
“Authorrrrrrrrrrrrrr!!!!”
Suara teriakan itu terdengar begitu menyenangkan di telingaku. Suara berat yang selalu memanggilku dengan sebutan Author, semakin lama semakin membuatku terbiasa. Suara itu, panggilan itu dan pemilik suara itu awalnya adalah sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku. Tapi semakin lama aku di dekatnya, suara itu, panggilan itu dan pemiliknya membuatku mulai terbiasa dengannya.
“Authorrrrrrrrrrrrr!!!! Buka matamu, Authorrrrrrrrrr!!!!”
Aku mendengar suara itu lagi. Aku ingin sekali membuka kedua mataku untuk melihat pemilik suara itu, tapi ... kedua kelopak mataku yang menutup mataku tidak bisa kubuka. Tidak ... bukan hanya kelopak mataku saja, tapi semua anggota tubuhku menolak perintah yang aku berikan dari otak.
“Authorrrrrrrrrrr!!!!”
Aku mendengar suara itu lagi. Dan kali ini ... aku berusaha dengan sangat keras untuk membuat saraf motorik di tubuhku bergerak sesuai dengan perintah yang otakku katakan. Perlahan ... aku bisa membuka kelopak mataku dan menatap langit gelap yang bercampur dengan guratan sinar matahari pagi.
Apakah ini sudah berganti hari? Aku bertanya hal itu di dalam benakku sembari berusaha memproses semua yang muncul di dalam penglihatanku.
“Authorrrrrrrrrr!!! Lihat kemari, Authorrrrrrrrrr!!!!”
Aku mendengar suara itu lagi. Kali ini tubuhku mulai merasakan guncangan di tempatku berada dan embusan angin dingin yang menerpa tubuhku. Aku menggerakkan kepalaku dan berusaha melihat ke arah suara yang berusaha memanggil-manggil panggilan yaag selalu disebut oleh seseorang.
“Kau sudah bangun, Asha??”
Aku melihat wajah Sena yang mendekat ke wajahku dan menghalangi pandanganku untuk melihat seseorang yang memanggilku dengan sebutan Author.
“Seperti ucapanku sebelumnya, Arata tidak akan pernah melepaskanmu bahkan ketika kamu memaksanya pergi. Arata adalah tipikal orang yang paling aku benci karena mereka begitu keras kepala bahkan setelah orang yang mereka sayangi berusaha untuk membuangnya berulang kali dan menyakitinya berulang kali. Dan hal itu membuatku teringat dengan diriku sendiri, Asha.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali berusaha untuk menerima informasi yang aku lihat dan aku dengar ketika semua indra di tubuhku belum sepenuhnya berfungsi dengan baik.
“A-apa maksudmu, Sena?”
Sena melihat ke arah Arata yang berada di kapal lain yang masih cukup jauh dari kapal di mana aku berada. Sena kemudian menggendong tubuhku dan membuatku melihat tubuhku dalam keadaan terikat baik tangan maupun kakiku. Dalam keadaan dipanggul di bahunya, aku melihat sebuah rantai panjang terikat di salah satu kaki Sena dan di ujung rantai itu ada bulatan besi yang aku rasa cukup berat.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau lakukan, Sena??” teriakku. “Setelah membunuh banyak orang, kau ingin mati begitu saja tanpa membayar semua kesalahanmu pada banyak orang??”
Sena melemparkan bulatan besi itu lebih dulu dan tidak lama kemudian bulatan besi itu meluncur dengan cepat ke dasar danau yang tidak aku ketahui seberapa dalamnya. Rantai yang menghubungkan bulatan besi itu dengan kaki Sena, bergerak dengan cepat dan dalam hitungan detik menarik tubuh Sena yang membawa tubuhku.
“Authorrrrrrrrrr!!!!!”
Tepat sebelum terjun ke dalam dinginnya air danau, aku mendengar teriakan Arata dan dapat melihat raut wajahnya yang melihatku dengan wajah ketakutan.
Byur ....
Tubuh Sena yang membawa tubuhku meluncur dengan cepat ke kedalaman danau yang gelap. Aku menahan nafasku sekuat tenaga untuk melindungi paru-paruku dari air danau yang berusaha untuk masuk. Tapi ... sejak awal aku tidak bisa berenang dan daya tahan nafasku tidak lebih dari tiga puluh detik. Jadi dalam hitungan tiga puluh detik sejak jatuh ke dalam danau, paru-paruku memberontak membutuhkan asupan oksigen untuk bertahan hidup.
