MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KESIALAN DAN KEBERUNTUNGAN DALAM HIDUP PART 3


__ADS_3

Narator’s POV


            Bora menatap layar ponselnya bingung bagaimana dirinya harus bereaksi dengan artikel  dan foto-foto Arata bersama dengan Author Wallflower-Asha yang kini tersebar. Karena ulah paparazi yang menangkap foto Arata dan Author Wallflower, kini Bora dapat melihat alasan kenapa Arata dekat dengan Author Wallflower.


            “Mereka adalah tetangga dan itulah alasan Arata bersikap baik padanya?” gumam Bora yang tiba-tiba merasa kesal melihat foto Arata dan Author Wallflower yang saling memandang satu sama lain dari balkon apartemen mereka yang bersebelahan.


            Tatapan itu. . , tatapan Arata pada wanita itu bukanlah tatapan yang biasa diperlihatkannya pada banyak orang. Melihat wajah Arata yang memandang ke arah Author Wallflower dalam foto yang ada di layar ponselnya, membuat Bora merasa yakin dengan ketakutannya selama ini.


            “Kenapa kau marah lagi?” tanya Ulfa yang sedang membereskan lemari pakaian milik Bora dan menata pakaian untuk besok syuting terakhirnya dalam film Love Like Ectasy.


            Bora melirik ke arah Ulfa dan penasaran dengan pemikiran manajernya yang polos itu. “Apa kau sudah melihat kabar terbaru tentang Author Wallflower?”


            Ulfa menganggukkan kepalanya. “Sudah. Berita tentang hubungannya dengan Arata bukan?”


            “Ya. Bagaimana menurutmu, Ulfa? Jika kau yang berada di posisi manajer Arata, apa yang akan kau lakukan untuk mengatasi hal itu? Apakah kau akan melakukan klarifikasi dan menyangkal isu itu?” Bora bertanya dengan wajah penasaran.


            “Jika aku manajer Arata, tentu aku akan melakukan hal itu, Bora. Sekarang Arata sedang berada di puncak karirnya, dalam setahun atau dua tahun lagi karirnya masih bisa naik lagi dan Arata masih bisa lebih terkenal lagi. Mungkin dia  bisa mendapatkan kesempatan untuk bermain film di luar negeri. Sebagai orang terkenal, masalah seperti ini selalu datang dan jika ingin mempertahankan masa depan Arata, pihak Arata harusnya menolak berita itu dan mengatakan bahwa dia tidak memiliki hubungan spesial dengan Author Wallflower kecuali mereka adalah tetangga seperti yang tertangkap dalam foto itu.”


            Bora tersenyum mendengar jawaban rasional yang keluar dari mulut Ulfa.


            “Apalagi Author Wallflower sekarang sedang berada dalam masalah. Skandal tentang perundungan baru saja keluar dan hal itu pasti akan membuat penggemar Arata mengecam hubungan Arata dengan Author Wallflower. Jadi. . . jika ingin mempertahankan popularitas Arata, pihak Arata harusnya akan memberi pengumuman jika Arata tidak memiliki hubungan dengan Author Wallflower.” Ulfa menambahkan jawabannya setelah merapikan pakaian-pakaian milik Bora di lemarinya.


            Senyuman Bora semakin lebar saja karena rasanya Tuhan sedang berpihak kepadanya dan memberikannya bantuan untuk menghancurkan Author Wallflower.


            Dengan begini. . . nama Author Wallflower akan semakin hancur dan dia tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk muncul di depan publik apalagi muncul di dekat Arata, pikir Bora penuh dengan api semangat. Rasanya. . . Tuhan mungkin sedang menjawab doa-doaku selama ini. Tuhan seolah berkata padaku jika Arata ditakdirkan untukku dan bukan bersama dengan wanita menyebalkan itu yang tidak tahu tempatnya sama sekali.


            Drrrtttt. . . ponsel Bora bergetar dan di layarnya muncul nama Lusi yang sedang melakukan panggilan kepada ponsel Bora.

__ADS_1


            Bora melihat ke arah Ulfa dan meminta Ulfa untuk keluar dari dalam kamarnya ketika sedang menerima panggilan dari Lusi.   


            “Halo, Lusi. Kenapa menghubungiku?”


            “Apa kau sudah melihat berita Arata dengan Asha?”


            Bora menganggukkan kepalanya sembari memainkan rambutnya karena perasaan senang yang sedang datang padanya.          “Ya, aku melihatnya.”


            “Apakah itu ulahmu, Bora?”


            Bora menggelengkan kepalanya. “Tentu saja, bukan. Itu ulah orang lain, aku tidak pernah tahu jika Arata dan Asha tinggal bersebelahan. Jika aku tahu. .. . mungkin sudah lama aku yang akan menyebarkan kabar itu.”


            “Apa setelah ini Asha akan kehilangan namanya??” Bora menangkap nada khawatir dalam ucapan Lusi.


