
Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Pak Laksamana, aku dan Pak Raya tetap berada di ruang interogasi. Pak Raya meminjam ruangan ini dari Pak Laksamana untuk memberi penjelasan kepadaku soal penguntit yang mengikutiku dan alasan Kendra dan Arata merahasiakan hal ini dariku selama beberapa waktu ini.
Pak Raya menceritakan rentetan kejadian dan kecurigaan Kendra lebih dulu. Setelah itu menceritakan kejadian di mana Arata menemukan amplop-amplop hitam itu di dalam apartemenku dan membawanya ke kediaman Wiyarta. Kendra yang merasa harus memberitahukan hal ini kepada Arata, kemudian bicara dengannya dan siapa yang akan menyangka jika dua kejadian ini akan terhubung dengan kebakaran yang merenggut nyawa empat keluargaku.
“Tuan Muda Arata dan Tuan Muda Kendra merahasiakan hal ini karena menunggu perkembangan dari pihak kepolisian. Tuan Muda Kendra memberikan rekaman CCTV di rumah sakit untuk membandingkan apakah orang yang mengikuti secara diam-diam adalah orang yang sama dengan pelaku kebakaran itu. Sementara rekaman CCTV di gedung Nona, saya memeriksanya dan sempat membandingkannya dengan rekaman CCTV di rumah sakit. Menurut saya ... pengirim amplop ini, orang yang mengikuti Nona dan orang yang membakar rumah Nona adalah orang yang sama. Tapi ... biarkan pihak kepolisian yang memastikan lebih dulu dan memberi kabar kepada Nona. Karena bagaimana pun pihak kepolisian punya tim forensik yang bertugas untuk memeriksa hal ini.”
Pak Raya menyelesaikan penjelasannya kepadaku dan membuatku bertanya-tanya. Kenapa orang itu membakar rumah keluargaku jika tidak suka aku bersama dengan Arata? Aku akan paham jika dia menyerangku. Tapi dia menyerang keluarga yang tidak pernah aku temui dan terlebih lagi dia adalah pria? Apakah penggemar pria dari Arata sefanatik itu pada Arata?
Pertanyaan itu muncul di dalam benakku dan masih membuatku tidak mengerti.
“Kenapa sosok pria dengan baju hitam itu menyerang keluarga yang tidak pernah aku temui, Pak? Aku hanya melihat rumahku dari kejauhan dan tidak bertemu mereka. Tapi kenapa mereka menyerang keluargaku dan bukan aku jika pria ini tidak setuju dengan hubunganku dengan Arata? Aku akan mengerti jika pelakunya adalah wanita dan dia menyerangku. Tapi pelakunya adalah pria dan dia justru menyerang keluargaku. Bukankah itu aneh, Pak?”
Aku berusaha memikirkan segala kemungkinan yang ada, tapi tetap merasa tidak bisa menemukan jawaban yang tepat karena pikiranku saat ini benar-benar sedang kacau. Aku tidak pernah mengira keluarga yang selama beberapa waktu tidak pernah aku temui, akan kehilangan nyawa mereka karena aku. Aku juga tidak pernah menyangka jika surat ancaman yang selama ini aku abaikan karena tidak memberikan tindakan yang buruk padak, justru akan menyerang keluargaku.
“Pertama ... bisa jadi pria yang terekam kamera CCTV itu adalah seseorang yang dibayar untuk melakukan pekerjaan itu. Bisa saja ... ada orang yang membenci Nona dan membayar pria itu untuk melakukan banyak hal kepada Nona.” Pak Raya membuka mulutnya dan memberikan jawaban yang terpikirkan di dalam benaknya kepadaku.
“Karena Pak Raya mengatakan yang pertama, maka pasti akan ada yang kedua bukan?” tanyaku.
Pak Raya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaanku. “Nona ingat bagaimana isi surat ancaman itu?”
__ADS_1
Kali ini giliran aku yang menganggukkan kepalaku sembari mengingat isi surat ancaman yang kini menjadi bukti di kantor kepolisian.
Kau tidak pantas bersama dengan Arata!!! Kau tidak layak untuknya!!!!
“Aku ingat itu, Pak. Di dalam surat itu dia mengancamku dengan mengatakan bahwa aku tidak pantas bersama dengan Arata. Aku tidak layak untuk Arata.” Aku mengulangi isi surat ancaman itu dan mengganti subjeknya dengan kata aku.
