MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KEGELAPAN MILIK WALLFLOWER PART 4


__ADS_3

            Terkadang. . . aku berpikir kegelapan yang sering ditakuti oleh banyak orang itu adalah tempat ternyaman untukku. Ketika gelap dan tidak bisa melihat apapun, aku merasa aman dari banyak mata yang melihatku dengan tatapan seolah aku adalah makhluk paling menjijikkan di dunia ini. Dari teman-teman sekolahku, guru yang mengajarku, kedua orang tuaku, dua saudara hingga rekan-rekan kerjaku, tatapan mereka selalu sama: mereka menganggapku sebagai makhluk yang menjijikkan yang tidak seharusnya lahir di dunia ini.


            Sejak menjadi korban perundungan di sekolah dan kehilangan kepercayaan dari guru-guruku, kedua orang tuaku yang selalu mementingkan pendapat orang lain menilai aku adalah anak yang menyusahkan. Aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku juga tidak membuat nama baik keluarga tercemar, tapi karena ucapan teman-temanku, karena masuk ke dalam jebakan mereka, aku yang merupakan korban justru dibenci semua orang.


            Karena Garry si ketua OSIS menyukaiku, Lusi membenciku. Kebencina yang mendalam membuat Lusi kemudian  menyalahkanku karena usaha kerasnya untuk mendapatkan Garry gagal.  Dengan berbagai cara Lusi berusaha untuk membuat semua  orang di dekatku berubah membenciku seperti yang dirasakannya padaku. Teman-temanku mulai pergi dariku bahkan Mika-sahabatku yang awalnya selalu mendukung dan membantuku pun akhirnya memilih pergi dariku.


            Tidak puas dengan semua kehilanganku, Lusi menjebakku dan membuatku sebagai siswa yang hobi menyontek selama ujian. Setelah itu. . . aku kehilangan semua kepercayaan guru-guruku dan kepercayaan semua orang. Selama satu bulan lamanya. . .aku mengurung diri di rumah dan selama satu bulan itu juga aku mendengar ocehan kedua orang tuaku yang menyesal telah melahirkanku ke dunia hanya untuk memberi mereka masalah.


            Setelah itu. . . keluargaku memindahkan sekolahku ke rumah nenekku di luar kota dan membiarkanku tinggal bersama dengan Nenekku yang sudah tua di luar kota.


            Di masa lalu. . . aku bertanya-tanya kenapa Lusi menyalahkanku untuk perasaan Garry yang bahkan tidak aku inginkan? Aku berusaha keras dalam setiap langkah hidupku dan usahaku itu dihancurkan berkeping-keping hanya karena perasaan seseorang yang bahkan tak pernah kubayangkan dan kebencian seseorang yang seharusnya tidak mengarah padaku.            


            Dari kejadian itu aku belajar untuk menjaga jarak dengan siapapun baik itu wanita maupun pria. Aku berusaha untuk tidak terlihat menarik dan menyenangkan di mata orang lain untuk menghindari tragedi yang sama terulang dalam hidupku.


            Tapi tragedi itu terulang lagi ketika aku diterima bekerja dan sekarang. Perhatian yang aku terima dari seseorang membawaku pada bencana dan situasi yang sama lagi. Padahal. . . aku tidak pernah meminta perhatian itu, aku juga tidak pernah mengharapkan perhatian lebih itu, tapi kenapa mereka membenciku atas apa yang tidak aku inginkan??


            Kenapa selalu aku yang mengalami hal ini dan kemudian berakhir dengan dibenci?


            Kenapa dan kenapa?


*


            Narator’s POV

__ADS_1


            “Kau baik-baik saja, Arata?” Warda bertanya kepada Arata yang baru saja tiba di rumah sakit di mana Asha sedang dirawat.


            “Saya baik-baik saja, Nona Warda.” Arata duduk di samping Warda sembari menatap Asha yang masih terbaring tidak sadarkan diri dengan tangan yang terhubung dengan infus. “Bagaimana keadaan Author? Dia baik-baik saja kan?”


            “Asha baik-baik saja. Tubuhnya baik-baik saja, tapi tidak dengan mentalnya. Apa yang kau lihat adalah respon dari pikirannya untuk mempertahankan kewarasannya. Pikirannya berusaha untuk melindungi diri dari kenangan buruk yang pernah dialaminya,” jelas Warda yang menatap sedih ke arah Asha. “Siapa yang dia temui hingga dia mengalami hal ini lagi?”


            “Bora dan wanita bernama Lusi. Kurasa dia adalah kenalan lama Author.”


            “Ah, Lusi. Asha pernah menceritakan hal itu kepadaku, hanya saja aku tidak pernah bertemu langsung dengannya.”


            Mata Arata tertarik mendengar ucapan Warda tentang kisah lama dari Asha dan penyebab Asha ambruk lagi. “Bisa Nona Warda ceritakan padaku tentang hal buruk yang menimpa Author? Dan kenapa Nona Warda menitipkan pesan kepada Kak Rama untukku agar menjaga Author di lokasi syuting?”


