
Arata’POV
Pukul sepuluh pagi, empat mobil ambulance datang mengantar empat peti mati yang berisi empat tubuh keluarga Author yang terbaring di dalamnya. Dari kediaman Wiyarta, tiga mobil mengiringi empat ambulance itu menuju ke lokasi pemakaman di mana keluarga Author akan dimakamkan. Di lokasi pemakaman, beberapa teman dan rekan kerja Author, lalu juga ada beberapa rekan dan teman-teman dari keluarga Author yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir mereka kepada keluarga Author. Mereka semua turut berduka dengan kejadian nahas yang menimpa keluarga Author dan di antara mereka semua yang datang, tangisan Nona Warda adalah tangisan yang paling dramatis bahkan lebih dramatis dari pada tangisan Author.
Setelah pemakaman yang berjalan dengan penuh tangisan itu, Non Warda kemudian menjelaskan sebuah rahasia kecilnya kepada Author-sebuah rahasia yang tidak pernah diduga oleh siapapun.
Nona Warda mengenal baik ibu dari Author. Nona Warda adalah anak dari kenalan baik Ibu Author. Karena sering berkunjung ke rumah Ibu Author, Nona Warda mengenali wajah Author sebagai anak dari kenalan ibunya. Entah itu kebetulan atau tidak, Nona Warda tidak bisa menjelaskannya. Tapi ... Nona Warda benar-benar terkejut ketika mendapati penulis novel yang sedang diperjuangkannya adalah anak dari kenalan baik ibunya.
Mengenali Author, Nona Warda kemudian menceritakan pertemuannya dengan Author kepada Ibu Author. Dan siapa yang akan menyangka jika mendengar cerita dari Nona Warda, Ibu Author akan merasa sangat senang sekali karena sudah sangat merindukan putri pertamanya yang menolak pulang setelah dikirim ke rumah neneknya. Semenjak itu ... Ibu Author dan keluarga Author mengetahui setiap perkembangan hidup Author melalui Nona Warda.
Setelah menunggu beberapa waktu, Ibu Author sempat berkeinginan untuk mengunjungi Author. Tapi keinginan itu akhirnya diurungkan karena tiba-tiba Author masih belum menyembuhkan traumanya. Keinginan itu terus menerus diurungkan hingga pada akhirnya keberanian di hati Ibu Author akhirnya menciut. Melihat hidup Author yang kini bahagia bersama dengan seseorang yang mencintainya dan mampu menjaganya lebih baik dari keluarga yang pernah membuangnya, Ibu Author dan keluarga Author akhirnya memutuskan untuk tidak pernah muncul di hadapan Author karena tidak ingin merusak kebahagiaan milik Author setelah sekian lama hidup menderita mengurung diri.
“Jadi selama ini makanan yang kamu bawakan untukku adalah masakan dari ibuku?” Author langsung mengajukan pertanyaan itu kepada Nona Warda ketika Nona Warda menyelesaikan pengakuan untuk rahasia kecilnya dari Author selama ini.
“Maafkan aku, Asha. Aku tahu, harusnya aku mengatakan hal ini sejak lama kepadamu, tapi ... aku sudah berjanji pada Ibumu untuk merahasiakan hal ini darimu. Ibumu memintaku berjanji karena di masa depan dia ingin menunjukkan dirinya di hadapanmu dan menceritakannya sendiri.” Nona Warda menangis dengan wajah bersalah melihat Author yang kini menangis di depan empat makam keluarganya. “Berulang kali Ibumu, Ayahmu dan dua saudaramu ingin menemuimu, tapi kondisimu sama sekali belum membaik. Jadi mereka menunggu hingga kondisimu membaik, untuk muncul di depanmu. Kesempatan itu muncul ketika kau dekat dengan Arata, tapi ... karena ulah Bora, keluargamu mengurungkan niatnya.”
Aku tahu alasan kenapa Nona Warda yang selama ini menyembunyikan hubungannya dengan keluarga Author kini membuka mulutnya dan melanggar janjinya. Alasannya tidak lain adalah ingin mengatakan pada Author jika keluarga yang dulu membuang Author telah menyadari kesalahan mereka pada Author.
Setelah mendengar pengakuan dari Nona Warda selama satu jam lamanya, Author terus menangis di depan empat makam keluarganya. Aku tahu apa yang Author rasakan saat ini: Author kini benar-benar menyesali pilihan yang dibuatnya beberapa hari yang lalu.
“Aku berjanji pada kalian ...” Sembari menunggu Author menangis di depan empat makam keluarganya, aku yang berdiri di belakang Author membuat janji kepada keluarga Author di dalam benakku. “Aku berjanji ... akan membuat orang yang telah membuat kalian terbaring di sana dan tidak sempat memperbaiki hubungan kalian dengan Author, mendapatkan balasan yang setimpal untuk perbuatannya. Aku berjanji akan menemukan orang itu dan membuatnya masuk penjara!”
“Ini??”
__ADS_1
“Sepertinya ada seseorang yang sedang menguntit Asha, Arata!”
Aku menunjukkan amplop hitam yang berisi ancaman kepada Kak Kendra untuk mendengar pendapatnya. “Lihat ini, Kak! Apa menurut Kakak pengirim amplop hitam ini adalah orang yang sama dengan orang yang muncul di rekaman ini?”
