
Arata langsung berdiri ke samping dan memegang bahuku dengan erat. “Kukira aku bukan bagian dari Wiyarta, kenapa aku harus membawa wanita yang aku cintai ini masuk ke dalam Wiyarta? Bukankah aku adalah kegagalan dalam hidup kalian para Wiyarta??”
Tatapan dari Maha-Kakak kedua Arata langsung berubah menjadi sengit seolah dirinya benar-benar marah dengan ucapan Arata baru saja. Tapi tatapan tajam itu hanya menjadi tatapan tajam saja. Tatapan tajam itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, sebelum akhirnya menghilang karena Maha mampu menguasai dirinya dan emosinya saat ini. “Terserah kamu mau mengatakan apa, Arata. Tapi darah Wiyarta pada kenyataannya tetap mengalir di dalam tubuh. Bagaimanapun kamu adalah bagian dari Wiyarta, kamu tidak akan bisa mengubah hal itu. Di dunia ini mungkin ada istilah mantan istri dan mantan suami, tapi tidak ada istilah mantan anak dan mantan orang tua.”
Setelah mengatakan hal itu, Maha membalik tubuhnya dan hendak berjalan pergi meninggalkanku dan Arata. Tapi baru dua langkah berjalan, Maha menghentikan langkah kakinya dan berbalik melihat ke arah kami lagi. “Kuperingatkan Arata, jangan mengatakan apa yang kamu katakan padaku pada Kakak Pertama dan Ibu! Aku sungguh-sungguh mengatakan hal ini, Arata! Jika kau melakukannya, kau harus siap menerima kemarahan Kakak pertama, ingat itu!!”
Kali ini ... Maha berbalik lagi dan benar-benar berjalan pergi meninggalkan aku yang masih bingung dengan Arata yang masih dalam keadaan tegang seolah menghadapi keluarganya memiliki tekanan yang sangat berat lebih berat dalam menghadapi ratusan kamera yang mengara kepada dirinya.
“A-Author ba-baik-baik saja?” Arata langsung menanyakan hal itu sembari melihat diriku.
“Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat, Arata.” Aku membalas pertanyaan Arata dengan senyuman ringan di bibirku, berusaha untuk membuat Arata tenang.
“Author yakin baik-baik saja? Kakak keduaku itu biasanya sedikit dramatis dalam bertindak, dia mungkin tidak akan memukul wanita. Tapi ucapannya kepada wanita terkadang sangat kejam bahkan mampu membuat beberapa hati wanita teriris dengan sangat menyakitkan.”
“Aku baik-baik saja, Arata. Lihatlah sendiri!” Aku menganggukkan kepalaku dengan yakin sembari menunjukkan kedua tanganku yang sama sekali tidak gemetar seperti sebelum-sebelumnya. “Aku bahkan sempat berpikir minuman itu mungkin akan membasahi tubuhku jika aku mengatakan hal yang salah di depan kakak keduamu tadi.”
Mendengar ucapanku, Arata spontan tertawa kecil. Matanya menatap gelas minuman milikku dan milik Maha-kakak keduanya yang kini hanya tersisa separuh bagian saja. Arata terus menatap isi meja yang penuh dengan makanan manis, sebelum bergumam kepadaku. “Sepertinya kebiasaan Kak Maha tidak berubah ... makanan manis selalu menjadi makanan kesukaannya. Harusnya dia mampu menghabiskan semua ini hanya dalam waktu singkat.”
Aku melongo mendengar ucapan Arata. Tadinya aku mengira semua makanan manis yang dipesan oleh Maha-kakak kedua Arata adalah untukku. Tapi aku tidak menyangka jika semua makanan manis di meja di hadapanku ini tadinya dipesan untuk Maha sendiri.
__ADS_1
“Kakakmu mampu memakan semua ini??” tanyaku tidak percaya.
“Uwahh ... kukira para pria tidak terlalu menyukai makanan manis-“ Setelah mengucapkan kalimat itu, aku ingat bagaimana wajah Arata setelah meminum kopi milikku yang terasa sedikit pahit. Arata juga tidak menyukai sesuatu yang pahit dan menyukai minuman manis. Sepertinya keturunan dalam keluarganya menyukai makanan manis.
