MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
STOK KESIALAN PART 3


__ADS_3

            Harusnya hari ini tubuhku sudah terjatuh di lantai dan aku sudah kehilangan mukaku karena kejadian memalukan yang menimpaku. Nyatanya apa yang aku takutkan itu hanya terjadi di dalam benakku saja dan tidak benar-benar terjadi di dunia nyata.


            Hup. “Aku menangkapmu, author Wallflower.”


            Tubuhku yang harusnya sudah merasakan dinginnya lantai kini berada dalam tangkapan lengan kuat dari Arata. Dengan jarak kami yang sangat dekat, aku bisa merasakan bau harum dari parfum yang digunakannya dan mendengar sesuatu yang mungkin itu adalah denyut jantungnya.


            “Author baik-baik saja?” bisiknya padaku.


            “Ma-maafkan aku.” Sadar dari rasa kejut yang sempat menyerangku, aku langsung menarik tubuhku dan menjauh dari Arata. Namun karena aku masih belum terbiasa dengan sepatu tinggi yang aku kenakan, sekali lagi. . . aku nyaris terjatuh dan membuat Arata harus menangkap lenganku untuk menjaga imageku.


            “Sepertinya Author Wallflower tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja? Perlukah aku menggendong Author untuk naik ke atas panggung?” Arata berbisik padaku secara tiba-tiba dan membuatku harus menatap tajam kepadanya karena ucapannya yang terkesan tidak enak kudengar itu.


            “Tidak perlu, Tuan Arata,” balasku dengan berbisik kepadanya. Segera setelah mengatakan itu, aku menjauh dari Arata dan melepas sepatu tinggi yang membuat hampir jatuh sebanyak dua kali dan nyaris membuatku kehilangan mukaku. Dengan memegang dua sepatu tinggi di tangan kiriku, aku meminta maaf kepada penggemarku dan penggemar Arata. “Maafkan aku, karena aku tidak terbiasa dengan sepatu tinggi, hal ini bisa terjadi. Maaf karena telah merepotkan Tuan Arata dan terima kasih atas perhatian dari Tuan Arata serta perhatian kalian semua.”


            Aku merasa perlu mengatakan hal itu agar di masa depan aku bisa menghindari masalah yang mungkin timbul karena kesalahpahaman persepsi ketika kejadian seperti ini terjadi. Dari riset menulis novel, aku mempelajari banyak hal termasuk kejadian seperti ini dan bagaimana cara mengatasinya.


            “Author kita, Author Wallflower selain cantik, dia juga adalah orang yang bijaksana.” Untuk mengalihkan perhatian para peserta, pembawa acara berusaha untuk membuat keadaan kondusif dengan membuka mulutnya dan memberiku sedikit pujian. “Baiklah mari kita sambut Author Wallflower, satu dari sepuluh Author terkenal dan sukses di negara ini yang karyanya selalu dinanti-nantikan.”


            Wajah terkejut para peserta acara hari termasuk penggemar Arata kemudian berubah menjadi tepuk tangan ketika ucapan pembawa acara berhasil mengalihkan perhatian para peserta. Setelah itu. . . acara berjalan lancar dari sesi mengulas buku-buku novel karyaku, sesi tanya jawab singkat dan terakhir sesi tanda tangan. Acara hari ini menjadi incaran penggemar Arata karena Arata juga membubuhkan tanda tangannya di atas buku novel karyaku di samping tanda tanganku.


            “Terima kasih banyak atas kerja samanya, Tuan Arata.” Begitu acara berakhir dan semua peserta telah pergi. Warda menjabat tangan Arata sebagai akhir dari kerja sama kami ketika kami mengantarkan kepergian Arata di pintu belakang.


            “Saya juga sangat merasa senang bisa ikut acara ini, Nona Warda. Jika acara seperti ini ada lagi dan Nona bersedia untuk mengundang saya lagi, saya pasti akan langsung waktu saya untuk menerima undangan itu, Nona.” Arata membalas dengan cara bicaranya yang manis. Melihat hal itu, aku sudah bisa menebak jika Arata pasti sering melakukan hal itu dalam pekerjaannya.


Dia sudah ahli dalam berbicara. Itulah yang aku pikirkan.

__ADS_1


            “Ah. . . senang sekali mendengarnya, Tuan Arata. Saya tentu akan mengirimkan undangan lagi jika acara seperti ini dilakukan lagi. Sayangnya acara seperti ini tidak akan terlalu sering dilakukan karena. . .” Warda menghentikan ucapannya dan kemudian memberi sedikit lirikan ke arahku seolah sedang membuat isyarat kepada Arata. Setelah melakukan hal itu, Warda kemudian meminta izin kepada Arata untuk memberi bisikan ke telinganya dan hal itu tidak bisa kudengar.


            Setelah mendengar bisikan dari Warda, Arata menatap ke arahku dengan senyuman kecil di bibirnya seolah mengatakan mereka berbisik tentang diriku di depan mataku.


