
Narator’s POV
Sejak melihat tagar #kekasihrahasiaarata pada akun instagram milik Ulfa, Bora yang penasaran dengan setiap gerakan dari penggemar Arata terus memantau tagar itu setiap harinya menggunakan akun instagram samaran miliknya.
Bora merasa harus membuat akun instagram samaran karena Ulfa tidak akan selalu ada di sisinya dan Bora tidak akan selalu mendapat kesempatan untuk membuka ponsel milik Ulfa. Karena itu. . . demi memantau tagar #kekasihrahasiaarata Bora membuat akun instagram samaran.
Seperti hari-hari sebelumnya ketika tiba di apartemennya yang mewah, Bora akan membuka akun instagram samarannya dan mengecek tagar #kekasihrahasiarata. Tadinya setelah seminggu ini tidak ada lagi kabar mengenai Arata dan Author Wallflower, ditambah lagi dengan Arata yang mulai menjaga jarak dengan Authhor Wallfower, Bora ingin menghentikan kegiatan bodohnya itu dengan percaya bahwa Arata dan Author Wallflower tidak memiliki hubungan khusus.
Tadinya. . . itulah yang ingin Bora lakukan.
Tapi niat kecil itu mendadak hilang dan berubah menjadi niat yang lain ketika dua foto baru muncul dalam tagar #kekasihrahasiaarata.
“Apa ini??? Kapan dua foto ini diambil??”
Dalam sekejap perasaan Bora langsung berubah menjadi kesal melihat dua foto mesra dari Arata bersama dengan Author Wallflower. Bora kemudian mengecek waktu foto itu diposting dan menemukan jika foto itu dipasting hari ini dan baru beberapa saja.
“Ini aneh. Kenapa aku tidak tahu mereka berdua bertemu??? Kapan mereka bertemu??”
Sekali lagi. . . Bora memeriksa dua foto Arata dan Author Wallflower. Dengan saksama. . . Bora memeriksa latar di kedua foto itu. Tiba-tiba. . . Bora mengingat jika saat syuting adegan ciumannya dengan Arata tadi, kursi Author Wallflower kosong. Tadinya Bora mengira Author Wallflower tidak akan datang dan Bora sudah merasa senang karena tidak akan ada orang di lokasi syuting yang akan menarik perhatian Arata selain dirinya.
Tapi. . . ketika syuting berakhir dan set diganti, Arata buru-buru pergi. Dan ketika kembali Arata membawa satu gelas vanilla latte di tangannya dan vanilla latte adalah minuman kesukaan Arata, itulah yang Bora ketahui.
“Kapan? Kapan mereka berdua bersama???”
Bora berusaha menggali ingatannya lagi dan kini menemukan sesuatu dalam ingatannya lagi. Bora ingat. . . Author Wallflower yang tadi dikiranya tidak akan datang ke lokasi syuting, tiba-tiba datang ke lokasi syuting tidak lama setelah Arata kembali. Dalam ingatan itu juga, Bora ingat Author Wallflower datang dengan membawa gelas yang berisi americano yang tidak disukai oleh Arata. Sebagai penggemar berat Arata, Bora tahu dengan baik jika Arata tidak suka segala sesuatu dengan rasa pahit.
“Apakah saat itu? Tapi kenapa tiba-tiba? Selama seminggu ini mereka berdua saling menjaga jarak karena satu foto yang tersebar sebelumnya.”
Bora berusaha mencerna apa yang terjadi di antara Arata dan Author Wallflower. Bora berusaha menemukan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa setelah seminggu Arata bergerak lagi mendekati Author Wallflower? Kenapa??” gumam Bora kesal.
__ADS_1
Bora terus mencoba menemukan jawaban yang tepat. Tapi. . . bagaimana Bora mencoba menemukan jawabannya, Bora tidak dapat menemukan jawaban yang tepat.
“Ini benar-benar memusingkan,” gerutu Bora yang kemudian memilih untuk berbaring di atas tempat tidurnya setelah berbaring di atas sofa di apartemennya.
Tidak menemukan jawaban yang diinginkannya Bora kemudian menggeser foto itu dan mencoba membaca komentar di kolom komentar.
Xxx1: Jika kita melihat bagaimana Arata berbisik kepada Author Wallflower, aku rasa aku bisa mendengar dengan jelas apa yang Arata bisikkan.
Xxx2 membalas komentar xxx1: Apa yang Arata bisikkan pada Author Wallflower?
Xxx1 membalas komentar xxx2: Aku mencintaimu, Author.
Xxx2 membalas komentar xxx1: Kyaaaa. . . Author Wallflower yang dapat bisikan tapi aku yang di sini melihat foto guling-guling karena meleleh.
Aaa1: Beruntung sekali, Author Wallflower. Meski sebelumnya banyak yang mengatakan jika Author Wallflower tidak cukup pantas di samping Arata, maka dengan cara ini Arata kita tersayang membuktikan kepada kita semua jika cinta sudah bertindak, fisik dan popularitas tidak lagi terlihat.
Xxx1 membalas komentar aaa1: setuju.
