
Narator’s POV
Dikejar oleh waktu, Laksamana bersama dengan rekannya dan asistennya berusaha untuk menemukan informasi ke mana perginya Sena dengan membawa Asha. Leo bersama dengan beberapa orang berusaha untuk menemukan jejak Sena melalui rekaman kamera CCTV. Sementara Laksamana mencari dengan mengumpulkan informasi dari semua orang yang pernah berhubungan dengan Sena.
“Bagaimana hubungan kalian dengan Sena? Apakah kalian selama ini mengenal dengan baik Sena?”
Entah sudah berapa kali Laksamana mengajukan pertanyaan itu kepada beberapa rekan Sena di tempatnya bekerja di kantor penerbit, tapi tak satupun dari mereka memberikan informasi penting tentang tempat yang mungkin selalu dikunjungi oleh Sena. Kebanyakan dari mereka justru memasang wajah terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa Sena telah menculik Asha, membakar rumah keluarga Asha dan baru saja membunuh aktris Bora hanya untuk membuat kekacauan agar bisa membawa Asha.
“Benarkah Sena melakukan itu? Apa Bapak yakin Sena melakukan itu? Saya kira Sena hanyalah anak/pemuda/ pria yang baik. Dia ramah kepada semua orang meski tidak banyak bicara.”
Entah sudah keberapa kalinya Laksamana mendengar jawaban itu. Tapi semakin sering Laksmana mendengar jawaban itu, Laksamana semakin yakin jika selama ini Sena benar-benar ahli menyembunyikan segala hal tentang dirinya dan hal ini adalah hal yang justru berbahaya bagi Asha.
“Kami menemukan jejak terakhir kendaraan yang digunakan Sena untuk membawa Nona Asha keluar dari gedung, Pak.”
“Ke mana perginya, Leo?”
Leo menunjukkan rekaman CCTV yang sedang memperlihatkan mobil yang dikendarai Sena mengarah ke pinggiran kota dan memasuki daerah pegunungan.
“Sayangnya ... hanya ini saja, Pak. Di daerah itu tidak ada kamera CCTV jadi jejak kita berakhir di sini.”
Entah itu kebetulan atau juga takdir, Laksamana tidak tahu. Tapi ketika Leo menunjukkan rekaman itu, Laksamana sedang mengajukan pertanyaan kepada Warda yang merupakan rekan dari Asha sekaligus rekan Sena.
“Tunggu, Pak!” Warda membuka mulutnya dan membuat Laksamana dan Leo bersama-sama langsung menatap ke arah Warda.
__ADS_1
“Apa Nyonya Warda mengenali sesuatu tentang tempat di sekitar daerah ini?” Laksamana mencoba bertanya tanpa sedikit pun membuat harapan yang mungkin justru akan membuatnya kecewa nantinya.
“Ya, Pak. Aku ingat Sena pernah menceritakan sesuatu padaku. Sena itu anak yatim piatu tapi keluarganya yang sudah meninggal, meninggalkan warisan kepadanya. Selain tabungan yang cukup untuk menghidupinya hingga usianya berakhir, keluarganya memberikan sebuah vila di pinggiran kota di dekat danau. Sena mengatakan jika dia merasa suntuk, dia akan menghabiskan waktu di sana untuk memancing karena ikan-ikan di sana cukup mudah dipancing.”
Mendengar penjelasan dari Warda, Laksamana langsung melihat ke arah Leo dan Leo pun sadar arti dari tatapan Laksamana itu.
“Aku akan memeriksa apakah di sekitar tempat itu ada danau atau tidak, Pak.”
“Lebih cepat, lebih baik, Leo. Kita dikejar waktu, Leo.” Laksamana memberi peringatan kepada Leo-asistennya.
“Saya mengerti, Pak .”
Mendapatkan sedikit pencerahan mengenai lokasi Asha dan Sena saat ini, Laksamana menyelesaikan sesi tanya jawabnya kepada Warda dan hendak bergegas menuju ke ruangan di mana Leo saat ini berada. Tepat sebelum masuk ke ruangan di mana Leo berada, salah satu bawahan Laksamana datang dan memberikan beberapa berkas mengenai informasi Sena. Bawahan Laksamana itu adalah bawahan yang baru beberapa bulan lalu dipindah tugaskan ke timnya.
