MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KELUARGA WIYARTA DAN DRAMA DI DALAMNYA PART 4


__ADS_3

“Aku tidak tahu, Author.”


            Hanya jawaban itu yang bisa aku dapatkan dari Arata mengenai keluarganya yang dalam hitungan hari ini terus muncul di hadapanku, memperkenalkan dirinya padaku dan berusaha untuk mengenalku. Jika harus membandingkan cerita Arata dan apa yang aku lihat dalam hitungan hari ini, maka jawabannya adalah ketidaksesuaian.


            Arata mengatakan bahwa keluarganya menganggap dirinya sebagai kegagalan dalam hidup banyak orang.  Tapi melihat bagaimana mereka memperlakukanku selama beberapa hari ini dan mengabaikan bagaimana sikap dan sifat ketiga bersaudara Wiyarta itu, aku dapat dengan jelas melihat bahwa keluarga Arata harusnya adalah keluarga yang baik, hangat dan mungkin keluarga yang diinginkan dan diimpikan oleh banyak orang, termasuk aku.


            Di saat seperti ini ... aku justru mengingat bagaimana keluargaku memperlakukan selama ini. Kukira ... dulu mereka-ayah dan ibuku-menyayangiku. Melihat mereka selalu merasa bangga dengan prestasi  yang aku buat, kukira itu adalah tanda mereka menyayangiku. Tapi ... aku salah. Apa yang aku lihat, apa yang aku nilai dan apa aku pikirkan, ternyata semua adalah kesalahan. Begitu aku terlibat masalah yang membuat nama mereka tercoreng, ayah dan ibuku langsung mengubah tatapannya padaku. Tatapan hangat, tatapan bangga dan tatapan penuh cinta itu dalam sekejap menghilang dan berubah menjadi tatapan kesal, tatapan amarah dan tatapan menyesal.


            Melihat mereka melihatku dengan tatapan menyesal itu, aku merasa bahwa semua hidup  yang kujalani selama ini bersama dengan mereka, semua usahaku selama ini demi mereka dan semua perasaan yang ada di dalam hatiku, terlihat seperti sebuah lelucon.


            “Apa yang Author pikirkan??” Arata tiba-tiba memanggilku dan membuat semua lamunan yang ada di dalam benakku langsung menguap dan pergi.  “Kenapa tiba-tiba terdiam?”


            “A-aku hanya memikirkan bagaimana hari ini, keluargamu dan keluargaku sendiri. Sudah sejak lama aku tidak menemui mereka. Setelah apa yang terjadi padaku dan apa yang membuat mereka merasa malu memiliki anak sepertiku, aku tidak berani menemui mereka. Kau tahu apa alasan aku membiarkanmu tetap di sampingku meski awalnya aku menolak dengan keras keberadaanmu yang seperti benalu itu, Arata?”


            “Apa itu, Author?” Karena Arata sedang mengemudikan mobil miliknya sendiri untuk menjemputku, jadi Arata hanya bisa sesekali melihat ke arahku karena harus fokus melihat ke jalanan di depannya.


            “Aku sendiri adalah kegagalan dalam hidup orang banyak. Ketika mendengarmu mengatakan hal itu ... aku merasa seperti bertemu seseorang yang mengerti apa yang aku rasakan selama ini. Jadi ... tanpa sadar aku membiarkanmu terus berada di sisiku. Aku mulai menoleransi semua hal tentangmu dan semua yang kau lakukan padaku. Bukankah itu aneh?? Aku bahkan mulai terbiasa dengan status sebagai kekasihmu bahkan setelah awalnya aku terpaksa menerima hubungan ini karena kau membuat pengumuman di depan publik. Bukankah harusnya aku tidak merasa seperti itu? Dan sekarang ketika aku bertemu dengan keluargamu, aku merasakan perasaan yang aneh.  Meski bukan keluarga hangat seperti keluarga yang aku harapkan, aku merasa punya keluarga lagi sekarang.”


            Ckittttt ... Arata dengan tiba-tiba membuat setir mobilnya berbelok ke kiri dan membuat mobilnya berhenti di tepi jalan. Gerakan dan tindakan tiba-tiba itu membuat jantungku nyaris keluar dari tubuhku karena aku mengira bahwa kami akan mengalami kecelakaan.


            “Ka-kau baik-baik saja, Arata??” Aku langsung melihat ke arah Arata, cemas dan khawatir dengan keadaannya.


            Klik. Arata langsung melepaskan safety belt miliknya dan kemudian klik, di detik berikutnya Arata melepas safety belt milikku.

__ADS_1


            “Kenapa kamu melepas safe ...”


            Aku belum menyelesaikan ucapanku ketika Arata menarik tubuhku dan membuatnya berada dalam pelukan tubuhnya.


            “Arata!! Apa yang kau lakukan??” Aku berusaha untuk melepaskan diriku dari pelukannya, tapi Arata memeluk tubuhku dengan erat dan menolak untuk melepaskanku. Semakin keras aku berontak, semakin erat pula pelukannya di tubuhku.


            “Akhirnya aku mendengar apa yang ingin aku dengar selama ini dari Author.” Karena Arata sedang memelukku, aku tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini dan hal itu membuatku sedikit frustasi.


            “Memangnya apa yang aku katakan hingga membuatmu merasa senang?” Aku bertanya dengan wajah bingung.


