
Narator’s POV
“Arata!”
Arata yang baru saja menyelesaikan proses pemotretan untuk iklannya, mendengar Rama memanggil namanya.
“Ya, Kak Rama. Ada apa?”
“Apa kau ingat jika belum lama ini, kau meminta pada petugas keamanan apartemenmu untuk memasang kamera khusus yang mengarah ke pintu apartemen milik Nona Asha karena amplop hitam yang diberikan oleh Rangga??”
Arata menganggukkan kepalanya mengingat hal itu. “Ya, Kak. Apa pelakunya muncul dan terekam di kamera itu? Aku meminta pada petugas keamanan apartemen untuk memberi kabar jika ada orang yang mencurigakan dengan amplop hitam datang ke apartemen milik Author.”
“Penjaga apartemenmu mengirim rekaman video ke nomorku.”
Arata terkekeh mengira Rama akan marah padanya karena Arata tidak memberi tahu dirinya jika Arata meninggalkan nomor Rama kepada penjaga apartemen di mana Arata tinggal. “Maafkan aku, Kak. Seperti biasa, aku menggunakan nomormu dan memberikannya kepada penjaga apartemenku untuk mengirim kabar jika ada orang mencurigakan datang ke apartemen Author.”
“Aku tidak marah soal itu hanya saja ... memang ada orang asing yang datang ke apartemen Nona Asha.”
Arata tiba-tiba merasa senang mendengar kabar itu. “Baiklah kalau begitu kita segera laporkan orang itu ke kantor polisi sebagai penguntit yang berbahaya.”
“Tidak bisa!!!” Rama dengan cepat menghentikan ucapan Arata itu.
“Kenapa tidak bisa??” Arata bertanya dengan wajah bingung. “Bukankah orang asing itu adalah penguntit yang membahayakan Authorku tersayang??”
Rama kemudian menunjukkan rekaman video yang diterimanya kepada Arata. “Lihatlah ini dan kau akan tahu kenapa aku mengatakan tidak bisa padamu.”
__ADS_1
Arata melihat rekaman itu sesuai dengan perintah Rama dan tidak lama kemudian wajah Arata mengeras karena mengenali sosok di dalam rekaman itu yang sedang mengunjungi apartemen milik Asha.
“Ini?? Kenapa orang ini datang menemui Authorku tersayang???” Arata berteriak tidak percaya sembari merasa cemas kepada Asha. “Ayo kita pergi, Kak! Kakakku pasti akan berbuat sesuatu yang buruk kepada Authorku dan membuatnya malu!!”
*
Aku gugup melihat senyuman itu dan merasa bahwa guyuran minuman itu sebentar lagi akan mendarat di atas kepalaku lalu mengalir di tubuhku. Aku menundukkan kepalaku melihat pakaian yang aku kenakan saat ini. Huft, syukurlah aku mengenakan hoodie berwarna hitam. Jika pria ini benar-benar mengguyurku dengan minuman, setidaknya aku bisa pulang tanpa merasa malu.
“Nona ... kau benar-benar orang yang menarik. Tidak heran jika Arata menyukaimu, Nona.”
Alisku mengerut mendengar pujian itu keluar dari mulut kakak kedua Arata. “Permisi, Tuan. Bukankah Tuan tadi mengatakan jika aku jauh dari bayangan yang Tuan buat?”
“Itu benar. Nona memang jauh dari bayangan yang aku dan Kakak pertama buat.”
“Kalau begitu ... bukankah itu artinya Tuan tidak menyukai hubunganku dengan Arata?” tanyaku memastikan.
“Itu ...” Aku terkejut mendengar jawaban yang tidak terduga dari Kakak kedua Arata yang duduk di hadapanku sembari terus memakan makanan manis yang dipesannya dalam jumlah yang cukup banyak.
Saking gugupnya dengan situasi yang aku hadapi, aku sampai tidak memakan apapun dan meminum apapun yang ada di hadapanku dan dipesankan oleh Kakak Kedua Arata. Sebaliknya sejak makanan dan minuman datang, Kakak Kedua Arata terus memakan dan meminum apa yang dia pesan seolah berbincang denganku adalah sesuatu yang sudah biasa dilakukannya.
“Dugaan yang aku dan kakak pertama buat adalah Nona Asha adalah tipikal wanita seperti Aktris Bora yang baru-baru ini membuat masalah dengan Arata kami. Kebanyakan selama ini wanita-wanita yang mendekati kami, terutama Arata adalah tipikal wanita seperti Aktris Bora. Mereka melihat kami sebagai jalan menuju kehidupan nyaman di masa depan dengan menggunakan cinta sebagai alasan. Karena itulah hingga saat ini aku dan Kakak pertama belum menikah. Kami semua cukup berhati-hati mencari pasangan hidup karena tidak ingin salah memilih pasangan yang berujung pada kehidupan yang menyusahkan nantinya.”
