MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
STOK KESIALAN PART 4


__ADS_3

            “Dari mana kau dapat sepatu itu, Asha??” Warda langsung bertanya kepadaku begitu aku kembali setelah menghentikan Arata dengan niat untuk mengembalikan sepatu dan baju mahal darinya.


            Sialnya yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanku. Di depan Arata, aku sama sekali tidak bisa melakukan apa yang aku lakukan dan justru terkena jebakan Arata. Aku masuk ke dalam mobil bersama dengan Sena dan Warda. Sena duduk di kursi pengemudi dan Warda duduk di sampingku di kursi belakang. Setelah itu, aku menceritakan bagaimana kronologi, aku bisa menerima dua pasang sepatu dari Arata.


“Berpeganglah di bahuku.” Setelah mengatakan hal itu Arata mengeluarkan sepatu dari dalam tas besar yang dibawakan oleh manajer dan memasangnya ke kedua kakiku yang bertelanjang kaki.


 “Kau?? Kakiku kotor, Arata.” Aku berusaha untuk menghentikan niat Arata itu. “Tanganmu bisa kotor, Arata.”


            Tidak peduli bagaimana. . . Arata tidak mendengarkan ucapanku. Arata membersihkan kakiku dengan tangannya sendiri dan sapu tangan miliknya. Setelah memastikan kakiku bersih, dia memasangkan sepatu cantik yang kali ini ketinggiannya hanya tiga sentimeter saja ke kedua kakiku.


            “Lihat. . . kakimu benar-benar cantik mengenakan sepatu cantik ini, Asha. Sekarang. . . kau bisa menarikmu tanganmu dari bahuku, Asha.” Arata bangkit dari posisi berlututnya dan berdiri menatapku dengan senyuman bahagia di bibirnya.


            “Kau ini??? Bagaimana kau bisa melakukan hal itu padahal kau artis terkenal??”


            Arata tersenyum lagi. “Meski aku artis terkenal, aku tetap manusia biasa. Tentu aku bisa melakukannya. Tapi aku tidak melakukannya kepada semua orang. Harap ingat itu, Asha.”


            Huft, aku menghela napas karena selalu kalah setiap kali bicara dengan Arata. “Aku akan ingat itu. Lalu bagaimana aku harus membayar semua ini? Karena kau tidak mau aku mengembalikan baju dan sepatu ini, bagaimana jika aku membayarmu? Berikan nomor rekeningmu padaku dan aku akan membayarnya.”


            “Tidak perlu, Asha. Kau tidak perlu membayarnya karena kau sudah membayarnya.”


            “Dengan apa aku membayarnya??” tanyaku bingung.


            Arata melirik ke arah empat buku yang kuberi tanda tangan di dalamnya dan saat ini berada di atas tangan manajernya. “Tanda tangan. Kau sudah membayarnya dengan empat tanda tangan di atas empat buku ini dan itu adalah harga yang sesuai menurutku.”


            “Kyaaaa. . . .” Warda berteriak histeris ketika aku menyelesaikan ceritaku tentang sepatu baru yang kini terpasang di kakiku sekarang. “Ahhhhh. . . Arata itu benar-benar pria idaman. Tidak bisakah aku bertemu pria sepertinya di luar sana???”


            Aku melemparkan tatapan tajam ke arah Warda. “Hei. . . hei. . . Warda. Ingatlah kau sudah punya suami dan saat ini sedang mengandung. Kau tidak lupa hal itu bukan?”


            “Ah benar, aku sudah punya suami.  Sayang sekali. . .”


            Mataku melotot mendengar ucapan Warda itu. “Kau ini!!! Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu??? Bagaimana jika suamimu mendengar ucapanmu ini???”


            “Suamiku tidak akan tahu jika kalian menutup mulut kalian.” Warda memberikan tatapan tajam ke arah Sena yang sedang melihat kami dari kaca spionnya.

__ADS_1


            “Saya akan menutup mulut, Kak.” Sena sepertinya menerima tatapan tajam itu dan langsung menjawab ucapan Warda.


            “Sena, kau!!” balasku melihat ke arah Sena yang duduk di kursi depan.


            “Sudah-sudah. . . Asha. Dua hari lagi, aku akan cuti. Novel kelima juga sudah selesai dan masuk dalam tahap editing. Setelah ini. . . Sena yang akan menghubungimu jika ada bagian-bagian dalam novelmu yang perlu diperbaiki. Lalu sementara menunggu. . . kau bisa mengerjakan skenario dengan penulis skenarionya selama sebulan. Berikan ponselmu padaku, Asha.”


            Aku mengikuti permintaan Warda dengan memberikan ponselku kepadanya. Warda membuka ponselku dan kemudian memasukkan beberapa nomor kontak di dalamnya.


            “Ini. . . di dalamnya ada nomor kontak dari penulis skenario, lalu sutradara dan produser yang bertanggung jawab untuk produksi novelmu. Aku juga sudah memberikan nomormu pada mereka. Jadi ketika mereka menghubungimu, angkat panggilannya dan balas pesannya. Mengerti??”


            Aku menganggukkan kepalaku. “Mengerti.”


            Satu dari beberapa kebiasaan anehku adalah tidak menerima panggilan asing dan tidak membalas pesan asing yang masuk. Karena beberapa pengalaman buruk yang aku alami di masa lalu, aku terlalu takut untuk menerima panggilan asing dan membuka pesan dari nomor asing. Selama aku bekerja sebagai penulis, Warda yang bertanggung jawab untuk menerima panggilan asing dan pesan asing yang mungkin membutuhkan kerja sama dariku. Dari pada sebagai editor, Warda sudah mirip dengan manajer yang mengurusku.


            Dan sekarang. . . . Warda harus cuti selama tiga bulan dan semua pekerjaannya harus dialihkan kepada Sena.


