MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SOSOK DI BALIK SEBUTAN PENGUNTIT PART 7


__ADS_3

            Dress yang didesain oleh Arata sendiri, membuat semua mata tertuju padaku. Seperti cinderella dalam dongeng, kini aku merasa diriku seperti bagian dari dongeng itu.


            “Sayang sekali ... “Arata memasang wajah sedih ketika mengantarku ke tempat duduk di mana aku harusnya duduk karena saat ini posisiku dalam acara ini adalah bagian dari penulis skenario dan penulis asli dari Love Like Ectasy.


            “Apanya yang sayang?” tanyaku sembari duduk di kursiku di samping penulis skenario utama dalam film ini.


            “Sayang sekali, aku harap aku bisa duduk bersama dengan Author. Tapi aku harus duduk di depan karena aku adalah pemeran utama dalam film ini.”


Aku melihat ke arah kursi pemeran utama dalam film ini yang berada di bagian depan. Di sana ... aku melihat Bora duduk dengan mengenakan pakaian warna merah yang membuatnya terlihat cantik dan elegan. Setelah membayar denda yang cukup banyak karena perbuatannya dan telah menerima hukuman yang setimpal menurutku, Bora akhirnya bisa hadir dalam acara ini. Tapi ... meski begitu nama baiknya yang telah tercoreng oleh perbuatannya sendiri, tidak akan semudah itu kembali.


Aku memberi isyarat pada Arata untuk mendekat dan aku berbisik pada Arata. “Kamu tentu tidak ingin aku jadi aktris dan bermain peran seperti pekerjaanmu hanya agar aku bisa duduk di sampingmu, kan? Jika aku melakukan itu dan mendapatkan adegan berciuman dengan pria lain, tentu kau pasti akan marah melihatnya.”


            Arata tersenyum mendengar lelucon yang aku katakan padanya dengan niat menggodanya. Arata membalas leluconku dengan berbisik padaku. “Itu benar, Author. Aku akan marah jika melihat hal itu. Di dunia ini selain aku, tidak ada seorang pun yang boleh merasakan kelembutan bibir Author. Tapi ada cara lain supaya Author bisa duduk di sisiku.”


            “Cara lain? Bagaimana?”


            Arata tersenyum dan berbisik kembali padaku. “Menikahlah denganku, Author! Lebih cepat lebih baik. Aku bahkan sudah mengantongi restu dari keluargaku.”


            Buk. Aku memukul bahu Arata untuk leluconnya kali ini. “Kau melakukannya lagi, Arata?”


            Arata tersenyum menerima pukulan di bahunya seolah pukulan itu adalah belaian lembut di tubuhnya. “Kali ini aku sungguh-sungguh, Author. Hanya saja ... ini adalah lamaran tidak resmi dariku dan lamaran resminya akan aku lakukan jika Author menyetujui lamaran tidak resmi ini. Bagaimana?”


            Aku mencubit lengan Arata karena merasa malu dengan lamaran tidak resmi itu yang dilakukan Arata di tempat seperti ini. Pada akhirnya, aku justru membuat Arata pergi dengan sebuah janji kecil. “Aku akan memberikan jawaban itu, nanti setelah acara berakhir. Sekarang duduklah di tempatmu sana!!”


            Arata duduk di baris paling depan bersama dengan seluruh pemeran di film ini. Baris kedua adalah staf film dari sutradara, produser hingga penulis skenario di mana aku duduk. Baris ketiga dan keempat adalah para undangan dengan tiket VIP. Di baris ketiga, aku melihat keluarga dari beberapa pemeran termasuk keluarga Arata dan di baris keempat, aku melihat Warda bersama suaminya, lalu beberapa rekan kerjaku di kantor penerbit di mana Warda bekerja.


            Bertemu tatap denganku, Warda kemudian bangkit dari kursinya dan menghampiriku. Warda mengenakan gaun berwarna merah yang warnanya hampir mirip dengan gaun yang dikenakan oleh Bora.

__ADS_1


            “Kamu cantik sekali, Asha.” Pujian itu langsung keluar dari mulut Warda ketika menghampiriku.


            “Kamu juga terlihat cantik dengan warna merah, Warda.” Aku membalas pujian Warda. Karena tidak melihat Auriga, aku bertanya pada Warda. “Auriga tidak kamu bawa?”


            “Tidak, aku takut Auriga akan menangis melihat banyak orang. Jadi aku meninggalkannya dengan ibuku di rumah.” Warda melihat pakaiannya sendiri dan kemudian melihat ke baris depan di mana Bora duduk. “Aku mungkin terlihat cantik dengan pakaian ini seperti katamu dan kata suamiku. Tapi aku benar-benar kesal saat tahu, wanita itu mengenakan pakaian dengan warna yang sama denganku.”


            Aku tersenyum mengerti maksud dari ucapan Warda. “Anggap saja ... kau tidak melihatnya, Warda. Masalahku dengannya sudah berakhir, maka rasa kesalmu itu juga harus kamu akhiri.”


            “Yah ... itu memang benar, aku memang harus melupakannya karena dia sudah mendapatkan balasan untuk perbuatannya. Tapi begitu ingat bagaimana perbuatannya padamu, tiba-tiba aku merasa sangat kesal lagi.”


            Aku tahu memaafkan seseorang bukanlah hal yang mudah. Mungkin mulut kita mampu mengucap kata maaf itu dan menerima permintaan maaf dari orang yang bersalah pada kita. Tapi hati kita dan ingatan kita akan selalu ingat bagaimana rasanya disakiti dan terkadang hati kita menolak untuk memaafkan bahkan setelah kata maaf itu terucap dari mulut kita.


