
“Ke-kenapa kau bisa ada di sana? Seingatku apartemen itu kosong,” tanyaku dengan sedikit berteriak.
Arata berusaha untuk menahan tawanya dan menjawab pertanyaanku. “Ingatanmu buruk sekali, Author. Aku sudah tinggal di sini selama hampir sebulan lamanya dan kau tidak tahu jika kau punya tetangga baru??”
Mataku melotot merasa bahwa kesialanku yang dibawa oleh Arata akan terus menghantuiku dan membayangiku. Setelah apa yang terjadi pada acara tanda tangan dan soal sepatu itu, aku berharap aku tidak akan bertemu lagi dengan aktor terkenal yang suka tebar pesona itu. Yah. . . dunia ini besar. **** kami tinggal di kota yang sama, peluang kami untuk bertemu harusnya kecil sekali mengingat aku dan Arata berada di lingkungan kerja yang berbeda.
Harusnya seperti itu. . .
Tapi siapa yang akan menyangka dunia yang besar ini, ternyata juga bisa terlihat kecil hingga peluang pertemuanku dengan Arata yang kecil itu menjadi peluang dengan nilai yang besar dan lagi. . . seorang Arata tinggal di samping apartemenku, membuat peluang itu semakin besar saja.
“Kau??? Tinggal di sini??? Kenapa???” tanyaku tidak percaya dengan ucapan Arata. “Ini bukan kompleks apartemen mewah di mana orang terkenal akan memilih untuk tinggal di dalamnya.”
“Apa ada peraturan yang melarang orang terkenal tinggal di apartemen ini, Author Wallflower?”
“Tidak.”
“Kalau begitu aku bisa tinggal di sini semauku, Author. Aku harap ke depannya kita bisa menjadi tetangga yang baik, yang akan saling membantu jika ada masalah.”
Sial, aku justru membantunya membuat alasan, umpatku di dalam benaknya. “Kenapa aku harus melakukannya??”
“Kau tentu harus melakukannya, Author.”
“Kenapa??” Aku menatap tajam ke arah Arata karena kesal dia selalu membalas ucapanku.
“Karena aku adalah penggemarmu, Author. Bukan penggemar biasa, aku adalah penggemar pertamamu. Aku juga adalah penggemar yang membuatmu terkenal seperti sekarang. Jadi perlakukan aku dengan baik, Author. Perlakukan aku dengan baik sama seperti ketika aku memperlakukan penggemarku dengan baik. Mungkin istilah yang tepat untuk keadaan itu adalah fan service. Author bisa memperlakukan aku dengan baik, maka aku akan terus menjadi penggemar Author yang setia.”
Untuk sejenak. . . mendengar ucapannya itu, aku merasa sedikit mengerti alasannya yang mungkin selalu ingin dekat denganku. Sama seperti para penggemar Arata yang berusaha untuk menarik perhatiannya, Arata sedang melakukan hal yang sama. Arata hanya ingin dikenal oleh idolanya yang tidak lain adalah aku.
Sekarang pertanyaan lain muncul di dalam benakku. Dari sekian banyak penulis terkenal di negara ini, kenapa dia memilihku sebagai idolanya?
__ADS_1
“Bisakah aku be-“
“Hahahahaha. . .”
Tawa kencang tiba-tiba keluar dari mulut Arata dan membuatku menghentikan kalimat yang hendak aku tanyakan kepadanya. “Kenapa kau tiba-tiba tertawa seperti itu???”
“Maafkan aku, Author. Sejak tadi. . . aku berusaha keras untuk menahannya, tapi aku tidak lagi bisa menahannya.”
“Apa yang kamu bicarakan, Arata??”
Arata mengangkat tangannya ke atas kepalanya dan membuat beberapa gerakan yang seolah sedang memberikan isyarat padaku. “Rambut. . . rambutmu, Author.”
“Rambutku??” Aku menoleh ke arah kaca apartemenku yang terlihat seperti cermin dari luarnya dan membuatku melihat bagaimana penampilanku saat ini. Sial. . . aku lupa aku belum menyisir rambutku setelah bangun tidur.
