MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KORBAN DAN PELAKU DALAM DRAMA KEHIDUPAN PART 2


__ADS_3

Beruntung Arata sudah berpengalaman menjalani masalah seperti ini. Beberapa kali dalam perjalanan karirnya, Arata diterpa oleh berbagai isu miring dan pengalaman itu berguna di saat situasi yang sama  mendatangiku.


“Maafkan aku, Author. Tapi kali ini. . . kita tidak akan kembali ke apartemenmu atau apartemenku yang berada di samping apartemenku.” Setelah memberi peringatan kepada aku, Arata mendekat ke arah sopir taksi dan mengubah alamat tujuan kami. “Maaf, Pak. Tolong ganti alamat tujuan kami. Bisa tolong kita pergi ke alamat ini segera??”


“Saya mengerti, Pak. Tapi ada biaya tambahan untuk itu, Pak.”


Arata menganggukkan kepalanya. “Saya akan bayar berapapun biaya yang dibutuhkan asal kami sampai di alamat ini.”


“Baik, Pak.”


“Kita mau ke mana?” Aku bertanya pada Arata setelah Arata selesai mengganti tujuan kami.


“Vila milik saudaraku. Ada di pinggir kota dan jarang didatangi oleh banyak orang. Kita ke sana dulu. Nanti jika Author membutuhkan barang apapun, biar aku yang menghubungi Kak Rama dan Nara untuk mengambil barang yang Author butuhkan.”


“Ah.” Aku menganggukkan kepalaku mengerti.


“Author tidak keberatan kan??”


Aku melirik ke arah Arata sebelum melihat ke luar jendela di mana pemandangan jalan kulihat. “Apa aku punya pilihan lain, Arata??”


*


Begitu kami tiba di vila milik saudara Arata, kami langsung masuk ke dalamnya karena Arata memiliki kunci vila itu. Arata mengatakan jika dia sering datang ke vila ini untuk menenangkan diri jika sedang merasa suntuk dengan pekerjaannya yang terkadang tidak memiliki banyak waktu istirahat.

__ADS_1


Vila itu adalah vila yang cukup indah. Berada di tepi danau yang indah dengan pemandangan gunung dari kejauhan yang terlihat seolah bisa didekati jika menyeberangi danau.


“Masuklah kemari,  Author.” Arata memimpin jalan memasuki vila milik saudaranya dan membawaku ke sebuah kamar yang menghadap langsung ke arah danau. “Author bisa menggunakan kamar ini dan kamarku ada di seberang. Jadi. . . jika Author membutuhkan apapun, Author bisa memanggilku atau mengetuk pintu kamarku.”


Aku menganggukkan kepalaku tidak menyadari ucapan Arata padaku. Anggukan kepalaku langsung terhenti ketika aku menyadari ucapan Arata. “Kau akan tinggal di sini? Bersamaku??”


Arata membalas ucapanku dengan senyuman biasa miliknya seolah isu miring yang sedang menimpaku tidak pernah terdengar olehnya. “Ya, Author. Aku akan di sini menemani Author. Mungkin beberapa hari ini, syuting kita akan dibatalkan karena isu yang jelas-jelas tidak benar itu.”


Aku tahu dengan baik. . . Arata mengidolakan aku. Tapi. . . mendengar ucapannya yang mengatakan padaku bahwa dia percaya padaku dan bukan pada isu yang beredar tentang diriku, untuk sekejap aku merasa terkejut dan terharu. Kepercayaannya padaku itu seolah adalah nilai mutlak yang tak akan bisa digoyahkan oleh siapapun dan ini adalah pertama kali dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mempercayaiku dengan begitu dalam.


“K-kau percaya padaku, Arata?”


“Ya.” Arata menjawab dengan singkat dan tanpa berpikir dua kali.


“Kenapa aku harus percaya pada mereka, Author?” Arata berbalik bertanya padaku dan menatapku dengan senyuman di bibirnya. “Akulah orang yang mengenal Author dengan baik. Aku juga orang yang selama beberapa waktu ini selalu di samping Author. Ketika bersama dengan Author, aku tahu bagaimana Author bersikap, berpikir dan bertindak. Meski kita bersama masih dalam satuan waktu yang belum panjang, aku tidak akan salah menilai Author. Idolaku ini. . .  Author tercintaku ini adalah orang baik yang tidak akan pernah menyakiti orang lain hanya karena masalah yang sedang dibicarakan itu.”