“Ini mungkin aneh tapi ... mungkin juga tidak, semua orang di dalam keluargaku menyukai makanan manis. Kakak keduaku selalu ingin makanan desert manis ketika selesai bekerja atau sedang punya waktu luang. Lalu kakak pertamaku sangat suka dengan coklat. Kakak pertamaku selalu membawa-bawa coklat di dalam tasnya maupun jas kerjanya sebagai dokter. Lalu ayahku ... sangat suka dengan permen manis. Sama seperti kakak pertamaku, di sakunya selalu ada permen yang tersedia untuk di makannya. Lalu ibuku ... sangat suka dengan buah-buahan manis seperti kesemek dan sawo yang sangat manis yang terkadang membuat orang justru tidak menyukainya karena terlalu manis. Lalu aku ... sangat suka dengan minuman manis. Meminum minuman manis rasanya membuat rasa lelahku hilang.”
Mendengar penjelasan Arata, aku mengingat bagaimana Arata selama syuting selalu membawa botol minuman manis di sampingnya. Kukira selama ini semua aktor dan aktris selalu menjaga bentuk tubuhnya dengan menjaga pola makannya. Tapi Arata berbeda. Dia mungkin bisa menahan rasa laparnya tapi tidak dengan minuman manis yang selalu ada di sampingnya dan bahkan Kak Rama pun selalu menyediakannya.
“Keluarga kalian benar-benar unik.”
“Beberapa orang mengatakan hal itu merupakan efek dari kerja otak kami yang lebih keras dibandingkan dengan kebanyakan orang. Jadi makanan manis adalah nutrisi yang dibutuhkan oleh otak kami karena bekerja terlalu keras. Aku akan mengerti jika hal itu terjadi pada semua keluargaku. Tapi ... aku tidak paham hal itu juga terjadi padaku, mengingat aku tidak pandai menggunakan otakku seperti kedua kakakku.”
“Kamu ini ... “Aku bangkit dari dudukku, naik ke atas kursiku, berdiri lebih tinggi dari Arata dan kemudian meletakkan tanganku di atas kepada Arata. “Berhentilah berkecil hati seperti itu,, Arata!! Penggemarmu akan merasa sedih jika mendengarnya! Kau ini adalah bintang yang dipuja-puja di negeri ini!!”
“Author.” Arata menengadahkan kepalanya melihatku yang sekarang memiliki posisi lebih tinggi darinya. Selama ini karena aku merasa sangat kecil ketika berada di samping Arata yang memiliki tubuh yang tinggi, aku tidak pernah bisa melakukan apa yang aku lakukan saat ini kecuali aku dan Arata sedang dalam posisi duduk.
“Kenapa??” balasku sembari memberikan tatapan tajam ke arah Arata yang sekarang berada di posisi yang lebih rendah dariku. “Kau tidak terima aku melakukan ini?”
Arata menggelengkan kepalanya. “Tidak.”
__ADS_1
“Kalau begitu kenapa memanggilku?” tanyaku lagi.
“Ini ide yang bagus sekali, Author!”
Arata membuat senyuman padaku. Dari senyumannya aku tahu sesuatu yang buruk sedang dipikirkan oleh Arata saat ini. Aku menarik tanganku dan hendak turun dari kursiku, tapi Arata bergerak lebih cepat dariku. Dia memeluk tubuhku yang masih berdiri di atas kursi dan kemudian menarik tubuhku, membuat tubuhku kini berada di panggulan bahunya.
“Apa yang kau lakukan, Arata?? Turunkan aku!!!”
Arata membawa tubuhku dengan santainya dan bahkan sama sekali tidak merasa takut jika penggemarnya atau paparazi menangkap basah dirinya yang sedang membawa tubuhku layaknya sedang memanggul karung beras di bahunya.
“Bukankah aku sudah mengatakan jika ini adalah ide yang bagus, Author??” Arata terus membawa tubuhku tanpa sekalipun merasa ingin menurunkanku.
Dari kepalaku yang sedang dalam posisi terbalik, aku melihat beberapa pelayan yang melihatku tersipu malu melihat situasi yang sedang aku alami. Sial, kau Arata!!! Kau ini!!! Sekali benalu tetap saja benalu!!!
Setelah melewati pintu keluar, aku melihat Kak Rama berdiri di sana dengan menahan senyuman di bibirnya.
“Kak,” panggil Arata yang masih terus membawa tubuhku dengan cara menyebalkan ini.
“Aku mengerti, Arata. Semua kamera di cafe ini telah dimatikan.”
__ADS_1