
“Kenapa bibir Author merengut?” Arata bertanya padaku dengan senyuman dan tatapan menggoda yang aku lihat ketika dia sedang melakukan syuting.
Aku membuang mukaku, mengalihkan wajahku dari tatapan Arata dan melihat ke arah jendela mobil. Karena kejadian tadi, Kak Rama memintaku untuk naik mobil dengan Arata dan mengantarku kembali ke apartemenku bersama dengan Arata. Sementara mobilku diantar ke apartemen oleh suruhan Kak Rama nantinya.
“Au-thor, kenapa merengut??” Arata bertanya lagi dan pertanyaan itu semakin membuat kesal saja. Di saat seperti ini, aku merasa jika Arata bukanlah pria yang pengertian karena dia tahu aku sedang kesal tapi di justru menggodaku.
“Arata!!!” Kak Rama menegur Arata menggantikan aku. “Jangan ganggu Nona Asha seperti itu!”
“Kakak ini manajerku atau manajer Author?” balas Arata yang menyadari jika Kak Rama sedang membelaku.
“Aku manajermu, Arata. Tapi. . . bisakah kau memahami posisi Nona Asha yang sedang terkejut dan mungkin saat ini sedang bingung harus apa.” Kak Rama membaca dengan tepat apa yang sedang ada di pikiranku.
Arata tiba-tiba menarik lenganku dan menggenggamnya dengan erat. “Author, lihat aku!”
Aku berusaha menarik lenganku tanpa melihat ke arah Arata, tapi tangan lain Arata yang bebas bergerak menyentuh wajahku dan membuatku melihat ke arahnya.
“Author, jangan katakan kau menyesal mengatakan jika kau menerimaku jadi kekasihmu!”
Aku menarik nafasku dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kencang sebelum aku membalas ucapan Arata yang sejak tadi membuatku kesal, bingung dan tidak bisa berpikir dengan benar. “Kau tidak lihat situasi tadi, Arata?”
“Situasi bagaimana?” Arata berbalik bertanya padaku dengan wajah polosnya.
“Kau memintaku jadi kekasihmu saat siaran langsung di konferensi pers yang sedang dilihat mungkin oleh seluruh orang di negeri ini. Aku mana punya pilihan menolak dalam situasi itu dan membuat mukamu malu nyaris di depan seluruh orang di negeri ini.”
Arata memasang senyuman di wajahnya mendengar ucapan kesalku yang sejak tadi aku tahan.
“Kenapa kau tersenyum? Kau benar-benar melakukan tindakan curang seperti itu tadi, benalu menyebalkan!!!” tambahku.
“Aku memang sengaja melakukannya, Author.”
__ADS_1
Aku menarik tanganku yang berada di genggamannya dan hendak memukul Arata membalas rasa malu yang aku terima tadi. “Kau!!!!
Buk. Arata menerima pukulanku itu begitu saja dan masih menatapku dengan senyuman di wajahnya. Senyuman bahagia seorang anak kecil yang berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya dalam waktu yang lama.
“Tadinya. . . aku tidak akan melakukan itu jika Author tidak datang. “Arta membuka mulutnya dan mulai memberikan penjelasan untuk tindakan gilanya yang memintaku jadi kekasihnya di depan umum dan mungkin di depan seluruh orang di negeri ini. “Tadinya aku hanya akan mengatakan jika aku sudah menyukai Author sejak lama dan membuat orang-orang memahami jika selama ini aku sengaja mendekat dengan Author karena sudah lama menyukaimu. Tapi. . .”
“Tapi apa?”
Arata mengubah genggaman tangannya di lenganku dengan menggenggam telapak tanganku dengan erat. Sembari melihat telapak tanganku yang berada di genggamannya dengan mata penuh cinta seperti gambaran-gambaran dalam novel yang biasa aku bayangkan.
“Tadinya aku hanya akan mengumumkan jika aku sudah lama menyukai Author. Tadinya begitu. Tapi siapa yang akan menyangka Author benar-benar menghampiriku di konferensi pers seperti itu bahkan hingga terjatuh lagi di antara penggemarku.” Arata menahan tawa kecilnya kurasa dia sedang mengingat bagaimana aku jatuh tadi. “Haha. Lucu sekali mengingat kejadian tadi. Hal itu mengingatkanku pada saat aku datang jadi bintang tamu acara tanda tangan Author.”
Aku menarik tanganku menemukan celah Arata yang tidak begitu erat menggenggam tanganku. “Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk menghampirimu jika aku merasa terharu mendengar rahasia kecilmu itu??”
