MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
AKTOR PSIKOPAT PART 4


__ADS_3

            Setengah jam sudah kami berada di sana dan selama setengah jam itu pula, waktu terasa lama bagiku. Tapi tidak untuk Warda. Melihat Arata bagi Warda rasanya tidak akan pernah cukup. Bahkan Warda benar-benar mengabaikan keberadaanku dan Rama, karena sudah tersihir dengan pesona dari senyuman Arata-idola tercintanya.


            “Maaf. . .” Rama memotong pembicaraan antara Arata dan Warda. “Karena setelah ini, saya masih ada pekerjaan saya mohon pamit, Nona Warda.”


            “Ah benarkah??” Setelah setengah jam lamanya, Warda akhirnya mengingat keberadaan Rama, manajer Arata.


            “Ya, Nona Warda. Sekali lagi. . . selamat untuk kelahiran putra pertamanya dan semoga kalian berdua terus sehat.”


            “Tentu. . . Terima kasih untuk kedatangannya Tuan Rama.”


            Setelah berpamitan, Rama keluar dari kamar Warda dan aku pun melakukan hal yang sama dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Rama: berpamitan kepada Warda.


            “Aku juga harus kembali, Warda. Hari ini harusnya aku memeriksa novelku yang sudah diperiksa oleh Sena. Tapi karena seseorang. . .” Aku melirik tajam ke Arata dan Arata hanya membalasku dengan senyuman di bibirnya meski tahu dialah orang yang sedang aku bicarakan. “aku mungkin harus mencari Sena.”


            “Ah. . . benar juga. Kemarin Sena juga mengabariku tentang hal itu. Lalu bagaimana dengan naskah skenariomu? Sudah selesai??”


            Aku menganggukkan kepalaku. “Sudah, meski aku harus tidak tidur selama beberapa hari untuk mengerjakannya. Menulis naskah skenario ternyata jauh lebih rumit dari pada menulis novel.”


            “Bukankah itu bagus? Kau punya pengalaman baru dan mungkin ke depannya kau akan sering menulis naskah skenario untuk novel-novelmu yang lain yang mungkin juga mendapatkan kesempatan untuk diadaptasi ke dalam film atau series?”


            “Jika hal itu terjadi. . . aku harap kau cepat kembali ke pekerjaanmu dan membantuku, Warda.”


            “Oh ayolah, Asha. Ini baru sebulan lebih dan kau sudah merindukanku??”


            “Ya, aku sudah merindukanmu. Kau puas??” balasku. “Sebelum aku pergi, apakah aku bisa melihat Auriga dulu? Aku penasaran dengan bagaimana rupanya?”


            “Hahaha. . . kau masih belum bisa melihat rupanya dengan jelas karena dia masih kemerahan. Tapi. . . kau bisa melihat Auriga dan kalau bisa ajak Arata juga. . .” Warda melihat ke arah Arata dan tersenyum seolah mengatakan sesuatu yang hanya diucapkannya di dalam hatinya. Aku tahu apa yang sedang diucapkan Warda di dalam hatinya saat ini, dia pasti berharap putranya-Auriga akan mirip dengan Arata.


            “Baiklah, aku juga akan mengajak Arata.”


            Karena aku berpamitan kepada Warda, Arata pun melakukan hal yang sama. Dia berpamitan kepada Warda dan memberikan hadiah yang paling diinginkan oleh Warda: berfoto bersama dengan Arata.


            Setelah mengambil beberapa foto, aku  dan Arata berpamitan sekali lagi kepada Warda sebelum akhirnya keluar dari kamar rawat Warda. Begitu aku dan Arata keluar, aku melihat kedatangan Sena yang harusnya datang bersamaku.

__ADS_1


            “Ke mana saja kau, Sena?” tanyaku khawatir. “Aku menghubungimu beberapa kali dan tidak mendapatkan jawaban. Kukira kau tidak jadi menjenguk Warda.”