Kak Kendra menggelengkan kepalanya. “Aku tidak yakin. Tapi setelah memastikan ada orang yang menguntit Asha, aku dengan sengaja meminta Pak Raya untuk mengambil rekaman CCTV di gedung apartemen Asha tinggal. Pak Raya akan memberi kabar jika menemukan seseorang yang sama seperti dalam rekaman ini.”
“Bagaimana Kakak tahu jika ada seseorang yang menguntit Author?”
Kak Kendra menjelaskan pertemuannya dengan Author, percakapan Author dengan ibuku dan Kak Kendra yang kebetulan tidak sengaja melihat sosok penguntit Author.
“Lalu ... bagaimana kamu menemukan amplop-amplop ini, Arata?? Kamu tidak menemukan pelakunya ketika menemukan amplop-amplop ini?”
“Hingga saat ini, Author berbohong padaku mengenai amplop hitam ini dan mengatakan padaku jika amplop hitam ini berasal dari penggemarnya. Kalau bukan karena guru yang melihatnya, mungkin hingga saat ini aku tidak tahu. Karena tidak menemukan tindakan yang mencurigakan dan berlebihan, aku hanya menjaga Author dari jauh dengan meminta penjaga gedung apartemen untuk mengabari Kak Rama jika Author pergi dari apartemennya dan memberitahu siapa tamu yang diterima Author setiap harinya. Tapi hari ini ... aku menemukan amplop ini sudah ada di dalam apartemen Author. Lalu aku bertanya kepada Kak Warda dan Sena yang datang hari itu ke apartemen Author. Sena mengatakan jika dia tidak sengaja melihat kotak surat apartemen Author yang penuh dengan amplop hitam dan membawanya masuk.”
“Aku berharap dugaanku salah, Kak. Tapi ... sepertinya orang yang membakar rumah keluarga Author adalah orang yang sama dengan pengirim amplop hitam ini, Kak.”
Sembari mengingat percakapan rahasiaku semalam dengan Kak Kendra, aku membuat janji di depan empat makam keluarga Author.
*
Malam harinya ketika memastikan Author telah tidur, aku melihat ibuku yang sedang duduk di balkon di lantai dua sembari menikmati teh chamomile seperti kebiasaannya. Kali ini ... belajar dari apa yang terjadi pada Author, aku yang tadinya selalu menolak untuk mendekat dan mendatangi ibuku, kini berjalan menghampirinya.
“Arata, kau belum tidur?” Ibuku langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar langkah kakiku yang berjalan menghampirinya dan memandangku dengan senyuman di wajahnya. Entah sejak kapan ... aku punya waktu berdua begini dengan ibuku, aku tidak ingat lagi.
__ADS_1
“Sebentar lagi, Bu.”
“Bagaimana dengan Asha? Apa dia sudah tidur?”
“Sudah, Bu.”
“Malang sekali kekasihmu itu, Arata. Padahal dia gadis baik-baik yang sopan dan perhatian. Tapi dalam semalam dia kehilangan keluarganya. Ibu dengar ... jika Asha dan keluarganya sempat bermasalah hingga Asha lama tidak pulang ke rumah karena masalah itu.”
Sama seperti Ibu, aku duduk bersandar di kursi santai di balkon di lantai dua. Kami berdua menatap langit malam tanpa bintang dan tanpa bulan. Tak ada pemandangan yang bisa kami lihat, tapi kami berdua duduk bersama dan tetap memandang langit bersama.
“Ya, Bu. Bisa dibilang keluarga Author dulu membuangnya karena dianggap mencoreng nama baik keluarga karena masalahnya di masa lalu. Kematian mereka tidak akan menjadi pukulan yang hebat bagi Author karena Author berpikir bahwa keluarga Author hidup bahagia tanpa dirinya. Tapi setelah mengetahui rahasia kecil keluarganya, kematian mereka menjadi pukulan yang hebat bagi Author.”
Ibuku meletakkan cangkir yang tadi dipegangnya, mendekat ke arahku dan tiba-tiba memelukku. Sesuatu yang hangat tiba-tiba menetes membasahi pakaian belakangku dan aku tahu apa itu.
“Dari Asha dan tragedi yang menimpa keluarganya, Ibu belajar bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Ibu tahu ... ibu sudah bersalah padamu,, Arata. Ibu menyalahkanmu atas perbuatan buruk yang Ibu terima dari mertua Ibu. Tapi ... satu hal yang harus kamu tahu, Ibu, Ayah dan dua saudaramu, selalu menyayangimu. Selama ini kami bersikap keras padamu karena punya alasan. Sebelum terlambat, Ibu ingin meminta maaf padamu, Arata. Maaf karena mengatakan kamu adalah kegagalan untuk semua orang, maaf karena membuatmu menderita dan maaf untuk segalanya ...”
Mendengar ucapan Ibuku yang serak karena tangisannya, aku membalas pelukan ibu di tubuhku. Belajar dari kisah sedih Author dan keluarganya, aku sadar selama ini aku sudah sangat keras kepala. Aku tahu Ayah, Ibu, dan dua Kakakku sebenarnya menyayangiku, tapi karena rasa sakit yang aku rasakan benar-benar menyakitkan, aku ingin membalas rasa sakit dengan menolak kasih sayang mereka terutama ketika Kakek dan Nenek meninggal.
Sebelum penyesalan datang, aku harus berdamai dengan diriku dan masa laluku.
Sebelum penyesalan datang, aku harus berdamai dengan keluargaku.
Itulah yang aku pelajari dari tragedi yang dialami Author yang kini sedang menyesali pilihan kecil yang dilewatkannya.
__ADS_1