
Beberapa hari berlalu. Selama beberapa hari itu, Arata memaksaku untuk tetap tinggal di kediaman keluarganya. Mungkin mengetahui rahasia kecil keluarga dan Warda selama ini serta penyesalan yang aku rasakan, Arata merasa akan sangat berbahaya untuk meninggalkan aku sendiri di apartemenku tanpa seseorang yang menemaniku.
Tadinya ... Arata ingin mengubah jadwalnya untuk menemaniku yang tinggal di kediaman keluarganya. Tapi karena penayangan film Love Like Ectasy hanya tinggal hitungan hari, Arata tidak bisa menunda jadwalnya karena promosi yang sedang Arata lakukan. Untung saja ... kediaman Wiyarta memiliki perpustakaan pribadi yang sangat besar dengan kumpulan buku-buku yang menarik dengan berbagai tema di dalamnya. Dari kedokteran, politik, bisnis, sosial, psikologi, film, akting dan lain sebagainya. Rasanya hampir semua tema ada di dalam perpustakaan yang bak ruang harta karun bagiku.
“Kalau Asha suka, kamu bisa menghabiskan waktu di sini.” Ibu Arata yang sepertinya menyadari tatapan mataku yang berkilau ketika melihat buku-buku itu langsung memberikan izinnya sebagai nyonya rumah padaku. “Dulu ... Kendra dan Arata sering menghabiskan waktu mereka di sini.”
“Terima kasih banyak, Bu. Pasti menyenangkan punya banyak buku seperti ini.”
“Ke depannya jika kamu ingin main ke kediaman ini, gunakan ruangan ini sebagai alasan bagimu jika Arata melarangmu.” Ibu Arata mengerlingkan matanya padaku, karena sedang membuatkan alasan bagiku untuk lebih sering berkunjung ke kediaman Wiyarta yang bak istana dalam dongeng.
“Tentu, Bu.”
“Lalu ...” Ibu Arata mengangkat tangannya dan menunjuk sebuah pintu di bagian dalam perpustakaan. “Ruangan di sana adalah bioskop pribadi. Kamu juga bisa menggunakannya. Di sana ... ada banyak film yang disimpan dari film klasik hingga film-film baru. Tentunya ... film yang diperankan Arata juga ada di dalam sana.”
Aku tersenyum melihat Ibu Arata yang begitu bersemangat membicarakan Arata. Aku ingat kemarin Kak Kendra menemuiku dan menceritakan padaku jika Arata dan ibunya telah berbaikan. Kak Kendra yang tidak sengaja melihat momen mengharukan itu, memberitahuku dan mengucapkan terima kasih padaku.
Aku ingat dengan baik, bagaimana wajah Kak Kendra yang biasanya dingin dan terlihat jutek itu tersenyum bahagia menceritakan momen haru antara Arata dan Ibunya.
“Aku tidak tahu bagaimana harus membayarnya, Asha. Tapi berkatmu, Ibuku dan adik kecilku akhirnya berbaikan. Dengan begitu ... tidak lama lagi adik kecilku itu akan menerima keluarga ini sebagai keluarganya. Terima kasih, Asha. Sekali lagi, terima kasih.”
__ADS_1
Melihat Kendra yang terlihat dingin dan jutek mengubah wajahnya karena momen haru itu, aku sadar manusia paling dingin sekalipun selama dia punya hati, dia akan bisa terlihat hangat seperti kebanyakan orang lainnya.
“Asha.” Ibu Arata mendatangiku yang sedang mengerjakan novelku di perpustakaan di kediaman Wiyarta.
“Ya, Bu. Ada apa Ibu mencariku?” Aku langsung menghentikan kedua tanganku yang sejak tadi sibuk menari di atas papan ketik, menyalurkan gambaran yang muncul di dalam benakku ke dalam bentuk kata-kata ke dalam laptop.
“Arata meminta tolong pada Ibu, untuk membawamu ke butik langganan keluarga kita, Asha.”
Aku memiringkan kepalaku tidak mengerti maksud dari permintaan Arata itu. “Untuk apa, Bu?”
“Ah ... apa kamu lupa, Asha? Besok adalah hari penayangan film yang diangkat dari novelmu, Asha. Arata sebenarnya sudah memesan beberapa gaun untuk bisa kamu gunakan dalam acara besok. Tapi ... karena Arata tidak punya waktu untuk menemanimu ke sana, jadi dia meminta Ibu untuk membawamu ke sana.” Ibu Arata menjelaskan alasan Arata meminta tolong pada dirinya.
