MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
#KEKASIHRAHASIAARATA PART 5


__ADS_3

            Seperti yang Arata minta, aku tidak datang melihat proses syutingnya dengan Bora yang sedang mengambil adegan ciuman. Aku duduk menunggu di cafe di dekat lokasi syuting sembari sibuk dengan laptop milikku. Dengan kedua telinga yang terpasang penyuara telinga, roti dan es kopi yang aku pesan dan kacamata kerja yang terpasang melindungi kedua mataku, aku mulai membuat jari jemariku menari-nari di atas papan ketik menggambarkan gambaran yang muncul di dalam benakku.


            Novel pertamaku berjudul ‘Hidup Itu Mungkin Sulit’. Novel itu aku tulis dengan karakter utama wanita yang berasal dari diriku sendiri. Setting cerita yang aku ambil pun banyak mengambil masalah dalam hidupku seperti perundungan yang aku terima di masa sekolah dan ketika aku bekerja di perusahaan konstruksi. Yang membedakan tokoh utama wanita dalam novelku adalah dia memiliki seseorang yang selalu setia bersamanya, selalu percaya padanya dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun dan itu adalah tokoh utama pria. Sedangkan aku yang berada di dunia nyata. . . hanya bisa bertahan hidup dengan caraku sendiri. Jika aku tidak pernah bertemu dengan Warda, mungkin aku masih menjadi author kecil yang tidak pernah keluar dari ruangannya.


            Novel keduaku, ‘Love Like Ectasy’ adalah novel romance yang keseluruhan ceritanya berpusat pada kisah cinta tokoh utama wanita dan tokoh utama pria yang menggambarkan cinta seperti ekstasi dengan perspektif yang berbeda. Novel keduaku itu menjadi novel yang memiliki banyak pembeli karena kebanyakan pembaca sekarang suka dengan cerita cinta manis yang berbalut dengan tragedi.


            Masih sama dengan novel keduaku yang sangat laris bahkan hingga dicetak ulang hingga lima kali, aku membuat novel romance dengan cara yang berbeda. Novel ketigaku berjudul ‘Antara Cinta dan Kasih’ bercerita tentang seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita  bernama Cinta di saat mengalami kebutaan. Begitu bisa melihat, pria itu mencari Cinta untuk menyatakan perasaannya. Sayangnya takdir mereka tidak mudah, dalam pencariannya pria itu justru bertemu dengan kembaran Cinta dan mengira kembaran itu adalah wanita yang menemaninya ketika buta.


            Sama seperti dengan  novel keduanya, novel ketiga ini benar-benar laris di pasaran dan membuatku masuk dalam satu dari sepuluh Author berpengaruh di negeri ini. Sejak saat itu nama Author Wallflower semakin dikenal oleh banyak kalangan.


            Setelah membuat dua novel yang benar-benar fokus dengan latar belakang cinta,  aku ingin mencoba menulis sesuatu yang beda. Novel keempatku mengambil latar belakang fiksi sejarah di mana cerita sebagian mengambil dari sejarah yang ada ditambah dengan bumbu fantasi dan romance sebagai tambahannya. Novel keempatku berjudul ‘Hyang Yuda’ yang memiliki arti Dewa Perang dalam bahasa Sanskerta.


            Kisah Hyang Yuda yang aku tulis itu berpusat pada Hyang Yuda-Dewa Perang yang Agung dari Amaraloka yang harus mencari ingatannya sebagai manusia yang hilang sebelum dirinya diangkat menjadi dewa. Musuh besar Amaraloka-Mahamara memaksa Hyang Yuda menemukan ingatannya dengan ancaman kehancuran tiga alam.  Demi menyelamatkan kedamaian tiga alam dari Mahamara, Hyang Yuda kemudian menemukan dirinya sebagai Sena-Rakryan Tumenggung/ Panglima perang dari Kerajaan Majapahit yang tewas mengenaskan dalam pemberontakan kedua Majapahit di mana Ken Sora tewas di mana kematiannya penuh dengan intrik dan campur tangan banyak pihak.


            Novel keempat dengan genre fiksi sejarah, fantasi dan romance ini benar-benar membawa namaku menjadi lebih terkenal lagi. Ribuan pujian datang padaku karena banyak pembaca menilai aku sebagai Author Wallflower mampu menulis cerita dengan banyak genre di dalamnya.  


