MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
AUTHORKU TERCINTA PART 1


__ADS_3

            “Anu. . . Kak Rama??” panggilku ketika Nara masih sibuk merias wajahku dengan berbagai macam peralatan tata rias miliknya.


            “Ya, Nona Asha.” Kak Rama yang tadinya hendak ingin mengikuti Arata, langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik melihatku.


            “I-itu. . . ini kenapa aku harus berias? Kenapa juga aku harus menyusul Arata? A-apa yang harus aku katakan nanti?” Aku bertanya dengan kedua tanganku yang bergetar karena gugup dan tidak tahu harus melakukan apa.


            Kak Rama melihatku dengan senyuman lembut. Kak Rama memegang bahuku dan menatapku melalui cermin di depanku. “Tarik nafas yang dalam, Nona Asha.”


            Aku melakukan apa yang Kak Rama minta dan menarik nafas perlahan dan dalam.


            “Sekarang embuskan dengan cepat, Nona Asha.”


            Sekali lagi aku melakukan apa yang Kak Rama minta padaku dan mengembuskan nafasku dengan cepat. Kak Rama kemudian memintaku untuk mengulang dua hal itu sebanyak tiga kali dan tiba-tiba tanganku yang tadi bergetar kini sudah berhenti.


            “Sekarang Arata sedang menjelaskan keadaan tadi. Setelah ini, Nona Asha hanya perlu menjawab pertanyaan yang Arata ajukan dan menjawab jika Arata memberi izin. Nona Asha hanya perlu percaya pada Arata dan Arata bersama dengan juru bicara kami pasti akan menyelesaikannya dengan baik, Nona Asha.” Penjelasan Kak Rama itu terdengar begitu mudah. Tapi mengingat kejadian tadi dan semua mata yang menatap ke arahku, aku merasa keadaan yang menantiku tidak semudah ucapan Kak Rama.


            “A-apa kedatanganku kemari membawa masalah pada Arata? A-apa setelah ini Arata akan mendapat masalah dan kehilangan semua pekerjaannya karena aku?” Aku bertanya sembari membayangkan beberapa adegan dalam drama-drama yang aku lihat di TV yang kebanyakan menggambarkan cinta aktor dan orang biasa akan membuat aktor itu kehilangan popularitasnya.


            “Untuk itu, Nona Asha tidak perlu khawatir. Kedatangan Nona kemari tidak akan membawa masalah pada pekerjaan Arata dan karirnya. Saya sebagai manajernya sudah memprediksi setiap kemungkinan yang akan terjadi sejak Arata meminta padaku untuk membersihkan nama Nona.” Kak Rama tersenyum menatapku dari cermin dan berbisik. “Perlu Nona ketahui sebelum ini saya adalah manajer Aktor Rangga yang dikenal bermasalah dan selalu suka mencari sensasi. Jika harus membandingkan, apa yang Arata lakukan sekarang hanya sebagian kecil dari perbuatan Aktor Rangga dan saya masih dengan mudah menyelesaikannya, Nona. Sekarang. . . yang perlu Nona lakukan adalah buat diri Nona tenang.”

__ADS_1


            Aku menganggukkan kepalaku sembari mengembuskan nafasku lagi dan kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Aku hanya perlu tenang dan Arata akan menyelesaikannya.


            Lima menit berlalu dan Nara telah menyelesaikan riasan di wajahku seperti permintaan Kak Rama.


            “Kak, sudah selesai?”


            “Bagus, Nara. Kerja bagus. Riasan sederhana ini benar-benar membuat Nona Asha terlihat sangat cantik dan anggun.” Kak Rama kemudian mengulurkan lengannya padaku untuk membantuku berjalan menuju ke podium di mana Arata berada saat ini. “Mari, Nona. Saya akan mengantar Nona ke podium.”


            Aku menerima lengan Kak Rama dan berjalan bersamanya menuju ke tempat Arata berada. Sepanjang perjalanan, Kak Rama hanya terdiam seolah sedang berusaha memberiku waktu untuk menenangkan diriku.


            “Berikan jawaban sesuai dengan pikiran Nona. Arata, juru bicara dan aku, akan menyelesaikan sisanya, Nona. Begitu konferensi pers ini berakhir, skandal yang mengusik Nona dan Arata akan berakhir. Lalu untuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan berani merusak nama Nona, akan membayar perbuatan mereka karena di tanganku dan Arata sudah ada bukti-bukti untuk perbuatan mereka.”


            Begitu tiba di dekat podium, Kak Rama mengatakan kalimat itu padaku  untuk menenangkan aku.


            Setelah membalas ucapan Kak Rama, aku berjalan ke atas podium dan duduk tepat di samping Arata. Kini semua mata, semua perhatian, semua kamera dan semua sorot lampu sedang mengarah padaku seolah aku adalah bintang yang penting hari ini seperti Arata.