“Apa ini?” Laksamana bertanya dengan mengerutkan wajahnya menerima berkas itu.
Laksamana mendengar penjelasan anak baru di timnya dan begitu mendengar penjelasan itu, Laksamana langsung merasa sedikit takut. Setelah mendengar penjelasan itu, Laksamana bergegas ke ruangan Leo dan menanyakan hasil kerja yang tadi dimintanya.
“Bagaimana, Leo? Apa kamu menemukannya?”
“Ya, Pak. Di dekat kamera terakhir yang menangkap mobil yang dikendarai oleh Sena, sekitar lima kilometer dari kamera terakhir ada sebuah danau dengan bangunan vila di sana.”
“Kalau begitu tunggu apa lagi?? Kita bergegas sekarang ke sana, Leo!!!”
__ADS_1
“Baik, Pak.”
Di sisi lain ...
Arata yang masih tidak tenang, tetap menunggu di mobilnya bersama dengan Rama-manajernya. Tadinya ... Laksamana-detektif yang menangani kasus Asha meminta Arata untuk tinggal di kediamannya bersama dengan keluarganya dan menunggu kabar dari Laksamana. Tapi Arata tidak bisa melakukan perintah itu dan tetap menunggu di area parkir kantor kepolisian untuk menunggu pergerakan Laksamana dan timnya.
“Kamu yakin tidak ingin menunggu di rumah saja, Arata?” Rama bertanya pada Arata dengan wajah cemas.
“Tidak bisa, Kak. Menunggu di rumah hanya akan membuat kepala berasumsi yang tidak-tidak tentang Author. Masalah ini menyangkut keselamatan Author dan aku tidak bisa diam saja menunggu hasil.” Arata yang keras kepala, memilih untuk tetap menunggu pergerakan Laksmana dan timnya.
Pandangan Arata yang sejak tadi tidak pernah lepas dari pintu utama kantor kepolisian kemudian melihat Laksamana bersama dengan timnya keluar, masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.
“Ikuti mereka, Kak! Pak Laksamana mungkin sudah menemukan keberadaan Author1” Arata menunjuk ke arah depan dan membuat Rama menyalakan mesin mobilnya untuk mengikuti Laksamana bersama dengan timnya yang pergi.
“ .... Jangan pernah kehilangan mereka, Kak!!” Arata yang berada di kursi belakang memberi arahan kepada Rama
*
“Baiklah ... aku paham jika kau mengagumiku, kau merasa aku memperhatikanmu dan kau merasa aku menyukaimu. Jika kau mengagumiku dan menyukaiku, kenapa kau membunuh keluargaku? Kenapa kau melakukan hal itu, Sena??” Di saat seperti ini ... di situasi yang berbahaya ini, aku hanya bisa mengulur waktu dengan terus mengajak bicara Sena. Aku tidak tahu apa tujuannya membawaku kemari, tapi aku tahu jika niatnya bukanlah sesuatu yang baik. Dia bahkan membuat rencana mengerikan itu hanya untuk membuat kekacauan besar untuk melepaskan semua mata yang menjagaku dan membawaku pergi.
“Bukankah keluargamu sudah membuangmu, Asha? Harusnya kamu merasa senang ketika mereka telah pergi. Mereka selama ini tidak menginginkanmu dan bahkan tidak mencarimu, untuk apa kau menangisi kepergian mereka? Sama seperti Bora-wanita jahat yang membuatmu tersiksa, keluargamu juga melakukan hal yang sama padamu, Asha. Jadi aku membunuh mereka sebagai bukti rasa cintaku padamu, Asha. Agar kau tahu jika aku lebih baik dari Arata-si aktor yang selalu menempelimu itu.”
__ADS_1
Aku melihat Sena dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. Meski beberapa kali aku menuliskan karakter antagonis dalam novelku yang terobsesi dengan karakter utamanya, aku tetap tidak bisa paham dengan jalan pikiran mereka yang begitu terobsesi dengan sesuatu atau seseorang. Membunuh dengan alasan cinta, aku rasa perbuatan itu tidak benar. Dari Arata ... aku belajar bagaimana mencintai seseorang sesungguhnya dan apa yang dimaksud cinta oleh Sena saat ini, bukanlah cinta! Itu hanyalah obsesi di pikirannya sendiri.
Dan obsesi itu adalah sesuatu yang mengerikan, menurutku.