
Narator’s POV
Sosok dengan pakaian serba hitam dengan membawa kamera di tangannya, menekan tombol pada kameranya dengan cepat untuk mengambil gambar Author Wallflower yang baru saja keluar dari gedung rumah sakit Wiyarta. Sosok itu terus mengambil gambar Author Wallflower, hingga Author Wallflower naik ke mobilnya dan melaju pergi keluar dari area rumah sakit.
Setelah mengambil hasil jepretan fotonya, sosok dengan pakaian serba hitam lengkap dengan masker dan topi hitam yang melindungi wajahnya melihat hasil jepretannya dan tiba-tiba merasa kesal.
Sial!!! Wanita ini benar-benar!!! Ancaman itu sepertinya sudah tidak mempan lagi!! Haruskah aku memberinya peringatan yang lebih menarik setelah ini?? Mungkin aku harus memberikan hadiah yang lebih menarik lagi agar dia mendengarkanku!! Kira-kira ... hadiah apa yang menarik untuk kuberikan dan membuatnya menjauh dari Arata?? Sosok itu kemudian berbalik dan berjalan perlahan dengan ide di dalam kepalanya. Sosok itu bergumam kecil sembari berjalan dengan kamera di tangannya. “Sudah aku katakan, kau tidak pantas untuk Arata!! Dan akan selalu begitu, selamanya!!!”
Di sisi lain ... Kendra Wiyarta yang merasa terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Asha pada dirinya, mengikuti Asha untuk bertanya lagi. Tapi usaha Kendra gagal, karena begitu tiba di depan gedung rumah sakit Asha telah masuk ke dalam mobil miliknya dan melaju pergi keluar dari area rumah sakit Wiyarta.
Mengetahui usahanya gagal, Kendra berniat untuk kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok dengan pakaian serba hitam dengan kamera di tangannya. Kendra mengawasi sosok itu dan kemudian memperhatikan beberapa CCTV di rumah sakit yang mungkin merekam sosok serba hitam itu.
“Ada apa, Kak?” Maha yang kebetulan baru tiba di rumah sakit dan hendak memasuki gedung rumah sakit, melihat Kendra di depan rumah sakit dengan wajah serius. “Apa yang sedang kau lihat, Kak?”
“Setelah ini ... pergilah ke ruang security dan minta rekaman di luar bangunan rumah sakit pada jam ... “ Kendra mengangkat tangannya dan melihat jam tangannya. Kendra kemudian mengingat waktu kedatangan Asha ke rumah sakit. “Antara jam 10 hingga pukul 12 siang.”
“Ada apa?? Kenapa tiba-tiba meminta rekaman CCTV di luar rumah sakit? Apa Kakak kehilangan ponselmu lagi??” Maha menyindir kebiasaan aneh Kendra yang selalu melupakan ponselnya dan membuat keributan ketika tidak bisa menemukan ponselnya.
“Kali ini ... aku tidak melupakan ponselku. Tapi sepertinya kekasih Arata ... sedang diikuti oleh seseorang yang mungkin berbahaya.”
“Apa Asha diikuti oleh penguntit??” Bukannya berjalan menuju ke ruang security, Maha justru bertanya kepada Kendra untuk meminta penjelasan.
Buk. Kendra memukul kepala Maha dengan cukup hingga membuat semua orang yang melewati pintu depan rumah sakit terkejut melihat pemandangan itu.
“Auwwww!!! Kakak!! Kenapa memukul kepalaku???”
“Jika kau punya waktu untuk mengeluh, gunakan waktu itu untuk segera pergi ke ruang security dan ambil rekaman yang aku minta, Maha!!!”
*
__ADS_1
Setelah keluar dari rumah sakit Wiyarta, tadinya ... aku ingin kembali ke apartemenku. Tapi mengingat bagaimana wajah Ibu Arata yang menceritakan kisahnya dan juga pelukan hangat yang tadi sempat aku rasakan, bohong jika aku mengatakan aku tidak merindukan keluarga yang membuangku.
Sebagai penulis ... aku mempelajari banyak pelajaran dari banyak kisah hidup di dunia ini. Salah satunya tentang mantan suami dan mantan istri. Di dunia ini ... sebutan untuk mantan istri, mantan suami, mantan kekasih dan mantan mertua selalu ada, tapi sebutan untuk mantan ayah, mantan ibu dan mantan anak, tidak akan pernah ada. Hal itu terjadi karena hubungan orang tua dengan anaknya akan terhubung melalui darah yang mengalir dalam tubuh anaknya. Sama seperti kasus yang aku alami, meski aku dibuang oleh keluargaku, meski aku dicoret dari daftar anggota keluarga, satu fakta tidak akan berubah: aku dilahirkan ke dunia ini oleh ayah dan ibuku.
Jadi ... aku putuskan setelah bertahun-tahun lamanya tidak mengunjungi rumah keluargaku, aku ingin melihat bagaimana kehidupan yang dijalani oleh keluargaku setelah aku pergi. Aku mengemudikan mobilku selama kurang lebih tiga puluh menit untuk tiba di lokasi rumah lamaku yang samar-samar masih aku ingat. Tapi setelah tiga puluh menit mengemudi, aku masih tidak menemukan rumah lamaku.