            “Maaf, Asha. Karena aku tidak sengaja membawa dokumen perusahaan, aku kembali sebentar ke perusahaan untuk mengembalikannya karena itu aku datang sedikit terlambat,” jelas Sena. “Ah naskah yang sudah kuperiksa sudah kukirim via email,  mohon dibacanya.”


            “Aku mengerti.”


            “Lalu. . . ini.” Sena memberikan kotak sarapan yang tadi dibelinya untukku. “Sarapan yang kau minta tadi.” 


            “Terima kasih banyak, Sena dan maaf. . . harusnya aku pergi bersamamu jika bukan karena orang di sampingku ini.” Aku melihat ke arah Arata yang telah memasang kembali masker, kacamata hitam dan topi hitamnya di wajah dan kepalanya untuk membuat orang tidak mengenali dirinya. Melihat Arata, aku teringat tadinya Arata berniat untuk mengunjungi keluarganya. “Bukankah kau bilang tadi ingin mengunjungi orang tuamu, Arata? Kau bisa  pergi sekarang, aku bisa pulang bersama dengan Sena.”


            Arata menarik lenganku lagi seperti yang sebelum-sebelum ini dilakukannya kepadaku.  “Tidak mau. Aku tadi yang membawamu kemari dan aku juga yang akan mengantarmu ke rumahmu dengan selamat.”


            Sena mendekat kepadaku dan bertanya dengan nada suara yang sedikit mengecil. “Apa mungkin dia adalah Arata-si aktor terkenal yang jadi bintang tamu dalam acaramu??”


            Aku menganggukkan kepalaku. “Itu benar, dia Arata si aktor terkenal itu.”


            “Ba-bagaimana bisa kau datang bersama dengannya??”


            “Ceritanya panjang. Nanti. . . ketika kau datang ke apartemenku, aku akan menceritakannya.” Aku berusaha melepaskan genggaman Arata di lenganku, tapi sama seperti sebelumnya Arata terus menggenggam tanganku dan genggaman itu semakin erat ketika aku berusaha untuk melepaskannya.


            “Tentu, kau bisa datang besok, Sena.”


            Setelah mengucapkan beberapa kalimat, aku dan Sena berpisah. Sena masuk ke dalam kamar Warda untuk menjenguknya dan aku bersama dengan Arata berjalan menuju ke ruangan di mana para bayi berada. Begitu Sena menghilang dari hadapan kami, Arata langsung melepaskan genggamannya di tanganku dan membiarkanku berjalan tanpa gangguan darinya.


            Selama sekitar sepuluh menit aku dan Arata melihat putra Warda yang bernama Auriga.  Seperti ucapan Warda, putranya itu masih terlihat kemerahan dan aku masih belum bisa melihat apakah kelak bayi itu akan tumbuh tampan seperti Arata atau tumbuh tampan seperti Yusuf-ayahnya.  Tapi jauh di dalam hatiku. . . aku berharap bahwa Auriga kelak akan tumbuh tampan seperti Ayahnya-Yusuf. Karena jika Auriga tumbuh tampan seperti Arata, orang-orang mungkin akan mengira Auriga bukan anak dari Yusuf melainkan anak dari Arata. Warda benar-benar konyol sekali karena berharap putranya itu akan tumbuh tampan seperti Arata dan bukan seperti ayahnya. Padahal menurutku, Yusuf  juga tidak kalah tampan dengan Arata. Yang membedakan mereka hanyalah profesi mereka dan faktor make up yang selalu terpasang di atas wajah Arata.


*


            Seminggu kemudian.


            Asha harus bangun dari tidurnya dengan terburu-buru setelah semalam tertidur jam dua dini hari karena sibuk memperbaiki naskah novelnya. Tidak seperti Warda, Sena-editor pengganti Warda jauh lebih ketat dan lebih teliti dalam memeriksa naskah novel milik Asha. Bahkan untuk memeriksa bagaimana gambaran Asha dalam membuat kehidupan di dalam novelnya, Sena membuat banyak maket miniatur untuk setiap gambaran kehidupan dalam novel Asha. Bahkan setiap jalan yang ada dalam gambaran novel Asha, Sena membuatnya ke dalam denah kota agar alur cerita novel Asha benar-benar terlihat nyata. Dan berkat itu perbaikan terus menerus dilakukan selama seminggu ini hingga Asha harus memperbaiki banyak kalimat yang menyimpang dari gambaran yang Asha buat.


