MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SANGKAR PELINDUNG PART 2


__ADS_3

            Menjadi seorang penulis, bukanlah hal yang mudah. Selain saingan yang meningkat, trend genre novel juga berpengaruh. Di negara tirai bambu  contohnya. Di sana cerita klasik dengan genre kolosal, wuxia, xianxia yang dibalut dengan kisah cinta tragis selalu menjadi novel yang mampu menarik pembacanya. Di sana juga novel dengan genre itu mudah sekali diadaptasi ke layar lebar karena peminat penontonnya sangatlah tinggi dan pihak rumah produksi mau mengeluarkan biaya besar demi mendapatkan keuntungan besar. Sebagai seorang penulis. . . aku sedikit mengagumi negara itu karena kisah yang dituliskannya selalu mampu membuatku yang membaca menangis dan juga ketika diadaptasi ke bentuk film  atau series, pemerannya mampu memerankan tokohnya dengan sangat baik.


            Kembali pada pekerjaanku sebagai penulis, peminta pembaca dari negaraku mayoritas menyukai kisah romantis di mana tokoh utamanya pria yang sempurna yang nyaris mungkin tidak akan bisa ditemukan dalam dunia nyata: sosok yang tampan dan rupawan, terlahir dalam keluarga kaya, memiliki pekerjaan yang diidamkan oleh banyak orang, kecerdasan yang luar biasa dan dihormati banyak orang, lalu satu lagi sosok itu juga mampu mengintimidasi lawannya.  Kebanyakan pembaca di negeri di mana aku tinggal akan menyukai pemeran utama pria dengan karakter yang aku sebutkan tadi. Jujur saja kukatakan. . . siapapun pasti akan menyukai jika sosok pemeran utama itu benar-benar ada di dunia nyata karena aku pun pasti akan menyukainya jika bertemu dengan seseorang seperti gambaran tokoh utama dalam kebanyakan novel. Tapi. . . yang namanya manusia itu, selalu punya kekurangan dalam hidupnya, entah itu di masa lalu atau di masa sekarang, entah itu terlihat atau tidak terlihat. Yang jelas. . . manusia di dunia nyata bukanlah karakter dalam novel yang digambarkan sempurna dan tanpa celah. Manusia selalu punya kekurangan dalam hidupnya dan berkat itulah mereka disebut manusia.


            Beberapa kali melihat Arata melakukan syuting dan menjadi pemeran tokoh utama dalam novel Love Like Ectasy, aku sempat mengira Arata adalah sosok dalam tokoh utama dalam novel itu dengan gambaran yang sempurna dan tanpa celah. Tapi. . . nyatanya aku salah. Bahkan Arata yang terlihat sempurna dari luar itu juga punya kekurangan di dalam hidupnya.


            Tok. . . tok. . .


            Aku membuka mataku setelah tertidur entah berapa lama, aku tidak tahu. Aku melepas bantal yang aku peluk ketika tertidur dan menyalakan satu lampu di ruang TV ku. Jam 11 malam.  Siapa yang datang kemari malam-malam begini?


            Tanpa bersuara dan menjawab ketukan pintu itu, aku berjalan mendekat ke arah pintu apartemenku dan mendengar ketukan itu lagi. Tok. . . tok. . .


            “Author, apa kau di dalam?”


            Setelah suara ketukan, aku mendengar panggilan tidak asing itu di telingaku meski suaranya sedikit lirih. Dia. . . Arata dan dia berhasil menemukanku.


            “Apa yang kau lakukan di sini? Kembalilah!! Aku tidak akan membuka pintu dan membiarkanmu masuk ke dalam apartemenku!!” Tadinya. . . aku ingin membiarkan Arata begitu saja. Tapi. . . aku ingat bagaimana usahanya selama ini selalu menolongku dan bukankah aku terlalu jahat jika mengabaikannya padahal selama ini dia selalu membantuku ketika aku berada dalam situasi yang sulit. Pikiran itu kemudian membuatku akhirnya membuka mulutku dan memberikan jawaban padanya bahwa aku ada di dalam apartemenku agar dia tidak mengkhawatirkan aku.


            “Aku tidak akan meminta masuk, Author! Aku hanya ingin memastikan Author baik-baik saja setelah kabur meninggalkanku begitu saja di vila. Aku benar-benar terkejut mendapati Author menghilang hingga memutari danau dua kali untuk mencari Author.”


            Buk. Dari balik pintu apartemenku, aku mendengar suara benturan kecil yang sepertinya terjadi karena Arata bersandar pada pintu itu. Tidak lama kemudian suara yang aku dengar adalah suara gesekan yang kuduga Arata yang bersandar di pintu apartemenku kemudian beringsut turun dan duduk.


            Aku melakukan hal yang sama dengan yang Arata lakukan: duduk di lantai dengan bersandar di pintu apartemenku. “Maafkan aku, Arata. Aku harus pergi dengan cara itu. Jika aku tidak. . . kau pasti akan menahanku.”

