MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KELUARGA WIYARTA DAN DRAMA DI DALAMNYA PART 2


__ADS_3

            “Duduklah, Nona Asha!” Wanita yang dipanggil Ibu oleh kakak pertama Arata-Kendra, memintaku yang baru saja masuk ke dalam ruangan pertemuan khusus itu untuk duduk di hadapan mereka.


            Pertemuan dadakan ini lebih mirip seperti sebuah interogasi-menurutku. Bagaimana tidak? Ayah dan Ibu Arata duduk bersama di depanku sementara dua kakak Arata duduk di sisi samping meja yang berbentuk persegi panjang ini. Mereka berdua lebih mirip algojo yang siap memberikan hukuman padaku ketika aku salah menjawab pertanyaan dari Ayah dan Ibu Arata.


            “Nona Asha pasti terkejut mendapati Kendra membawamu kemari untuk bertemu dengan kami.” Ibu Arata kembali berucap, mungkin karena dialah satu-satunya wanita di dalam keluarga Arata dan menganggap bahwa wanita akan saling terbuka kepada wanita lain.


            “Se-sedikit. Mohon maaf sebelumnya, saya harus memanggil dengan panggilan apa?” tanyaku dengan sedikit gugup. Aku merasa jika aku salah berucap sedikit saja, nyawaku bisa melayang lebih cepat dari seharusnya.


            “Kalau begitu, Ibu akan memanggilmu langsung dengan nama Asha. Sementara Asha bisa memanggilku dengan Ibu, Ayah Arata dengan panggilan Ayah dan dua kakak Arata dengan panggilan Kakak.” Setelah mengatakan hal itu dengan senyuman di bibirnya, Ibu Arata melihat ke arah Ayah Arata. “Boleh begitu kan, Ayah?”


            “Tentu, istriku.”


            Glek. Aku menelan ludahku mendengar suara berat dari Ayah Arata. Suara itu terdengar seperti gelegar petir yang begitu berat yang sewaktu-waktu bisa menyambarku jika aku tidak menata dengan baik ucapanku.


            “Sepertinya kita akan punya adik perempuan yang manis setelah selama ini kita hanya punya adik laki-laki yang sulit diatur,” ucap Maha dengan senyuman liciknya sembari memakan kue manis di depannya.


            “Melihat bagaimana manisnya Nona Asha, aku merasa sedikit iri dengan Arata,” ucap Kendra sembari menatap ke arahku dengan wajah datarnya. “Jika saja ... aku yang bertemu denganmu lebih dulu, mungkin kau sudah lama menjadi bagian dari keluarga ini, Nona Asha.”


            “Sepertinya kalian sangat menyukai Asha, Kendra? Maha?” Ibu Arata mengomentari dua ucapan putranya tentangku sembari menatapku dengan senyuman di bibirnya. Senyuman itu ... aku tidak tahu harus bagaimana menafsirkannya, apakah itu senyuman hangat atau senyuman biasa atau mungkin senyuman tanda perasaan tidak sukanya denganku, aku tidak tahu.

__ADS_1


            “Tentu, Bu.” Maha  yang sepertinya lebih banyak bicara dari pada Kendra menjawab pertanyaan Ibu Arata lebih dulu. “Lihat Asha, Bu! Dia itu sangat sederhana. Penampilannya sederhana tidak seperti kebanyakan wanita jaman sekarang yang harus memakai riasan tebal bahkan untuk keluar rumah depan rumah sekalipun. Melihat bagaimana Arata begitu mengejar-ngejarnya selama ini, aku tahu jika Asha bukan wanita yang melihat seseorang dari kedudukan dan kekayaan mereka. Menemukan wanita seperti Asha adalah hal yang langka di jaman seperti ini, Bu. Kakak setuju denganku bukan?”


            Kendra menganggukkan kepalanya dengan wajah datar. “Aku setuju dengan ucapan Maha, Bu. Melihat bagaimana Arata selama berusaha dengan keras mendapatkan popularitasnya demi menemukan Nona Asha, aku merasa jika Nona Asha memang layak untuk menjadi bagian dari keluarga kita.”


            Bagian dari keluarganya? Aku? Menjadi bagian dari keluarga ini? Apa mereka tidak salah menilaiku? Sementara aku sibuk menatap bingung dua kakak Arata karena pendapat mereka,  Ibu Arata tersenyum mendengar pendapat dua putranya sembari menatapku.


            “Senang sekali jika kalian memiliki pendapat yang sama denganku. Dua putraku ini memang benar-benar putraku yang hebat.”  Ibu Arata memuji dua putranya sebelum akhirnya melihat ke arah Suaminya yang duduk di sampingnya dengan wajah datar sejak tadi dan tidak banyak bicara. “Bagaimana dengan suamiku? Bagaimana pendapatmu tentang Asha?”


