
Setelah itu. . . Arata menceritakan kisah kehidupannya yang selama ini selalu membuat banyak orang dan penggemarnya sangat penasaran.
Arata adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Hampir seluruh keluarganya bekerja di bidang medis. Ayah dan dua kakak laki-laki Arata adalah dokter yang hebat. Ayahnya dokter spesialis di bidang saraf. Kakak pertama Arata adalah dokter spesialis di bidang tulang lalu Kakak Kedua Arata adalah dokter anak yang cukup terkenal. Ibu Arata sebelumnya adalah kepala perawat termuda yang pernah ditemui oleh Ayah Arata sebelum akhirnya menikah, menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan ketiga anaknya. Kakek Arata adalah pemilik rumah sakit terkenal yang memiliki banyak cabang di kota-kota besar yang tersebar di negeri ini. Sebelum mendirikan rumah sakitnya sendiri, Kakek Arata juga adalah dokter spesialis terkenal yang sama dengan Ayah Arata. Beberapa Paman Arata juga ada yang menjadi dokter seperti Ayah Arata dan beberapa Paman dan Bibi Arata yang tidak mampu menjadi dokter kemudian menjadi pengurus dalam manajemen rumah sakit milik Kakek Arata.
Mendengar kisah keluarga Arata, sepertinya darah dokter mengalir hampir di seluruh keluarga Arata.
“Karena semua keluarga bekerja di bidang yang berkaitan dengan kedokteran, aku yang sejak kecil tidak berbakat menjadi dokter dianggap sebagai aib keluarga. Ibuku selalu memasang wajah kesal melihat nilai pelajaran dan ujianku yang tidak pernah bisa menyamai kedua kakakku. Ayahku tidak pernah mengajakku ke rumah sakit bersama dengannya, mungkin karena malu aku tidak bisa masuk kuliah kedokteran seperti kedua kakakku. Intinya di rumah. . . aku hanyalah pengganggu dan aib yang tidak seharusnya dilahirkan.”
Aku bersandar lagi ke pintu apartemenku kali ini bukan punggungku tapi kepalaku yang bersandar di pintu apartemenku. “Lalu kenapa. . . akhirnya kamu memilih menjadi aktor dan bukan bekerja di rumah sakit sebagai pengurusnya?”
“Untuk itu. . . aku akan menceritakannya nanti kepada Author.”
Aku menarik kepalaku yang bersandar di pintu apartemenku dengan wajah terkejut. “Kenapa tidak dilanjutkan? Kau membuatku penasaran, Arata.”
“Memang itulah niatku sejak awal, Author. Hahahaha.” Dari balik pintu apartemenku, aku mendengar tawa kecil Arata yang merasa senang karena telah berhasil membuatku penasaran. “Sekarang. . . gantian Author yang menceritakan rahasia Author padaku.”
Kedua mataku menyipit mendengar pertanyaan Arata itu. Akhirnya aku tahu alasan Arata yang selama ini berusaha dengan keras menyembunyikan keluarganya kini mau menceritakan hal itu kepadaku. Arata mungkin berharap padaku, aku mau menceritakan kisah sebenarnya dari isu miring yang sedang menimpaku saat ini.
“Bukan rahasia namanya jika diceritakan,” balasku. “Kau pasti berpikir setelah menceritakan kisahmu padaku, aku akan membuka mulutku dan menceritakan kisah yang mungkin berhubungan dengan isu yang sedang menimpaku saat ini.”
“Sepertinya niatku tertangkap oleh Author,” Arata membalas ucapanku dengan nada sedikit kecewa. “Author benar-benar hebat.”
__ADS_1
Mendengar nada kecewa itu, aku merasa sedikit bersalah kepada Arata. Di luar pintu besi ini, Arata pasti sedang menahan dingin dan berusaha dengan keras untuk membujukku hingga akhirnya dia membuka rahasianya sendiri kepadaku.
“Aku memang tidak akan menceritakan rahasiaku padamu, tapi aku janji padamu kisah itu-kisah keluargamu, aku akan menyimpannya dengan rapat-rapat di dalam benakku. Aku tidak akan menceritakannya kepada orang lain.”
“Terima kasih, Author. Kau memang orang yang sangat pengertian sekali. Itu adalah satu dari beberapa karaktermu yang aku sukai dan aku kagumi, Author.”
“Terima kasih kembali.” Aku bangkit dari dudukku dan berusaha menemukan ponselku di sekitar sofa di mana aku tadi tertidur. Setelah menemukan ponsel milikku, aku kembali duduk di bersandar di pintu apartemenku. “Kau masih ada di sana, Arata??”
“Ya, Author.”
Aku menyalakan ponselku dan melihat jam yang muncul di layar awalnya: jam satu dini hari. “Kau tidak kembali ke apartemenmu untuk istirahat, Arata? Kau tidak ada jadwal syuting besok?”
