
Narator’s POV
“Ulfa!”
Ulfa-manajer Bora tersenyum kecil ketika asyik bermain dengan ponselnya dan nyaris tidak mendengar panggilan dari Bora yang sudah ketiga kalinya.
“Ulfaaaa!!!!!” Kali ini Bora sengaja bangkit dari duduknya dan kemudian berteriak dengan kencang tepat di samping telinga Ulfa.
“Apa???” tanya Ulfa terkejut dan nyaris melemparkan ponsel yang sejak tadi dilihatnya.
“Kau tidak dengar?? Aku memanggilmu tiga kali dan kau sibuk dengan ponselmu, huh?? Apa kau sudah bosan dengan pekerjaanmu, Ulfa?”
Ulfa meletakkan ponsel miliknya dan kemudian langsung memasang wajah bersalah di hadapan Bora sembari memohon kepada Bora. “Maaf, Bora. Aku tidak mendengar. Aku mohon jangan pecat aku, Bora.!”
“Aku haus, ambilkan aku minum!”
Ulfa bangkit dari duduknya, berjalan ke dapur di apartemen Bora, sembari bertanya kepada Bora. “Ingin dingin, hangat atau biasa?”
“Biasa saja.”
Sementara Ulfa mengambil air minum di dapur apartemennya, Bora yang penasaran dengan ponsel Ulfa yang sejak tadi membuat Ulfa tidak fokus dengan pekerjaannya kemudian mengambil ponsel Ulfa karena ingin melihat apa yang sedang membuat Ulfa tertarik.
Klik. Bora yang sudah hafal sandi dari ponsel milik Ulfa, kemudian membuka ponsel Ulfa dengan mudahnya tanpa perlu bantuan dan izin dari Ulfa.
“Apa yang membuatmu penasaran dan melupakan aku, Ulfa??“
Begitu ponsel milik Ulfa terbuka, Bora langsung melihat akun instagram milik Ulfa yang dalam kondisi terbuka di bagian halaman depan. Untuk menemukan apa yang membuat Ulfa-manajernya yang polos itu begitu tertarik, Bora langsung pergi ke riwayat pencarian dan menemukan pencarian terakhir Ulfa mengenai Arata.
“Tagar apa ini?” Bora melihat tagar #kekasihrahasiaarata dan kemudian mengeklik tagar itu untuk mencari tahu.
Begitu di klik, foto pertama yang muncul adalah foto Arata bersama dengan Author Wallflower di lokasi syuting. Bora melihat foto itu sudah dibagikan jutaan kali dan menerima ribuan komentar di dalamnya. “I-ini? Kenapa mereka mengunggah dan membagikan foto Arata bersama dengan wanita author jelek itu??”
__ADS_1
Bora yang merasa kesal dengan foto itu, kemudian melihat kolom komentar dan berharap jika penggemar Arata yang melihat foto itu akan berkomentar buruk tentang Author Wallflower yang duduk dekat dengan Arata sembari menerima tatapan penuh cinta dari Arata.
Xxx1: Apakah ada yang merasa jika tatapan Arata kita kepada Author Wallflower itu adalah tatapan penuh cinta?
Xxx2 membalas komentar xxx1: Kau benar, aku juga merasakannya.
Xxx3 membalas komentar xxx1: Aku juga merasakannya. Jika aku melihatnya, kurasa Author Wallflower cukup pantas untuk bersanding dengan Arata.
Yyy1: #kekasihrahasiaarata Siapapun tolong jelaskan siapa wanita yang menerima tatapan penuh cinta dari Arata itu? Ini pertama kalinya aku melihat Arata menatap seorang wanita dengan tatapan penuh cinta seperti itu.
Yyy2 membalas komentar yyy1: wanita dalam foto itu adalah Author Wallflower, penulis novel Love Like Ectasy. Dia juga ikut menulis skenario untuk film Love Like Ectasy yang diadaptasi dari novelnya.
Yyy3 membalas komentar yyy1: Dia memang Author Wallflower. Aku datang ke acara tanda tangannya beberapa waktu lalu karena Arata datang sebagai bintang tamu. Kalian pasti akan terkejut jika melihat Arata sudah memandang Author Wallflower saat itu dengan tatapan penuh cinta.
