MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SANGKAR PELINDUNG PART 1


__ADS_3

            Begitu aku berhasil mengelabui para reporter dan wartawan di depan gedung apartemen dengan masuk melalui pintu khusus staf karena aku kenal dengan baik dengan penjaga apartemen ini, aku menerima panggilan dari Sena.


            “Kau baik-baik saja, Asha??”


            Aku langsung dicecar dengan pertanyaan itu ketika menerima panggilan darinya. Aku rasa. . . aku mungkin Author paling  menyulitkan yang pernah bekerja sama dengannya, padahal dia hanyalah seorang pengganti sementara dan aku merasa sedikit bersalah padanya karena membuat tiga bulan kerjanya menjadi cukup berat selama tiga bulan lamanya.


            “A-aku baik-baik saja, Sena. Terima kasih telah bertanya.”


            “Kau yakin, Asha?”


            Aku menganggukkan kepalaku meski Sena tidak ada di hadapanku.  Aku berjalan ke semua jendela apartemenku dan menutup semua tirai sebelum matahari pagi datang. “Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku.”


            “Kau di mana sekarang? Kak Warda sedang heboh mencarimu.”


            “Warda mencariku??” tanyaku balik karena terkejut. Aku langsung mengecek ponsel yang aku matikan sejak kemarin dan menemukan Warda dan Sena berulang kali menghubungiku. “Setelah ini. . . aku mungkin akan mematikan panggilanku lagi. Bisakah tolong sampaikan pada Warda, jika aku baik-baik saja, Sena??”


            “Tentu. Itu hal yang sangat mudah. Lalu apa rencanamu selanjutnya, Asha? Apa kau akan tetap datang ke lokasi syuting?”


            Aku duduk di sofa di depan TV ku dalam keadaan gelap karena hanya ada satu lampu yang menyala dan itu adalah lampu kerjaku yang ada di atas meja kerjaku. “Tidak, aku tidak akan datang lagi ke sana. Setelah panggilan ini berakhir, aku akan mengirim pesan kepada penulis skenario utama dan mengatakan bahwa aku tidak akan bisa datang lagi menggantikannya. Aku juga harus mengirim pesan kepada sutradara karena telah membuat masalah bagi pekerjaannya.”


            “Kau tidak perlu melakukannya, Asha. Biar aku dan Kak Warda yang mengurusnya.”


            “Benarkah??” Aku sedikit merasa lega memiliki dua editor yang cukup pengertian padaku dan keadaanku.


            “Ya, kau tidak perlu melakukannya. Biar aku dan Kak Warda yang akan mengurusnya nanti. Sekarang katakan kau di mana dan apa yang kau lakukan? Jika ada yang perlu aku bantu, aku akan melakukannya, Asha.”


            Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Sena itu. “K-kau tidak bertanya padaku tentang isu itu, Sena?”


            “Tidak perlu. Aku tahu kau tidak melakukan hal buruk itu, Asha. Kau adalah satu dari beberapa Author idolaku dan aku tahu, aku menilai dengan baik semua idolaku. Aku yakin dan percaya, kau tidak melakukannya.”

__ADS_1


            Mendengar jawaban dari Sena itu, untuk sejenak aku mengingat wajah Arata dan ucapannya yang mengatakan jika dia percaya padaku.


            “Terima kasih, Sena. Senang mendengar kau percaya padaku.”


            “Kau di mana sekarang, Asha?”


            “A-aku berada di sangkar pelindung milikku dan untuk sementara, aku memutuskan untuk tidak keluar dari sangkar ini. Sejak awal. . . aku harusnya tidak pernah keluar dari sangkar ini bersama dengan kesialan yang selalu mengikutiku.”


            Setelah mengatakan hal itu pada Sena, aku langsung mematikan panggilanku yang terhubung dengannya dan kemudian berusaha untuk memejamkan mataku dalam gelap.


            Benar, tempat ini adalah tempat paling aman untukku. Tempat ini juga adalah tempat paling nyaman untukku. Di sini. . . kesialan tidak akan berani mengganggu hidupku. Di sini. . . masalah tidak akan datang padaku. Di sini juga. . .aku tidak akan membuat orang lain dalam masalah. Tapi. . .


            Aku mengubah posisi dudukku ke posisi tidur meringkuk sembari memeluk erat bantal di sofaku yang dingin. Di sini sebelumnya adalah tempat paling aman  dan paling nyaman bagiku. Tapi entah sejak kapan tempat ini berubah menjadi sangat dingin??


