
Narator’s POV
“Tempatnya benar-benar terpencil, Arata.” Rama yang mengemudi dengan hati-hati mengikuti perginya tim Laksamana, merasa jika tujuan yang dituju oleh Laksmana dan timnya adalah tujuan yang cukup jauh.
“Ya, Kak. Beruntung saja ... aku tidak mengikuti perintah dari Pak Laksamana untuk kembali ke kediaman Wiyarta bersama dengan keluargaku. Jika aku melakukan itu, aku tidak akan pernah tahu jika Author akan dibawa ke tempat seperti ini ...” Arata menjawab sembari melihat sekeliling jalanan yang dilewatinya.
Setelah melewati jalanan aspal, mobil yang dikendarai Rama memasuki jalanan yang sedikit terjal dan masih belum diaspal. Jalanan itu hanyalah tanah yang dipadatkan sebelum dilakukan pengaspalan. Melihat keadaan itu, Arata tahu jika jalanan yang dilewatinya adalah jalanan yang jarang dilewati oleh orang banyak.
“Aku teringat sesuatu ... “ Rama tiba-tiba berbicara ketika Arata berusaha mengingat jalanan dan keadaan sekitarnya.
“Apa yang Kakak ingat?”
“Dulu ... sepertinya aku pernah kemari. Aku pernah melewati jalanan ini.”
Mendengar ucapan Rama, Arata yang tadinya tidak begitu tertarik langsung mengalihkan pandangannya dari jendela untuk melihat ke arah Rama yang duduk di belakang kemudi. “Kakak pernah kemari?? Ngapain Kakak kemari??”
“Proyeknya Rangga. Kalau aku tidak salah ingat, mungkin itu sepuluh tahun yang lalu, mungkin juga lebih. Aku tidak ingat kapan tepatnya, itu adalah hari pertamaku jadi manajer Rangga dan mendapat tugas untuk menemani Rangga memainkan film perdananya di genre horor.”
Arata langsung mengingat riwayat film dari gurunya-Rangga. “Aku ingat beberapa kali Guru bermain film di genre horor. Berkat beberapa film horor yang diperankannya, Guru bisa terkenal hingga saat ini. Bahkan perannya sebagai psikopat, hingga hari ini membuatku benar-benar bergidik ngeri ketika melihatnya. Siapa yang akan menyangka guruku yang terkadang menyebalkan itu bisa begitu hebat memerankan berbagai peran.??”
“Film pertama Rangga, jika aku tidak salah ingat syuting di vila di dekat sini. Di vila itu ... dulunya ada kasus pembunuhan yang tidak terpecahkan. Si Ayah mati ditusuk berulang kali, si anak kepalanya dipukul oleh vas, sementara si ibu menghilang tanpa jejak.”
Arata bergidik ngeri untuk kedua kalinya mendengar cerita itu. Tidak seperti Rangga-Gurunya. Arata belum pernah mengambil peran dalam genre horor. Alasannya mudah, Arata sedikit takut dengan yang namanya hantu. Beberapa kali Asha membuatnya menonton film horor ketika berada di apartemennya dan Asha justru tertawa hebat melihat bagaimana reaksi Arata ketika ketakutan bahkan sebelum hantu itu muncul.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan Arata, bagi Asha, manusia itu lebih menakutkan. Hati manusia lebih dalam dari lautan dan kegelapan manusia bahkan lebih gelap dari palung terdalam sekalipun. Itulah yang pernah Asha katakan pada Arata.
“Lalu bagaimana dengan kasus itu? Apa sampai sekarang masih belum ditemukan?” Arata mencoba bertanya sembari berusaha mengusir rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya.
“Setahuku belum. Anak dalam kasus itu selamat tapi dia kehilangan ingatannya karena benturan yang diterima oleh kepalanya. Dari cerita penulis skenario, kasus itu akhirnya menjadi kasus yang tidak terpecahkan hingga sekarang.” Rama menjelaskan dengan terus mengemudikan mobilnya dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh tim Laksamana.
“Tapi di film itu ... bukankah ceritanya memiliki akhir???” Arata bertanya untuk memastikan.
“Ya, Arata. Film itu memiliki akhir. Apa kau tahu The Lady?”
