
Ting tong.
Karena kemarin siang hari aku disibukkan oleh Warda yang memintaku untuk segera mengonfirmasi cover untuk novel kelimaku yang akan terbit dalam dua minggu, alhasil aku hanya bisa mengerjakan novel keenamku di malam hari.
Ting tong.
Bel yang berbunyi ini benar-benar membuatku malas untuk bergerak dari kursi kerjaku karena kelelahan yang teramat sangat sedang aku rasakan saat ini.
Ting tong.
Tapi bel itu terus berbunyi dan mengusikku seolah mengatakan jika orang yang membunyikan bel itu tidak ingin mengalah padaku dan membiarkanku untuk menutup mataku sejenak karena semalam aku tidak tidur.
Ting tong.
Dengan malas, akhirnya aku berjalan ke arah pintu apartemen dan bertanya kepada pengunjung apartemenku yang tidak aku undang. “Siapa di sana?”
“Apakah benar ini apartemen dari Nona Asha, Author Wallflower?” Dari suaranya ... aku tahu jika pengunjungku kali ini adalah seorang pria asing yang tidak pernah kudengar suaranya.
“Ya, itu benar. Siapa di sana? Dan ada perlu apa mencariku?” balasku merasa ragu. Aku tahu keamanan dari apartemen ini dengan baik. Penjaga maupun pintu apartemen ini tidak akan membiarkan orang asing masuk jika tidak tahu kode akses di pintu utama gedung apartemen ini.
Merasa jika pengunjung tidak diundang ini mungkin berbahaya, aku berlari ke meja kerjaku dan mengambil ponsel milikku. Aku menekan nomor darurat dan bersiap membuat panggilan jika pengunjung tidak diundang ini adalah seseorang yang berniat buruk padaku. Aku sadar sejak hubunganku dengan Arata diumumkan, banyak pihak tertentu yang mungkin tidak setuju dengan hubungan ini karena di mata mereka aku tidak pantas bersama dengan Arata.
“Perkenalkan nama saya Maha Wiyarta. Saya adalah kakak kedua dari Arata,”
Mendengar kata “Kakak dari Arata”, aku langsung membuka pintu apartemenku secara spontan dan melupakan kemungkinan jika pengunjung tak diinginkan ini adalah orang asing yang mungkin akan berbuat buruk padaku.
__ADS_1
“Kakak Arata??” tanyaku ulang. Aku menatap wajah pria di hadapanku dan menemukan banyak perasaan antara dirinya dengan Arata: dari mata, alis, bentuk hidung, bibir, bentuk wajah hingga bentuk tubuhnya. Jelas sekali terlihat jika pria di hadapanku ini sangat mirip dengan Arata. Hanya saja ... yang membedakan dirinya dengan Arata yang selama ini aku kenal adalah aura mereka yang sangat berbeda.
“Ya, aku Kakak Kedua Arata, Maha Wiyarta dan kau bisa memanggilku dengan panggilan Kak Maha seperti yang Arata lakukan selama ini.”
Aku tidak tahu apa alasan Kakak Arata datang kemari menemuiku dan bahkan membawaku ke cafe terdekat. Dia bahkan memesankan banyak makanan dan minuman untukku padahal kita belum mengenal satu sama lain.
Aku menatap ketampanan yang ada di wajah Kakak kedua Arata yang sepertinya sudah ada dalam gen dan DNA keluarga mereka. Aku bertanya-tanya dalam benakku, Bagaimana rupa Ayah dan Ibu Arata hingga anak-anak mereka memiliki wajah yang tampan-tampan seperti malaikat yang turun dari langit?
Karena kami duduk di dekat jendela dan bagian pojok cafe, aku melihat bayanganku sendiri dan mendapati penampilanku yang benar-benar jauh dari kata pantas untuk bersanding di samping Arata. Tiba-tiba sebuah pikiran di dalam benakku berbicara padaku. Lihat makanan dan minuman yang banyak itu, Asha!! Apa mungkin keluarga Arata datang menemuimu untuk mengatakan bahwa kau tidak pantas berada di samping Arata? Minuman itu dipersiapkan hanya untuk ditumpahkannya padamu nanti!! Kau harus bersiap-siap, Asha!!”
“Nona Asha??”
“Y-ya??” Aku terkejut mendengar namaku dipanggil dan semua bayangan yang muncul di dalam benakku langsung menghilang dalam sekejap karena panggilan itu.
“Kau pasti sedang bingung kenapa aku datang kemari untuk menemuimu bukan?”
“Oke.” Maha kemudian bersandar ke sandaran kursi di belakangnya dan kemudian memberikan senyuman yang aku rasa senyuman itu sedang mengatakan jika dia sedang merasa tertarik akan sesuatu seperti yang Arata sering lakukan. “Karena Nona Asha saat ini sedang penasaran, maka mari aku dengar beberapa teori dari dalam benakmu iitu.”