“Hahahah.” Tawa Arata yang tadi sempat ditahannya kini terdengar semakin jelas setelah mendengar ucapanku padanya. Aku membuang mukaku tidak ingin semakin dipermalukan oleh Arata lebih jauh.
Aku melirik tajam ke arah Arata. “Apa??”
“Aku memang memintamu untuk berlari menghampiriku, Author. Tapi aku tidak mengira kau akan datang langsung padaku di konferensi pers secara dramatis seperti adegan-adegan dalam drama yang pernah aku mainkan. Melihatmu datang dan jatuh seperti itu tadi. . . mau tidak mau aku benar-benar merasa senang. Kau akhirnya keluar dari apartemenmu dan mau menemuiku. Kau akhirnya keluar dari sangkarmu sendiri dan berlari menemuiku. Jelas. . . aku merasa terharu hingga aku memelukmu erat.”
Aku menolehkan wajahku ingin melihat ekspresi Arata saat mengatakan ucapannya itu. Matanya, senyumannya, semua yang Arata perlihatkan padaku saat ini adalah bentuk ketulusan yang berasal dari dalam hatinya yang sangat menyentuh.
“A-aku ti-dak berlari menghampirimu. Aku ke sana naik mobilku, Arata.”
Arata tertawa mendengar ucapanku itu dan kemudian menarik tanganku lagi. Kali ini Arata menarik tanganku dengan kencang, membuat tubuhku bergerak ke arahnya dan memelukku dengan erat.
“Hey, Arata!!! Kenapa kau memelukku lagi??? Ada Kak Rama dan Nara di kursi depan!!!” Aku mencoba melepaskan pelukan Arata di tubuhku, tapi. . . Arata justru mengeratkan tangannya pada tubuhku dan membuat pelukannya semakin erat saja.
“Hey, Arata!!!” teriakku lagi.
__ADS_1
“Kak Rama, Nara, apa kalian melihat sesuatu?” Arata mengabaikanku teriakan kesalku yang bercampur dengan malu dan justru bertanya kepada Kak Rama dan Nara.
“Kami tidak melihat apa-apa, Arata.” Kak Rama dan Nara menjawab dengan kalimat yang sama secara serentak seolah memahami maksud dari pertanyaan Arata kepada mereka.
“Kauu!!!” Aku masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Arata. “Kau benar-benar benalu menyebalkan!!!”
“Ya, Authorku tercinta. Aku memang benalu menyebalkan tapi kau menyukai benalu yang menyebalkan.” Arata berkata dengan nada manisnya padaku.
“Sial kau, Arata!!! Lepas!! Mau sampai kapan kau memelukku seperti ini dan membuat Nara dan Kak Rama merasa tidak enak di kursi depan.”
“Sampai aku puas, Author. Sejak kau mengurung dirimu di sangkarmu itu, aku sangat-sangat merindukanmu, Author. Jadi biarkan aku memelukmu untuk mengganti rasa rinduku itu padamu.”
Tidak berhasil melepaskan diri dari pelukan Arata, akhirnya aku diam dan menerima keadaan itu. Tapi. . . di dalam benakku saat ini, aku benar-benar mengumpati diriku. Sial sekali hidupku ini. Sekarang. . .Arata menjebakku dan membuatku jadi kekasihnya di depan semua orang di negeri ini. Sekarang mau tidak mau. . . aku benar-benar menjadi kekasih aktor terkenal Arata dan mungkin menjadi musuh banyak wanita di negeri ini.
*
Narator’s POV
Bora melempar ponselnya dengan kencang ke arah tembok hingga layar ponsel itu benar-benar hancur. Bora merasa benar-benar tidak terima dengan apa yang baru saja diperlihatkan dalam konferensi pers Arata. Bora benar-benar tidak mengira jika Arata justru membuat pengakuan pada Author Wallflower ketika semua orang di negeri ini mungkin sedang melihat konferensi persnya.
“Kenapa dia?? Kenapa bukan aku??”
Kalimat itu terus digumamkan oleh Bora yang benar-benar tidak bisa menerima kenyataan jika Author Wallflower kini telah resmi mengumumkan hubungannya dengan Arata.
“Aku lebih cantik, aku lebih sempurna, aku lebih terkenal, kenapa bukan aku yang kau pilih, Arata??? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku?? Tidakkah kau melihat semua usahaku selama ini untuk mengejarmu???”
Bora terus merasa kesal dan marah. Bora merasa semua usahanya selama ini telah hancur karena kehadiran Author Wallflower dalam hidup Arata.
“Andai saja, kau tidak ada di dunia ini, Asha!!!”
__ADS_1