__ADS_1


            “Tentu saja, aku akan menahanmu, Author. Sayangnya kau tahu apa yang akan aku lakukan hingga akhirnya pergi tanpa berpamitan kepadaku.” Aku mendengar nada suara sedih dalam ucapan Arata itu. “Karena aku sudah di sini. . . bisakah Author mendengarkan ceritaku? Hari ini aku sedang benar-benar kesal sekali dan tidak ada yang bisa mendengarku bicara dan mengeluh.”


            Huft. Aku menghela napasku sembari tersenyum kecil mengingat ucapan Arata itu. Di saat seperti ini. . . benalu menyebalkan ini masih saja mengusikku. Dia malah memintaku mendengar ceritanya di saat seperti ini seolah. . . aku ini adalah satu-satunya inang yang akan selalu menerima kehadirannya tanpa peduli dia adalah benalu.


            “Baiklah. . . apa yang ingin kau ceritakan, Arata?” Aku menyerah dan akhirnya memilih untuk mendengar cerita Arata sekaligus sebagai penghiburan kecil untukku di sangkarku yang kini terasa sangat dingin.


            “Sebelum menjadi aktor terkenal seperti sekarang. . . dulunya aku hanyalah seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Keluargaku semuanya adalah dokter dan ayahku mengharapkan aku juga bisa menjadi dokter seperti kedua kakakku di masa depanku.” Arata memulai cerita kecil tentang dirinya yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Aku ingat dengan baik bahwa Warda sering kali mengomel mengenai latar belakang Arata yang tersembunyi dengan rapat selama ini. Bahkan paparazi yang mencari latar belakang Arata pun kesulitan untuk menemukan hal yang sedang aku dengar dari mulut Arata ini.


            “Kenapa kau tidak jadi dokter dan justru menjadi aktor?” tanyaku.


            “Ehm. . .” Aku mendengar Arata sedang menahan tawa kecilnya dari balik pintu apartemenku. “Otakku ini tidak pintar seperti dua kakak laki-lakiku, Author.”


            “Lalu kenapa memilih menjadi aktor? Dengan latar belakang keluarga dokter, setidaknya kau bisa mengambil jurusan bisnis dan mengembangkan rumah sakit sendiri?”


            “Kenapa??”


            “Aktor Rangga juga pernah menanyakan hal yang sama padaku, Author,” jelas Arata. “Kurasa jika kalian berdua bertemu, kalian mungkin bisa menjadi teman baik karena mungkin jalan pikiran kalian yang kurang lebih mirip menurutku.”


            Aku terkekeh mendengar ucapan Arata itu. “Aku tidak berniat untuk mengenal aktor lain. Satu aktor yang aku kenal saja sudah seperti benalu yang selalu menempel padaku, bagaimana jika aktor Rangga yang dikenal bermasalah itu mengenalku?? Bisa-bisa hidupku ini akan penuh dengan bencana.”


            “Hahahahahah.” Aku mendengar gelak tawa kecil dari balik pintu apartemenku. “Sudah kukatakan. . . aku adalah benalu istimewa. Aku adalah satu-satunya benalu yang akan memberikan simbiosis mutualisme pada Author.”


            “Cih. . .” Aku mendecakkan lidahku mendengar Arata membanggakan dirinya menggunakan panggilan yang aku buat, yang harusnya membuatnya kesal dan bukan merasa senang seperti saat ini. “Kau masih ingin cerita lagi atau tidak?? Jika tidak, aku bisa kembali ke apartemenmu dan tidur. Ini sudah malam, kau harus istirahat. Di luar sana pasti sangat dingin.”

__ADS_1


            “Aku tidak merasa dingin, Author.”


            “Hebat sekali tubuhmu itu. . .” pujiku pada Arata.


            “Aku tidak merasa dingin karena punggungku ini merasakan kehangatan punggung Author yang menempel di pintu apartemenmu.”


            Mendengar ucapan Arata itu, spontan aku langsung menarik tubuhku yang bersandar ke pintu apartemenku karena terkejut. Aku menyentuh pintu apartemenku dan memastikan jika pintu besi yang tebal itu tidak akan mampu menyalurkan hangat tubuhku kepada Arata yang berada di luar sana.


            “Kau sedang menggodaku, Arata??” balasku dengan sedikit berteriak karena kesal.


            “Tidak. Apa yang aku katakan adalah jujur, Author. Alasan kenapa aku selalu berusaha untuk menempelimu hingga mendapat julukan benalu darimu, karena aku mendapatkan kehangatan yang tidak pernah diberikan keluargaku darimu, Author.”


            Mendengar ucapan Arata itu. . . akhirnya aku sadar sosok sempurna di mata para wanita di negeri ini, adalah manusia biasa yang juga punya kekurangan seperti manusia-manusia lainnya. Arata adalah manusia yang dianggap sempurna oleh orang lain karena kelebihan yang dimilikinya. Karena kelebihan miliknya yang terlihat begitu bersinar, kekurangannya semakin tidak terlihat dan membuat kebanyakan orang yang tidak melihatnya akhirnya menilai Arata sebagai sosok yang sempurna seperti tokoh utama dalam novel-novel.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2