
“Guru!!!” Arata berlari menghampiriku dan langsung menyentuh bahuku. “Karena Guru, Authorku yang tercinta terkejut hingga membeku.”
Aku melirik ke arah tangan Arata yang berada di bahuku dan kemudian melirik ke arah wajah Arata dengan lirikan tajam.
“Lihat Guru!!! Gara-gara Guru, Authorku yang tercinta melemparkan lirikan tajam padaku!!” ucap Arata lagi.
“Authorku yang tercinta??” ucap Aktor Rangga dengan wajah tidak percaya dan terkejut. “Kamu bahkan sudah punya panggilan sayang untuk Author Wallflower, sementara aku yang mengajarimu dan membawamu ke titik ini hanya kau panggil dengan panggilan Guru??”
Aku melepaskan bahuku dari tangan Arata dan bergeser menjauh dari Arata. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang saat ini aku lihat dan aku dengar. Bagaimana bisa dua aktor terkenal yang memiliki pengaruh besar pada negeri ini berdebat hal kecil seperti panggilan seperti ini??
“Guru!! Kau membuat Authorku yang tercinta marah dan menjauh dariku!!”
Aktor Rangga menarik nafasnya dan mengembuskannya dengan cepat. Dia memandang ke arahku dengan senyuman di wajahnya dan kemudian memandang Arata dengan tatapan kesal.
“Author Wallflower.” Aktor Rangga memanggil namaku.
“Tuan bisa memanggilku langsung dengan namaku. Silakan panggil dengan Asha, Tuan,” balasku dengan sedikit memberikan hormat kepadanya. Bagaimana pun sosok di hadapanku ini adalah aktor terkenal yang sudah berpengalaman lama dan dikenal dengan kemampuan aktingnya yang sangat epik. Ditambah lagi usianya yang jauh lebih tua dariku, membuatku harus menghormatinya.
“Baik, Asha. Sekarang tolong pegang tangan Arata dengan erat.”
Aku melakukan apa yang dimintanya dan begitu melihat tangan Arata berada dalam genggamanku, Aktor Rangga berlari ke arah Arata yang kini tidak bisa bergerak karena tangannya di genggamanku dan buk. . .
“Auwwww. . . “
Aku tersenyum kecil mendengar Arata meringis ketika kepalanya dipukul oleh Aktor Rangga yang kurasa cukup kencang.
“Kau ini murid yang tidak menghormati gurunya?? Bagaimana kau bisa menyebut Asha dengan Authorku tercinta sementara memanggilku dengan panggilan guru saja?? Harusnya kau juga memanggilku dengan panggilan guruku yang terhormat!!!”
Ucapan Aktor Rangga berhasil membuat tawa yang aku tahan sejak tadi akhirnya keluar dan membuat Arata dan Aktor Rangga terkejut melihatku tertawa.
__ADS_1
“Author??”
“Hahahah. Kenapa lagi?” tanyaku masih dengan berusaha menghentikan tawaku.
“Kenapa Authorku yang tercinta justru tertawa di atas penderitaanku??” Arata memasang wajah memelasnya menatapku sembari memegang kepalanya yang sakit karena pukulan dari Aktor Rangga padanya tadi.
Aku menghentikan tawaku sebelum aku membalas ucapan Arata itu. “Aku sangat-sangat berterima kasih kepada Tuan Rangga karena telah memukulmu. Beberapa kali. . . aku juga ingin melakukannya karena kau selalu melakukan ini padaku.”
Aku mengangkat tanganku yang menggenggam tangan Arata dan menunjukkan kepadanya jika di masa lalu dia selalu menangkap tanganku tanpa izin dariku. Setelah memperlihatkan genggaman tanganku di tangan Arata, aku melepaskan genggaman tanganku di tangannya dan membungkukkan tubuhku sedikit pada Aktor Rangga untuk berterima kasih. “Terima kasih telah memukul benalu yang menyebalkan ini, Tuan.”
“Muridku ini memang sudah seharusnya menerima pukulan itu karena masalah yang dibuatnya beberapa waktu ini. Dan benalu yang menyebalkan??
Aku mengangkat tubuhku dan kembali ke posisi tegakku. “Ya, Tuan. Aku memanggilnya dengan nama itu karena dia terus menempel padaku dan membuat masalah datang padaku.”
Aktor Rangga tersenyum mendengar ucapanku dan membuatku bingung ketika menerima senyuman itu. “Muridku ini memang benalu yang menyebalkan tapi Nona Asha, benalu yang menyebalkan ini membawa banyak cinta untukmu dan akan melakukan apapun untukmu. Aku bisa menjamin itu.”
