
Di tengah kekacauan itu, Sena menarik tanganku dan membuat celah bagiku untuk keluar dari kekacauan itu. Melihat Sena berjalan di depanku, aku menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah terjadi: aku selalu berjalan di depan Sena dan sama sekali tidak pernah berjalan di belakang Sena.
Punggung ini. Bagi seorang pengamat yang selama ini selalu mengamati kehidupan orang lain dari kejauhan, mengenali punggung dan cara berjalan seseorang adalah satu dari beberapa cara untuk mengidentifikasi. Selama mengurung diri di dalam apartemenku, aku selalu melakukan hal itu ketika melihat jalanan di bawah dan orang yang lalu-lalang di jalanan. Dari banyak orang yang lalu-lalang di jalanan setiap harinya, aku mengenali beberapa orang meski tidak mengenal orang itu secara pribadi. Ada pria yang selalu mengenakan dengan punggung yang lebar yang berjalan dengan cepat dan lewat di jalanan dekat apartemenku setiap pukul 7.30. Lalu ada wanita dengan hoodie yang selalu menutupi kepalanya dengan hoodie, tapi membiarkan rambutnya tergerai. Dia selalu berjalan dengan menggunakan earphone di kedua telinganya dan selalu berjalan dengan menundukkan kepalanya.
Cara itu ... adalah satu dari beberapa cara yang aku gunakan untuk belajar menulis novel. Aku selalu melakukan hal itu ketika melihat orang-orang yang aku kenali. Sayangnya ... karena keberadaan Arata yang menyita banyak waktu dan pikiranku, aku tidak menyadari jika aku tidak pernah melihat punggung Sena dan hanya beberapa kali melihatnya berjalan. Dan alasan itu juga yang membuatku tidak mengenali sosok pria berbaju hitam yang tertangkap kamera CCTV sedang menguntitku.
“Kita sudah di luar, Sena. Kamu bisa melepaskan tanganmu!” Setelah berhasil keluar dari kekacauan itu, Sena membawaku keluar dari aula dan terus berjalan hingga ke koridor yang sepi. Aku tidak menyadari situasi itu karena sibuk dengan pikiranku sendiri sejak tadi.
Sena tidak melepaskan genggaman tangannya di tanganku dan justru menggenggamnya dengan erat.
“Aku bilang lepas, Sena!!”
Aku menaikkan nada bicaraku dan berusaha untuk memberi penegasan pada Sena. Tapi Sena sama sekali tidak peduli dengan hal itu dan justru memandangku dengan senyuman mengerikan yang belum pernah aku lihat darinya.
Warning! Pikiranku memberiku peringatan padaku bahwa semakin lama aku bersama dengan Sena, aku semakin dekat dengan bahaya.
Aku berusaha berontak dari Sena, tapi Sena berhasil mengunci gerakanku hanya dengan satu tangannya.
__ADS_1
“Tidurlah sebentar, Asha-ku tersayang.”
Tangan lain Sena yang bebas tiba-tiba mengeluarkan kain putih dari dalam saku jasnya dan kain putih itu digunakannya untuk membekap mulutku. Aku ingin berontak, tapi bau dari kain itu seolah membuat semua indraku melemah. Pandanganku mulai buram dan tubuhku tidak menuruti perintahku. Aku yakin dalam hitungan menit, aku akan jatuh ke dalam kegelapan.
Itulah yang bisa aku ingat.
“Bagaimana ruangan ini??” Sena berjalan mendekat ke arahku dan duduk di samping tempat tidur. “Aku merancang ruangan ini khusus untukmu, Asha. Ruangan ini lebih baik dari apartemenmu itu, Asha. Dari sini kau bisa melihat pemandangan danau yang indah dan di sini hanya ada kita berdua saja. Tidak akan ada orang yang bisa mengganggu kesenangan kita berdua di sini. Kamu bisa menulis novelmu di sini dengan tenang, tanpa gangguan dari orang-orang yang selalu membuatmu merasa tertekan.”
Aku membuat tubuhku menjauh dari Sena. Tapi karena tangan dan kakiku terikat, aku tidak bisa menjauh darinya dengan jarak yang besar.
“Kenapa aku?” Aku mengajukan pertanyaan itu kepada Sena. Jujur ... aku merasa sangat penasaran mengenai hal itu. Di mataku ... diriku ini tidaklah menarik hingga membuat seseorang bisa begitu terobsesi kepadaku seperti yang Sena lakukan. Dan lagi ... aku tidak akan mengajukan pertanyaan itu jika orang yang menyekapku adalah penggemar Arata. “Dari banyak wanita, kenapa aku?”
