksa berkas-berkas yang didapatkannya dari anak buahnya beberapa jam lalu. Berkas itu ... berisi semua kenalan Asha selama beberapa waktu yang jumlah tidak terlalu banyak. Semua kenalan Asha kebanyakan adalah rekan kerjanya.


            Tuk ... tuk ... tuk.


            Laksamana berpikir lagi dan kali ini memejamkan matanya untuk memberikan konsentrasi pada pikirannya yang sudah sangat lelah. Dalam benaknya ... Laksamana mengingat semua isi berkas yang berhubungan dengan Asha: dari teman, rekan kerja, kekasih, keluarga dan semua  orang yang pernah terlibat dengan Asha.  Laksmana juga mengingat semua sesi pertanyaan yang diberikannya kepada Asha hari ini serta pernyataan yang diberikan oleh Pak Raya.  Laksamana kemudian membagi-bagi informasi itu di dalam benaknya dan berusaha untuk kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terlihat tapi tersamarkan.


            Tuk ... tuk ... tuk.

__ADS_1


            Laksamana membuka matanya sembari tangannya mengetuk ke meja kerjanya untuk ketiga kalinya. “Pelakunya ... pasti adalah orang dari kenalan Nona Asha sendiri! Aku yakin itu!”


*


            Semalam ... aku ingat Arata mendatangiku kamarku dengan wajah anak kecil yang seolah sedang bersiap untuk mengaku bersalah padaku. Matanya tidak berani langsung menatapku dan beberapa kali melihatku dengan melirik. Melihatnya wajahnya yang seperti itu, aku yang sejak tadi bersedih, benaar-benar ingin tertawa. Siapa yang akan menyangka Arata yang dikenal dingin dan bahkan berani mendebat kakaknya, mampu memasang wajah seperti itu di depanku.


            “Aku tidak marah, Arata.” Aku menegaskan hal itu pada Arata dan benar saja, dalam sekejap raut wajah bersalah Arata berubah menjadi raut wajah senang seperti yang biasa Arata perlihatkan ketika bertemu denganku.


            “Kukira ... Author akan marah padaku karena aku menyembunyikan masalah ini dari Author.” Begitu tahu aku tidak marah, Arata langsung duduk di sampingku yang sejak tadi duduk di sofa di dekat jendela kamar di kediaman Wiyarta.


            “Tadinya begitu, aku ingin marah padamu. Tapi mengingat penjelasan Pak Raya yang hati-hati padaku dengan menunggu kejelasan dari pihak kepolisian, aku tahu kamu memilih menyembunyikannya karena perlu bukti yang kuat.”


            “Tapi apa?” tanyaku bingung.


            “Tapi kenapa selama ini Author menyembunyikan ancaman itu dariku?” Arata akhirnya bertanya padaku mengenai amplop hitam dan surat ancaman di dalamnya yang selama ini selalu aku katakan sebagai surat dari penggemarku.


            Aku menjelaskan alasanku menyembunyikan surat itu dari banyak orang karena berbagai pertimbangan: aku tidak ingin Arata khawatir berlebihan padaku, aku juga tidak ingin Arata menyalahkan penggemarnya, lalu yang terakhir, aku merasa bahwa surat itu tidak menggangguku dan hanya ingin menyampaikan ungkapan hatinya.


            “Kau tahu Arata, awalnya aku setuju dengan isi surat ancaman itu. Aku ini tidak pantas bersamamu. Kau bintang terang yang dikagumi oleh banyak orang sementara aku ... hanya penulis yang bisa terkenal karena bantuan darimu.”

__ADS_1


            Arata melihatku ke arahku. Kedua tangannya bergerak ke arah wajahku dan tidak lama kemudian-Cup-Arata mengecup bibirku dengan singkat. Setelah melakukan kecupan singkat itu, Arata menatapku dengan tatapan dalam. “Jangan pernah katakan kalimat itu lagi, Author!! Kau itu adalah bintang terang untukku. Meski orang lain tidak bisa melihatnya, aku bisa di sini, di posisiku saat ini juga karenamu. Apapun yang orang katakan, apapun keluhan orang-orang, itu tidak penting bagiku. Aku berada di posisi ini untuk menemukanmu, Author. Aku berada di posisi ini-menjadi bintang terang, agar kau melihatku seperti aku melihatmu selama ini.”


             Aku menganggukkan kepalaku patuh pada peringatan yang Arata berikan padaku. “Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi, Arata.”


            Keesokan harinya ...


            Arata dan Ibunya benar-benar membuatku sadar bahwa mereka adalah keluarga yang berbeda. Hanya untuk datang ke acara pemutaran perdana film yang diangkat dari novelku, Arata dan Ibunya mendatangkan penata rias kelas eksklusif ke kediaman Wiyarta untuk meriasku, merias Ibu, merias Ayah, dan merias dua kakak Arata. Tak tanggung-tanggung lima penata rias kelas eksklusif didatangka hanya memasang riasan di wajahku untuk acara beberapa jam saja.


            “Apa ini tidak berlebihan, Bu?” tanyaku tidak percaya.


            “Tidak. Ibu sudah mengatakan pada Arata dan Arata setuju untuk ini.  Arata berpesan bahwa Asha harus terlihat cantik.”


            Pada akhirnya ... aku hanya bisa pasrah dengan keinginan Arata dan juga Ibunya.  Melihat bagaimana mereka berdua sekarang benar-benar kompak, aku merasa senang sekaligus merasa sedikit firasat buruk. Aku tidak mengira dua orang yang selama ini berselisih, ternyata memiliki kemiripan sifat yang sangat mirip. Mereka berdua sama-sama suka memaksa ketika berhubungan denganku.


            “Kau benar-benar cantik, Authorku tercinta.” Arata mengulurkan tangannya ke arahku ketika setelah satu jam lamanya aku menerima riasan di wajahku dan mengenakan dress yang didesain sendiri oleh Arata.


            Aku menerima uluran tangan itu dan hendak berjalan bersama Arata, tapi aku lupa belum mengenakan sepatu karena sejak tadi merasa gugup sekali. “Ah, sepatu. Aku belum mengenakan sepatunya, Arata.”


            “Tunggu di sini, Author.” Arata mengambil sepasang cantik dengan warna senada dengan tinggi 10cm. Tinggi sepatu itu akan membuat tubuhku terlihat lebih tinggi dan sedikit sejajar dengan Arata.

__ADS_1


            Arata berlutut di depanku dan menarik tanganku untuk memegang bahunya. Arata melakukan itu agar aku bisa memiliki pegangan ketika memasang sepatu yang tinggi dan hal ini membuatku teringat dengan kenangan lama di mana Arata melakukan hal itu pada pertemuan kedua kami di saat aku tidak mengenalinya.


__ADS_2