MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KEGELAPAN MILIK WALLFLOWER PART 2


__ADS_3

            Narator’s POV


            “Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?” Bora meluangkan waktunya di sela jadwal syuting untuk menemui detektif swasta yang disewanya.


            “Tentu, Nona. Saya datang kemari tentu tidak dengan tangan kosong.” Detektif swasta itu mengeluarkan amplop coklat besar dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja untuk menunjukkan hasil kerjanya kepada Bora. “Semua ada di sini, Nona.”


            Tangan Bora bergerak untuk mengambil amplop coklat itu tapi amplop coklat itu ditarik  lebih dulu oleh detektif swasta itu menjauh dari jangkauan tangan Bora. “Kenapa menariknya lagi? Bukankah kau bilang semuanya ada di sini?”


            “Ya, Nona. Itu memang benar. Tapi. . . Nona tahu bagaimana cara kerja saya. Jika Nona ingin mengambil amplop coklat ini, Nona perlu membayar bayaran untuk informasi ini lebih dulu.” Detektif swasta itu tersenyum dingin ke arah Bora sembari membuat isyarat dengan tangannya untuk memberikan bayarannya lebih dulu.


            “Aku mengerti.” Bora mengambil ponsel di dalam tasnya,  membuka mobil banking miliknya dan kemudian menransfer sejumlah uang dari dalam rekeningnya ke nomor rekening milik detektif swasta di depannya saat ini. Setelah bayaran dikirim, Bora menunjukkan bukti pembayaran yang ada di ponselnya kepada detektif swasta langganannya itu. “Sudah puas??”


            “Senang sekali bisa bekerja sama dengan Nona.” Detektif swasta itu tersenyum senang melihat bayaran dari pekerjaannya. Amplop coklat yang berisi informasi permintaan Bora kemudian didorong maju hingga mampu dijangkau oleh tangan Bora.


            Cepat-cepat, Bora membuka amplop coklat itu dan membaca semua informasi di dalamnya.


            “Wanita yang Nona cari harusnya adalah wanita biasa. Kenapa kali ini Nona penasaran dengan wanita itu?” Si detektif swasta sedikit menaruh rasa penasaran dengan tugasnya kali ini .


            Dari masa lalu hingga sekarang. . . Bora adalah satu dari beberapa pelanggan tetapnya yang menggunakan jasa detektif yang dimiliki oleh si detektif swasta. Bora selalu meminta menemukan informasi seseorang ketika orang itu menghalangi jalan Bora untuk mendaki ke puncak. Dari model amatir, model profesional, aktris baru hingga aktris yang sudah senior selama menghalangi jalan pendakiannya, Bora akan meminta menemukan informasi mereka dan menggunakannya untuk menjatuhkan mereka.


            Si detektif swasta tahu jika Bora akan selalu menyalahgunakan informasi yang didapatkannya, tapi. . . si detektif swasta tidak peduli dengan hal itu karena dirinya lebih memilih untuk mendapatkan uang dari pada mengurusi kehidupan orang lain yang tidak ada hubungan dengan dirinya.


            Akan tetapi sekarang. . . si detektif  swasta menemukan jika wanita yang menjadi sasaran dari Bora adalah wanita yang memiliki masa lalu kelam dan sempat terkurung dalam kegelapan untuk waktu yang cukup lama. Untuk pertama kalinya si detektif swasta merasa terusik dengan tujuan Bora menggunakan informasi yang didapatkannya.


             “Apa kau tahu tujuanku menyingkirkan semua lawanku selama in?” Bora berbalik bertanya kepada si detektif swasta.


            “Karena mereka menghalangi jalan Nona menuju ke puncak.”


            “Itu benar. Tapi di puncak sana. . . . di puncak yang aku tuju, ada seseorang yang ingin kumiliki. Dia berada di puncak lebih dulu dan untuk bisa bersama dengannya, aku juga harus ke puncak itu dulu agar dia bisa melihatku.”


            Si detektif swasta mulai memahami maksud dan alasan Bora. “Mungkinkah wanita ini?”


            “Itu benar. Wanita ini. . .” Bora melihat foto Asha-Author Wallflower dalam informasi yang didapatkannya. “wanita ini adalah wanita lancang. Tanpa usaha atau perjuangan dia merebut tempatku di puncak dan merebut seseorang yang aku inginkan. Maka dari itu. . . aku harus menyingkirkannya agar tempatku kembali kepadaku.”


            Bora tersenyum memandang informasi Asha yang berada di tangannya saat ini. Detik itu juga, Bora menemukan cara untuk membuat Asha-Author Wallflower menghilang dari kehidupan Arata-miliknya.

__ADS_1


            “Di dunia ini tidak manusia yang tidak punya kelemahan bahkan Author Wallflower sekalipun. . .” Bora tersenyum senang merasakan kemenangannya sudah dekat. “Siapa yang akan menyangka Author terkenal sepertinya punya masa lalu yang sangat-sangat menyedihkan.”


*


            “Cut!”


            Aku bangkit dari dudukku karena merasa sangat penat dengan kebisingan di lokasi syuting. Rasanya. . . hari ini lebih panas dari sebelumnya dan udara yang kuhirup lebih menyesakkan dari pada biasanya. Mungkin semua yang aku rasakan hari ini adalah efek dari syuting kami di mana kami melakukan adegan kejar-kejaran mobil di mana akhirnya tokoh utama pria mengalami kecelakaan.