            “Sena. Kenapa aku tidak melihat Sena? Apakah dia tidak datang?” Aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar Warda berhenti mengarahkan tatapan tajamnya yang seolah ingin membunuh Bora saat itu juga.


             “Ah anak itu. Dia mengirim pesan padaku akan terlambat karena ban mobilnya bocor. Jika dia mengirim pesan padaku sejak tadi, aku dan suamiku bisa memberinya tumpangan dengan menjemputnya.  Tapi dia mengirim pesan padaku baru saja, ketika aku sudah ada di sini.”


            “Yang penting dia akan datang, itu sudah cukup, Warda.”


            “Cerita apa?” tanyaku.


            “Saat menerima undangan dari Arata, Sena mengatakan bahwa dia masih jomblo. Jadi aku bermaksud membantunya dan mengenalkannya ke beberapa wanita yang aku rasa akan serasi dengannya.  Tapi semua wanita itu ditolak dengan tegas dan dia menjelaskan bahwa dia punya kekasih.  Apa kau tahu siapa kekasihnya, Asha?”


            Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, aku tidak tahu. Meski beberapa kali sempat dekat, Sena tidak pernah menceritakan masalah pribadinya padaku.”


            “Ah mungkin ... dia tidak ingin merepotkanmu karena kau sendiri punya segudang masalah yang menumpuk.  Menurutmu .... bagaimana rupa kekasih Sena yah??”


            Setelah menyelesaikan percakapan yang lebih seperti bergosip tentang Sena dan kekasihnya, Warda akhirnya kembali ke kursinya ketika acara dimulai.

__ADS_1


            “Selamat siang, Tuan dan Nyonya sekalian.”


            Pembawa acara membuka acara dengan sambutannya kepada semua undangan yang datang. Setelah membuka acara, pembawa acara kemudian mulai memanggil satu persatu nama orang-orang penting untuk memberikan sambutan mereka.


            Sambutan itu memakan waktu lima belas menit lamanya dan merupakan lima belas menit yang sangat membosankan menurutku. Setelah sambutan berakhir, semua pemeran dalam film naik satu persatu ke atas panggung. Mereka mengenalkan dirinya, peran yang dimainkan dan karakter dari peran itu satu persatu. Setelah sesi perkenalan, para pemeran mendapatkan sesi tanya jawab dari para reporter untuk kesan mereka selama menjalani sesi syuting untuk merampungkan film ini. Sesi itu berjalan kurang lebih setengah jam lamanya dan merupakan sesi yang sedikit menekan, menurutku.


            Bagaimana tidak?


            Sesi itu menjadi incaran para reporter untuk menyerang Bora dengan beruntun pertanyaan yang kebanyakan berisi pertanyaan untuk menjatuhkannya.  Melihat kejadian ini dari secara langsung, aku sadar bahwa menjadi orang terkenal adalah hal yang berat dan tidak mudah.


            Setengah jam penuh tekanan itu berakhir. Arata bersama dengan pemeran lainnya  yang berusaha melindungi rekannya dan citra film yang diperankannya, berhasil mengembalikan tekanan yang menyesakkan itu kembali menjadi tenang. Setelah sesi itu berakhir, semua pemain kembali ke tempat duduknya kecuali Bora yang izin untuk keluar. Mungkin Bora berusaha untuk menenangkan dirinya di luar ruangan ini dan menjauh dari tatapan banyak orang yang kini memberinya label sebagai aktris dengan kelakuan buruk.


            Persiapan pemutaran film pun dimulai. Semua  orang yang datang dan bahkan penggemar Arata yang duduk di baris belakang juga sudah tidak sabar. Teriakan mereka yang memanggil-manggil nama Arata, menggema di ruangan tertutup ini.


            Setelah memutar trailer dari film Love Like Ectasy dan beberapa soundtrack yang mengisi film, film bersiap untuk diputar. Pembawa acara meminta semua orang untuk menghitung mundur dari hitungan sepuluh hingga nol.


            “ ... 3, 2, 1.”


            Begitu hitungan berakhir, layar besar yang akan memutar film mulai memperlihatkan bagian awal dari film itu. Tapi ... ada sesuatu yang aneh dan membuat semua orang tercengang. Cairan berwarna merah menetes di atas panggung dan dalam hitungan detik cairan itu tumpah, membuat semua orang berteriak histeris.


            “Ahhhhhh.”


            Bersamaan dengan teriakan histeris itu, dari tempat cairan itu tumpah, sesuatu jatuh dan menggantung di bagian atas panggung. Aku bersama dengan semua orang yang melihat benda yang jatuh itu dengan cepat mengenali benda itu.


            Itu bukan benda!!! Itu tubuh Bora!!!!


            “Kyaaaaaaaa ....”

__ADS_1


            Semua orang berteriak histeris dan kemudian berhamburan berlari keluar dari gedung karena tidak sanggup melihat tubuh Bora yang menggantung dan sudah kehilangan nyawanya. Di tengah keributan dan kericuhan itu, aku melihat Arata yang berusaha berlari mendatangiku. Tapi ... keadaan yang ricuh itu, membuat Arata terseret ke arah lain dan justru menjauh dariku. Di sisiku muncul Sena yang sepetinya datang terlambat dan langsung menarik tanganku.


            “Ikut aku, Asha!”


__ADS_2