“Apa itu?”
“Sangkar pelindung milik Author, apakah sangat nyaman di dalamnya?”
Mendengar ucapan Arata tentang sangkar pelindung-apartemenku ini, membuatku ingat bahwa sebutan itu hanya kuucapkan pada Sena pagi tadi ketika dia menghubungiku. Aku menduga Arata tahu aku ada di sini sejak awal dan mengetuk pintuku, karena Sena yang memberitahunya.
“Ya, sangat nyaman. Kenapa kau menanyakan hal itu padaku, Arata?”
“Aku hanya berpikir burung yang selalu terkurung di dalam sangkar pasti akan merasa kesepian. Dia hanya bisa melihat dari balik sangkar tanpa bisa merasakannya. Burung itu tidak bisa terbang dengan bebas di langit. Burung itu tidak bisa merasakan udara segar dan air hujan karena selalu berada di dalam sangkarnya. Ketika burung di dalam sangkar akhirnya dilepaskan dan merasakan kebebasan yang didambakannya, dia tidak pernah ingin kembali ke dalam sangkar-“
__ADS_1
“Apa maksud dari ucapanmu ini, Arata?” Aku memotong ucapan Arata dengan cepat.
“Yang ingin aku tanyakan pada Author, setelah mengenalku dan mengenal beberapa orang di luar, apakah aku dan beberapa orang luar itu tidak berarti bagi Author hingga akhirnya Author memilih untuk tinggal di dalam sangkar yang dingin dan sepi itu lagi??”
Aku berusaha menahan diriku dan berkata seolah ucapan Arata itu tidak berhasil mengintimidasiku. “Sudah kukatakan bahwa di sini sangat nyaman. Di sini tidak akan ada masalah yang menggangguku. Di sini hidupku tenang dan nyaman.”
“Benarkah begitu, Author?” Aku mendengar suara Arata yang sepertinya tidak percaya dengan ucapanku itu. Benalu menyebalkan ini sepertinya tinggal terlalu lama di sisiku hingga sepertinya dia bisa mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. “Aku benar-benar merasa sedih mendengar Author mengatakan hal itu padaku. Padahal kukira kita sudah dekat dan menjadi teman baik. Aku kira hubungan kita sudah sejauh itu hingga ketika masalah datang menimpamu, kau bisa bersandar padaku untuk sejenak. Aku kira hubungan kita sudah sejauh itu hingga ketika kau merasa tidak sanggup kau bisa menarik tanganku untuk meminta bantuanku.”
Ucapan Arata itu terdengar seperti pukulan mematikan yang langsung memukul tepat di jantungku. Sangkar yang dulunya sangat nyaman, tiba-tiba terasa dingin. Mungkin. . . apa yang Arata ucapkan memang benar adanya. Kebebasan dan kesenangan yang aku rasakan ketika berada di luar sangkar ternyata lebih menyenangkan dan lebih nyaman dari pada sangkar ini.
Aku ingin mengakui hal itu kepada Arata. Tapi. . . jika aku mengakui ucapannya, dia akan bersikeras untuk membuatku keluar dari dalam sangkar ini dan itu artinya dia akan membahayakan dirinya dan popularitasnya untuk menolongku.
“Author ingat bagaimana Kak Warda menyebutku di depanmu?”
Bintang keberuntungan. Aku menjawab ucapan itu di dalam benakku dan tidak ingin menjawabnya dengan mulutku sendiri.
“Setelah ini. . . aku akan merusak sangkar dingin milik Author itu dan sekali lagi menjadi bintang keberuntungan untuk Author. Setelah ini. . . aku akan membuat Author membuka pintu ini dengan sendirinya dan berlari ke arahku.”
Dari balik pintu apartemenku, aku mendengar suara langkah kaki yang kukira Arata akhirnya memilih untuk pergi dari depan apartemenku setelah menyelesaikan niatnya datang kemari. Aku bangkit dari dudukku dan melihat celah lubang untuk mengintip keluar apartemen dan memastikan Arata telah kembali ke apartemen miliknya sendiri.
Setelah memastikan Arata telah pergi, air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya terjatuh. Air mata yang mengalir ini bukanlah air mata karena merasa sedih. Air mata yang jatuh ini adalah air mata haru karena mendengar ucapan Arata. Kenapa di saat seperti ini, aku harus bertemu dengan orang sepertimu, benalu menyebalkan? Sangat keras kepala dan tidak mudah menyerah. Padahal semua akan baik-baik saja jika kau membiarkanku kembali ke dalam sangkar ini lagi. Padahal jalan itu sangat mudah, kenapa kau justru mengambil jalan yang sulit?
__ADS_1