            Lalu novel kelima yang masih dalam tahap editing adalah novelku yang kembali ke genre romance di mana diriku sangat ahli dalam menuliskan kisah cinta. Novel kelimaku dengan judul ’30 Hari Bersamamu’ ini mengambil kisah cinta dengan alur lambat di mana tokoh utama prianya adalah pria idaman banyak wanita yang mungkin sangat jarang ada di dunia nyata. Tokoh utama pria di dalam novel ini diam-diam telah mencintai tokoh utama wanita dalam waktu lama. Sayangnya. . . tokoh utama wanita tidak mengetahui jika di dekatnya ada seorang pria yang diam-diam menaruh hati padanya. Novel kelima ini kutulis dengan mencampurkan dua gaya penulisan dari dua novelku yang sebelumnya, ‘Love Like Ectasy’ dan ‘Hidup Itu Mungkin Sulit’.

__ADS_1


            Lalu karena novel ini masih belum dijual di pasaran. . . aku tidak tahu bagaimana respon dari pembaca dan penggemarku kelak. Tapi aku harap mereka akan suka dengan karyaku ini.


            Tok. . . tok. . .


            Setelah kurang lebih dua jam aku sibuk dengan laptopku, aku melihat si benalu menyebalkan datang menghampiriku. Arata mengetuk meja di mana aku berada, langsung mengambil kursi di depanku, duduk di sana sembari meminum es kopi milikku.


            Aku melepas penyuara telinga yang terpasang di kedua telingaku, melepas kacamata kerjaku dan menutup laptopku. Aku menatap kesal ke arah Arata yang mengambil es kopi milikku dan meminumnya tanpa izin dariku. “Kenapa meminum minuman milikku? Jika kau mau pesan sendiri sana!!”


            Aku menggerakkan tubuhku sedikit dengan condong ke depan untuk bisa merebut es kopi milikku yang direbut oleh Arata. Tapi. . . Arata yang menyadari gerakanku itu, langsung mendorong mundur kursi miliknya dan menghindari tanganku yang berusaha mengambil es kopi milikku.


            “Ini untukku saja, Author!” pintanya padaku masih dengan sedotan yang menempel di bibirnya dan terus meminum es kopi milikku. “Author saja yang beli lagi, tapi kalau mau beli lagi tolong beli dua gelas.”


            Slurpppp. . . Arata benar-benar menghabiskan es kopi dan membuatnya tidak tersisa. Dengan ini seperti ucapan Arata, aku harus benar-benar membeli es kopi lagi jika masih ingin meminumnya.


            Arata meletakkan gelas kosong dari es kopi dan berkata dengan senyuman di bibirnya, “Satu untukku dan satu untuk Author. Tapi jika beli lagi, aku ingin minta vanilla latee saja, jangan americano yang pahit itu. . .”


            Aku melihat Arata sedikit menjulurkan lidahnya karena rasa pahit yang menempel di lidahnya karena meminum americano milikku tanpa izin dariku.

__ADS_1


            “Aku heran kenapa orang-orang begitu suka minum americano padahal rasanya benar-benar pahit seperti itu. Bahkan sangat melekat di lidahku.” Arata melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti karena pahit yang melekat di lidahnya.


            “Kalau pahit. . . kenapa tadi tidak berhenti dan terus meminumnya?” Aku bertanya sembari bangkit dari tempat dudukku. Aku berjalan ke arah meja pemesanan dan memesan dua gelas kopi seperti ucapan Arata: Satu americano dan satu vanilla latte untuk Arata. Melihat Arata menjulurkan sedikit lidahnya karena merasa pahit, aku sedikit merasa tidak tega dan akhirnya melakukan apa yang Arata ucapkan.


            Setelah menerima dua gelas kopi yang aku pesan, aku kembali ke majaku, memberikan satu gelas vanilla latte kepada Arata dan duduk di kursiku sembari meminum americano baru milikku.


            Slurppp. . . Arata langsung meminum vanilla latte miliknya dan membersihkan lidahnya yang pahit dengan vanilla latte yang manis.


            “Kau tidak jawab pertanyaanku, Arata? Kenapa kau minum americano jika tidak suka? Kau bahkan menghabiskannya hingga tak bersisa??” tanyaku ulang.


            Arata meletakkan vanilla latte miliknya dan menatapku. Tangannya kemudian menunjuk ke arah bibirnya dan menyentuhnya. “Pahit americano tadi membersihkan sesuatu yang kotor menempel di bibirku tadi.”


            Aku mengerutkan alisku karena tidak mengerti. Aku ingat dengan baik, ketika datang tadi bibir Arata dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada satupun sesuatu yang kotor yang menempel di bibirnya. Jadi. . . kotoran apa yang dimaksud oleh Arata sebenarnya?


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2