MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
RAHASIA KECIL ARATA PART 3


__ADS_3

            Tidak seperti kebanyakan adegan dalam film, menyusul dan mendatangi Arata bukanlah hal yang mudah. Aku harus melewati jalanan macet. Aku juga harus merasa tidak sabar ketika mobil yang aku kendarai terkena lampu merah yang mengharuskanku berhenti dan menunggu. Selain itu. . . aku harus melewati mobil-mobil yang parkir di dekat gedung agensi Arata karena mobil-mobil milik reporter dan penggemar Arata yang hampir memenuhi separuh jalanan.


            Untuk menemui Arata seperti permintaannya, butuh perjuangan keras untuk bisa melakukannya. Aku harus memastikan mobilku berada di tempat yang aman dari mata-mata tajam reporter dan penggemar Arata. Begitu turun dari mobil milikku, aku harus menyembunyikan wajahku dengan masker dan topi untuk bisa memasuki gedung agensi di mana Arata sedang melakukan konferensi pers. 


            Tidak seperti dalam adegan-adegan film di mana seseorang dengan mudahnya menyusul orang lain, nyatanya. . . aku butuh perjuangan besar yang mungkin tidak kalah dengan perjuangan para pejuang perang di masa lalu dan semua itu kulakukan hanya demi menemui Arata seperti permintaannya.


“Jika nanti setelah mendengar rahasiaku dan Author merasa terharu ketika mendengarnya, bisakah Author keluar dari sangkar itu dan berlari menghampiriku?”


            Mengingat ucapan Arata itu, aku hanya bisa mengeluh setelah perjuangan panjangku agar aku bisa berdiri di antara penggemarnya yang kini sedang berteriak histeris memanggil-manggil Arata. Permintaanmu ini benar-benar menyusahkan, Arata!! Harusnya kau bilang jika menghampirimu sama beratnya dengan perjuangan para pejuang perang di masa lalu!!! Harusnya. . . kau bilang itu sebelum aku benar-benar datang kemari dengan susah payah!!!


            “Arata!”


            “Arata. . . Arata. . . . Arata. . .”


“Kami cinta kamu, Arata!”


“Kami mendukungmu, Arata!!!”


Aku ingin berlari menerobos barisan dan gerombolan pasukan penggemar Arata itu, tapi. . . aku justru terjepit di tengah-tengah mereka bersama dengan teriakan mereka yang bising dan membuatku sulit bernafas. Pengalaman yang pernah terjadi kepadaku ini, akhirnya terulang kembali padaku dan kali ini dalam situasi yang sama: karena penggemar Arata yang heboh dengan Arata dan berusaha untuk mendapatkan perhatian dari idola mereka-Arata.


            Hosh. . . hosh. . . Aku bernafas lebih cepat dari pada sebelumnya karena berada dalam kerumunan yang padat dan masker yang aku kenakan untuk menutupi bagian wajahku. Nafasku rasanya nyaris terputus-putus karena sesak yang aku rasakan secara tiba-tiba bersamaan dengan kepalaku yang pusing karena melihat keramaian dan teriakan di telingaku.


            Buk. Aku terjatuh di tengah-tengah kerumunan dan membuat semua orang langsung memandang ke arahku karena terkejut.


            “Kau baik-baik saja??”


            “Mbak, baik-baik saja?”


            Melihat aku terjatuh di antara mereka, penggemar Arata langsung mengulurkan tangan mereka ke arahku dan berusaha membantuku.


            “A-aku baik-baik saja,” jawabku.

__ADS_1


            Aku berusaha bangkit dengan usaha dan tanganku sendiri, tapi para penggemar Arata berbaik hati dan berusaha untuk membantuku. Para penjaga di agensi Arata pun langsung maju untuk membantuku.


            “Tunggu sebentar!!”


            Suara kencang dari mikrofon itu langsung membuat semua orang membeku karena terkejut. Mata semua orang termasuk aku langsung melihat ke arah yang sama-ke arah dari mana suara itu berasal. Suara itu berasal dari Arata.


            “Bisakah kalian semua menepi dan biarkan aku melihat siapa yang terjatuh itu??”


            Arata meminta semua penggemarnya dan penjaga di agensinya untuk menjauh dariku. Dari panggung yang jaraknya cukup jauh, Arata menatapku yang berusaha bangkit dari jatuhku. Arata menyipitkan matanya dan kemudian bangkit dari duduknya. Arata melangkahkan kakinya dan mulai berjalan menuju ke arahku. Matanya terus menatapku dan bibirnya membuat senyuman ke arahku seolah mengatakan bahwa dia mengenaliku meski aku mengenakan topi, masker dan kacamata kerja di wajahku.


            “Maaf. . . aku membuat keributan.”