            “Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi kau sudah mulai menyukaiku, Author. Aku merasa sangat senang karena merasa bahwa usahaku selama ini untuk mendekatimu, menjangkaumu dan berusaha untuk membuatmu menyukaiku, ternyata mulai memperlihatkan hasilnya. Tak tahukah kau perasaanku sekarang penuh dengan kembang api pertanda kebahagiaanku?? Aku bahkan ingin berlari keluar mobil dan mengatakan pada semua orang bahwa Asha akhirnya benar-benar menyukaiku.”


            Aku langsung menggelengkan kepalaku mendengar ucapan Arata. “Jangan lakukan hal itu, Arata!! Kau bisa membuat Kak Rama dalam masalah karena perbuatanmu itu.”


            Bukankah ini aneh?? Kejadian ini terus berulang dan aku terus menoleransi apa yang Arata perbuat padaku. Datang ke apartemenku seperti apartemen miliknya, menggenggam tanganku seperti aku adalah miliknya, lalu memelukku tanpa peringatan dan aku ... terus menerus menoleransi hal itu. Kali ini ... aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku sungguh-sungguh suka pada Arata sekarang?


            Jika benar akhirnya aku benar-benar menyukai Arata, maka usaha Arata benar-benar membuahkan hasil.


*


            Dua hari kemudian ...


            Sejak hari itu, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Banyak hal mengganggu pikiranku dan bahkan membuatku tidak bisa melanjutkan novel keenam yang sedang aku kerjakan. Aku tidak bisa tidur karena ucapan Arata saat itu dan perasaanku yang aku sendiri masih bingung dan tidak mengerti. Aku juga tidak bisa tidur memikirkan keluarga Arata dan cerita Arata tentang keluarganya. Aku merasa aku harus menemukan alasan dan jawaban untuk dua keadaan yang bertolak belakang itu. Aku merasa ada sebuah kesalahpahaman di sini yang harus aku luruskan.

__ADS_1


            Jadi dengan kondisi tubuh yang sedikit lelah karena kurang tidur dan bagian bawah mata yang menghitam karena tidak bisa tertidur, aku memutuskan untuk menyelesaikan alasanku tidak bisa tidur. Alasan pertama adalah keluarga Arata.


            Menemukan keluarga Arata bukanlah hal yang sulit.  Tidak sepertiku yang dikenal dengan nama pena dan baru-baru ini terkenal karena menjadi kekasih Arata, keluarga Wiyarta adalah nama keluarga terkenal yang sudah terkenal dalam waktu yang cukup lama. Jadi ... jika ingin menemukan keluarga Wiyarta dan anggota keluarganya, aku hanya perlu mengetikkan nama mereka di mesin pencari dan mesin pencari akan memberikan banyak opsi jawaban untuk keperluanku.


            Jadi ... di sinilah aku. Setelah mengemudi selama kurang lebih tiga puluh menit ditambah dengan sepuluh menit karena salah membaca navigasi, aku akhirnya berdiri di depan rumah sakit milik Wiyarta. Aku benar-benar terkejut mendapati rumah sakit Wiyarta ini benar-benar besar dan terlihat sangat modern. Banyaknya mobil mahal yang terparkir di area parkir menandakan jika rumah sakit ini adalah satu dari beberapa rumah sakit yang terkenal dan didatangi oleh kalangan atas di kota ini.


            “Bisakah aku bertemu dengan Kendra Wiyarta atau Maha Wiyarta?” Begitu masuk ke dalam gedung rumah sakit milik Wiyarta, aku memutuskan untuk mencari Kendra atau Maha, kedua kakak Arata lebih dulu yang berjabatan lebih rendah dari Ayahnya.


            “Apakah Nona sudah membuat janji?” Wanita di resepsionis menanyakan hal itu padaku dan membuatku menyadari jika ingin bertemu dengan orang-orang itu membutuhkan janji lebih dulu.


            “Belum.”


            “Maaf Nona.  Jika Nona ingin bertemu dengan Dokter Maha dan Dokter Kendra, Nona harus membuat janji lebih dulu.”


            Aku tahu hal ini seperti ini akan terjadi karena keluarga Wiyarta bukanlah orang biasa dan juga posisi mereka di rumah sakit ini adalah posisi yang membuatnya memiliki banyak janji temu serta kesibukan yang mungkin cukup tinggi.


            “Khusus dia ... “Aku menolehkan kepalaku melihat seseorang yang secara tiba-tiba berbicara di sampingku. “Mulai hari ini,  dia bisa menemui kami-aku dan Maha tanpa harus membuat janji lebih dulu. Tolong catat itu!!”


            Aku langsung memberikan salamku ketika aku mengenali sosok itu. “Se-selamat pagi, Tuan Kendra Wiyarta.”


            “Apa yang membuatmu datang kemari, Asha?”


            Melihat Kendra dengan jas dokter yang melekat di tubuhnya dan juga kacamata kerja yang terpasang di wajahnya, untuk sejenak aku merasa kagum padanya dan sedikit terpesona olehnya. Tidakkah semua pasien akan jatuh cinta padanya ketika melihatnya?? Jika aku membuat dia sebagai tokoh dalam novelku yang berikutnya, apakah dia akan keberatan mengenai hal itu??

__ADS_1


__ADS_2