MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
BENALU YANG MENOLAK UNTUK PERGI PART 1


__ADS_3

            Kalian tahu benalu?


            Contoh yang selalu muncul dalam simbiosis parasitisme yang dikenal dengan sifat yang merugikan. Melihat sosok Arata di kursi pemeran utama pria, benakku mengirim sinyal pada diriku dan mengatakan bahwa Arata adalah benalu  yang akan mengganggu kehidupanmu nantinya.


            Kenapa harus benalu??


            Karena dari beberapa kali pertemuanku dengannya, tak satupun dari pertemuan itu yang membuatku untung dan bukan rugi. Jika harus menimbang-nimbang antara untung dan rugi, aku lebih banyak menemukan kerugian dalam pertemuan yang terjadi antara aku dan Arata. Dia masuk ke dalam hidupku seenaknya sendiri dan membuat kehidupanku yang tenang perlahan kehilangan ketenangannya. Dia selalu menjawab apa yang aku katakan dan dia tidak pernah sekalipun mau mengalah padaku. Bibirnya yang selalu memasang senyuman penuh pesona itu, selalu memprotes ucapanku dan memaksaku melakukan ini dan itu, di luar kebiasaanku.


            Jadi kenapa aku menyebut Arata dengan benalu?


            Jelas karena di mata dan pikiranku, keberadaan Arata hanya akan merugikan kehidupanku yang tenang ini.  


            Sial. . . Aku mengumpat kesal melihat lambaian tangan Arata yang bersikap seolah kami adalah kenalan baik yang sudah saling mengenal dalam hitungan belasan tahun. Aku harus bertanya kepada Warda nanti. Aku harus bertanya padanya, apakah dia tahu jika Arata adalah pemeran utama pria dalam film yang diangkat dari novel keduaku ini yang berjudul Love Like Ectasy..


            “Apakah kalian saling kenal?” tanya Sutradara kepadaku dan kepada Arata.


            “I-itu, ka-“


            “Ya, Pak Sutradara. Kami pernah bertemu beberapa kali. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya Author Wallflower adalah idola saya. Saya menyukai semua buku karyanya dari buku pertamanya.”


            Tadinya. . . aku ingin membuka mulutku lebih dulu dan menjawab pertanyaan sutradara itu,  tapi Arata lebih dulu membuka mulutnya dan memberikan penjelasan untuk lambaian tangannya padaku itu. Arata menjawab dengan bijak pertanyaan itu dan membuat kecanggungan yang terjadi dalam ruangan itu mencair dalam waktu singkat.


            Setelah aku memperkenalkan diri, Arata kemudian mengenalkan dirinya sebagai pemeran utama pria. Dilanjutkan dengan pemeran utama wanita yang diperankan oleh aktris yang sedang naik daun yang bernama Bora. Setelah dua pemeran utama mengenalkan diri mereka dan nama peran mereka, giliran pemeran pembantu mulai mengenalkan diri mereka satu persatu dan nama peran mereka masing-masing.


            Sesi perkenalan berakhir, dilanjutkan dengan sesi  membaca dialog masing-masing dalam naskah skenario yang dibuat oleh penulis skenario utama dan aku. Sesi membaca dialog itu berjalan lancar karena masing-masing pemeran sudah memahami bagaimana peran yang harus mereka perankan.


            Dua jam kemudian, sesi baca dialog itu berakhir dan jadwal syuting dengan tiap lokasinya kemudian diumumkan oleh asisten sutradara. Setelah jadwal dibagikan, acara hari itu berakhir dan akan dilanjutkan dua hari kemudian di lokasi syuting yang sesungguhnya.

__ADS_1


            “Terima kasih telah bersedia datang, Nona Asha, saya harap sebulan ke depan Nona Asha bisa membantu kami jika ada beberapa dialog yang mungkin harus diubah.” Sutradara mengulurkan tangannya berusaha untuk menjabat tanganku sebagai tanda kerja sama kami dimulai.


            Aku mengulurkan tanganku dan menjabat tangan sutradara meski merasa sedikit enggan. “Ya, Pak.  Saya juga mohon kerja samanya dari Bapak dan mohon dimaklumi jika kelak saya membuat kesalahan. Ini adalah pertama kalinya saya bekerja sebagai penulis skenario yang terjun ke lapangan.”


            Sutradara tersenyum sembari melepaskan jabatan tangannya. “Tentu saya akan mengerti, Nona Asha.”  


            “Ah. . . Pak Sutradara, bisakah saya bertanya?”


            “Silakan Nona.”