            “Tentu saja. Arata tentu tidak akan menerima isu itu dan pasti akan berkata tidak dalam pengumumannya nanti. Kita hanya perlu menunggu hal itu dan setelah itu terjadi, Asha akan kehilangan segalanya seperti yang kita harapkan.” Bora tersenyum senang sembari hatinya tidak sabar menunggu hari itu segera tiba. “Kenapa kau bertanya seperti itu??”


            “Kenapa?” Bora tiba-tiba merasa penasaran karena ucapan dari Lusi. “Apa ada yang tidak beres?”


            “Apartemen di mana Asha tinggal adalah apartemen di mana saudaraku tinggal.  Apartemen itu adalah apartemen kelas menengah dan bukan kelas atas. Bagaimana aktor terkenal seperti Arata dengan bayaran yang mahal bisa tinggal di apartemen menengah seperti itu? Tidakkah kau merasa aneh dengan itu, Bora??”


            Bora menggelengkan kepalanya karena perasaan senang yang sudah terlanjur menyebar ke seluruh pikiran dan hatinya. “Kau berpikir terlalu banyak, Lusi. Jangan berpikir yang aneh-aneh, kita hanya perlu menunggu kehancuran wanita itu setelah ini dan kau akan mendapatkan bayaran mahal karena sudah membantuku, Lusi.”


            “Ahhh, hahahaha.” Bora mendengar suara terkekeh Lusi dari dalam ponselnya. “Baiklah, aku paham itu, Bora.  Sepertinya aku saja yang terlalu mengkhawatirkan hal itu. Ya. . . kita berdua hanya perlu menunggu kehancuran Asha saja seperti ucapanmu, Bora.”


            Bora menutup panggilannya dan menatap ke langit-langit kamarnya dengan wajah sedikit penasaran. Ucapan Lusi ada benarnya. Kenapa Arata tinggal di apartemen kelas menengah seperti itu dan bukan di apartemen kelas atas?


            Bora menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus pikirannya sendiri. Bahkan jika Arata menyukai penulis itu, mereka menjadi tetangga pasti hanya kebetulan saja. Bahkan jika Arata menyukai penulis itu, Arata pasti akan memilih untuk melepas wanita itu daripada kehilangan popularitas miliknya. Aku yakin itu.

__ADS_1


*


            Drtttt. . .


            Ponselku bergetar berulang kali dan getarannya berhasil membuatku bangun dari tidurku. Aku membuka mataku dengan malas dan mengambil posisi duduk di sofa di mana aku tertidur. Oh. . . jam 11 malam.


            Aku mengambil ponselku dan melihat nama Arata muncul di layar ponselku. Tanpa pikir panjang aku menerima panggilan itu. Benalu menyebalkan ini tidak akan berhenti melakukan panggilan sebelum aku menjawab panggilan itu.


            “Ehm. . . kenapa menghubungiku?”


            “Author sudah tidur??”


            “Yah. . . sepertinya satu jam yang lalu aku tertidur di sofa di depan TV.” Aku mengucek mataku dan kembali ke posisi tidurku di sofa karena rasa kantukku yang teramat sangat. “Kenapa?”


            “Bisakah kau pergi ke balkonmu? Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu dan itu harus di depanmu, Author??”


            Mataku yang tadi sempat terpejam karena rasa kantuk yang teramat sangat, langsung membuka mendengar permintaan konyol dari Arata itu. “Apa kau gila?? Kau ingin paparazi mengambil foto kita lagi??”


            “Tidak, Author. Kali ini tidak akan ada paparazi yang mengambil foto kita berdua. Lagi pula paparazi yang mengambil foto kita itu adalah kenalan Kak Rama, jadi seperti ucapanku sebelumnya, foto kita berdua menyebar adalah rencanaku dengan Kak Rama.” Arata berusaha memberi penjelasan kepadaku.


            “Kali ini. . . apa  lagi rencanamu?” Aku bangkit dari dudukku, berjalan ke dapur, mengambil air minum dan meminumnya. “Kau berusaha menghapus skandal tentangku dengan skandal lain dan kali ini melibatkanmu. Apa kau tidak sayang dengan popularitas yang kamu miliki?”


             “Hem.” Arata terdiam sejenak sepertinya dia sedikit enggan mengatakan rencana berikutnya padaku. “Setelah ini, aku akan mengakhirinya, Author. Baik itu skandal tentang dirimu, perundungan yang kau terima dan skandal yang terjadi bersamaku, setelah ini aku akan mengakhirinya, Author.”


            “Bagaimana caranya? Apa kau akan mengklarifikasi sendiri skandal itu?” Aku tahu dengan baik. . . bahwa popularitas adalah hal yang sangat penting bagi public figure seperti Arata. Jadi jika kelak dia membuangku, aku sudah siap sepenuhnya.


            “Ya, Author. Dalam dua hari. . . aku akan mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi semuanya.”

__ADS_1


__ADS_2