MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
BABAK BARU KEHIDUPAN PART 1


__ADS_3

“Authorrrrrr!!!!”


            Aku mendengar suara itu lagi. Dalam kegelapan yang pekat, aku berharap aku bisa melihat orang yang selalu memanggilku dengan panggilan itu. Aku harap kali ini aku belum terlambat membuat harapan untuk bisa bertemu dengan pemilik suara itu. Aku ingat aku punya janji yang belum aku katakan kepadanya.


            “Kali ini aku sungguh-sungguh, Author. Hanya saja ... ini adalah lamaran tidak resmi dariku dan lamaran resminya akan aku lakukan jika Author menyetujui lamaran tidak resmi ini. Bagaimana?”


             “Aku akan memberikan jawaban itu, nanti setelah acara berakhir. Sekarang duduklah di tempatmu sana!!”


            “Authorrrrrrr!! Kumohon bangun, Authorrrr!!!!”


            Tiba-tiba aku melihat tangan Arata lagi yang terulur padaku. Kali ini ... tanpa ragu aku menerima uluran tangan itu dan dalam sekejap semua kegelapan pekat yang mengelilingiku menghilang dan berganti dengan cahaya terang.


            “Uhuk ... uhuk.”


            Dadaku serasa sesak dan rasanya begitu sakit. Aku membuka mataku dan terus menerus batuk-batuk dengan air yang keluar dari dalam mulutku.


            “Author, akhirnya kamu bangun juga.”


            Belum sempat aku melihat ke arahnya, Arata langsung memelukku dengan erat. Aku yang masih dalam keadaan bingung kemudian melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa pria berdiri mengelilingi aku dan Arata. Dari beberapa pria itu hanya beberapa orang yang aku kenali: Kak Rama, Pak Laksamana dan satu orang lagi yang aku tahu sebagai asisten Pak Laksamana. Aku melihatnya ketika mengunjungi kantor polisi untuk bertemu dengan Pak Laksamana.


            “Syukurlah Nona selamat.” Pak Laksamana melihatku dengan senyuman di bibirnya. Meski kumisnya tebal dan biasanya membuatnya terlihat sedikit menakutkan, tapi senyumannya kali ini mampu menghilangkan semua kesan pertama yang aku lihat pada Pak Laksamana.

__ADS_1


            “Syukurlah kau baik-baik saja, Asha.” Kali ini giliran Kak Rama yang mengucapkan ucapan itu dengan wajahnya yang sangat lega melihatku dalam dekapan Arata. “Kalau ada apa-apa denganmu, aku tidak tahu bagaimana masa depan Arata nantinya, Asha.”


            Aku menatap semua orang yang kini memandangku dengan raut wajah yang sama: perasaan lega. Aku menatap semua orang secara bergantian dan berusaha memproses situasi yang ada di hadapanku saat ini.


Setelah berusaha memproses semua informasi yang aku terima, aku menyadari sesuatu yang aku lupakan untuk sejenak: Sena. Aku ingat Sena membawaku terjun ke dalam danau sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaranku karena aku tidak bisa berenang dan kehabisan nafas di dalam air. 


“Bagaimana dengan Sena??”


Pak Laksamana menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaanku. Matanya menatap ke arah danau seolah memberikan isyarat padaku tentang Sena dan keberadaannya.


Setelah itu mobil bantuan dari pihak kepolisian datang bersamaan dengan mobil ambulance yang akan membawaku ke rumah sakit.


“Tolong bawa ke rumah sakit Wiyarta!” Arata langsung memberikan instruksi itu begitu ambulance tiba dan hendak membawaku untuk menjalani perawatan karena tenggelam untuk waktu yang cukup lama.


Dua hari kemudian ...


Selama dua hari lamanya aku dirawat di rumah sakit milik keluarga Arata. Ayah, Ibu dan dua kakak Arata bahkan menjagaku secara bergantian bersama dengan Arata dan membuatku merasa sedikit sungkan dan merasa hal ini sedikit berlebihan.


“Apakah aku bisa pulang sekarang, Arata?” Aku mengajukan pertanyaan itu kepada Arata setelah sehari semalam menginap di rumah sakit. Karena aku merasa bahwa tubuhku baik-baik saja, aku ingin kembali ke apartemenku untuk beristirahat.


“Tidak, Author.” Arata langsung menolak permintaanku itu dengan tegas. “Author akan berada di rumah sakit ini selama tiga hari dan akan pulang setelah semua pemeriksaan menunjukkan jika Author baik-baik saja.”

