MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
TIDAK PERNAH BISA TENANG PART 2


__ADS_3

Karena merasa ada orang lain  yang tinggal di dalam ruanganku, awalnya aku tidak bisa tidur. Obat yang kuminum tidak mampu membuatku jatuh tertidur dan suara TV yang biasanya membuatku bisa tidur ketika kesulitan tidur, juga tidak membantu. Arata yang sepertinya menyadari aku tidak bisa tidur, akhirnya menceritakan banyak cerita kecil padaku. Cerita tentang alasannya memilih berkarir di dunia akting, suka dukanya menjadi aktor terkenal dan beberapa cerita kecil tentang beberapa gadis yang tidak menyukainya dan bahkan sempat menerornya.


            Suara Arata yang dalam dan berat itu, entah kenapa terasa begitu menenangkanku hingga aku tidak tahu kapan akhirnya kau jatuh tertidur.  Begitu aku bangun dari tidurku, aku menatap apartemenku yang sudah dalam keadaan rapi tidak seperti sebelumnya. Karena pekerjaanku yang terkadang membuatku harus membaca banyak buku, aku meletakkan buku-buku milikku di sembarang tempat dan bukan di rak di mana buku itu harusnya berada. Ditambah lagi kesibukanku sebagai penulis skenario, aku bahkan tidak sempat membersihkan piring dan gelas-gelas kotor yang menumpuk di wastafel.


            Dan sekarang begitu aku membuka mata, ruanganku sudah bukan seperti ruanganku lagi. Meja dan rak bersih dari debu. Lantai kini terlihat mengkilap dan wastafel yang sebelumnya penuh kini kosong. Melihat apartemenku yang berubah 180 derajat, aku bahkan sempat bertanya-tanya, Mungkinkah aku berjalan saat tidur dan pindah ke apartemen lain?


            Aku bangkit dari tempat tidurku dan mematikan TV yang masih dalam keadaan menyala. Aku berjalan-jalan untuk menemukan sosok Arata dan tidak menemukan keberadaan dirinya di apartemenku. Kurasa dia sudah pergi bekerja.


Setelah memastikan Arata telah pergi dari apartemenku, aku membuka semua tirai di dalam apartemenku dan menyadari jika langit yang kulihat masih cukup gelap. Apakah aku bangun terlalu pagi??


            Aku berbalik dan melihat ke arah jam dinding dan menyadari jika pagi itu ternyata sudah pukul sepuluh  pagi dan bukan pukul lima pagi. Sepertinya. . . akan turun hujan  lebat setelah ini.


            Drttt. . . ponselku yang berada di atas meja di samping tempat tidurku bergetar. Aku berjalan mendekat ke meja itu, meraih ponselku dan melihat pesan muncul di layar. Pesan itu rupanya dari pesan dari sutradara.  Klik. Aku membuka kunci layar ponselku dan langsung membaca pesan masuk itu.


            Sutradara: syuting hari ini dibatalkan karena banjir besar di dekat lokasi syuting. Untuk hari ini, kau bisa beristirahat dengan tenang, Nona Asha dan semoga cepat sembuh. Lalu maaf karena kemarin, aku tidak tahu jika kau jatuh di toilet, Nona Asha.


            Aku menekan tempat untuk membalas dan mulai membalas pesan dari sutradara.


            Asha: Terima kasih banyak atas perhatiannya, sutradara. Maaf karena kemarin saya tiba-tiba harus pergi tanpa berpamitan kepada sutradara. Jika besok syuting masih tetap seperti jadwal sebelumnya, saya sudah bisa datang karena keadaan saya sudah membaik berkat perhatian dari sutradara.


            Aku belajar cara membalas pesan seperti ini dari Warda. Sebagai editorku, Warda banyak sekali membantuku bahkan dalam hal sepele seperti ini, karena itu aku sangat menyukai Warda meski terkadang dia sangat cerewet dan bawel.


            Lima jam berlalu dan hujan masih turun tanpa sedikit pun memperlihatkan tanda-tanda akan mereda. Justru intensitas hujan yang turun semakin deras saja ditambah dengan langit yang semakin gelap karena awan mendung yang terus berada di langit tanpa sedikit pun berniat untuk bergerak pergi.


            Ting tong. . . Bel apartemenku berbunyi dan membuatku yang sejak tadi duduk di dekat jendela sembari menatap  langit gelap yang menurunkan hujan, akhirnya bergerak dengan malas ke arah pintu.


            Aku membuka pintu apartemen dan melihat Arata dengan pakaian yang sedikit basah, rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini terlihat sedikit berantakan karena air hujan. Wajahnya yang biasa ditutupi oleh make up di siang hari, kini terlihat basah tanpa make up sedikit pun.

__ADS_1


            “Siang, Author.” Arata menyapaku dengan sedikit meringis seolah tubuhnya yang basah tidak merasakan dingin.


