MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SOSOK DI BALIK SEBUTAN PENGUNTIT PART 3


__ADS_3

Mungkin kesal, mungkin juga perasaan lain yang tidak bisa aku tebak, tapi Pak Raya akhirnya membuka mulutnya menggantikanku memberikan penjelasan kepada Pak Laksamana.


            “Mohon maaf, Pak. Nona Asha adalah kekasih dari Tuan Muda Arata-putra ketiga dari Keluarga Wiyarta dan juga aktor terkenal.”


            “Arata?? Bintang terkenal itu??” Pak Laksamana melihat ke arahku dengan tatapan tidak percaya dan terkejut. “Benarkah itu?”


            Aku dan Pak Raya menganggukkan kepala kami bersama-sama lengkap dengan senyuman di bibir kami berdua pertanda perasaan lega bahwa pria di hadapan kami akhirnya tahu alasan dari enam pengawal yang mengikutiku.


            “Ahh ... putriku adalah penggemar Arata. Aku tidak tahu jika aktor terkenal Arata memiliki kekasih bernama Nona Asha. Kudengar dari cerita putriku, aktor Arata yang terkenal itu memiliki kekasih seorang penulis dengan nama Wallflower. Mungkinkah berita itu adalah bohong dan setingan saja?”


            Di saat seperti ini ... aku ingin sekali tertawa mendengar ucapan Pak Laksamana, tapi jika aku mengeluarkan tawaku, bisa-bisa aku dicap sebagai orang yang tidak sopan. Jadi ... untuk kedua kalinya, Pak Raya menggantikanku bicara dan memberi penjelasan pada Pak Laksmana.


            “Nona Asha adalah Author Wallflower, Pak. Nama itu adalah nama pena yang digunakan Nona Asha ketika menjadi penulis, Pak.”


            Sekali lagi ... aku melihat wajah terkejut Pak Laksamana dan di dalam hatiku, aku benar-benar merasa ingin tertawa karena melihat wajah sangar Pak Laksamana yang benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari Pak Raya.


            “Saya meminta Nona kemari adalah untuk menunjukkan hal ini pada Nona ....”


Setelah kejadian lucu tadi, Pak Laksamana membawaku ke ruang interogasi di mana ruangan itu adalah ruangan yang aman untuk berbicara dan tidak mendapat gangguan dari keramaian di kantor polisi. Maklum saja ... kantor polisi adalah satu dari beberapa fasilitas negara yang selalu ramai dikunjungi oleh banyak orang-orang dengan berbagai alasan.


 


            Pak Laksmana menunjukkan laptopnya padaku dan memutar beberapa rekaman yang aku kira berasal dari rekaman kamera blackbox mobil. “ ... Ini adalah beberapa rekaman kamera balckbox mobil yang sempat parkir di dekat rumah keluarga Nona. Butuh waktu bagi kami untuk menemukan bukti ini, tapi orang yang kami duga sebagai pelaku pembakaran terekam di tiga kamera blackbox. Satu pada siang hari dan dua lainnya pada malam hari di mana dia melakukan aksinya.”


            Aku melihat tiga rekaman itu dengan saksama. Tapi dari tiga rekaman itu ... tidak ada satu pun rekaman yang memperlihatkan wajah pelaku karena masker dan topi yang digunakannya.

__ADS_1


            “Nona tidak mengenalinya?” Pak Laksamana sepertinya melihat bagaimana ekspresiku saat ini.


            “Mohon maaf, Pak. Sayangnya tidak, Pak.” Aku menggelengkan kepalaku karena sama sekali tidak mengenali sosok dengan pakaian serba hitam. Hanya saja ... dari caranya berjalan aku bisa menebak dengan baik bahwa pelaku adalah seorang pria.


            “Lalu karena Pak Rata kebetulan datang kemari, saya ingin menjelaskan permintaan Pak Kendra yang datang beberapa hari lalu bersama dengan Pak Raya.”


            Mendengar nama Kendra dan Pak Raya disebut, aku langsung menoleh ke arah Pak Raya yang duduk di sampingku.  Aku langsung mengajukan pertanyaan kepada Pak Raya. “Ada apa ini, Pak?”


            “Setelah ini ... saya akan memberikan penjelasan kepada Nona Asha. Bisakah Nona menunggu dengan sabar? Saya butuh kepastian dari pihak kepolisian untuk menjelaskan hal ini kepada Nona.”


            Aku mengalah dan memilih menunggu sembari mendengarkan percakapan dari Pak Raya dan Pak Laksamana.


            “Silakan dilanjutkan, Pak,” ucap Pak Raya.