Ccc1: Kudengar dua foto itu adalah dua foto itu adalah dua foto yang diambil hari ini pada saat Arata akan syuting adegan ciuman dengan lawan mainnya di film barunya. Pada foto pertama Arata berbisik pada Author Wallflower untuk tidak datang ke lokasi syuting dan melihatnya melakukan adegan ciuman. Lalu foto kedua adalah foto yang diambil setelah Arata melakukan adegan ciuman dengan lawan mainnya dan mengambil minuman milik Author Wallflower.
Yyy1 membalas komentar ccc1: Benarkah itu??
Ccc1 membalas komentar yyy1: Itu benar. Temanku adalah salah satu kru yang bekerja untu film baru Arata. Dia mengatakan bahwa Arata sengaja menunggu kedatangan Author Wallflower untuk melarangnya melihat adegan ciuman yang akan dilakukannya dengan lawan mainnya.
Xxx1 membalas komentar ccc1: Ahhhhh. . . Arata kita romantis sekali. Dia mengambil minuman milik Author Wallflower untuk melakukan ciuman tidak langsung dengan Author Wallflower karena telah berciuman dengan wanita lain.
Ccc1 membalas komentar xxx1: kurasa juga begitu. Aku ingin ada di sana dan mengabadikan momen pasangan manis itu secara langsung.
Xxx1 membalas komentar ccc1: Siapa yang akan menyangka Arata kita yang dingin itu ternyata menjadi begitu manis di depan orang yang disukainya??
Yyy1 membalas komentar xxx1: Author Wallflower benar-benar beruntung jika berhasil membuat Arata menjadi kekasihnya. Arata. . . aku mendukungmu dengan Author Wallflower.
__ADS_1
Xxx1 membalas komentar yyy1: Aku juga.
“Apa mereka tidak salah membuat dugaan? Mereka seenaknya sendiri menerjemahkan foto itu tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. . .” Bora berusaha meyakinkan dirinya sendiri karena tidak menyukai komentar yang muncul dalam kolom komentar yang mendukung Author Wallflower dibanding dirinya.
Bora berusaha untuk memperhatikan foto kedua di mana Arata dan Author Wallflower sedang duduk berhadapan di mana Arata sedang meminum minuman di tangannya.
“Tunggu sebentar. . .” Bora mulai menemukan sesuatu dalam foto itu.
Bora berusaha mengingat ingatan lagi di mana Arata datang dengan membawa gelas vanilla latte yang berwarna putih kecoklatan karena campuran antara kopi dan susu. Bora kemudian membandingkan apa yang ada di dalam ingatannya dengan foto yang muncul dalam tagar #kekasihrahasiaarata dan menemukan jika minuman yang diminum Arata memiliki warna yang berbeda dengan minuman yang Arata bawa ketika kembali ke lokasi syuting.
“Itu adalah minuman yang sama.” Bora menatap gelas yang dipegang Arata di dalam foto itu dan kemudian mengingat minuman yang dibawa oleh Author Wallflower. “Jadi. . . apa yang tertulis dalam komentar ini memang benar adanya??? Arata yang tidak suka dengan rasa pahit itu meminum kopi yang pahit itu karena di sedotan itu telah menempel bibir Author Wallflower. Arata melakukan itu untuk menghapus bekas ciuman dariku yang menempel di bibirnya dan menggantinya dengan bekas bibir dari Author Wallflower.”
Bora yang kesal dan tidak terima kemudian melemparkan ponsel miliknya ke arah dinding dan brukkkk. . .
“Sial!!!!” Bora berteriak kesal dan penuh amarah. “Jelas-jelas aku yang lebih cantik. Jelas-jelas aku yang lebih sempurna. Tapi kenapa Arata tidak pernah melihatku?? Aku berusaha dengan keras mengejarnya hingga akhirnya aku bisa mendapatkan peran ini, tapi karena wanita itu. . . semua usahaku gagal. Karena wanita itu, Arata sama sekali tidak melihat ke arahku. Karena wanita itu, wanita biasa yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku, Arata mengabaikanku. Kenapa harus sekarang dia muncul???? Kenapa kau tidak bersembunyi seperti sebelumnya dan membiarkanku mendapatkan hati Arata lebih dulu???”
Setelah melampiaskan amarahnya, Bora bangkit dari tempat tidurnya dan duduk di lantai. “Jika wanita itu tidak ada, mungkin Arata akan melihatku. Jika wanita itu tidak ada. Arata pasti tidak akan mengabaikanku.”
Bora tersenyum karena ucapannya sendiri. “Benar. Arata akan melihatku jika wanita itu menghilang dari hidupnya.”
*
Seseorang yang entah ada di mana juga merasakan hal yang sama dengan Bora. Dengan menatap komputernya yang menampilkan dua foto yang sama dengan yang dilihat oleh Bora, sosok itu mengepalkan tangannya karena berusaha menahan amarahnya.
“Sepertinya ancaman amplop hitam itu tidak cukup menakutkan bagimu.. . .” Sosok itu mengetukkan-ketukkan jarinya di meja komputer sembari memikirkan sesuatu. Bibirnya tiba-tiba tersenyum ketika sebuah ide muncul di dalam benaknya. “Kali ini. . . aku akan mengirim hadiah yang indah untukmu bersama dengan amplop hitam itu. Kali ini. . . aku akan membuatmu mengerti jika kau tidak pantas bersanding dengan Arata!!”
__ADS_1