“Sia-sia sekali, aku berusaha keras untuk menjaga imagemu, Author. Penampilanmu benar-benar terlihat buruk sekali sekarang.”
Huft. Aku menghela napasku berusaha menahan rasa kesalku. Arata masih terus tertawa melihatku sementara aku berbalik dan hendak masuk ke dalam apartemenku.
“Asha, tunggu!”
Arata menghentikan tawanya dan membuat langkahku terhenti.
“Apa lagi?? Kau masih belum puas tertawa, huh??”
“Kalau itu, aku sudah puas.”
“Lalu??”
“Jangan perlihatkan penampilan burukmu itu kepada orang lain.” Wajah Arata dengan tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.
__ADS_1
“Tentu saja, aku tidak akan melakukannya. Yang biasa melihatku dalam keadaan begini hanyalah editorku saja. Kau tidak perlu khawatir dengan imageku karena aku jarang keluar dari apartemenku.”
“Aku tidak khawatir dengan image mu, Author. Image mu di kalangan penggemarmu, sudah baik sejak lama. Mereka melihat tulisan dan karyamu bukan bagaimana penampilanmu. Penampilan hanyalah nilai tambah saja bagi seorang penulis.” Dari caranya berbicara padaku, aku melihat kilatan senyuman kecil di sudut bibir Arata.
“Lalu jika bukan itu, lalu apa?”
“Yang bisa melihatmu hanya aku. Karena di mataku saat ini, Author terlihat benar-benar lucu dan menggemaskan. . . “ Kilatan senyuman itu semakin jelas kulihat. “Ingat. . . hanya aku yang bisa melihatnya, karena aku adalah penggemar pertamamu, Asha.”
Aku membeku mendengar ucapan Arata itu sementara Arata berbalik dan masuk ke dalam apartemennya meninggalkan aku yang masih membeku karena ucapannya.
Begitu aku sadar, aku langsung mengumpat di dalam benakku. Sial, dia pasti sedang mempermainkanku bukan?? Mana ada penggemar seperti dirinya. Dia itu bukan idola tapi psikopat. Sial sekali aku ini punya penggemar fanatik seperti dirinya.
*
“Kau tidak perlu repot-repot naik ke apartemenku dan memarkir mobilmu di parkiran, Sena. Aku saja yang turun.”
Seperti janji yang kami buat kemarin, tepat jam 9 pagi Sena menghubungiku dan datang menjemputku. Karena sebelumnya aku sudah membuat janji, jam setengah delapan tadi aku bangun dari tidurku dan membersihkan diri setelah memakan dua potong roti bakar. Tadinya. . . aku ingin makan nasi karena seharian kemarin aku tidak makan dan hanya tidur saja karena aku tidak tidur selama tiga hari mengerjakan naskah skenario. Beruntungnya. . . Sena menghubungiku sebelum berangkat menjemputku dan menanyakan apakah aku sudah sarapan. Karena Sena mengatakan dirinya akan melewati toko yang menjual kotak sarapan ekspress, Sena berbaik hati membelikanku sarapan yang bisa aku makan sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
“Aku akan turun, tunggu lima menit lagi, Sena.”
Setelah mengunci pintu apartemenku, aku berjalan ke arah lift dan menunggu lift yang akan membawaku turun. Harusnya. . . perjalanan kecilku ini adalah perjalanan yang mudah karena aku hanya perlu keluar dari apartemenku dan pergi ke rumah sakit untuk menepati janjiku menjenguk Warda.
“Pagi, Author.”
Harusnya. . . perjalanan kecilku yang memaksaku harus keluar dari apartemenku ini adalah perjalanan yang mudah. Tapi. . . aku melupakan satu faktor yang akan menjadi pengganggu dalam perjalanan kecilku untuk menepati janjiku. Tanpa melihat wajah dari pemilik suara itu, aku tahu dengan baik jika pemilik suara yang baru saja menyapaku itu adalah Arata, si aktor terkenal yang sedang naik daun, penggemarku dan juga tetangga baruku. Dalam sekejap firasat buruk memenuhi benakku dan membuat benakku memperingatiku bahwa perjalanan kecilku hari ini tidak akan semudah yang aku pikirkan.
__ADS_1