            Pagi ini. . . harusnya rencana Asha adalah tidur seharian di apartemennya. Panggilan dari penulis skenario dan Warda terus menerus mengganggu tidur Asha dan membuat Asha akhirnya bangun dari tidurnya.

__ADS_1


            “Akhirnya kau mengangkat panggilanmu, Asha.” Asha mendengar suara Warda yang terdengar lega ketika Asha menerima panggilan yang sudah ke belasan kalinya dari Warda.


            “Kenapa kau dan penulis skenario bergantian menghubungiku, Warda? Apa ada sesuatu yang terjadi?”


            “Pagi ini, penulis skenario mengalami kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit.”


            “Lalu. . . apa hubungannya denganku?” tanyaku bingung.


            “Kaki penulis skenario patah dan dia tidak bisa bergerak selama mungkin sebulan lamanya. Karena itu. . .sutradara memintaku untuk menghubungimu agar bisa menggantikan penulis skenario untuk datang ke lokasi syuting.”


            “Aku?? Kenapa aku?? Kau tahu dengan baik, aku benci dengan keramaian dan aku benci harus berinteraksi dengan banyak orang.”


            Tadinya Asha ingin menolak permintaan itu, tapi mengingat kejadian nahas yang dialami oleh penulis skenario utama bukanlah sesuatu yang disengaja, Asha tidak punya pilihan lain. Selain itu. . . Asha tahu bagaimana Warda memaksanya dengan seribu alasan layaknya sales yang sedang menawarkan barangnya dengan berbagai cara.


            Alhasil. . . pagi ini Asha benar-benar kalang kabut untuk tiba di lokasi pertemuan di mana pembacaan naskah untuk pertama kalinya akan dimulai.


            “Maaf saya terlambat, Pak Sutradara. . .” Asha langsung meminta maaf kepada sutradara ketika tiba di lokasi.


            “Maafkan aku, Nona Asha. Sebenarnya Nona Warda menolak untuk membuatmu datang kemari karena banyak faktor pribadi darimu. Tapi karena kami tidak punya cadangan untuk penulis skenario, pihak kami terpaksa meminta Nona Asha untuk ikut syuting selama sebulan lamanya.”


            “Saya mengerti, Pak.”


            Bersama dengan sutradara, Asha memasuki ruangan di mana semua aktor dan aktris pemeran sudah duduk menunggu kedatangan mereka. Asha duduk di samping Sutradara dan tidak berani menatap ke arah aktor dan aktris pemeran yang mana mereka mungkin adalah aktor dan aktris terkenal yang ingin dihindari oleh Asha.


            Setelah produser, sutradara dan asisten sutradara mengenalkan dirinya, giliran Asha yang mengenalkan dirinya. Tadinya. . . Asha berharap perkenalan dirinya tidak akan mendapat tanggapan dari para pemeran, tapi seseorang menghancurkan harapan Asha.


            “Salam kenal, Author”


            Asha yang tadinya tidak berani menatap ke arah para pemeran, akhirnya mengangkat kepalanya karena mengenali panggilan itu. Begitu Asha mengangkat wajahnya, Asha melihat Arata duduk di kursi pemeran utama pria dengan melambaikan tangannya ke arah Asha.


            “Kita bertemu lagi, Author.”


            Glek. Asha menelan ludahnya karena suasana canggung yang dibuat oleh Arata-si aktor terkenal yang dirasa Asha sebagai psikopat yang selalu punya cara untuk muncul di hadapan dan di sekitarnya. Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika aktor psikopat ini adalah pemeran utama dalam film ini???

__ADS_1


            Asha hanya bisa mengeluh di dalam hatinya merasakan kesialan lain yang akan datang kepadanya.


 


__ADS_2