Mendengar bagaimana pria bernama Maha ini memanggil Arata dengan ‘Arata kami’, semua orang yang mendengarnya pasti mengira jika pria bernama Maha ini dan keluarga Arata yang lainnya sangat menyayangi Arata. Tapi ... aku tahu cerita kecil tentang keluarga Arata yang kebanyakan dari mereka adalah orang cerdas yang berprofesi sebagai dokter terkemuka. Aku ingat dengan baik bagaimana Arata menggambarkan dirinya sendiri ketika berada di keluarganya.
“Aku adalah kegagalan dalam hidup banyak orang.”
__ADS_1
Dan gambaran itu sama seperti gambaran hidupku. Nyatanya ... aku juga pantas mendapat sebutan seperti itu-aku juga adalah kegagalan dalam hidup banyak orang terutama keluargaku.
“Mendengar ucapan Tuan, aku merasa jika keluarga kalian begitu menyayangi Arata? Memanggil Arata dengan panggilan ‘Arata kami’ terdengar begitu romantik dan penuh dengan kasih sayang, Tuan. Tapi ... apakah panggilan itu benar-benar menggambarkan kasih sayang keluarga kalian pada Arata?”
Senyuman di bibir Maha Wiyarta menghilang dan perlahan berubah menjadi tatapan tajam seolah tatapan itu bisa membunuhku kapan pun. “Sepertinya ... Nona tidak sepenuhnya tidak tahu tentang keluarga Arata. Sepertinya Arata telah menceritakan sedikit tentang kami-keluarga Wiyarta.”
“Itu benar, Tuan. Arata memang sedikit pernah menyinggung keluarganya di hadapanku. Dia bahkan menyebut dirinya adalah kegagalan dalam hidup banyak orang terutama di keluarganya padaku.” Aku membalas tatapan tajam Maha padaku dengan tatapan tajam juga. Berkat waktu-waktu yang sempat aku habiskan untuk melihat syuting Arata, aku sedikit belajar bagaimana Arata berakting. Aku berpikir di saat seperti ini, aku tidak seharusnya terintimidasi dan merasa seolah kalah dari tatapan tajam yang mengarah padaku. Sebaliknya ... aku harus membalas tatapan itu, untuk menunjukkan posisiku.
“Nona benar-benar orang yang menarik. Aku benar-benar tidak menduga wanita yang mengurung dirinya dan selama ini berusaha lari dari masalahnya dan pembulian yang dialaminya, kini berani membalas tatapan tajamku dan tidak terintimidasi olehku.” Senyuman tajam tanda kepuasan terlihat di bibir Maha yang masih menatap tajam ke arahku.
“Bukankah bodoh namanya jika aku tidak belajar dari kesalahan masa lalu, Tuan? Aku yang sekarang bukan aku yang dulu-yang selalu ditindas dan akan berlari karena tidak mampu mengatasi rasa takutku.”
Prok ... prok ... prok.
Pria bernama Maha itu memberi tepuk tangannya lagi padaku. “Kau benar-benar wanita yang menarik, Nona Asha. Dengan begini kakak pertama akan merasa senang mendengar laporan pertemuan kita hari ini. Setelah ini ....”
“Setelah ini apa?”
Teriakan itu terdengar dari arah pintu cafe di mana aku melihat Arata tengah berdiri dengan nafas tersegal sembari melemparkan tatapan tajam ke arah Kakakknya-Maha.
“Kau datang rupanya, Arata. Kami semua sangat merindukanmu, Arata.”
Sekali lagi ... alisku mengerut mendengar ucapan kakak kedua Arata yang bernama Maha itu. Dia dengan cepat mengubah tatapannya yang tajam dan senyuman menakutkannya menjadi senyuman hangat dan tatapan bahagia ketika melihat Arata muncul.
“Setelah ini akan apa, Kak?” Arata berjalan mendekat ke arah kami sembari mengajukan pertanyaan itu pada Kakaknya-Maha.
__ADS_1
“Kau tahu jawabannya, Arata.” Maha masih terus tersenyum mengatakan hal itu kepada Arata. “Tidak lama lagi mungkin Ayah, mungkin Ibu, dan mungkin Kakak pertama yang akan menemui kekasihmu ini, Arata. Kau tahu dengan baik menjadi bagian dari keluarga Wiyarta bukanlah hal yang mudah.”