
Aku ingat di masa lalu, aku pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengenakan kepala Winnie The Pooh sedang duduk termenung di satu kursi di pinggir jalan. Aku ingat hari itu adalah hari di mana Warda memaksaku untuk keluar dari apartemenku karena penjualan buku pertamaku yang buruk. Untuk menghiburku, Warda memaksaku keluar dari apartemen dan mengajakku berjalan-jalan di kota. Karena sudah lama tidak merasakan menjadi bagian dari keramaian dan hanya menjadi pengamat, aku merasa sangat pusing melihat keramaian dan berakhir duduk di samping seseorang yang sedang mengenakan kepala Winnie The Pooh di kepalanya.
Awalnya aku hanya ingin duduk dan meredakan kepalaku yang pusing karena melihat keramaian. Tapi dari seseorang dengan kepala Winnie The Pooh yang duduk di sampingku, aku mendengar suara tangisan tertahan dari arahnya. Aku melirik ke arahnya hanya untuk memastikan dan menemukan tangan orang itu basah oleh air matanya. Saat itu aku tahu. . . orang itu mengenakan kepala Winnie The Pooh untuk menyembunyikan dirinya yang sedang menangis saat ini.
“Kenapa kau menangis?” Tadinya. . . aku tidak ingin ikut campur dengan masalah orang lain. Tapi. . melihat tangannya yang terus basah, aku merasa tidak bisa membiarkannya begitu saja. Dari risetku sebagai penulis, aku menemukan bahwa beberapa orang mungkin ingin sendiri ketika sedang sedih dan beberapa lainnya butuh telinga untuk mendengar keluhan dan membagi rasa sedihnya.
Sebelum menjawab pertanyaanku, orang itu berusaha menghentikan tangisannya dengan beberapa kali memasukkan tangannya ke dalam kepala Winnie The Pooh. “A-aku ga-gal mendapatkan peran hari ini. Mereka mengatakan aktingku buruk sekali dan aku tidak punya bakat untuk menjadi seorang aktor.”
Meski sedikit sesenggukan, orang itu menjawab pertanyaanku. Kurasa dia adalah tipe orang yang membutuhkan telinga pendengar ketika sedang merasa sedih. “Kau masih punya kesempatan lain. Yang perlu kau lakukan adalah mencoba tanpa henti hingga mereka bisa melihat bahwa meski kau tidak berbakat, kau sudah bekerja dengan keras untuk berusaha yang terbaik. Ketika kau terus mencoba, satu orang di luar sana pasti akan melihat kerja kerasmu dan kelak akan memberimu kesempatan.”
“Men-mendengar ucapanmu, rasanya kenapa mudah sekali? Apa kau pernah gagal seperti yang aku alami?”
Aku tersenyum pahit mendengar pertanyaannya. Aku paham dengan baik bahwa ucapan memang terdengar sangatlah mudah, tapi ketika dilakukan semuanya akan terasa berat. “Ya. . . aku juga pernah gagal. Aku duduk di sini karena merasa gagal juga sama sepertimu.”
Aku menatap buku novel pertamaku yang sengaja kubeli di toko buku bersama Warda tadi karena merasa kasihan dengan buku ini. Buku yang harusnya berada di rak buku baru justru berada di rak belakang di mana buku-buku lama berada.
“Kau gagal sebagai apa?” Dia bertanya padaku menanggapi ucapanku.
“Sebagai penulis.”
“Apakah buku itu adalah karyamu?”
Aku menatap buku pertama novelku dan tiba-tiba merasa malu mengatakan bahwa buku yang aku pegang itu adalah novel tulisanku. Tanpa aku sadari, aku berbohong kepadanya. “Bu-bukan. . . ini bukan buku karyaku. Bu-buku ini, a-aku membelinya karena merasa banyak kalimat-kalimat bijak di dalamnya.”
__ADS_1
Merasa orang di sampingku mungkin lebih membutuhkan dukungan dibandingkan denganku. Aku memberikan buku itu padanya. “Buku ini. . . untukmu saja. Mungkin beberapa kalimat di dalamnya akan membantumu merasa lebih baik jika kelak kau mengalami situasi seperti ini lagi.”
“Untukku??”
“Ya.”
Orang itu menerima buku yang aku berikan padanya dan menatap nama penulis dari buku itu. “Wallflower. . . kurasa nama ini adalah nama pena.”
“Harusnya begitu. . .” balasku merasa sedikit salah tingkah karena seseorang menyebut nama penaku di sampingku tanpa tahu bahwa itu adalah nama penaku.
“Boleh aku bertanya??” Orang itu mengajukan pertanyaan sembari membuka-buka buku novel pertamaku itu dengan cepat.
