
Arata’s POV
Setelah mengantar Author untuk melihat mayat keluarganya satu persatu, Kak Kendra bersama dengan pengacara keluarga Wiyarta-Tuan Raya.
“Kau bisa meninggalkan Asha padaku.” Kak Kendra menepuk bahuku.
Aku menatap Author dengan wajahnya yang masih basah oleh air mata, aku berlutut di depan Author yang sedang duduk menunggu untuk membuat pernyataan dan menerima pertanyaan dari pihak kepolisian seputar keluarganya.
“Bawa ini, Author!” Aku memberikan sapu tanganku kepada Author.
Author menganggukkan kepalanya sembari menerima sapu tangan yang aku berikan padanya. “Pergilah, Arata! Kau masih punya pekerjaan yang menunggumu!”
“Ya, Author. Berjanjilah padaku, kau tidak akan melakukan apapun yang membuatmu khawatir??” Aku menatap Author, menuntut janji kecil darinya. Meninggalkan Author, membuatku merasa sedikit takut. Aku takut saat aku tidak berada di sampingnya, dia akan pergi dariku atau melakukan sesuatu yang membuatku kehilangan dirinya.
Author membuat bibirnya tersenyum padaku dan aku tahu senyuman itu adalah senyuman yang dipaksakannya padaku, hanya untuk membuatku merasa sedikit tenang.
“Ya, aku janji, Arata. Aku berjanji padamu tidak akan melakukan hal gila. Aku berjanji padamu, aku akan baik-baik saja ketika kau melihatku pulang nanti. Apakah itu cukup?”
“Aku terima janji itu, Author. Aku akan secepatnya kembali.” Aku menganggukkan kepalaku dengan senyuman di bibiku pertanda sedikit perasaan legaku. Setelah berpamitan kepada Author, aku memberi berpamitan kepada Kak Kendra. “Aku titip Author, Kak.”
“Serahkan itu padaku, Arata. Aku akan menjaganya dengan baik.” Kak Kendra menepuk bahuku sebagai pertanda bahwa dirinya adalah orang yang bisa aku percaya. “Seperti ucapanku tadi saat kau menghubungiku, nanti aku akan membawa Asha ke rumah. Ibu sudah menyiapkan kamar untuk Asha. Kau hanya perlu membawa barang-barang keperluan Asha dan satu lagi .... “
Kaka Kendra menghentikan ucapannya dan melihatku dengan tatapan serius. Aku merasa ... aku tahu apa yang akan dikatakan oleh Kakak padaku. “Apa yang ingin Kakak katakan?”
“Karena rumah kita asing bagi Asha dan mungkin lingkungan asing membuatnya merasa tidak nyaman, akan lebih baik jika kau juga menginap di rumah. Bagaimana?”
__ADS_1
Sudah kuduga, Kakak akan meminta hal itu. Kepulanganku adalah hal ditunggu-tunggu oleh Ayah dan Ibuku. Jadi ... Kakak pasti akan memintaku melakukan itu karena aku meminta banyak bantuan darinya hari ini. Aku menghela nafasku mendengar pertanyaan itu. Aku menghela nafasku karena aku memang tidak punya pilihan lain. Aku kenal bagaimana Author selama ini. Lingkungan asing adalah sesuatu yang mungkin sangat-sangat membuatnya merasa tidak nyaman dan satu-satunya yang bisa membuatnya nyaman saat ini adalah aku-kekasihnya.
“Tadinya ... tanpa Kakak minta, aku akan pulang ke rumah dan menginap di rumah.” Aku mengatakan kalimat itu dengan wajah santai seolah aku sudah berniat melakukannya meski hatiku merasa setengah hati untuk pulang. Tapi demi Author, aku akan melakukan apapun. Saat ini ... bagiku, dia adalah segalanya. Author adalah nafasku. Author adalah duniaku. Author adalah nyawaku. “Bagaimana aku bisa mengirim kekasihku ke rumahku tanpa menemaninya, Kak?? Bisa-bisa kalian justru akan menjahili kekasihku karena sepertinya kalian semua menyukai Authorku tercinta itu.”
Buk. Kak Kendra langsung memukul kepalaku dan membuat suara pukulan itu terdengar hingga Kak Rama dan Pak Raya, langsung menolehkan kepalanya melihat ke arahku dan Kakak.
“Kenapa Kakak memukulku??” Aku memegang kepalaku, menahan rasa sakit dari pukulan Kak Kendra. Di masa lalu ... Kak Kendra selalu melakukan hal ini pada Kak Maha karena mulutnya yang tidak tahu waktu dan tempat ketika bicara dan tidak punya filter untuk memilih kata-kata bergantung situasi dan keadaan. Dan kebiasaan itu akhirnya terus dilakukan bahkan ketika aku tumbuh.
“Di saat seperti ini ... kau masih bisa memamerkan kekasihmu di depanku, huh??”