“Hari itu ... aku sedang mengerjakan novel milik penulis lain. Kau tahu Asha, dari banyak penulis terkenal yang aku kenal dan selama ini aku ikuti, kaulah yang terbaik. Bahkan setelah terkenal pun, kau selalu memanusiakan editor yang mengedit naskahmu. Kau bahkan sama sekali tidak marah padaku ketika naskahmu itu membutuhkan perbaikan besar-besaran. Tapi penulis lain berbeda, Asha. Mereka melemparku dengan buku ketika menerima perbaikan yang aku ajukan. Mereka mengumpati, mengataiku bahwa aku sebagai editor terlalu pemilih dan terlalu ketat. Mereka mengataiku bahwa aku hanyalah editor, pelengkap dari bagian naskah yang mereka tulis.” Sejenak ... mendengar kisah Sena ketika bekerja sama dengan penulis lain, membuatku ingat dengan curhatan Warda di masa lalu. Warda juga sering mengeluhkan hal yang sama padaku ketika menghadapi penulis lain yang terkenal.
“Warda ... pernah menceritakan pengalamannya padaku tentang hal itu.”
“Ya ... Kak Warda memang wanita yang baik dan pengertian. Sayang sekali, dia tidak tahu bahwa aku menyukaimu. Jadi dia sedikit lancang kepadaku dengan mengenalkanku kepada beberapa wanita yang hanya mengejar tampang pria sebagai kekasih mereka.”
__ADS_1
Firasat burukku langsung memberiku peringatan. Melihat wajah Sena yang tiba-tiba berubah kesal karena usaha Warda untuk menemukan jodoh untuknya, aku takut Sena akan melakukan sesuatu yang buruk pada Warda.
“Kau ... tidak mencelakai Warda kan?” tanyaku gugup.
Sena tersenyum lagi. “Karena perbuatan baiknya padaku selama bekerja sebagai bawahannya, aku tidak mencelakainya, Asha. Tenang saja Kak Warda masih baik-baik saja.”
Huft. Aku mengembuskan nafas lega karena setidaknya aku tahu sahabat sekaligus rekan yang selama ini selalu peduli padaku, dalam keadaan baik-baik saja di luar sana.
“... Kembali pada pertemuan pertamaku denganmu, Asha. Hari itu ... aku kebetulan sedang mengerjakan naskah penulis yang menggunakan jalan di dekat apartemenmu sebagai bagian dari ceritanya. Jadi beberapa kali aku ke sana untuk observasi dan tidak sengaja melihatmu yang sedang duduk di balkon apartemenmu. Melalui kamera, aku melihatmu memandang dan memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari dan selama seminggu aku ke sana, kau selalu ada di sana. Dan itulah awal aku menyukaimu, Asha.”
Aku ingat dalam novel ketigaku, ada adegan di mana tokoh utama berjalan-jalan dengan membawa-bawa kamera di tangannya dan memotret di jalanan. Dalam adegan itu ... tokoh utama yang selalu mencari kekasihnya setelah matanya dioperasi, harusnya bisa menemukan kekasih yang dicarinya karena kameranya tidak sengaja memotret kekasihnya yang berada di balkon. Tapi karena tokoh utama pria itu tidak menyadari apa yang ditangkap oleh kameranya, perjalanan menemukan kekasihnya kemudian menjadi perjalanan panjang yang membuatnya justru harus bertemu dengan wanita lain yang memiliki wajah yang sama dengan kekasihnya.
“Kau sepertinya ingat hal itu, Asha??” Sena tersenyum lebih lebar dan kali membelai wajahku lagi karena merasa sangat senang.
“I-itu adalah bagian adegan dari novel ketigaku.”
“Itu benar, Asha. Aku bisa menemukan identitasmu setelah membaca novel-novelmu. Saat membaca adegan dari novel ketigamu, aku tahu kau juga melihatku waktu itu. Kau memperhatikanku waktu itu sama seperti yang aku lakukan dan begitu aku menemukan adegan itu, betapa senangnya aku, Asha. Aku yang selama ini dipandang sebelah mata oleh penulis-penulis menyebalkan itu, ternyata begitu diperhatikan oleh penulis terkenal dengan nama Wallflower.”
__ADS_1