__ADS_1


“Tiga hari??” ulangku.


“Ya, tiga hari. Tidak bisa kurang.” Arata menegaskan seolah ucapannya tidak bisa ditawar lagi.


Ibu Arata yang mendengar percakapanku dan Arata mendekat ke arahku. Ibu Arata menggenggam kedua tanganku yang sedikit dingin. “Ibu mohon Asha tidak menawar lagi dan bersikap baik selama beberapa hari ini.  Ibu sudah dengar cerita Arata mengenai kamu yang tenggelam dan tidak bangun-bangun bahkan setelah Arata memberikan pertolongan pertama padamu berulang kali. Jika Ibu di posisi Arata, Ibu juga akan melakukan hal yang sama dengan Arata, Asha. Kehilangan seseorang yang kita cintai di depan mata kita adalah sesuatu yang cukup menyakitkan dan itulah yang Arata rasakan saat kau tidak kunjung membuka mata, Asha.”


Mendengar penjelasan Ibu Arata, aku akhirnya mengalah dan memilih untuk mengikuti keinginan Arata: tinggal di rumah sakit hingga Arata memperbolehkanku untuk pulang.


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan di rumah sakit milik Wiyarta, aku mulai menerima berbagai kunjungan di hari kedua, dari Warda dan suaminya, para staf film Love Like Ectasy dan beberapa rekan di kerja Warda di kantor penerbit di mana aku bekerja sama untuk menerbitkan novelku. Tidak lupa juga Pak Laksamana dan asistennya juga mengunjungiku dan meminta beberapa keterangan dariku.


            Pak Laksamana bertanya banyak hal padaku, dari apa saja yang terjadi antara aku dan Sena dan alasan Sena terobsesi padaku. Pak Laksamana tidak bisa menanyakan hal itu kepada Sena, karena Sena telah kehilangan nyawanya di tengah danau karena kakinya yang terhubung dengan bulatan besi pemberat yang membuatnya tetap berada di dasar danau untuk waktu yang lama hingga pihak kepolisian mengirimkan bantuan.


            Aku menceritakan segala hal yang aku ingat tentang cerita kehidupan Sena dan keluarganya yang kelam dan tragis. Aku juga menceritakan bahwa keluargaku juga bukan korban pertama dari pembunuhan yang dilakukan oleh Sena. Aku menceritakan pembunuhan Sena yang dilakukannya kepada ibu kandungnya sendiri dan kekasih gelapnya yang telah membunuh ayah kandungnya.


            Tidak berhenti di situ saja, aku juga menceritakan mengenai fakta bahwa Sena menggunakan nama pena ibunya sebagai penulis untuk menuliskan kisah hidupnya, kematian ayahnya dan kematian dari ibu kandungnya dalam novel terakhir milik The Lady.


            “Sepertinya itulah yang terjadi ... “ Setelah aku menyelesaikan ceritaku, Pak Laksamana membuka mulutnya dan bergantian memberi penjelasan padaku. “Ketika mengangkat tubuh Sena di tengah danau, tidak jauh dari lokasinya kami menemukan tulang belulang manusia. Kami melakukan pengujian pada kerangka itu dan menemukan jika kerangka itu adalah milik wanita di usia tiga puluhan mendekati  empat puluhan.”


            “Ya, Pak. Dari cerita Sena, saya melihat bahwa Sena sangat menyayangi ibunya. Tapi orang yang begitu disayanginya itu mengkhianatinya, menghancurkan kebahagiaan dalam hidupnya dan berkomplot membunuh ayahnya. Lalu ketika Sena akhirnya kehilangan ingatannya, Neneknya yang tidak terima dengan kematian putra tunggalnya kemudian meminta Sena membalaskan dendam untuk putarnya yang mati secara tidak adil.”


            Pak Laksamana menganggukkan kepalanya menanggapi ucapanku. “Mungkin itulah yang terjadi pada Sena dan kehidupannya. Tapi mohon Nona Asha ketahui, membunuh adalah perbuatan yang salah apapun alasannya. Sena mungkin hidup secara tidak adil, tapi membunuh tidak seharusnya menjadi jalan yang dipilihnya.”

__ADS_1


            Aku setuju dengan ucapan dari Pak Laksmana. Hidup yang menyedihkan dan hidup yang menyakitkan, bukan menjadi alasan untuk membunuh orang lain. Meski merasa iba dengan kisah kelam kehidupan Sena di masa lalu, aku tetap tidak bisa memaafkan perbuatannya membunuh keluargaku dan membunuh orang lain termasuk Bora.


__ADS_2