Kukira ... Kakak akan marah padaku karena alasan apa, ternyata alasannya memukul kepalaku yang berharga ini hanya karena aku memamerkan kekasihku di depannya yang masih single hingga saat ini. Kak Kendra dan Kak Maha mungkin punya wajah tampan, mungkin dikagumi oleh banyak wanita, tapi sayangnya mereka berdua masih single karena terlalu pemilih dalam menjalin hubungan.
“Salahkan dirimu sendiri yang masih single, Kak!!” Setelah mengatakan hal itu, aku langsung melompat pergi dan menyelamatkan kepalaku dari pukulan kedua yang mungkin akan aku terima karena ejekan kecil yang aku berikan kepada Kak Kendra.
Pukul 5 sore, aku akhirnya menyelesaikan beberapa jadwal yang tidak bisa ditunda. Tapi berkat berita yang menyebar dengan cepat layaknya virus, beberapa rekan yang bekerja sama denganku memberikan sedikit kelonggaran padaku karena mendengar kabar kematian dari keluarga Author. Awalnya berita mengenai kebakaran itu bukanlah berita besar. Tapi berkat reporter yang melihatku dan Author di kantor polisi pagi tadi, berita kebakaran itu membuatku mendapat banyak simpati.
“Kita mampir dulu ke apartemen Author, Kak. Ada barang yang harus aku bawakan untuknya dan aku butuh Nara untuk mengepak pakaian yang nyaman untuk Author gunakan.” Aku memberikan instruksi kepada Kak Rama sebelum Kak Rama menyalakan mesin mobilnya. “Kau tidak keberatan kan, Nara?”
“Tentu.” Nara menjawab dengan senyuman kecil di wajahnya.
Setelah perjalanan empat puluh menit lamanya dari lokasi syuting, aku akhirnya tiba di apartemen Author bersama dengan Kak Rama dan Nara.
“Tolong pilihkan pakaian yang nyaman untuk tidur, lalu pakaian pribadi yang dibutuhkan Author dan beberapa pakaian yang bisa digunakan untuk bepergian, Nara.” Aku memberikan instruksiku kepada Nara yang langsung mengambil koper milik Author dan mengepak beberapa setel pakaian.
Sementara itu ... Kak Rama yang merasa banyak piring kotor menumpuk di wastafel milik Author, tidak tahan melihat hal itu dan langsung mencucinya. Kak Rama adalah tipe orang yang mencintai kebersihan dan sedikit cerewet mengenai masalah itu.
__ADS_1
Nara dan Kak Rama sibuk dengan pakaian dan cuci mencuci, aku justru sibuk mengepak peralatan kerja milik Author. Aku mengepak laptop milik Author lengkap dengan pengisi daya, mouse dan beberapa catatan miliknya di meja kerjanya. Karena tadi Author pergi dengan mengenakan kacamata kerjanya, jadi aku tidak perlu membawa kacamata itu.
“Arata!!”
Tiba-tiba, Kak Rama memanggil namaku dan membuatku tersentak karena sedikit terkejut. “Ada apa, Kak?”
“Kemari dan lihatlah!!”
Aku yang baru selesai mengepak peralatan tempur milik Author untuk bekerja, berjalan menuju Kak Rama dengan menenteng tas di tangan kananku. Tangan Kak Rama menunjuk ke arah meja dapur di mana di sana terdapat beberapa amplop hitam yang aku kenali.
“Ini??”
“Benar ... amplop yang sama seperti yang pernah kau tunjukkan padaku, Arata!!”
“Tapi kenapa bisa ada di sini?? Aku ingat dengan baik, tadi pagi amplop-amplop ini tidak ada di sini.” Setelah mengatakan itu aku langsung meletakkan tas yang aku bawa dan langsung membuka semua amplop hitam itu bersama dengan Kak Rama.
Sembilan dari sepuluh amplop di meja berisi kalimat yang sama seperti dengan amplop yang pernah aku perlihatkan pada Kak Rama: Kau tidak pantas bersama dengan Arata!!! Kau tidak layak untuknya!!!!
Lalu satu amplop lain berisi sesuatu yang mengejutkan aku dan Kak Rama: Karena Author Wallflower tidak pernah mendengar peringatan yang aku berikan, jadi kali ini aku akan memberikan hadiah terbaik kepada Author. Kuharap Author menyukai hadiah yang aku berikan.
Selain pesan itu, di dalam amplop kesepuluh ada sesuatu yang lain di dalamnya. Aku mengambilnya dan menemukan jika di dalamnya terdapat foto dengan gambar beberapa orang di dalamnya yang sedang berpesta di meja makan.
Aku melihat Kak Rama dan bertanya padanya sembari memegang foto itu di tanganku, “Mungkinkah ini ...”
Tanpa mendengar kalimatku yang belum selesai aku ucapkan, Kak Rama menganggukkan kepalanya seolah memikirkan hal yang sama denganku.
__ADS_1
Orang yang mengirim amplop ini, mungkin adalah pelaku yang membakar rumah Author dan membuatnya kehilangan semua keluarganya dalam semalam.