*


            Narator’s POV


            “Di mana Author??” Arata langsung membuka mulutnya dan bertanya ketika Warda menyelesaikan panggilannya.


            “Sangkar pelindung miliknya-apartemennya. Dia akan mengurung dirinya lagi seperti sebelumnya, Arata. Itulah yang Sena katakan padaku. ” Warda menggigit bibirnya karena kesal sebelum akhirnya mengumpat kesal. “Sial!! Usahaku untuk membuat Asha keluar dari apartemennya berubah menjadi bencana dan justru membuat Asha terluka  lagi. Apa sih keinginan orang-orang yang menyebarkan isu ini? Apa mereka belum puas dengan apa yang Asha alami sepanjang hidupnya??”


            “Kenapa Author menerima panggilan Sena dan tidak menerima panggilanku??” Arata merasa sedikit kesal karena Asha yang selama ini di sisi Arata, sepertinya tidak merasakan hal yang sama dengan Arata.


            “Sena menghubunginya saat pagi buta tadi. Sekarang. . . sepertinya ponsel milik Asha sudah dimatikan lagi dan itu kenapa panggilan kita selalu gagal masuk.”


            “Oh. . . “ Arata mengurungkan rasa kesalnya dan kemudian segera berjalan ke mobil yang dibawa oleh Rama.


            “Mau ke mana kau, Arata?” tanya Rama dengan berteriak.

__ADS_1


            “Tentu saja ke apartemen Author!! Aku harus ke sana dan menemaninya, Kak. Membiarkannya mengurung diri lagi seperti sebelumnya, justru akan membuat keadaannya memburuk. Bisa-bisa. . . Author tidak akan percaya pada orang lain lagi setelah ini.”


            Rama berlari melewati Arata dan menghalangi jalan Arata. “Kau tidak bisa ke sana, Arata!”


            “Kenapa tidak???”  Arata bersikeras melewati Rama, tapi usahanya gagal karena Rama tidak mau memberi Arata jalan. “Kak, minggir!!!!”


            “Kau tidak bisa ke sana, Arata!” Rama berkata dengan nada penegasan sembari tetap menghalangi jalan Arata.


            “Kenapa tidak, Kak??” Arata mengulangi lagi pertanyaannya kepada Rama.


            “Apa kau tidak mengerti, Arata? Jika kau ke sana sekarang, kau akan mengungkap keberadaan Nona Asha. Hingga saat ini. . . aku masih belum menerima kabar dari reporter kenalanku yang mengatakan jika mereka melihat Asha di masuk ke dalam apartemennya. Itu artinya. . . Asha berhasil menyelinap dengan baik dan tanpa ketahuan kembali ke apartemennya. Jika kau ke sana sekarang dan mengungkap jika kau adalah tetangga Nona Asha, berita dan isu yang akan menerpa Nona Asha akan lebih buruk lagi. Apa kau tidak memikirkan hal ini, Arata??”


            “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak??” tanya Arata dengan nada pasrah. Ucapan Rama berhasil membuat Arata bangun dari sikapnya yang sedikit tidak sabaran dan kurang berhati-hati dalam bertindak.


            “Kau tahu. . . bukan tanpa alasan Rangga membuatku berada di sini menjadi manajermu, Arata??”


            Arata menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Rama. “Ya, aku tahu. Sedikit banyak aku dan Rangga-si pembuat masalah itu memiliki sifat yang mirip.”


            “Kali ini. . . aku menahanmu agar masalah ini tidak meluas lebih dari ini, Arata. Ingat itu.”


            Arata menganggukkan kepalanya lagi. “Aku mengerti, Kak.”


            “Lalu apa yang harus kita lakukan?” Setelah melihat Arata kembali tenang, Warda maju dan bertanya kepada Rama. “Membiarkan Asha mengurung dirinya lagi, hanya akan membuat Asha kehilangan kepercayaannya kepada orang lain lagi.”


            “Kita harus menyelesaikan masalah ini lebih dulu. Kita harus menemukan apa yang terjadi di masa lalu Nona Asha. Siapapun yang terlibat di dalamnya dan bagaimana kejadian yang sebenarnya terjadi. Jika kita menyelesaikan keadaan ini, mungkin Nona Asha akan mendapatkan kembali kepercayaannya dan berjalan sendiri keluar dari apartemen miliknya.”


            Arata dan Warda menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Rama itu.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2