            Melihat penampilan Arata yang seperti anak kucing yang kehujanan di pinggir jalan, membuatku tanpa sadar menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam apartemenku. “Kenapa bisa kehujanan??”


            Setelah menutup pintu apartemenku,  aku bergerak untuk mengambil beberapa  handuk milikku dan memberikannya kepada Arata yang masih diam di dekat pintu apartemenku. Aku rasa. . . Arata tidak ingin mengotori lantai apartemenku karena tubuhnya yang basah.


            “Ini. . .” Aku memberikan beberapa handuk yang aku ambil kepada Arata dan mendorong tubuh Arata untuk bergerak ke arah kamar mandi di apartemenku. “Gunakan ini dan segera masuk ke kamar mandi. Gunakan air hangat untuk membersihkan diri. Aku akan mencari pakaian yang mungkin bisa kamu gunakan.”


            “Bagaimana jika lantai apartemenmu kotor?” Sudah kuduga, Arata yang sejak tadi diam di dekat pintu merasa enggan masuk ke dalam, karena tidak ingin mengotori apartemenku.


            “Kesehatanmu lebih penting dari pada lantai apartemenku. Sudah cepat ke kamar mandi sana!! Aku tidak ingin syuting harus ditunda lagi karena pemeran utama kita jatuh sakit.”


            Setelah mendengar ucapanku, Arata akhirnya bergerak menuju ke kamar mandi di apartemenku sementara aku berlari ke arah lemari pakaianku dan mencari pakaian yang mungkin bisa digunakan oleh Arata.


            Lima menit kemudian.


            Tok. . . tok. . .


            Aku mengetuk pintu kamar mandi di mana Arata masih membersihkan dirinya. “Aku letakkan pakaian yang bisa kamu gunakan di depan pintu.”


            Kret.


            Hanya berselang hitungan detik, aku melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit dengan tangan Arata yang keluar untuk mengambil pakaian yang aku temukan untuknya.


            “Kenapa kau punya pakaian berukuran pria di lemarimu, Author??” Arata yang keluar dari kamar mandi masih dengan rambut basah, langsung melemparkan protesnya kepadaku.


            Aku menatap pakaian di tubuh Arata dan tidak menyangka jika pakaian itu akan pas sekali di tubuhnya. “Pakaian itu ada karena Warda salah membeli ukuran  pakaian untukku.”

__ADS_1


            Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil semua pakaian Arata yang basah dan handuk-handuk basah yang digunakannya. Aku langsung memasukkan semua pakaian dan handuk basah itu ke dalam mesin cuci. Setelah melakukan itu, aku mengambil satu handuk kecil dan hair dryer dari kamar mandi dan memberikannya kepada Arata.


            “Keringkan rambutmu dengan itu!”


            Arata melakukan apa yang aku perintahkan sementara aku mengeringkan lantai apartemenku yang basah olehnya.  Setelah mengepel lantai yang basah, aku langsung berjalan ke dapur dan memasak air hangat.


            “Kau mau minum apa, Arata? Kopi, teh, coklat atau susu hangat?” tanyaku.            


            Arata yang masih mengeringkan rambutnya kemudian menjawab, “Coklat saja. Kopi terlalu pahit.”


            “Tak kusangka aku bisa bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa kopi itu pahit,” kataku sembari memasukkan roti-roti yang dibawa Arata semalam ke dalam microwave dan menghangatkannya. “Kopi mungkin pahit tapi tidak sepahit kehidupan.”


            “Di saat seperti ini, Author masih saja bisa bercanda.” Arata tertawa kecil mendengar ucapanku sembari meletakkan handuk kecil dan hair dryer.


            Nging. .  . Air panas yang aku masak, akhirnya mendidih bersamaan dengan microwave yang telah menghangatkan roti-roti di dalamnya. Aku membuat satu gelas coklat panas dan satu gelas kopi, meletakkannya di nampan dan kemudian membawanya ke meja di depan TV di mana Arata berada. Setelah melakukan itu, aku mengambil satu selimut dari lemari dan memberikannya kepada Arata.


            “Pakai ini untuk menghangatkan tu-“


            Tiba-tiba setelah melakukan banyak hal untuk Arata, aku mengingat sesuatu yang penting. Sesuatu yang harusnya aku lakukan sejak awal tadi kepada Arata.


            “Kenapa tiba-tiba berhenti, Author??” Arata mengambil gelas coklat panas dan meminumnya dengan santai.


            “Ke-kenapa kau datang ke sini dan bukan masuk ke apartemenmu di sebelah??” tanyaku dengan wajah kesal.


            Arata memandangku dengan senyuman di wajahnya. Bibirnya yang tersenyum itu sedikit terkena busa coklat panas yang membuatnya sedikit menggemaskan.


            “Arata!!!” teriakku. “Kau mempermainkanku bukan???”

__ADS_1


__ADS_2