Banyak tempat berubah dan lingkungan yang dulu ada di dalam kenanganku, kini sudah nyaris menghilang karena perubahan zaman dan pembaharuan kota. Butuh lima belas menit lamanya bagiku untuk menemukan rumah lama yang dulu pernah aku tempati. Tapi begitu ... aku tidak jauh dari rumahku, aku tidak berani turun dari mobil dan hanya duduk diam memperhatikan.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Melihat senyuman bahagia dari ibuku, aku memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah itu. Ibuku bahagia tanpa aku, maka dari itu ... tidak seharusnya aku muncul di depannya dan merusak kebahagiaan itu.
Itulah yang aku yakini di dalam benakku dan keyakinan itu membawaku pada pilihan untuk kembali pulang ke apartemenku.
“Author!” Begitu aku tiba di depan apartemenku di sore hari, aku menemukan Arata berjongkok di depan pintu apartemenku dan langsung berdiri begitu melihatku. “Dari mana saja, Author? Kenapa tidak bilang jika akan pergi??”
Bukannya menjawab pertanyaan Arata itu, aku justru mengajukan pertanyaan lain pada Arata. “Kenapa kamu berjongkok di depan pintu apartemenku seperti anak hilang padahal kau tahu password pintu apartemenku??”
Aku memasukkan password pintu apartemenku, membuka pintu apartemenku dan masuk ke dalamnya. Arata yang belum menjawab pertanyaanku, mengikutiku masuk ke dalam apartemenku dan langsung duduk di sofa besar di depan TV seperti yang biasa dilakukannya.
“Apakah kau tidak punya jadwal kerja lagi? Bagaimana syutingmu? Iklanmu??” Aku bertanya lagi pada Arata sembari mengambil dua kaleng minuman jus dari dalam kulkas dan membawanya ke meja di mana Arata berada. “Minum ini!”
__ADS_1
Tapi sekali lagi ... tidak ada jawaban dan tidak ada omelan yang keluar dari mulut Arata. Dia hanya diam memandangku dengan tatapan tajam setelah membuka masker dan kacamata hitam yang selalu digunakannya untuk menutupi wajahnya.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanyaku lagi.
“Author juga tidak menjawab pertanyaanku.”
Arata sedang merajuk. Aku tertawa kecil di dalam benakku melihat bagaimana Arata sedang merajuk mungkin karena khawatir tidak menemukanku berada di apartemenku hari ini. Sebelumnya ... aku tidak sadar jika Arata yang sedang merajuk terlihat lucu dan menggemaskan.
Di saat seperti ini ... di saat jantungku berdetak kencang entah karena apa, aku memikirkan sesuatu di dalam benakku. Alasanku tidak bisa tidur: pertama adalah masalah Arata dengan ibunya, kedua adalah perasaan yang ada di dalam hatiku untuk Arata yang masih belum bisa aku pastikan. Satu masalah setidaknya telah aku ketahui jawabannya dan aku hanya perlu membantu Arata memperbaiki hubungannya dengan ibu dan keluarganya agar dia tidak menjadi sepertiku yang telah benar-benar dilupakan oleh keluargaku.
Lalu masalah kedua ... aku harus memastikan sendiri perasaan yang ada di dalam hatiku untuk orang yang saat ini duduk di sampingku dan sedang merajuk hanya karena sesuatu yang sepele. Aku memikirkan adegan ini dalam film-film dan novel-novel yang pernah aku baca. Untuk membuat pasangan mereka berhenti merajuk biasanya si tokoh utama akan memberikan sesuatu untuk membuat pasangan mereka berhenti merajuk.
Kali ini ... aku melakukan apa yang aku ketahui dan mengecup lembut wajah Arata. Cup.
Arata yang menerima kecupan ringan dan lembut itu, langsung melihatku dengan wajah terkejut sembari menyentuh bagian wajahnya yang aku kecup. “Author, tadi itu .... “
Aku tersenyum sembari merasa sedikit malu bercampur salah tingkah. Tiba-tiba ... aku tidak berani menatap langsung mata Arata seperti yang biasa aku lakukan. Aku membuang mukaku sembari berkata, “Bi-bisakah kau berhenti merajuk sekarang, Arata??”
Dag ... dig ... dug. Jantungku berdetak kencang dan rasanya seperti akan meledak dalam hitungan detik. Perasaan ini ... terasa sedikit aneh, tapi sesuatu dalam diriku merasa sedikit lega.
“Author.” Arata memelukku dan membuat jantungku yang tadi serasa akan meledak, mulai merasa nyaman. Perlahan denyut jantung itu berkurang.
“A-apa?” Aku bertanya dengan sedikit gugup karena masih berusaha mengembalikan kecepatan denyut jantungku seperti semula.
“Ciuman itu ... “
“Ke-kenapa dengan ciuman itu?”
“Kurang lama. Saking cepatnya ... aku merasa jika nyamuk yang menempel.”
__ADS_1
Sial kau, Arata!!! Aku hanya bisa mengumpat kesal pada Arata memahami maksud dari ucapan Arata itu.