Aku membungkukkan tubuhku sedikit untuk membuat Arata menghentikan langkahnya dan bersikap seolah aku adalah bagian dari penggemar Arata yang sedang menggila tadi. Tapi. . . Arata terus berjalan ke arahku dan baru menghentikan langkahnya ketika dirinya berada dua langkah di depanku. Arata menatapku sejenak sementara aku terus menundukkan kepalaku berharap Arata tidak akan mengenaliku.


“Kau benar-benar datang, Author!!”  Arata mengatakan itu dengan senyuman di bibirnya bersamaan dengan langkah kakinya yang mendekat dan kedua tangannya yang memeluk tubuhku.


            “Itu pasti Author Wallflower!!!”


            “Aku benar-benar tidak menyangka kau benar-benar keluar dari sangkar itu dan berlari menemuiku, Author!!!” Arata mengeratkan pelukannya padaku.


            Di saat yang sama semua reporter bangkit dari duduknya dan mulai melemparkan pertanyaan padaku dan Arata.


            “Apakah kalian benar-benar berkencan?”


            “Sejak kapan kalian berkencan?”


            “Apa ini alasan Arata membelamu di depan umum, Author Wallflower??”


            Arata memelukku dengan erat dan menyembunyikan wajahku di dalam dekapannya. Perlakuannya itu membuatku mencium aroma tubuhnya yang bercampur dengan parfum kesukaan Arata yang khas dengan bau yang segar.


            “Penjaga!!!”

__ADS_1


            Dari dalam dekapan Arata, aku mengintip jika Kak Rama bergerak ke samping Arata sembari meminta bantuan kepada semua penjaga untuk melindungi kami berdua dari serangan reporter dan penggemar Arata.


            “Arata, kita bawa masuk Nona Asha ke dalam dulu! Aku akan meminta juru bicara kita untuk menahan reporter selama setengah jam!!”


            “Baik, Kak.”


            Masih dalam dekapannya, Arata membawaku berjalan melewati para penjaga untuk masuk ke dalam gedung agensinya bersama dengan Kak Rama di samping Arata. Dari dalam dekapan Arata, aku melihat wajah Arata yang terus tersenyum meski saat ini masalah mungkin sedang datang padanya. Senyuman itu adalah senyuman yang sama yang Arata perlihatkan padaku ketika dirinya memintaku keluar dari apartemen ke balkon.


            “Masuk kemari, Arata!!” teriak Kak Rama sembari membuka sebuah ruangan di dalam kantor agensinya yang aku rasa adalah ruang ganti dan ruang rias untuk para aktor dan aktris yang bekerja di agensi Arata. “Nara!! Bantu Nona Asha mengganti pakaiannya dan merias wajahnya!”


            Aku tadinya ingin bertanya pada Kak Rama untuk apa aku mengganti pakaianku dan merias wajahku, tapi Arata masih terus mendekapku dan tidak mau melepaskan tubuhku bahkan setelah aku berusaha untuk melepaskan diri.


            “Arata!! Lepaskan Nona Asha, kita tidak punya banyak waktu!!” Kak Rama yang sepertinya menyadari keadaanku, menggantikanku untuk bicara pada Arata.


            “Aku masih merindukan Author, Kak. Tidak bisakah aku memeluknya lebih lama lagi??”


            “Tidak!” Aku dan Kak Rama berteriak di waktu yang bersamaan dan akhirnya membuat Arata menyerah untuk memelukku lebih lama lagi.


            Begitu Arata melepaskan pelukannya di tubuhku, tanganku langsung ditarik Nara ke ruang ganti dan membantuku mengganti pakaianku dengan cepat. Jika sebelumnya Arata membawakan gaun panjang yang terkesan mewah dan mahal, kali ini aku hanya perlu mengganti pakaianku dengan dress selutut berwarna putih yang berkesan sederhana tapi elegan.


            “Silakan duduk di sini, Nona Asha.”


            Begitu selesai mengganti pakaianku, Nara menarik tanganku untuk duduk di kursi rias yang telah dipilihnya. Di sampingku duduk Arata yang terus memandangiku dengan senyuman di wajahnya. Aku melirik ke arah cermin dan melihat ke arah Kak Rama yang sedang sibuk berbincang-bincang dengan beberapa orang yang kurasa mereka ada hubungannya dengan konferensi pers Arata tadi.


            “Arata kembalilah lebih dulu ke podium. Para reporter menunggu jawaban dari perbuatanmu hari ini!” ucap Kak Rama yang mendekat ke arah Arata dan menatap tajam k arah Arata.


            “Tidak bisakah aku kembali ke sana bersama dengan Author?”


 Di saat seperti ini Arata masih sempat merengek-rengek kepada Kak Rama dan membuat Kak Rama nyaris kehabisan stok tenangnya.


“Tidak ada tawar menawar, Arata!! Cepat kembali dan dalam sepuluh menit, aku akan mengantar Nona Asha ke sampingmu, Arata.”

__ADS_1


Arata bangkit dari duduknya  dan melihat ke arahku. “Cepat susul aku, Author! Jangan membuatku terlalu lama menunggu!”


__ADS_2