Pak Raya melihatku dengan wajah serius dan tidak lama kemudian mulutnya terbuka dan mengulangi lagi kalimat dalam surat ancaman itu. “Kau tidak pantas bersama dengan Arata! Kau tidak layak untuknya! Tidakkah Nona bisa merasakan jika dua kalimat itu punya maksud yang lain?”
Mendengar pertanyaan itu, aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehku. Dalam sekejap ... otakku kemudian memproses semua informasi yang aku terima dan pertanyaan-pertanyaan tadi yang tidak bisa aku temukan jawabannya. Sosok pria dengan pakaian hitam, sosok yang mengikutiku dan menguntitku, dan menyerang keluargaku alih-alih menyerangku. Semua informasi itu kemudian diproses dengan cepat dan akhirnya menuju ke satu kesimpulan.
“Jadi .... “
Aku mengingat kembali isi surat ancaman yang tadi aku baca di ruang interogasi. Karena Author Wallflower tidak pernah mendengar peringatan yang aku berikan, jadi kali ini aku akan memberikan hadiah terbaik kepada Author. Kuharap Author menyukai hadiah yang aku berikan.
“ ... Karena pria itu mengatakan kematian keluarga Nona sebagai hadiah untuk Nona, tujuan pria itu membakar rumah keluarga Nona adalah untuk membuat Nona tertarik padanya dan berterima kasih padanya karena telah menyelesaikan satu masalah dari Nona.”
Aku bergidik ngeri mendengar ucapan Pak Raya. Perasaan bersalah itu kembali ke dalam diriku dan air mata yang sempat aku tahan tadi terjatuh kembali. Aku ingat bagaimana hari itu aku berkunjung ke rumah orang tuaku dan melihat senyuman ibuku. Jika saja ... hari itu aku tidak berkunjung ke rumah keluargaku. Mereka semua kehilangan nyawa mereka, karena aku. Semua karena aku!!!
*
__ADS_1
Narator’s POV
Arata pulang dengan terburu-buru begitu mendengar kabar dari Pak Raya mengenai Asha dan Pak Raya yang tadi mendapat panggilan dari Pak Laksmana-detektif yang mengurus kasus kebakaran di rumah keluarga Asha.
“Kau sudah pulang, Arata?” Ibu Arata menyapa Arata ketika melihatnya memasuki kediaman Wiyarta.
“Ya, Bu. Aku pulang. Apkah Author ada di kamarnya?” Arata bertanya dengan wajah cemas.
“Ya. Sejak pulang dari kantor polisi bersama dengan Pak Raya, Asha mengurung diri di kamarnya. Ibu sampai harus menghubungi Pak Raya karena khawatir. Jika Ibu menjadi Asha, Ibu mungkin akan melakukan hal yang sama dengan Asha saat ini.”
“Kalau begitu ... aku akan bicara dengan Author dulu, Bu.” Arata hendak segera menuju ke lantai dua menuju kamar Asha. Tapi sebelum menaiki anak tangga pertama, Arata menghentikan langkah kakinya dan berbalik melihat ke arah ibunya. “Untuk hari ini, terima kasih, Bu. Aku merepotkan Ibu dengan meminta Ibu untuk menemani Author.”
Ibu Arata membalas ucapan terima kasih Arata dengan senyuman hangatnya. “Ibu juga merasa senang, Arata. Sudah lama ... Ibu ingin punya anak perempuan yang bisa menghabiskan waktunya bersama dengan Ibu. Sayangnya dua kakakmu itu tidak segera menikah dan memberikan Ibu menantu untuk mewujudkan impian kecil Ibu. Berkat kamu dan Asha, Ibu benar-benar merasa senang. Akan lebih baik jika kamu bisa menikah dengan Asha secepatnya, itu yang Ibu harapkan.”
Arata tersenyum dan sedikit salah tingkah mendengar ucapan Ibunya. “Aku juga ingin begitu, Bu. Aku juga ingin cepat-cepat menikahi Author.”
Arata ingin melanjutkan kalimatnya tapi akhirnya menghentikan ucapannya pada Ibunya pada kalimat itu saja dan mengatakan kalimat itu hanya di dalam benaknya saja. Aku merasa jika aku tidak segera mengikatnya, dia bisa-bisa menghilang dari hadapanku seperti yang pernah dia lakukan
__ADS_1