
“Apa kau mendengarnya, Asha? Asha?? Asha???”
Sementara aku masih tidak bisa percaya dengan apa yang Arata ucapkan dalam konferensi persnya, Warda yang masih terhubung melalui panggilan terus memanggilku berulang kali dan membuat kepalaku semakin penat saja. Dia pasti sudah gila. Benalu menyebalkan ini pasti sudah gila. Aku hanya bisa mengumpat dua kalimat itu karena tindakan gila yang sedang aku lihat dalam siaran langsung konferensi pers yang diadakan oleh Arata dan agensinya.
“Asha??? Kau mendengarku bukan??”
“Ehm. Aku mendengarmu, Warda. Katakan padaku, apa Arata sudah gila?? Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu dan membuat semua masalah menjadi lebih runyam dari sebelumnya??” keluhku.
“Kita dengarkan dulu alasan Arata. Sama seperti kau, para reporter pasti juga merasa terkejut sekarang. Aku bersyukur Aurigaku tercinta sedang tidur nyenyak, jika tidak. . . mungkin aku tidak bisa fokus melihat siaran ini.”
Reporter 4: Bisakah Tuan Arata memberi penjelasan untuk ucapan Tuan?
Reporter 1: Apakah Tuan Arata jatuh cinta kepada Author Wallflower pada saat bertemu dengannya sebagai bintang tamu dalam acara tanda tangan dan kemunculan pertama Author Wallflower ke publik?
Arata: Saya akan memberi penjelasan untuk ucapan saya ini.
Glek. Aku menelan ludahku untuk kedua kalinya karena rasa penasaran yang sedang menyerang benakku saat ini. Aku penasaran cerita apa yang akan dikarang Arata untuk menjawab pertanyaan ini.
Arata: Saya bertemu dengan Author Wallflower jauh sebelum pertemuanku dengannya sebagai bintang tamu dalam acara tanda tangannya dan kemunculan pertamanya di depan publik.
“Hiyaaa. . . . Asha. Kau dengar ucapan Arata?? Dia pernah bertemu denganmu jauh sebelum pertemuan kalian dalam acara tanda tangan itu?? Apa kau tidak ingat pernah bertemu dengan Arata dulu??” Kehebohan Warda ini benar-benar menggangguku.
“Itu mungkin hanya karangan Arata saja. Jika aku pernah bertemu dengannya, aku pasti mengingat wajahnya yang tampan itu, Warda. Tapi dalam ingatanku ini, aku merasa sangat yakin jika aku tidak pernah bertemu dengan Arata sebelumnya. Jadi. . . jawaban itu adalah karangan Arata.” Aku memberi jawaban dengan penuh keyakinan karena wajah tampan Arata itu harusnya meninggalkan bekas dalam ingatanku jika kami berdua pernah bertemu sebelumnya.
Aku duduk di atas sofaku dengan lutut yang kutekuk sembari menunggu konferensi pers Arata.
Reporter 2: Jika saat acara tanda tangan itu bukanlah pertemuan pertama kalian, lalu kapan pertemuan pertama kalian berdua?
Aku melihat bibir Arata yang perlahan tersenyum. Senyuman itu adalah senyuman yang diperlihatkan Arata padaku ketika dia memintaku datang ke balkon apartemenku. Arata tersenyum seolah tahu bahwa saat ini aku sedang melihat acaranya seperti permintaannya padaku.
Arata: Pertemuan kami mungkin kira-kira hampir dua tahun lalu atau mungkin masih setahun lebih. Aku tidak begitu ingat kapan tepatnya tapi aku ingat dengan baik, aku bertemu dengan Asha saat aku masih belum terkenal. Hari itu. . . aku gagal mendapatkan peran dalam sebuah series. Kalian pasti tahu kisah ini bukan??
__ADS_1
All reporter: Kami tahu.
Arata: Seperti yang kalian tahu, sebelum bisa mendapatkan posisi ini dan dikenal oleh banyak orang, aku sudah menjalani berbagai casting dan mendapatkan banyak kegagalan. Aku bisa di sini sekarang ini, berkat dua orang: orang pertama adalah Aktor Rangga yang bersedia mengajariku banyak hal dalam dunia peran dan orang kedua adalah Asha yang kalian kenal sebagai Author Wallflower. Aku bertemu dengan Asha pada kegagalanku yang entah sudah keberapa kalinya dan berkat Asha, hari itu aku yang hendak menyerah mengurungkan niatku dan pada casting selanjutnya aku bertemu dengan Aktor Rangga.
Reporter 6: Jadi. . . kalian bertemu lebih dulu sebelum Tuan Arata bertemu dengan Aktor Rangga?