            Warda tersenyum melihat ke arah Arata. “Aku memintamu menjaga Asha karena kau adalah penggemar Asha sekaligus bintang keberuntungannya.”


            “Bintang keberuntungan?” Arata menatap Warda dengan wajah penasaran.


            Arata memandang Asha yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tersenyum kecil. Dasar Author. . . kau selalu menyebutku benalu yang menyebalkan ketika bertemu denganku. Tapi ketika di belakangku, kau menyebutku dengan sebutan bintang keberuntungan. Bukankah in tidak adil?? Harusnya. . . sejak awal kau menyebutku bintang keberuntungan jika kau berterima kasih padaku, Author. Senyuman Arata semakin lebar membayangkan dirinya menggoda Asha ketika terbangun nantinya. Kalau kau sadar, aku harus membuat perhitungan denganmu, Author. Aku harus dengar sendiri dari mulutmu yang memanggil bintang keberuntunganmu.


            “Lalu bagaimana dengan alasan Author ambruk, Nona Warda?”


            Warda menyipitkan matanya melihat ke arah Arata. “Sebelum aku menceritakan hal itu aku penasaran dengan satu hal.”


            “Apa itu, Nona Warda?” Arata bertanya dengan gugup.

__ADS_1


            Warda menatap penuh curiga ke arah Arata. “Kenapa kau begitu perhatian kepada Asha?”


            “Bu-bukankah hal itu yang Nona Warda minta padaku ketika aku mengunjungimu di rumah sakit? Kau bahkan merahasiakan fakta bahwa akulah pemeran utama dalam film Love Like Ectasy dari Author, karena ingin memintaku untuk menjaganya,” Arata menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Arata tahu Warda adalah editor Asha yang cukup punya rasa penasaran yang tinggi. Begitu perhatiannya tertarik, Warda tidak akan mau melepaskannya.


            “Bagaimana jika aku tidak memintamu untuk melakukan hal itu? Apakah kau akan tetap menjaga Asha,  Arata?”


            Arata membuang mukanya berusaha menjauhi tatapan penuh selidik dari Warda. “Te-tentu saja aku akan tetap melakukannya. Dia adalah idolaku dan aku adalah penggemarnya. Aku akan melakukan yang terbaik sebagai penggemarnya.”


            “Ehmmmm. . . ini semakin mencurigakan.” Warda terus menatap ke arah Arata dengan tatapan menyelidik bahkan ketika merasakan jika Arata mulai terganggu dengan tatapan yang diberikannya. “Aku juga ingat dengan baik, syarat yang kau minta agar mau jadi bintang tamu dalam acara tanda tangan Author Wallflower adalah melihat foto dari pemilik nama Wallflower yang sesungguhnya. Kau. . . sebenarnya mungkin sudah mengetahui sosok di balik nama Wallflower, bukan?”


            Arata bergeser sedikit karena merasakan tatapan menyelidik dari Warda yang membuatnya sedikit risi. “Bisakah aku tidak menjawab pertanyaan itu, Nona Warda?”


            “Ya. . . ya. . . aku tidak akan bertanya lagi. Aku tidak akan bertanya karena aku tahu kau tidak punya niat buruk terhadap Asha.”


            Arata menolehkan kepalanya melihat ke arah Warda dengan tatapan sedikit tajam karena terkejut. “Tentu saja aku tidak punya niat buruk.  Author adalah idolaku dan bagiku. . . dia juga adalah bintang keberuntunganku, Nona Warda.”


            “Baiklah karena aku sudah yakin kau tidak akan pernah berniat buruk dengan Asha, aku akan menceritakan apa yang pernah Asha ceritakan padaku tentang masa lalunya yang kelam, alasannya menolak keluar dari apartemennya, alasan dia tidak ingin berada di dekatmu dan alasan dia ambruk.”


            Setelah itu Arata hanya diam mendengarkan cerita Warda tentang pemilik nama pena Wallflower. Arata hanya diam mendengarkan dengan mata yang terus tertuju kepada Asha yang masih berbaring di atas tempat tidurnya. Sesekali Arata akan menatap nanar ke arah Asha dan sesekali Arata akan menundukkan pandangannya karena tidak bisa membayangkan idolanya itu begitu menderita di masa lalu.


            Setengah jam berlalu, Warda akhirnya menutup mulutnya ketika cerita berakhir. Sebelum pergi dari ruangan rawat Asha, Warda memberi pesan terakhir kepada Arata. “Aku ingin kau merahasiakan hal ini dari Asha, Arata. Berpura-puralah tidak tahu hingga Asha sendiri yang menceritakannya padamu. Bagi Asha, masa lalunya itu adalah sesuatu yang ingin dilupakannya dan dikuburnya dalam-dalam.


            “Aku mengerti, Nona Warda. Terima kasih telah menceritakan hal ini kepadaku, akhirnya. . . aku tahu kenapa Author ketakutan seperti itu.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2