“Ya, silakan.”
Aku memandang ke arah keramaian di depanku: orang yang lalu lalang dan berjalan dengan cepat karena pekerjaan mereka, orang-orang yang sibuk memilih untuk berbelanja seperti yang dilakukan oleh Warda saat ini dan orang-orang lain yang sibuk dengan berbagai aktivitas mereka masing-masing. Aku memandang ke arah keramaian itu dan tersenyum pahit melihatnya.
“Manusia hidup terikat dengan takdir. Dalam takdir, kita hanya tahu bahwa kita memiliki jodoh, kita pasti akan mati dan kita punya jatah masing-masing soal rezeki. Dari takdir hidup yang kita miliki, kita hanya tahu sebatas itu saja. Kita tidak tahu kapan kita akan mati, kita tidak tahu siapa orang yang akan menjadi jodoh kita dan kita tidak tahu sebanyak apa jatah rezeki yang kita terima. Karena kita tidak tahu. . . kita berusaha yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang baik, bukan?”
“Ya. . . itu benar.” Orang itu menimpali ucapanku seolah obrolan dua orang asing saat ini adalah obrolan dua orang yang sudah kenal dalam waktu yang lama.
“Dalam usaha kita melakukan yang terbaik. . . beberapa akan berakhir dengan kegagalan dan beberapa lainnya akan memberikan apa yang kita inginkan. Itulah skenario dalam drama kehidupan dan semua orang pasti akan mengalaminya, tidak terkecuali aku.”
“Lalu apa hubungannya skenario dalam drama kehidupan dengan kau menjadi penulis?” Orang itu sepertinya mulai tertarik dengan ucapanku dan kini aku sudah tidak lagi mendengar suaranya yang serak karena tangisannya tadi.
“Aku menjadi penulis karena merasa kesal dengan hidupku yang selalu gagal. Aku yang tidak bisa mengendalikan skenario dalam hidupku sendiri, menjadi penulis karena ingin mengendalikan skenario kehidupan lain yang ada di dalam benakku. Ketika aku sedih dengan kegagalanku, aku akan membuat tokoh dalam benakku merasakan kesuksesan. Ketika aku merasa kesepian dalam hidupku, aku akan membuat tokoh dalam benakku merasakan kebahagiaan. Dengan melakukan itu. . . setidaknya aku juga bisa merasakan kebahagiaan dan kesuksesan dari tokoh di dalam benakku.”
__ADS_1
“Hahahaha. . .”
Aku mendengar tawa kecil dari dalam kepala Winnie The Pooh itu dan membuatku langsung mengernyitkan alisku ketika mendengar tawa kecilnya itu. “Apa kau tertawa?”
“Sedikit.”
“Kenapa kau tertawa?” tanyaku bingung. Aku merasa ucapanku tidak ada yang lucu hingga membuatnya yang baru saja menangis, kini tertawa. Aku sempat bertanya-tanya, apakah ucapanku ini terdengar sebagai lelucon di telinganya?
“Kita sepertinya mirip. Kau menjadi penulis karena skenario dalam hidupmu yang mengalami banyak kegagalan dan aku terjun ke dunia peran karena hal yang sama denganmu, aku dianggap sebagai kegagalan dalam hidup banyak orang.”
*
“Asha??? Asha, kau baik-baik saja??”
Aku tersentak mendengar suara Sena yang memanggil namaku. “Ah, ya. Sampai di mana kita tadi?”
“Kau tiba-tiba terdiam, apakah pertanyaanku itu membuatmu mengingat sesuatu yang buruk?”
Aku menggelengkan kepalaku dengan senyuman di bibirku. Kenangan lama yang sempat aku lupakan itu, membuatku merasa sedikit lebih baik. Hari itu. . . dua orang dengan banyak kegagalan dalam skenario drama kehidupan bertemu dan duduk bersama membagi kegagalan dalam hidup mereka. Aku ingat setelah pulang bertemu dengan kepala Winnie The Pooh itu, aku bisa menulis novel keduaku dengan cukup baik.
“Tidak. Tadi kau bertanya alasanku menjadi penulis bukan, Sena?”
“Ya, aku bertanya itu padamu. Jika kau tidak ingin menjawabnya, kau tidak perlu menjawabnya.”
Aku tersenyum pada Sena. “Aku akan menjawabnya, Sena. Aku menjadi penulis karena skenario dalam drama kehidupan milikku banyak mengalami kegagalan. Aku yang selalu gagal dalam hidupku, ingin memberikan banyak cerita yang membahagiakan untuk tokoh-tokoh di dalam benakku. Dengan begitu. . . setidaknya aku bisa sedikit ikut merasakan kebahagiaan itu.”
__ADS_1