            “Author mau ke mana?” Arata langsung memanggilku begitu melihatku bangkit dari kursiku dan hendak menghilang dari jangkauan pandangannya. Terkadang. . . aku bertanya-tanya kenapa dia tidak pernah melepaskan pandangannya dariku, bahkan saat syuting pun dia menyadari jika terkadang aku menghilang dan pergi ke luar lokasi syuting.


            “Mau ke luar sebentar. Kalau aku tidak salah ingat di dekat sini ada cafe yang menjual minuman dingin. Aku ingin minum es kopi.”


            “Aku akan menemanimu, Author.”


            Arata hendak bangkit dari kursinya. Aku melihat keringat dingin yang mengalir di keningnya dan nyaris membasahi make upnya. Hari ini Arata melakukan adegan syuting yang berbahaya tanpa menggunakan jasa stuntman dan aku tahu itu pasti sangat melelahkan karena adegan itu sudah diulang sebanyak 13 kali.


            Aku mendorong bahu Arata dengan jari telunjukku dan membuatnya kembali duduk di kursinya. “Tidak perlu. Aku bukan anak kecil, Arata. Usiaku sudah 27 tahun, aku bisa melakukannya sendiri.”


            “Tapi. . .”


            “Tentu, Nona Asha.” Kak Rama membalas ucapanku dengan senyuman dan kemudian memandang Arata dengan tatapan tajam berusaha untuk memberi Arata peringatan.


            Arata menarik tanganku dan sekali lagi menghentikan langkahku.


            “Apa lagi??” tanyaku geram.


            “Ponsel. Berikan ponsel milik Author padaku sebentar saja!” Arata terus menggenggam tanganku dan membuatku mulai panik dengan semua mata yang mulai melihat ke arahku dan Arata.


            “Lepaskan tanganmu, Arata!!” Aku berusaha untuk melepaskan tangan Arata yang menggenggam tanganku, tapi genggaman tangan Arata yang lebih kencang selalu menggagalkan usahaku. “A-ra-ta!!! Kau lupa orang yang mengambil foto kita mungkin ada di sini???”


            “Tidak. Aku tidak lupa. Maka dari itu berikan ponsel Author dan aku akan melepaskan tangan Author!”


            Menyerah dengan keadaan, aku akhirnya memberikan ponsel milikku kepada Arata dan begitu menerimanya Arata langsung melepaskan genggaman tangannya di tanganku.


            “Buka kuncinya!” Arata menunjukkan layar ponsel milikku yang masih dalam keadaan terkunci.

__ADS_1


            “Kau mau apa, Arata?” tanyaku sebelum membuka kunci layar ponselku.


            “Haruskah aku menggenggam tangan Author lagi, baru setelah itu Author memberikan apa yang aku minta???”


            Mendengar ucapan Arata, buru-buru aku membuka kunci layar ponselku sebelum Arata menangkap tanganku lagi dan menggenggamnya lagi.


            “Sudah.”


            Arata tersenyum begitu melihat layar ponselku yang sudah terbuka. Dia menekan-nekan layarnya beberapa kali dan setelah itu mengembalikannya kepadaku.


            “Itu adalah nomorku dan nomor Kak Rama. Jika ada sesuatu yang terjadi pada Author, bisa hubungi aku atau Kak Rama. Author mengerti?”


            Alisku berkedut mendengar ucapan Arata itu. Kenapa rasanya ucapannya terdengar sebagai peringatan yang diberikan orang tua kepada anaknya? Aku menatap ke arah Arata dan kali ini aku menatap tajam ke arahnya untuk membuktikan jika aku ini lebih tua darinya. “Kenapa aku harus melakukannya, Arata? Memangnya apa yang akan terjadi padaku? Aku hanya pergi membeli minuman di dekat sini.”


            Setelah mengatakan hal itu, aku melanjutkan langkah kakiku yang sempat terhenti dan segera bergegas menuju ke cafe kecil karena aku merasa benar-benar haus dan ingin segera minum es kopi.


            “Ini es kopinya, Nona.”


            Aku menerima es kopi yang aku pesan setelah menunggu selama kurang lebih dua menit lamanya. Tadinya. . . aku ingin segera kembali ke lokasi syuting, tapi mengingat rasa penat yang menyerangku, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di cafe sejenak. Aku mengambil penyuara telinga yang aku bawa dalam tasku dan memutar daftar lagu di dalam ponsel milikku.


            Setelah dua lagi diputar, aku memutuskan untuk kembali ke lokasi syuting. Aku memasukkan penyuara telingaku dan ponselku ke dalam tas, mengambil minumanku yang masih tersisa setengah dan kemudian bangkit dari kursiku. Aku mengembalikan kursi yang aku gunakan, kembali ke posisi semula dan berbalik hendak berjalan ke arah pintu keluar cafe.


            Buk. Saat aku berbalik, tubuh seseorang sepertinya menabrakku karena tidak melihat gerakanku.


            “Maafkan aku,” kataku. “Aku tidak melihat dengan baik.”


            “Aku baik-baik saja. . .” Tubuh yang menabrakku adalah tubuh seorang wanita dan ketika dia mengatakan baik-baik saja, dia melihat ke arahku dan mengenaliku. “Asha bukan?”


            Aku menatap wajah dari pemilik tubuh itu dan tanpa sadar tanganku bergetar mengenali wajah yang muncul di hadapanku itu.


            “Asha, ini kau kan??”         


            Dalam sekejap mimpi buruk yang selama ini berusaha aku lupakan, memaksa keluar dari jurang terdalam pikiranku dan memaksaku untuk melihat kembali kenangan lama itu.


            Dia adalah Lusi, teman sekolah di sekolah lamaku sekaligus ketua dari kasus perundungan yang menimpaku.

__ADS_1


           


__ADS_2