            “Kalau begitu saya tunggu lagi undangan acara berikutnya, Nona Warda dan ingat saya hanya akan menerima undangan itu jika authornya adalah author Wallflower. Karena bagi saya hanya dialah penulis yang saya idolakan, Nona.”


            “Saya mengerti, Tuan.”


            Arata hendak berjalan pergi bersama dengan manajer dan penata riasnya tanpa bicara padaku. Aku kemudian teringat dengan pakaian dan sepatu mahal yang aku gunakan, aku merasa harus mengembalikan pakaian dan sepatu mahal itu. Karena itu. . . dengan menenteng sepatu mahal di tanganku, aku memanggil Arata dan membuat langkahnya terhenti.


            “Tuan Arata.”


            Arata berbalik dan melihat ke arahku. Tidak lama kemudian dia memberi isyarat kepada manajernya dan penata riasnya untuk pergi meninggalkan dirinya. Manajer dan penata riasnya lebih dulu pergi ke dalam mobil mereka, sementara Arata berjalan mendekat ke arahku.


            “Asha. Panggil aku dengan nama Asha saja. Wallflower hanya nama yang aku gunakan ketika menjadi penulis. Karena kau sudah bertemu denganku secara langsung dan aku sudah memutuskan untuk menunjukkan diriku setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri, kau bisa memanggilku dengan namaku saja.”


            “Baik, Asha.”


Senyuman lebar muncul di bibirnya. Kali ini senyuman yang muncul di bibir Arata berbeda dengan senyuman-senyuman yang aku lihat sebelumnya. Jika senyuman sebelumnya selalu menampilkan pesonanya sebagai pria tampan yang diinginkan oleh semua orang maka kali ini senyuman yang aku lihat adalah senyuman bahagia seorang anak kecil dan senyuman ini membuatku merasakan perasaan tidak enak.


“Ahh. . . ini.” Aku mengangkat tanganku yang memegang sepatu tinggi darinya. “Aku harus mengembalikan sepatu ini dan baju ini. Bagaimana caranya aku harus mengembalikan ini padamu? Baju dan sepatu ini terlihat mahal. “


“Tidak perlu, Asha. Aku sengaja membelikan sepatu dan baju itu sebagai hadiah untukmu karena akhirnya aku bisa bertemu dengan idolaku setelah bertahun-tahun lamanya aku berharap bisa bertemu denganku.”


Manajer Arata berjalan ke arah kami dan kali ini membawa sesuatu di tangannya, satu tas besar dan empat buku novel karyaku.

__ADS_1


“Ini yang kau minta, Arata.” Manajer Arata memberikan dua benda yang dibawa olehnya.


“Terima kasih, Kak Rama.”  Setelah menerima dua benda itu, Arata kemudian menyodorkan empat buku novel karyaku ke arahku. “Bisakah aku mendapatkan tanda tanganmu? Bagaimana pun aku adalah penggemarmu.”


“Di sini??”


“Ya.” Arata berbalik dan memberikan punggungnya ke arahku. “Gunakan punggungku jika kau kesulitan untuk membuat tanda tangan.”


“Baiklah.”


Manajer Arata memberikan penanya kepadaku dan membantuku untuk membawa tiga buku lain dari novelku sementara aku membubuhkan tanda tanganku di novel karyaku.


“Tanda tanganmu benar-benar unik, Asha. Seperti namanya Wallflower, kau membuat tanda tangan dengan membuat gambar bunga yang bersembunyi di balik tembok sebelum memberikan namamu di atasnya. Kalau boleh tahu kenapa kau memakai nama itu?”


Manajer Arata mengambil satu buku yang telah kuberi tanda tanganku dan memberi buku lain yang belum kutandatangani sementara aku berbicara dengan Arata yang menjadi alas untuk tempatku memberi tanda tangan.


“Mungkin. . . aku memilih nama itu karena nama  itu menggambarkan diriku yang suka bersembunyi di dalam apartemenku. Aku tidak bisa menulis kalau tidak berada di dalam apartemenku. Mungkin itulah alasan aku memilih nama itu.” Aku telah selesai membubuhkan empat tanda tangan di atas empat buku yang dibawa oleh Arata dan memberikannya kepada manajer Arata. “Aku sudah selesai. Kau bisa berbalik, Arata.”


“Terima kasih untuk tanda tangannya.”  Setelah mengatakan hal itu, Arata menarik salah satu tanganku dan perlahan berlutut di depanku. Arata kemudian meletakkan tanganku yang ditariknya di atas bahuku. “Pegang bahuku agar kau tidak jatuh lagi. Hari ini kau terlalu banyak hendak jatuh??”


“Apa yang hendak kau lakukan, Arata?” Aku panik dan hendak menarik tanganku tapi Arata langsung menarik tanganku dan membuatnya tetap berada di atas bahunya.


“Berpeganglah di bahuku.” Setelah mengatakan hal itu Arata mengeluarkan sepatu dari dalam tas besar yang dibawakan oleh manajer dan memasangnya ke kedua kakiku yang bertelanjang kaki.


 

__ADS_1


__ADS_2