Kedua mata Arata menatapku. Kedalaman yang terpancar dalam matanya yang hitam itu seolah mengatakan bahwa kepercayaannya padaku begitu dalam dan seperti yang aku bilang sebelumnya kepercayaannya padaku adalah nilai mutlak yang tidak akan dengan mudah digoyahkan oleh siapapun.


            Tatapan mata itu. . . spontan membuatku mundur. Aku mundur beberapa langkah sebelum akhirnya menutup pintu kamarku itu. Klik. Aku mengunci pintu kamar itu sembari bersandar di pintu.


            “Terima kasih, Arata.  Setelah Warda. . . kau adalah orang kedua yang percaya padaku dan aku senang sekali mendengarnya, Arata. Tapi. . .”


            “Tapi apa, Author?”

__ADS_1


            Dari balik pintu, aku mendengar suara tubuh Arata yang juga bersandar ke pintu kamarku seperti yang sedang aku lakukan.  Meski mulutku mengatakan bahwa aku senang mendengar bahwa Arata percaya padaku, tapi jauh di dalam hatiku aku merasakan sesuatu yang tidak aku suka. Di dunia ini. . . di dunia yang banyak dikendalikan oleh kekuasaan, tidak ada namanya kepercayaan mutlak dari seseorang. Mereka tidak akan percaya pada seseorang jika orang itu tidak menguntungkan bagi mereka dan kurasa Arata pun  melakukan hal yang sama. Kepercayaan yang keluar dari mulutnya itu mungkin hanyalah ucapannya padaku  karena aku adalah rekan kerjanya saat ini dan dia sudah mengumumkan pada dunia jika dia adalah penggemar beratku.


            “Tidak seharusnya kau tetap bersamaku, Arata. Aku berterima kasih padamu telah membawaku kemari. Tapi jika kau terus berada di sisiku, penggemarmu akan menilai buruk padamu. Rekan-rekan kerjamu juga akan melakukan hal yang sama. Jadi. . .”


            “Jadi. .  . lebih baik jika aku menjauhi Author, begitu bukan?” Arata memotong ucapanku dan menebak apa yang ingin aku katakan padanya.


            “Ya, itulah yang ingin aku katakan. Kau menebaknya dengan tepat, Arata.” Aku melirik ke arah pintu di belakangku dan kemudian perlahan turun untuk duduk dengan bersandar di pintu.


            “Apapun yang orang katakan, apapun yang orang ucapkan baik itu benar atau salah, kepercayaanku pada Author tidak akan berubah. Setiap orang di dunia ini punya mata, telinga, mulut dan pikiran masing-masing. Di saat yang sama mereka punya hak untuk memilih percaya atau tidak, termasuk aku. Dan kali ini. . . aku memilih untuk percaya pada Author. Ah tidak. . . untuk ke depannya aku akan selalu percaya pada Author, karena Author adalah idola yang aku pilih.”


            Air mata yang tidak kuundang tiba-tiba saja terjatuh ketika mendengar pengakuan Arata padaku. Kepercayaan yang keluar dari mulutnya, kepercayaan satu orang yang selama ini selalu kupanggil dengan benalu menyebalkan itu rasanya begitu menyentuh hatiku hingga air mataku jatuh begitu saja. Benalu yang selalu menempel pada inangnya itu mungkin merugikan tapi. . . benalu yang selalu menempel dalam waktu lama itu mengenal dengan baik inangnya karena mereka berbagi makanan dan kehidupan. Mungkin. . . Arata pun juga sama. Karena selama ini kami bersama, dia memiliki penilaiannya sendiri terhadapku yang mungkin hanya dia saja yang melihatnya hingga dia begitu percaya padaku.


            Aku mengusap air mataku yang jatuh itu dan berusaha untuk tidak menangis lagi. Aku tidak ingin Arata mendengar tangisanku itu dan semakin khawatir denganku. Benalu menyebalkan ini. . . benalu yang selalu ingin kuusir pergi karena mengganggu ketenangan hidupku, siapa yang akan menyangka benalu yang sifatnya mengganggu justru menjadi penolongku?


            Ketika benakku menyebut kata penolong, ingatanku membawaku kepada ucapan yang pernah dikatakan oleh Arata padaku.


“Karena itu aku katakan, aku adalah benalu pertama dan satu-satunya benalu yang akan memberikan simbiosis mutualisme, Author. Aku akan menjadi benalu yang menguntungkan hanya untukmu, Author. Ingatlah itu, Author!”


            Aku tersenyum kecil mengingat ucapan itu. Kau benar-benar menjadi benalu yang menguntungkan seperti ucapanmu, Arata.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2