“Teori?? Teori apa yang Tuan maksud?” Semakin aku melihatnya, semakin aku merasa jika Kakak kedua Arata ini adalah seseorang yang terlihat sederhana tapi nyatanya benar-benar rumit.
“Bukankah Nona penasaran akan kedatanganku kemari, bukan?
Aku menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaan itu.
“ ... Kalau begitu aku ingin dengar apa yang kepalamu katakan tentang alasan kedatanganku kemari untuk menemui, Nona. Kudengar Nona Asha adalah satu dari sepuluh Author terkenal di negeri ini.”
__ADS_1
Aku tersenyum kecil mendengar pujian kecil itu. “Sepuluh Author terkenal?? Aku rasa aku tidak pantas menerima pujian itu, Tuan Maha. Orang yang membuatku terkenal dan berada di titik ini adalah Arata. Jika bukan karena Arata yang selalu membawa-bawa bukuku dan membuat penggemarnya akhirnya membeli semua bukuku, mungkin aku hanyalah penulis kecil yang tidak dikenal.”
“Nona Asha cukup rendah hati, aku suka sifat itu, Nona.” Pandangan kakak kedua Arata kemudian berubah menjadi serius, senyuman di bibirnya menghilang dan membuatku merasakan alasan sebenarnya pria ini datang kemari.
“Menurutmu Nona kenapa aku datang kemari, menemui Nona?”
“Kurasa keluarga Arata tidak setuju mengenai hubunganku dengan Arata. Tuan datang kemari menemuiku hanya untuk memberi peringatan itu padaku bukan? Tuan ingin mengatakan jika aku hanyalah penulis biasa yang tidak berarti dan tidak pantas bersama Arata” Aku mengatakan jawaban itu tanpa rasa ragu sedikit pun karena memang aku sendiri merasa tidak pantas di sisi Arata. Arata adalah bintang bersinar yang disukai oleh orang banyak. Yang harusnya menemani bintang bersinar itu adalah bintang bersinar lainnya. Dengan begitu ... bintang itu akan makin bersinar. “Apakah Tuan memesan banyak minuman dan makanan ini untuk menumpahkannya di atas kepalaku seperti yang terjadi dalam banyak adegan film?”
Pertanyaan itu juga tidak lupa aku katakan dengan Kakak Kedua Arata. Jika Kakak Kedu Arata memang benar-benar ingin melakukan hal itu-menumpahkan minuman di atas kepalaku, maka aku bisa menyiapkan mentalku sedini mungkin.
Prok ... prok ... prok.
“Hahahahaha ....”
Kukira aku akan menerima guyuran minuman itu seperti bayangan di dalam benakku, tapi yang aku dengar justru tepuk tangan yang kencang bersamaan dengan tawa kencang dari Kakak Kedua Arata. Pria itu tertawa selama beberapa saat dan membuatku melihatnya dengan wajah bingung. Aku bingung alasan dia tertawa seperti itu: dia tertawa karena aku menebak dengan benar atau dia tertawa karena merasa ucapanku lucu. Aku tidak tahu yang mana hingga akhirnya tawa itu berhenti terdengar.
“Apa kalian para penulis selalu berpikir dramatis seperti adegan dalam film dan sinetron?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, Tuan. Ini murni hanya pikiranku saja.”
“Apa mungkin karena selama beberapa tahun ini Nona mengurung diri, jadi cara berpikir Nona sama seperti adegan film-film? Sedikit dramatis.” Tiba-tiba kakak kedua Arata mengedipkan satu matanya padaku seolah sedang menggodaku seperti kebanyakan pria yang sedang menggoda wanita dalam adegan-adegan film.
“Mu-mungkin seperti itu.” Aku hanya bisa tersenyum pahit membalas ucapan itu karena memang mungkin itulah yang terjadi padaku. Interaksiku dengan manusia lain bisa dikatakan sangat rendah dan kebanyakan aku mempelajari perkembangan di luar melalui TV dan internet.
“Jujur aku katakan, aku datang ke sini karena merasa sangat penasaran dengan kekasih adik bungsu kami. Kakak pertama kami, Kendra mengirimku kemari untuk menilai bagaimana kekasih adik bungsu kami. Tapi aku benar-benar tidak menyangka jika Nona jauh dari bayangan kami semua.”
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, aku tahu jika apa yang duga memang benar adanya: aku tidak pantas berada di sisi Arata. “Maafkan aku jika aku tidak sesuai dengan bayangan Tuan.”
Senyuman Kakak Kedua Arata kini semakin lebar kulihat. Senyuman itu berbeda dengan apa yang ada di dalam benakku. Bukankah dia akhirnya kecewa dengan wanita sepertiku? Kenapa dia justru tersenyum melihatku? Apa mungkin dia merasa senang karena dia berhasil menebak aku dengan benar?