MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
BABAK BARU KEHIDUPAN PART 4


__ADS_3

            Drrrrttt ....


            Ting ....


            Getaran panggilan dan notifikasi pesan yang aku terima masih terus berbunyi membuyarkan lamunanku tentang kejadian tiga bulan yang lalu dan alasan sekarang aku dibombardir oleh puluhan pesan dan panggilan yang masuk. Tapi sama seperti sebelumnya ... aku memilih untuk mengabaikan gangguan itu untuk menikmati keindahan pagi yang mungkin akan terasa berbeda di esok hari.


            Ting tong ....


            Tok ... tok ... tok.


            Setelah panggilan dan notifikasi pesan yang aku abaikan, sekarang giliran pintu apartemen dan bel yang berbunyi dan menggangguku.


            “Author, aku tahu kau di dalam!!”


Aku mendengar teriakan Arata dari balik pintu apartemenku. Huft. Aku menghela nafasku merasa ketenangan pagi yang aku harapkan sedikit lebih lama sepertinya akan sirna dalam hitungan menit.


“Author!!! Buka pintunya!!!”


Aku mendengar teriakan itu lagi dan akhirnya dengan malas aku bangkit dari duduk santaiku. Aku berjalan menuju ke pintu apartemen karena sejak tiga bulan lalu aku mengubah password pintu apartemenku. Aku tidak ingin Arata masuk ke apartemenku ketika aku sedang mengerjakan novel  ketujuhku dan mengganggu konsentrasiku selama sebulan.


            Klik. aku membuka pintu apartemen dan mendapati wajah Arata yang begitu cemas bercampur dengan khawatir.


            “Kenapa tidak mengangkat panggilanku? Kenapa tidak membalas pesan yang aku kirim??” Arata mencecarku dengan pertanyaan begitu melihat wajahku. “Kenapa, Autthor? Apa kali ini Author berniat untuk menghindari pernikahan denganku?”


            Huft. Aku menghela nafasku lagi dan tersenyum kecil mendengar pertanyaan terakhir yang diajukan oleh Arata. “Apa aku punya opsi untuk menghindar?”


            “Tidak.” Arata menjawab dengan cepat. “Tidak boleh dan tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan Author menghindar lagi dari pernikahan denganku.”


            Mendengar penegasan itu keluar dari mulut Arata, aku langsung mendekat padanya dan memeluk tubuhnya. Cara ini adalah cara efektif untuk membuat kemaraan dan kekesalan Arata menghilang sekaligus mengubah moodnya yang buruk menjadi baik.

__ADS_1


            “Kenapa, Author??” Menerima pelukan dariku, Arata langsung mengubah nada bicaranya padaku. Ucapannya langsung melembut dan nadanya merendah. “Apa Author benar-benar tidak ingin menikah denganku?”


            “Kau ini benar-benar menyebalkan, Arata. Aku sudah memutuskan untuk menikah denganmu dan kau masih meragukannya, huh? Aku bahkan menuruti permintaanmu untuk menikah dalam waktu dekat. Apa itu tidak cukup?”


            “Ka-kalau bukan karena itu, lalu kenapa Author tidak menerima panggilanku dan membalas pesanku??” Arata membalas pelukanku sebagai perasaan bersalahnya padaku.


            “Aku hanya ingin bersantai di pagi hari apa tidak bisa?? Hari ini status single yang melekat padaku akan berganti. Jadi aku ingin menikmati statusku itu untuk terakhir kalinya. Dan kau ... pagi-pagi sudah merecoki ketenanganku dengan puluhan panggilan dan pesan.”


            “Maaf, Author. Aku tidak akan begitu lagi.”


            Setelah berbaikan dan berpelukan selama beberapa menit. Arata kemudian masuk ke dalam apartemenku untuk menungguku membersihkan diri dan mengganti pakaianku.


            “Kita berangkat, Author. Tidak perlu membawa makanan, tadi sebelum kemari aku sudah membeli makanan untuk Author.”


            Arata tahu aku belum sarapan karena jadwal makanku yang tidak beraturan untuk sarapan dan jam makan siang. Jadi sebelum pergi ke butik langganan dari keluarga Wiyarta dan bersiap untuk pesta pernikahan, setidaknya aku harus mengganjal perutku lebih dulu.


            Dengan Kak Rama yang duduk di belakang kemudi, aku dan Arata berangkat menuju ke butik. Sepanjang perjalanan, aku memakan sarapan pagi yang dibelikan oleh Arata untuk mengganjal perutku karena rangkaian acara nanti yang cukup panjang dan melelahkan. Dan momen ini membuatku teringat dengan kenangan lamaku dengan Arata.


            “Selamat pagi, Tuan Arata, Nona Asha.”