            “Author Wallflower, mengenai pertemuan Nona dan Tuan Arata, apakah benar seperti yang Tuan Arata katakan sebelumnya? Kalian bertemu sebelum kalian sama-sama terkenal seperti sekarang?” tanya Reporter 1.


            “Ya, itu benar. Kami memang pernah bertemu, tapi saat itu aku tidak mengenali  Arata sama sekali,” jawabku dengan sedikit gugup.

__ADS_1


            “Kenapa Nona tidak mengenali  Tuan Arata? Wajah Tuan Arata yang tampan dan menawan itu, pasti akan meninggalkan kesan pada siapapun yang melihatnya.” Kali ini pertanyaan keluar dari mulut reporter 2.


             Aku melihat ke Arata yang duduk di sampingku dan melihatnya tersenyum padaku. Senyuman itu berhasil mengusir sedikit rasa gugupku. “Itu karena Winnie The Pooh yang ada di kepalanya. Saat kami bertemu, Arata mengenakan kostum Winneie The Pooh di kepalanya dan membuatku tidak melihat wajahnya. Hari ini. . . saya sendiri baru tahu jika kami pernah bertemu jauh sebelum pertemuan kami  dalam acara tanda tangan buku saya.”


            Mendengar jawabanku, bisik-bisik terdengar dari penggemar Arata yang berada di belakang reporter. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka, tapi melihat senyuman di bibir mereka, aku rasa pikiran mereka tidak seburuk bayanganku.


            “Lalu bisakah Nona jelaskan pelukan yang tadi diberikan Tuan Arata untuk Nona? Apa arti pelukan tadi?” Reporter 4 mengajukan pertanyaan dan pertanyaan itu berhasil membuatku kembali gugup.


            Aku menatap Arata dengan tatapan bingung karena aku tidak tahu harus memberikan jawaban apa untuk pertanyaan itu. Sebaliknya. . . Arata justru tersenyum seolah pertanyaan itu bukan masalah besar baginya. Kenapa juga kau tadi memelukku? Aku ingin sekali menanyakan pertanyaan itu kepada Arata. Sayangnya. . .situasi kami saat ini tidak memungkinkan aku untuk bertanya padanya.


            Arata meraih mikrofonnya dan mulai bicara menggantikan aku. “Biar aku yang menjawab pertanyaan itu. Saya memeluk Author Wallflower karena sebelumnya saya membuat permintaan padanya.”


            “Permintaan apa itu, Tuan Arata?” Reporter 1 bertanya dengan cepat.


            “Saya memintanya untuk datang kemari dan berlari kepada saya, jika Author tersentuh dengan rahasia pertemuan kami. Saya memeluknya karena saya tidak menduga Author Wallflower benar-benar datang kemari.” Arata kemudian menolehkan kepalanya melihat ke arahku masih dengan senyuman di bibirnya. “Sekarang karena Author sudah tahu alasanku selalu ingin dekat dengan Author. Aku ingin membuat pengakuan pada Author.”


            “Pengakuan apa yang kau maksud, Arata??” Tanpa sadar mulutku berbicara begitu saja dan melupakan situasi kami saat ini.


            “Aku menyukai Author sejak pertemuan pertama kita. Selama ini. . . aku berusaha menjadi terkenal untuk menemukan Author. Hari itu. . . Author hanya meninggalkan dua petunjuk padaku: kau adalah penulis dan buku karya pertama milik Wallflower. Tujuanku selalu membawa buku itu karena aku berharap pemberinya akan ingat pada buku itu. Aku bahkan sengaja ikut klub penggemar Author wallflower untuk menemukanmu. Tapi sayangnya. . . pemberinya sama sekali tidak mengingat buku itu hingga aku harus melakukan berbagai usaha untuk menarik perhatianmu dan agar selalu berada di sisimu.” Arata menatapku dan membuatku benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di sana. Bahkan suasana ramai yang harusnya muncul oleh penggemar Arata, kini terdengar hening seolah mereka juga ingin mendengar pengakuan Arata.

__ADS_1


            “Apa yang kau inginkan dengan membuat pengakuan itu, Arata?”


            “Sama seperti Author yang menganggapku sebagai bintang keberuntunganmu, aku pun menganggapmu sebagai bintang keberuntunganku, Author. Lalu ucapanku yang mengatakan bahwa aku akan menjadi satu-satunya benalu di dunia ini yang akan memberi simbiosis mutualisme padamu, kali ini aku akan mewujudkannya. Sekarang di depan semua orang yang sedang melihat acara ini dan semua orang yang ada di sini, aku ingin meminta padamu, Author. Jadilah kekasihku, Author Wallflower!”


__ADS_2