Huwaaah .... posisi tahan nafas yang sejak tiga puluh detik aku pertahankan, kini menerima perintah dari otakku untuk bertahan hidup. Mulutku terbuka dan meronta-ronta meminta oksigen. Tapi di dalam danau, di dalam air, meski ada oksigen sekali pun, manusia tidak akan bisa mengambil oksigen itu. Manusia punya paru-paru dan bukan insang seperti ikan yang mampu menyaring oksigen dari dalam air. Jadi ... begitu mulut terbuka, air danau langsung masuk ke dalam paru-paruku. Otak yang terus memerintah untuk meminta oksigen, kini perlahan kehilangan pasokan oksigen dan mulai berhenti memberikan perintahnya.
Tubuhku menggeliat untuk melepaskan diri dari Sena, tapi ... Sena masih terus menahan tubuhku untuk mati bersama dengan dirinya.
Blub ... blub.
Tepat sebelum mataku benar-benar tertutup, aku berkata pada diriku sendiri. Tangan itu, aku tidak ingin kehilangannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa takut kehilangan seseorang.
*
Narator’s POV
Laksamana dan Leo yang melihat kapal di tengah danau dan Sena yang berada di atasnya, segera bergegas untuk mengejar kapal itu. Kebetulan sekali atau mungkin Sena tidak memperkirakan kedatangan Laksamana dan timnya akan secepat ini, membiarkan kapal kedua di tepi danau tanpa mengotak-atiknya sebelum pergi ke tengah danau. Karena ukuran kapal yang tidak terlalu besar dan hanya bisa memuat beberapa orang, Laksamana menunjuk beberapa orang anak buahnya dan meninggalkan Leo dan beberapa anak buah lainnya di pinggiran danau untuk meminta bantuan.
Sayangnya ... sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Sebelum berangkat mengejar kapal Sena, Arata melompat ke arah kapal Laksamana dan memaksa untuk ikut dengan Laksamana.
__ADS_1
“Tuan Arata!! Apa yang kau lakukan??” Laksamana berhasil menangkap tubuh Arata yang nyaris saja masuk ke dalam danau. “Bukankah aku berpesan padamu untuk menunggu di tepi danau??”
Arata yang sepertinya sama sekali tidak memiliki rasa takut, membalas pertanyaan Laksamana dengan senyuman di wajahnya. “Tidak bisa, Pak. Aku tidak bisa menunggu ketika kekasiku dalam bahaya!!!!”
Karena harus mengejar kapal Sena, Laksamana tidak punya pilihan lain selain membawa Arata yang sudah melompat paksa masuk ke dalam kapal.
“Inga, Tuan. Jangan gegabah!!! Pria di sana itu, bisa saja melakukan hal buruk kepada Nona Asha mengingat sudah banyak orang yang dibunuhnya!!!” Laksamana memberi peringatan kepada Arata. “Tuan mengerti?”
Arata menganggukkan kepalanya. “Saya mengerti, Pak.”
“Satu lagi,” Laksamana berniat mengajukan pertanyaan penting kepada Arata. “Apakah Tuan bisa berenang?”
Arata menganggukkan kepalanya lagi. “Untuk satu itu, Bapak bisa yakin pada saya. Saya punya beberapa lisensi ketika terjun di dunia akting termasuk berenang dan menyelam.”
Melihat bagaimana Arata sepertinya patuh dengan perintahnya, Laksamana mengira keputusannya membawa Arata adalah hal yang benar. Tapi nyatanya ... keputusan itu adalah keputusan yang salah. Arata langsung berteriak memanggil Asha ketika jarak kapal yang dinaikinya bersama dengan Arata dan anak buahnya mendekat dengan kapal Sena.
“Authorrrrrrrrrrrrr!!!!”
Dan teriakan itu bukan hanya satu dua kali saja.
“Authorrrrrrrrrrrrr!!!! Buka matamu, Authorrrrrrrrrr!!!!”
“Authorrrrrrrrrrr!!!!”
“Authorrrrrrrrrr!!! Lihat kemari, Authorrrrrrrrrr!!!!”
Langit malam yang gelap perlahan berubah terang karena sinar matahari. Dan berkat sinar matahari itu, Laksamana bersama dengan timnya dapat dengan jelas melihat Sena dan Asha yang berada di atas kapal. Tapi berkat teriakan Arata, teriakan itu sepertinya membuat Sena mengambil keputusan gila sebelum Laksamana bisa bernegosiasi dengannya.
Byur ...
__ADS_1
Dalam sekejap mata, Sena melompat dengan membawa Asha setelah melemparkan bulatan besi yang terhubung dengan rantai di kakinya.