            “Berdasarkan beberapa rekaman yang Bapak kirim bersama dengan Pak Kendra, kami sudah bisa memastikan bahwa ciri pelaku pembakaran ini dengan orang yang mengikuti Nona Asha adalah sama. Pihak penyelidik kami sudah memastikannya, Pak. Dari cara berjalan dan tinggi tubuh serta beberapa kebiasaan lainnya yang terekam kamera, kami sudah memastikan jika pelaku dalam dua kasus itu adalah orang yang sama. Jadi .... “


            “Benar ... pelaku yang membakar rumah keluarga Nona Asha sepertinya memiliki dendam dengan Nona bukan karena dendam dengan keluarga Nona.” Pak Laksamana menambahkan kalimat Pak Raya.


            Pak Raya kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Pak Laksamana. Begitu melihat benda itu, aku langsung mengenali benda itu.


            “Ba-bagaimana Bapak bisa memiliki benda itu?” tanyaku terkejut.


            “Tuan Arata yang memberikannya pada saya, Nona. Setelah ini ... saya akan menjelaskannya, Nona. Mohon tunggu sebentar.”


            “Apa ini?” Pak Laksamana membuka benda berwarna hitam yang selama ini selalu aku sembunyikan dari Arata dan semua orang yang berkunjung ke apartemenku. Dan begitu ... Pak Laksamana membukanya, wajah Pak Laksamana sedikit terlihat pucat sebagai pertanda buruk.  “Ini .... “

__ADS_1


            “Benar, Pak. Dari penjelasan Tuan Arata, surat itu mungkin sudah datang sejak Tuan Arata dekat dengan Nona Asha. Bahkan sebelum keduanya menjalin hubungan.


            “Kenapa baru memberikannya sekarang, Pak?” Pak Laksamana bertanya dengan wajah sedikit kesal dan melemparkan isi amplop itu ke atas meja. Tindakan itu membuatku dapat dengan jelas melihat foto keluargaku yang sedang berada di ruang makan mereka.


            “Ini .... “ Aku mengambil foto dan surat ancaman itu. Aku benar-benar tidak percaya dengan kalimat yang tertulis dalam surat itu.         


            Karena Author Wallflower tidak pernah mendengar peringatan yang aku berikan, jadi kali ini aku akan memberikan hadiah terbaik kepada Author. Kuharap Author menyukai hadiah yang aku berikan.


            Air mataku langsung mengalir begitu melihat surat ancaman itu. Di saat yang sama ... aku menyalahkan diriku untuk keempat anggota keluargaku yang harus meregang nyawa dalam kejadian yang nahas itu. Kebakaran itu terjadi karena aku!


            “Apakah kita harus menghentikan percakapan kita di sini?” Pak Laksamana mengajukan pertanyaan itu ketika melihat air mataku yang jatuh.


            Aku menggelengkan kepalaku sembari menghapus air mataku yang terus memaksa keluar. “Tidak, Pak. Aku akan tetap di sini dan mendengarkan.”


            “Baiklah kalau begitu.” Setelah memastikan aku yang mampu bertahan untuk mendengar percakapan antara Pak Laksamana dan Pak Raya, Pak Laksamana melanjutkan pertanyaan yang ingin diajukannya padaku dan pada Pak Raya. “Lalu di mana surat-surat ini ditemukan?”


            “Kotak surat di gedung apartemenku.” Aku berusaha menahan tangisanku dan menguatkan diriku sendiri. “Tapi ... untuk surat itu, saya tidak menerimanya. Saya hanya menerima surat ancaman ringan.”


            “Surat itu ditemukan oleh Tuan Arata-kekasih Nona Asha ketika sedang mengepak barang-barang untuk Nona. Menurut cerita dari Tuan Arata, surat itu dibawa oleh Sena-editor pengganti yang pernah bekerja dengan Nona Asha. Dari cerita Tuan Arata, Sena membawa surat-surat itu ketika tidak sengaja melihat kotak surat milik Asha yang penuh.”


            Setelah itu ... Pak Laksamana mengajukan banyak pertanyaan kepadaku. Dari sejak kapan aku mendapat surat ancaman itu dan di mana surat itu biasanya aku temukan. Pertanyaan yang diajukan oleh Pak Laksamana adalah pertanyaan yang benar-benar detail. Bahkan kasus yang menimpaku yang melibatkan Bora pun kembali ditanyakan padaku.


            “Ini, Pak.” Setelah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Pak Laksamana, Pak Raya memberikan sebuah memori kepada Pak Laksamana.


            “Ini apa, Pak?” Pak Laksamana menerima memori itu dengan wajah bingung.

__ADS_1


            “Rekaman dari gedung di mana Nona Asha tinggal. Bapak mungkin bisa menggunakan rekaman ini untuk mencari identitas pelaku.”


__ADS_2