Arata: Itu benar. Hari itu aku yang sudah banyak mengalami kegagalan menangis di pinggir jalan dan di sampingku muncul Asha. Kami berbincang-bincang tentang kegagalan kami dan pada hari itu dia memberiku buku novel karya pertamanya yang kalian lihat selalu aku bawa-bawa.
Mendengar ucapan Arata itu, sejenak membuatku teringat dengan kenangan lama yang belum lama ini muncul di dalam benakku karena pertanyaan yang diajukan oleh Sena.
“Men-mendengar ucapanmu, rasanya kenapa mudah sekali? Apa kau pernah gagal seperti yang aku alami?”
“Ya. . . aku juga pernah gagal. Aku duduk di sini karena merasa gagal juga sama sepertimu.”
“Kau gagal sebagai apa?”
“Sebagai penulis.”
“Bu-bukan. . . ini bukan buku karyaku. Bu-buku ini, a-aku membelinya karena merasa banyak kalimat-kalimat bijak di dalamnya Buku ini. . . untukmu saja. Mungkin beberapa kalimat di dalamnya akan membantumu merasa lebih baik jika kelak kau mengalami situasi seperti ini lagi.”
“Untukku??”
“Ya.”
“Wallflower. . . kurasa nama ini adalah nama pena.”
“Harusnya begitu. . .”
“Boleh aku bertanya??”
“Ya, silakan.”
__ADS_1
“Kenapa kau ingin menjadi penulis?”
Reporter 5: Apa yang kalian bicarakan saat itu hingga akhirnya Tuan Arata jatuh cinta kepada Author Wallflower?
Arata: Hari itu. . . setelah kami bercerita kegagalan masing-masing, aku bertanya pada Asha alasannya menjadi seorang penulis dan jawaban yang dia berikan entah kenapa membuatku merasa Asha adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti tentangku. . . Hari itu Asha mengatakan padaku alasan menjadi penulis.
“Manusia hidup terikat dengan takdir. Dalam takdir, kita hanya tahu bahwa kita memiliki jodoh, kita pasti akan mati dan kita punya jatah masing-masing soal rezeki. Dari takdir hidup yang kita miliki, kita hanya tahu sebatas itu saja. Kita tidak tahu kapan kita akan mati, kita tidak tahu siapa orang yang akan menjadi jodoh kita dan kita tidak tahu sebanyak apa jatah rezeki yang kita terima. Karena kita tidak tahu. . . kita berusaha yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang baik, bukan?”
“Ya. . . itu benar.”
“Dalam usaha kita melakukan yang terbaik. . . beberapa akan berakhir dengan kegagalan dan beberapa lainnya akan memberikan apa yang kita inginkan. Itulah skenario dalam drama kehidupan dan semua orang pasti akan mengalaminya, tidak terkecuali aku.”
“Lalu apa hubungannya skenario dalam drama kehidupan dengan kau menjadi penulis?”
“Aku menjadi penulis karena merasa kesal dengan hidupku yang selalu gagal. Aku yang tidak bisa mengendalikan skenario dalam hidupku sendiri, menjadi penulis karena ingin mengendalikan skenario kehidupan lain yang ada di dalam benakku. Ketika aku sedih dengan kegagalanku, aku akan membuat tokoh dalam benakku merasakan kesuksesan. Ketika aku merasa kesepian dalam hidupku, aku akan membuat tokoh dalam benakku merasakan kebahagiaan. Dengan melakukan itu. . . setidaknya aku juga bisa merasakan kebahagiaan dan kesuksesan dari tokoh di dalam benakku.”
“Hahahaha. . .”
“Apa kau tertawa?”
“Sedikit.”
“Kenapa kau tertawa?”
“Kita sepertinya mirip. Kau menjadi penulis karena skenario dalam hidupmu yang mengalami banyak kegagalan dan aku terjun ke dunia peran karena hal yang sama denganmu, aku dianggap sebagai kegagalan dalam hidup banyak orang.”
Arata: Asha menjadi penulis karena merasa kesal dengan hidupnya yang selalu gagal. Asha yang tidak bisa mengendalikan banyak hal dalam hidupnya menjadi penulis yang memiliki kendali untuk ceritanya agar bisa merasakan kebahagiaan, kesenangan yang tidak bisa didapatkannya dalam drama kehidupan. Dan alasan yang sama berlaku untukku, aku terjun ke dunia peran karena aku adalah kegagalan dalam hidup banyak orang dan karena itu, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan dan kesenangan.
Aku menutup mulutku mendengar jawaban Arata yang sama dengan jawabanku yang kuberikan pada sosok pria yang kepalanya mengenakan kostum Winnie The Pooh saat itu. Dia adalah pria yang aku temui saat itu. Arata adalah pria itu.
__ADS_1