            “Kau harus ingat ini, Sena. Satu dari beberapa penting syarat bekerja sama dengan Esha adalah jangan pernah membiarkan orang yang ingin menghubungi Esha langsung menghubungi Esha. Kau harus menyimpan nomor orang itu di dalam ponsel Esha lebih dulu, baru mengizinkan mereka menghubungi Esha. Kau mengerti, Sena??”


            “Saya mengerti, Kak.”


            Setelah acara itu berakhir, kehidupanku kembali tenang. Karena harus menulis skenario film yang belum pernah kulakukan, aku menghabiskan banyak waktu untuk mempelajarinya. Penulis skenario yang bekerja sama denganku, mengirimiku beberapa contoh skenario miliknya yang sudah difilmkan sebagai bahan referensi untukku. Dalam seminggu, aku mempelajari beberapa naskah pemberian penulis skenario.


            Setelah seminggu berlalu, aku mulai menulis skenario bersama dengan penulis skenario yang terhubung denganku secara daring. Dalam tiga minggu berikutnya, aku benar-benar sibuk. Jam tidurku yang awalnya lima sampai enam jam sehari, harus kupangkas menjadi 3-4 jam sehari. Warda yang merasa khawatir denganku, meminta Sena untuk mengunjungi tiga kali dalam seminggu.  Setiap kedatangannya, Sena akan datang dengan membawa makanan yang sudah disiapkan oleh Warda untukku.


            “Terima kasih, Sena. Maaf aku tidak bisa mengantarmu dan salamkan salamku untuk Warda.”


            “Baik, Asha. Kalau begitu sampai ketemu lagi dua hari ke depan.”


            Itulah yang terjadi ketika aku sibuk mengerjakan naskah skenarioku bersama dengan penulis skenario yang sebenarnya. Beberapa kali, aku membuat kesalahan yang cukup fatal. Tapi aku cukup beruntung penulis skenario yang bekerja sama denganku adalah orang penyabar, jadi dia tidak pernah marah dan hanya memintaku untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.


            Dan tiga minggu berlalu dengan cepat. Naskah skenario dengan durasi film 90 menit akhirnya telah kuselesaikan.


            “Asha, naskah skenariomu sudah selesai??” Setelah menyelesaikan naskah skenario, aku yang baru tidur selama tiga jam lamanya harus terbangun karena menerima panggilan dari Sena.

__ADS_1


            “Ya, Sena. Aku sudah menyelesaikannya. Mungkin hanya perlu menunggu persetujuan dari sutradara dan jika disetujui mereka akan melakukan casting untuk pemeran-pemerannya. Ada apa kau menghubungiku?” Aku bangun dari tidurku di atas sofa di apartemenku, berjalan ke dapur dan membuat secangkir coklat panas. Aku berniat untuk tidur lagi setelah menerima panggilan Sena itu.


            “Naskah novel kelimamu sudah selesai kuperiksa.  Ada beberapa bagian yang mungkin harus kau perbaiki. Mungkin aku akan datang besok, bagaimana?”


            Dengan tangan kanan yang membawa cangkir coklat panas dan tangan kiri  yang memegang ponselku, aku berjalan ke balkon apartemenku untuk merasakan sinar matahari secara langsung setelah tiga minggu mengurung di dalam apartemen. “Tentu. Kukira kau akan datang hari ini. Jika kau datang hari ini, mungkin aku tidak akan bisa. Karena aku baru tidur tiga jam setelah tiga hari, aku tidak tidur.”


            “Maaf, Asha. Harusnya. . . aku tidak menghubungimu.” Aku mendengar nada suara bersalah Sena dari speaker ponselku.


            “Tidak masalah. Aku terbangun dan kebetulan panggilanmu masuk. Apakah hanya itu saja?”


            “Satu lagi. . .”


            “Apa itu?” Aku duduk dengan bersandar di pagar balkon sembari melihat ke bawah di mana jalanan kota terlihat. Orang-orang yang berjalan lalu lalang, terlihat seperti semut-semut kecil dari tempatku tinggal.  


            “Kak Warda baru saja melahirkan. Jika tidak keberatan, aku ingin mengajakmu untuk menjenguk Kak Warda besok, bagaimana?”


            “Bagus sekali. Kebetulan sekali, pergi denganmu aku tidak perlu menyetir mobilku sendiri.”


            Setelah menentukan jam pertemuan kami di keesokan harinya, Sena memutus panggilannya yang terhubung denganku. Aku yang masih duduk bersandar di pagar balkon, sembari sesekali menyesap coklat panasku. Slurrrppppp.


            “Itu hal yang berbahaya duduk dengan bersandar di pagar itu, Author Wallflower.”


            Mendengar suara itu, aku langsung menolehkan kepalaku dan melihat ke arah balkon dari apartemen tetanggaku. Mulutku yang masih penuh dengan coklat yang baru saja aku minum, menyembur begitu saja ketika melihat wajah dari pemilik suara yang baru saja menegurku.


            “Uhuk. . . uhuuk.”


            “Kau baik-baik saja, Asha? Sepertinya aku mengejutkanmu. Kasihan sekali orang yang lewat yang baru saja lewat di bawah sana, dia mungkin terkena hujan coklat yang baru saja kau semburkan itu.”


            Aku menarik mundur tubuhku untuk menjauh dari pagar balkon dengan tujuan agar orang yang sedang sial karena terkena hujan coklat yang kusemburkan itu tidak bisa melihat bagaimana wajahku. Sembari melakukan itu, aku menatap tajam ke arah Arata yang tertawa kecil melihatku terkejut melihat dirinya.


            Sepertinya. . . dia bukan bintang keberuntunganku karena setiap kali aku bersama dengannya, kesialan selalu datang padaku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2