Arata menggelengkan namanya. “Tidak tahu. Siapa itu The Lady?”
“Penulis novel dengan genre misteri dan horor. Dulu dia adalah penulis terkenal yang beberapa kali memenangkan penghargaan untuk karyanya. Sayangnya ... hingga saat ini, nama itu hanyalah nama pena dan tidak ada satu orang pun yang tahu siapa sosok di balik nama itu.”
“Film itu diangkat dari novel terakhir The Lady yang entah kebetulan atau tidak, sesuai dengan kasus pembunuhan tidak terpecahkan itu. Dalam novel itu dijelaskan bahwa pembunuh dari si ayah adalah kekasih gelap si ibu. Setelah bertahun-tahun berusaha untuk meminta cerai, si istri kemudian memutuskan membunuh suaminya. Tapi anaknya kebetulan melihat adegan itu dan dia terpaksa memukul anaknya. Setelah melakukan pembunuhan kejam itu, si istri dan kekasih gelapnya menghilang. Yang mengejutkan adalah bagian akhirnya.”
Arata berusaha mengingat film lama yang pernah diperankan oleh Gurunya sembari mendengar penjelasan dari Rama yang terus mengemudi. “Aku sekarang ingat film itu, Kak. Kalau kau tidak salah ingat, anak itu kemudian membunuh sendiri ibu dan kekasih gelapnya bukan?”
“Itu benar, Arata. Itulah akhir dari film dan novel itu. Dulu kau merasa akhir dari novel itu benar-benar nyata seolah The Lady melihat pembunuhan itu secara langsung. Bahkan semua orang yang melihat film itu mengatakan hal yang sama denganku. Tapi ... pihak kepolisian yang berusaha mengusut kasus itu tidak menemukan bukti apapaun yang sesuai dengan gambaran dari novel dan film itu. Jadi ... semua orang akhirnya menganggapnya sebagai khayalan semata.”
Dari kejauhan ... Rama melihat mobil tim Laksmana berhenti di dekat sebuah vila yang terlihat tidak asing dalam ingatannya.
“Pak Laksamana menghentikan mobilnya, Kak!!” Arata memberi arahan kepada Rama.
__ADS_1
“Ya, aku tahu.” Rama menginjak pedal rem di mobilnya dan berhenti pada jarak yang cukup jauh tapi masih bisa melihat tim Laksamana.
“Jadi ... apakah itu vila yang pernah Kak Rama dan Guru datangi?” Arata bertanya pada Rama karena masih terbawa rasa penasaran.
“Memang itu vilanya, Arata.” Rama memandang Vila yang tidak berubah sedikit pun.
“Bagaimana Sena bisa tahu vila itu, Kak?” Arata bertanya lagi kepada Rama. Tapi sayang ... kali ini Rama tidak memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan Arata itu.
“Aku juga tidak tahu, Arata.”
*
Baru saja ... aku menanyakan banyak pertanyaan itu di dalam benakku. Kebetulan atau tidak? The Lady menuliskan kisahnya sendiri dalam novel keempatnya? Kenapa? Ingin memberitahu dunia tentang kesalahannya yang tidak ditemukan oleh banyak orang? Atau ingin mengakui kesalahannya karena dihantui rasa bersalah?
Tapi ... Sena langsung memberikan jawaban untuk semua pertanyaanku itu.
Nyatanya apa yang benakku pikirkan, tidak ada satupun yang tepat. Penulis yang menulis novel keempat dengan menggunakan nama The Lady adalah anak dari pemilik nama The Lady yang juga pembunuh dari The Lady itu sendiri. Kurasa Sena menuliskan kisah kehidupannya bersama dengan The Lady sebagai bentuk cintanya kepada Ibunya. Sena menuliskan biografi The Lady dalam novel terakhir The Lady yang dikira banyak orang adalah karya misteri lain The Lady. Semua orang, semu penggemar The Lady pasti tidak akan menyadari jika novel terakhir itu adalah kisah kehidupan The Lady sendiri.
Di saat yang sama, Asha juga menemukan alasan kenapa Sena begitu terobsesi dengannya sembari menceritakan kisah hidupnya yang kelam kepada dirinya.
Mungkinkah Sena melihat ibunya dalam diriku?
__ADS_1