Ibu Arata melihatku dengan mata yang sedikit membesar, mungkin terkejut melihatku yang terlalu biasa ini untuk menjadi kekasih anaknya yang merupakan bintang dan aktor terkenal. “Tidakkah kamu merasa sayang jika wajahmu yang cantik ini dibiarkan begini saja, Asha? Pergi ke tempat di mana banyak orang terkenal datang, kamu harus mengenakan pakaian yang cantik, sepatu yang cantik dan merias diri dengan cantik juga. Dengan begitu ... orang-orang tidak akan pernah meremehkanmu, orang-orang tidak akan pernah mencelamu dan orang-orang tidak akan berbicara sembarangan tentang dirimu, Asha.”
Aku kira Ibu Arata akan mengatakan kalimat dalam adegan-adegan di film maupun di novel seperti ini: Kamu adalah kekasih Arata. Sebagai kekasihnya, kamu harus menjaga citra dan penampilanmu di luar sana. Karena semua tentangmu akan selalu dihubungkan dengan Arata. Jika kau berpenampilan sederhana dalam acara itu, kelak orang-orang dan penggemar Arata akan mencelamu dan mengatakan jika Arata telah salah memilih pasangan.
Aku kira Ibu Arata akan mengatakan kalimat itu, tapi aku telah salah menduga. Ibu Arata jauh lebih bijak dari yang aku pikirkan karena ucapan yang diberikannya padaku adalah nasihat bagi diriku sendiri bukan karena statusku saat ini sebagai kekasih Arata.
“Selamat datang, Nyonya. Selamat datang, Nona.”
__ADS_1
Setelah lima belas menit berkendara dengan mobil dan diiringi oleh beberapa pengawal dari kediaman Wiyarta, akhirnya kami sampai di butik yang dimaksud oleh Ibu Arata. Manajer wanita butik itu langsung mendatangi kami dan menyambut langsung kedatanganku bersama dengan Ibu Arata.
“Aku datang kemari, karena anakku-Arata telah memesan beberapa gaun untuk kekasihnya.” Ibu Arata melihat ke arahku dengan senyuman di bibirnya. “Aku datang menemani calon menantuku ini, untuk mencoba gaun yang dipesan oleh Arata.”
“Ya, Nyonya. Tuan Muda Arata telah menghubungi kami tadi dan mengatakan jika Nyonya dan kekasihnya akan datang kemari. Silakan kemari, Nyonya dan Nona.”
Tuan muda?? Aku hanya bisa menghela nafasku mendengar orang-orang menyebut Arata dengan panggilan Tuan muda. Jika mereka tahu apa yang pernah aku lakukan pada Tuan Muda mereka, mungkin orang-orang itu akan memberiku umpatan karena ucapan dan perlakuanku yang dirasa tidak sopan pada Arata.
Manajer butik itu langsung mengarahkan kami menuju ke ruangan khusus yang nyaman, yang aku rasa adalah ruangan khusus pelanggan VIP. Setelah membawa kami ke ruangan khusus, manajer butik kemudian memberikan instruksinya kepada karyawannya untuk membawa pakaian-pakaian yang telah dipesan khusus oleh Arata.
“Tuan Muda Arata mendesain pakaian-pakaian ini sendiri.” Manajer butik mengatakan itu sembari karyawannya membawa masuk gantungan pakaian yang berisi lima dress dengan berbagai model.
“Mendesainnya sendiri?” tanyaku terkejut dan tidak percaya. Aku sebagai kekasih Arata bahkan tidak pernah tahu jika Arata bisa mendesain pakaian wanita dengan model yang indah.
“Ya, Nona. Ini sudah kedua kalinya Tuan Muda Arata membuat desain pakaian. Mengingat ukuran yang diminta oleh Tuan Muda Arata, harusnya desain pertama Tuan Muda Arata juga diberikan kepada Nona.”
Mendengar ucapan manajer butik, aku kemudian teringat dengan dress pertama pemberian Arata yang diberikannya padaku saat acara tanda tangan novelku di mana aku menunjukkan diriku pertama kali sebagai Author Wallflower sekaligus pertemuan keduaku dengan Arata.
Haruskah aku mengatakan bahwa aku benar-benar beruntung? Aku bertanya pada diriku sendiri melihat bagaimana Arata memperlakukanku sebagai orang yang sangat penting baginya. Aku sudah seperti Ratu di matanya hingga dia mendesain pakaianku sendiri. Rasanya cintaku padanya seumur hidup ini, tidak akan pernah cukup untuk membayar segala hal yang dia berikan dan dia lakukan untukku.
__ADS_1