            “Pagi.” Aku dan Arata membalas bersamaan sapaan yang kami terima ketika tiba di butik langganan keluarga Wiyarta.


            “Kita bertemu lagi nanti, Author.” Arata mengucapkan salam kecil perpisahannya karena dalam tiga  jam ke depan dia tidak akan melihatku karena aku akan dijemput oleh mobil yang dibawa oleh Ayah dan Ibu Arata menuju ke lokasi pernikahan diadakan.


            Arata dan aku kemudian memasuki ruangan tata rias yang berbeda di mana di ruanganku sudah menunggu Ibu Arata.


            “Kau sudah makan, Asha?” Ibu Arata menyapaku dengan senyuman bahagia sembari menerima riasan di wajahnya.


            “Sudah, Bu. Arata sudah memberikanku sarapan untuk kumakan tadi.”

__ADS_1


            Ibu Arata tersenyum lagi mendengar ucapanku. “Anak itu ... dia bisa begitu perhatian padamu, Asha. Padahal ketika dengan Ibu, dia tidak seperhatian itu. Terkadang kau membuatku merasa sedikit iri, Asha.”            


            “Maafkan saya, Bu. Nanti saya akan meminta Arata untuk lebih perhatian pada Ibu.” Aku duduk di kursi rias dan mulai menerima riasan di wajahku.


            “Tidak perlu, Asha. Kau tidak perlu melakukannya. Berkat kau, hubungan Ibu dan Arata sudah membaik saja, Ibu sudah cukup bersyukur. Nanti akan ada saatnya Arata akan perhatian pada Ibu. Tidak perlu dipaksa.”


            Selama dua setengah jam lamanya ... aku bersama dengan Ibu Arata menerima riasan dan selama itu pula, kami saling bertukar cerita masing-masing tentang Arata. Ibu Arata juga memintaku untuk menceritakan banyak hal tentang diriku karena setelah hari ini berlalu, aku akan resmi menjadi bagian dari keluarga Arata dan menjadi satu dari anak-anaknya.


            “Kau benar-benar cantik, Asha.” Ibu Arata memberikan pujiannya kepadaku setelah aku selesai menerima riasan dan mengganti pakaianku dengan gaun putih pernikahan yang panjang. Mungkin bagian ekornya sepanjang tiga meter.


            “Terima kasih, Bu.” Aku menerima pujian itu sekaligus meminta maaf pada Ibu Arata, karena selama tiga bulan ini aku telah banyak merepotkan Ibu Arata untuk pernikahanku. Bahkan Ibu Arata dengan sengaja memintaku untuk mengatur pernikahan untukku setelah mendengar novel ketujuh yang aku kerjakan dalam tenggat waktu yang cukup singkat. “Dan maafkan Asha, Bu. Selama tiga bulan ini, Asha telah banyak merepotkan Ibu.”


            Ibu Arata yang telah mengganti pakaiannya dengan gaun sederhana berwarna biru yang seragam dengan seluruh keluarga Wiyarta, kemudian mendekat padaku dan memelukku seperti anaknya sendiri. “Sudah Ibu katakan, jangan merasa tidak enak lagi pada Ibu. Mulai hari ini, Asha juga bagian dari keluarga Wiyarta. Asha juga anak Ibu. Meski Ibu bukan Ibu kandungmu, kelak jika Arata menindasmu, Ibu akan berada di pihakmu, Asha.”


            Aku membalas pelukan hangat itu dan berusaha menahan air mata haru yang akan jatuh dan mungkin merusak riasan di wajahku. “Terima kasih banyak, Bu. Sebuah kehormatan bisa menjadi anak Ibu.”


            Dalam hati, aku berkata pada diriku sendiri sembari mengingat segala hal buruk yang menimpaku.


 Jika saat itu ... aku tidak bertemu dengan Arata.


            Jika saat itu ... Arata tidak berusaha menemukanku.


            Jika saat itu ... Arata tidak memaksa masuk ke dalam hidupku.


            Mungkin hidupku yang sepi, dingin dan gelap itu tidak akan pernah berubah.


            Benalu menyebalkan yang terus menolak pergi dari hidupku itu benar-benar menepati ucapannya padaku. Dia adalah satu-satunya benalu yang memberikanku banyak hal sebagai balasan dari cinta yang aku berikan padanya. Dia memberikanku cintanya, dia memberikanku teman-teman yang bisa dipercaya, dia memberikanku saudara yang sangat menyayangiku dan terakhir dia memberikanku keluarga yang hangat.


            Di mana lagi aku bisa menemukan benalu yang memberikan simbiosis mutualisme padaku?

__ADS_1


            Tidak akan pernah ada lagi. Benalu itu hanya satu dan dialah Arata.


__ADS_2