Yyy4 membalas komentar yyy1: Mereka serasi menurutku. Jika di masa depan Arata benar-benar berkencan dengan Author Wallflower, maka Arata adalah satu dari beberapa penggemar yang sukses meraih idolanya.
Yyy1 membalas komentar yyy4: Kya. . . aku tidak sabar dengan kelanjutan foto ini.
“Sial!!” Bora mengumpat kesal sembari menggigit kukunya. Melihat Ulfa yang hendak kembali dengan air yang dimintanya, Bora kemudian meminta Ulfa untuk melakukan sesuatu untuknya karena kepalanya tiba-tiba memikirkan sebuah ide bagus dan ide itu membutuhkan ponsel milik Ulfa. “Ulfa, tolong kupaskan buah untukku!”
“Apa yang ingin kau makan, Bora?” teriak Ulfa dari dapur.
“Apel dan pir.”
“Baik, tunggu sebentar.”
Setelah sukses membuat Ulfa sibuk, Bora yang masih memegang ponsel milik Ulfa tanpa izin dari Ulfa, kemudian menuliskan komentar buruk Author Wallflower dengan menggunakan akun instagram milik Ulfa.
Zzz1: wanita itu bukankah terlalu biasa untuk Arata kita?
Setelah mengetik komentar itu di kolom komentar, Bora menggigit kukunya lagi sembari menunggu penggemar Arata yang setuju dengan komentar darinya. Bora tahu.. . . beberapa penggemar Arata juga mengidolakan dirinya dan berharap Bora bisa bersanding dengan Arata.
__ADS_1
Zzz2 membalas komentar zzz1: Kurasa juga begitu. Kurasa Arata lebih cocok dengan aktris Bora. Bukankah mereka serasi sekali ketika bersama? Satunya cantik dan yang satunya tampan.
Tidak butuh waktu lama bagi Bora untuk menunggu, umpan yang Bora lempar langsung ditangkap. Penggemar Arata menuliskan apa yang diinginkan oleh Bora.
“Begini lebih baik,” gumam Bora dengan wajah puas. “Benar. Orang yang menulis di komentar itu memang benar. Akulah satu-satunya wanita yang pantas untuk bersanding di sisi Arata.”
Senang dengan komentar itu, Bora meletakkan ponsel milik Ulfa dan bersikap seolah tidak melakukan apapun ketika Ulfa datang membawa apa yang Bora minta.
“Ini air dan buahnya, Bora.”
“Kamu bisa makan buahnya, Ulfa. Tiba-tiba aku merasa kenyang,” ucap Bora dengan senyuman manis di bibirnya.
*
Di sisi lain. . .
Di sudut ruangan duduk seseorang dengan pakaian serba hitam. Sosok itu sibuk melihat ke arah komputer miliknya dan menggeser akun instagram miliknya. Tangannya yang terus menggerakkan mouse tiba-tiba terhenti ketika menemukan akun penggemar Arata yang sedang membagikan foto Arata bersama dengan sosok wanita asing.
Sosok itu menatap foto Arata dengan wanita asing itu, dengan cermat sembari memperhatikan setiap bagian dari foto itu. Tangannya terhenti di wajah wanita asing itu dan kemudian mengepal karena kesal. Setelah memperhatikan dengan cermat setiap bagian dari foto itu, sosok itu kemudian membaca caption dan kolom komentar di bawahnya.
“Kekasih rahasia Arata?? Yang benar saja??”
Sosok itu membaca kolom komentar yang panjang dan menemukan berbagai respon yang tertulis dalam kolom komentar itu. Merasa sangat kesal dan geram karena foto itu, sosok itu kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dia bergerak menuju ke rak buku miliknya dan mengambil kotak yang berisi amplop hitam di dalamnya.
Dengan menggunakan tinta merah, sosok itu kemudian menuliskan pesan ancaman di atas kertas putih.
Kau tidak pantas bersama dengan Arata!!! Kau tidak layak untuknya!!!!
Setelah menuliskan pesan ancamannya, sosok itu memasukkan surat itu ke dalam amplop hitam yang diambilnya dan menyegelnya segel merah. Sosok itu kemudian duduk lagi di kursi dan melihat kembali ke komputer yang masih menampilkan foto Arata dengan wanita asing di lokasi syuting.
“Kau tidak layak! Benar-benar tidak layak bersamanya!! Di dunia ini, hanya akulah yang pantas bersamamu.”
__ADS_1