            “Karena saya tidak tahu bagaimana jalannya casting pemilihan pemeran, bisakah saya bertanya bagaimana pemeran tokoh utama pria jatuh kepada Arata?”


            “Ah soal itu, apakah Nona Warda tidak mengatakannya kepada Nona Asha?”


            Aku menggelengkan kepalaku karena memang aku tidak tahu apapun soal pemeran dalam film ini. “Tidak, Pak.”


            Warda! Aku berteriak di dalam kepalaku karena kesal dengan Warda. Kau benar-benar!!! Bagaimana kau bisa lupa memberitahuku hal penting ini??


            “Mungkin karena Warda baru saja melahirkan, dia lupa memberitahuku mengenai pemeran dalam film ini.” Sebagai teman dan rekan kerja Warda, tentu saja aku harus menjaga nama baik Warda bahkan ketika saat ini, aku benar-benar kesal dan ingin marah kepada Warda.


            Setelah beberapa perbincangan kecil, aku mengakhiri percakapanku dengan sutradara dan berniat untuk segera pulang ke apartemen. Karena pagiku yang berantakan dan di luar rencanaku, aku bahkan tidak sempat sarapan. Sepanjang acara tadi berlangsung, aku berusaha dengan keras menahan rasa laparku dengan memakan beberapa bungkus permen dan meminum air yang disediakan oleh kru. Makanan ringan dan manis itu berhasil mengganjal perutku itu tapi tetap saja tidak memuaskan rasa lapar dari perutku itu.


            “Mau ke mana, Author?” Arata mencegatku tepat di depan mobilku.


            “Selamat siang, Nona Asha.” Rama menyapaku dengan sopan seperti biasanya.


            “Tentu saja pulang, aku bisa pergi ke mana lagi.” Aku membalas ucapan Arata itu dengan melewatinya dan membuka kunci dari pintu mobilku.

__ADS_1


            Arata dengan cepat merebut kunci mobilku, masuk ke dalam mobilku dan duduk di kursi pengemudi.


            “Apa yang kau lakukan, Arata??” Aku berusaha menahan diriku menghadapi benalu menyebalkan yang terus menggangguku kehidupanku ini. “Aku benar-benar lelah dan tidak punya waktu untuk meladeni permainanmu.”


            “Naiklah dan duduk di kursi penumpang. Hari ini, aku akan menemanimu makan dan mengantarmu pulang, Author Wallflower yang terhormat dan tercinta.”


            Mendengar kata cinta muncul di akhir kalimatnya padaku, rasanya. . . aku benar-benar jengkel. Rasanya seperti Arata sedang mempermainkan seolah aku adalah wanita yang bisa dimainkan dengan mudah hanya karena dia adalah aktor terkenal yang diinginkan oleh banyak wanita.


            Aku menoleh ke arah Rama  yang berdiri di sampingku dan membiarkan Arata-aktornya bertindak seenaknya sendiri. “Tuan Rama, apakah aktor terkenalmu ini tidak punya jadwal lain? Kenapa aku merasa jika aktor terkenal satu ini, terlalu santai? Bukankah biasanya aktor terkenal punya banyak jadwal seperti iklan dan sebagainya??”


            “Itu memang benar, Nona Asha. Hanya saja. . . khusus hari ini, Arata meminta semua jadwalnya dikosongkan karena ingin mempelajari skenario film ini, Nona.”


            Aku nyaris tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Rama kepadaku. Bukankah kebetulan sekali?? Arata meminta jadwalnya dikosongkan dan penulis skenario utama mengalami kecelakaan hingga membuatku harus datang ke sini. Kebetulan yang mungkin terdengar menyenangkan di telinga orang lain, rasanya terdengar begitu menyakitkan di telinga dan hidupku.


            “Mohon Nona Asha bisa membantu Arata mempelajarinya karena Nona Asha adalah penulis aslinya,” tambah Rama seolah sedang membenarkan tindakan dari Arata.


            “Ayo naik, Author Wallflower yang terhormat.”


            Aku menatap Rama dan Arata secara bergantian dan melihat keduanya memasang senyuman yang sama-senyuman yang mengatakan bahwa aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya.


            “Kita hanya akan makan lalu pulang. Mengerti???” Aku memberi peringatan kepada Arata.


            “Tentu, Author Wallflower yang terhormat.”


            Akhirnya. . . aku terpaksa lagi menuruti keinginan dari Arata yang sudah duduk di kursi pengemudi dalam mobil milikku. Arata mengemudikan mobil milikku dan membawaku pergi dari lokasi acara dan meninggalkan Rama-manajernya begitu saja.


 

__ADS_1


__ADS_2