“Ai yah. . . Guru!! Jangan membuat Authorku yang tercinta ini terkejut mendengar ucapanmu!! Aku saja belum cukup membuatnya terayu oleh rayuanku dan sekarang Guru sudah mengeluarkan jurus rayuan milik Guru??”
Meski sebelumnya aku menyebut Arata dengan benalu yang menyebalkan dan aktor psikopat. Tapi. . . dalam beberapa hal Arata adalah pria yang cukup pengertian. Di saat seperti ini Arata menjadi jembatan yang baik antara aku dan Aktor Rangga.
“Maaf jika aku membuatmu terkejut, Nona Asha.”
Aku berusaha menghilangkan rasa terkejut di wajahku. “Panggil saja Asha, Tuan.”
“Kenapa Guru kemari?” Arata maju ke depanku dan langsung mengajukan pertanyaan yang harusnya sejak tadi sudah ditanyakan oleh Arata.
Aktor Rangga mengangkat tangan kanannya yang mengepal dan kemudian mulai membuka jarinya satu persatu sembari menjawab pertanyaan dari Arata. “Pertama, mengunjungi muridku yang menyebalkan. Kedua, memberi pelajaran pada muridku yang baru-baru ini membuat masalah besar. Ketiga, melihat bagaimana rupa dari Author Wallflower. Keempat, melihat rupa dari wanita yang dicintai muridku selama ini dan kelima, melihat bagaimana hubungan kalian.”
“Jadi Guru sudah mendapatkan semuanya?” tanya Arata memastikan.
__ADS_1
“Sudah.” Aktor Rangga menganggukkan kepalanya sedikit sembari melihat ke arahku. Dari kedua matanya yang sedang menatapku, aku bisa menilai jika aktor yang dikenal selalu membuat masalah ini bukanlah orang yang sederhana seperti kelihatannya.
“Lalu??”
“Lalu aku melihat. . .” Aktor Rangga yang tadi sudah menurunkan tangan kanannya, mengangkat kembali tangan itu dan tiba-tiba menyentil kening Arata.
“Auwwww, Guru!!! Kenapa menyentil keningku?? Apa tidak cukup memukul kepalaku tadi??”
“Tidak cukup.” Aktor Rangga masih menatap ke arahku dan kemudian melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terhenti dan belum diselesaikannya. “Aku melihat jika wanita pilihanmu ini adalah wanita yang menarik, Arata. Tidak salah jika kau membuat masalah untuknya.”
Mendengar ucapan Aktor Rangga itu, aku menyadari jika masalah yang dibuat oleh Arata dikarenakan olehku dan sudah seharusnya aku meminta maaf kepada banyak orang yang rela mendatangi masalah hanya untuk membantuku.
“Maafkan saya, Tuan Rangga. Karena saya, masalah menimpa banyak orang dari muridmu, Kak Rama dan kantor agensi di mana Arata bernaung.” Aku membungkukkan tubuhku lagi dan kali ini meminta maaf dengan benar.
“Ternyata kau lebih dari dugaanku, Asha.” Setelah mengatakan hal itu padaku, Aktor Rangga menarik telinga Arata, sedikit menjewer telinganya dan memaksa Arata untuk ikut bersamanya berjalan keluar dari apartemenku.
“Auuuuwwwww. Ya, Tuhan. Guru!! Hari ini kau benar-benar menghancurkan harga diriku di depan Authorku yang tercinta. Kau memukul kepalaku, menyentil keningku dan sekarang menjewer telingaku. Apa Guru tidak peduli dengan harga diri muridmu ini?? Auuwwww.” Sembari menahan sakit di telinganya karena dijewer oleh Aktor Rangga, Arata masih sempat-sempatnya mengomel dan mengeluh pada Gurunya.
“Asha. . . biarkan aku meminjam benalu menyebalkan ini hari ini. Ada yang perlu aku bicarakan padanya.”
Aku mengikuti Aktor Rangga dan Arata yang berjalan keluar dari apartemenku dan tersenyum membalas ucapan dari Aktor Rangga. “Silakan, Tuan. Silakan pinjam benalu menyebalkan itu, Tuan.”
“Author, teganya kau padaku!!!” Arata masih sempat mengeluh padaku ketika telinganya masih dijewer oleh Aktor Rangga yang terus menariknya hingga ke depan pintu apartemen milik Arata.
Melihat pemandangan itu, aku hanya bisa tersenyum sembari berkata pada diriku sendiri. Rupanya Arata bisa kalah juga.
__ADS_1