            Menerima pertanyaan dari istrinya yang tidak lain adalah Ibu Arata, Ayah Arata langsung mengarahkan tatapannya padaku dan membuatku yang duduk di depannya merasa akan mati hanya dengan tatapan tajam darinya saja. Aku merasa ingin sekali berlari dari tempat ini sesegera mungkin, tapi jika aku melakukannya, mungkin baru selangkah aku melangkahkan kakiku dan aku akan langsung mati di tempat.


            “Namamu Asha?” Suara gelegar Ayah Arata terdengar sembari bertanya padaku.


            “I-iya, A-ayah,” ucapku dengan gugup.


“Apa yang kau suka dari Arata?”


Glek. Pertanyaan itu benar-benar merupakan pertanyaan tersulit yang pernah aku terima seumur hidupku. Aku bahkan kesulitan menemukan jawaban itu ketika bertanya pada diriku sendiri selama bersama dengan Arata. Dan sekarang ... Ayah Arata justru mengajukan pertanyaan itu padaku ketika aku sendiri belum menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.


“Sejujurnya  ... saya tidak tahu apa yang membuat saya menyukai Arata. Selama ini ... Arata selalu menempel pada saya seperti benalu. Ke manapun dan di manapun ketika kami bersama, rasanya pandangan Arata selalu mengarah pada saya dan tidak pernah berniat untuk melepaskannya. Sejujurnya ... awalnya saya terganggu dengan keberadaan Arata. Selama ini saya telah mengurung diri dan melepas hampir semua hubungan dengan manusia. Tapi Arata datang begitu saja dan memaksa masuk dalam kehidupan saya. Kehidupan saya sempat berantakan karena Arata, tapi selama perjalanannya dari Arata saya justru mempelajari banyak hal yang sempat membuat saya lupa bahwa hubungan antar manusia begitu menyenangkan. Jadi jika harus saya mengatakan alasan saya masih terus bersama dengan Arata, mungkin karena dia adalah benalu dalam hidup saya. Dia adalah benalu yang tidak pernah melepaskan saya bahkan setelah saya mendorongnya untuk pergi. Dia adalah benalu yang tidak pernah berniat pergi meski saya berusaha menjauh darinya. Dan juga dia adalah satu-satunya benalu yang memberikan simbiosis mutualisme pada saya.”

__ADS_1


“Baru kali ini ada seorang wanita yang berani mengatakan jika anggota keluarga Wiyarta adalah benalu dalam hidupnya.”


Glek. Aku menelan ludahku lagi untuk kedua kalinya. Dalam sekejap aku merasa jika nyawaku ini akan melayang dalam hitungan menit, ah tidak mungkin hitungan detik karena pengandaian benalu yang selalu aku lakukan pada Arata selama ini.


            Keadaan hening sejenak setelah aku memberikan jawaban itu pada Ayah Arata. Kedua kakak Arata menutup mulutnya rapat-rapat, tidak seperti sebelumnya seolah mereka merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini.  


            “Jadi bagaimana pendapat Ayah tentang Asha?” Ibu Arata membuka mulutnya dan memecah keheningan yang sempat membuatku merasa begitu gugup.


            “Asha adalah perempuan yang jujur dan unik. Baru pertama kali ada yang menyebut Anggota keluarga Wiyarta dengan sebutan benalu tapi karena benalu dalam artian ini adalah benalu yang baik, aku sedikit terkesan dengan hal itu. Mungkin karena pekerjaan Asha adalah penulis, maka dari itu caranya membuat pengandaian berbeda dengan kebanyakan orang.”


            Huft, aku melonggarkan sedikit kedua bahuku yang sudah sangat menegang karena merasa bahwa nyawaku yang mungkin akan melayang hanya dalam hitungan menit.


            “Syukurlah kalau Ayah juga menyukainya,” ujar Ibu Arata dengan senyuman di bibirnya yang kali ini aku rasa senyuman itu adalah senyuman bahagia.


            Suasana yang tadi terasa begitu tegang perlahan mulai mencair dan terasa kehangatan di dalamnya. Aku mulai merasa jika keluarga di hadapanku ini adalah keluarga harmonis seperti keluarga idaman lainnya. Tapi kenapa Arata menyebut dirinya sebagai kegagalan dalam hidup orang banyak ketika membicarakan keluarganya? Aku merasa gambaran itu tidak sesuai dengan atmosfer yang sedang aku rasakan saat ini.


            Brakkkkk.


            Suara pintu yang terbuka dengan kencang, terdengar dan membuat kami semua yang berada di dalam ruangan yang sama, melihat ke arah yang sama.

__ADS_1


            “Author!!!”


            Aku terkejut mendapati Arata adalah orang yang membuka pintu dengan paksa dan membuat keributan di tengah pertemuan yang tidak aku duga ini.


__ADS_2