MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KESIALAN DAN KEBERUNTUNGAN DALAM HIDUP PART 4


__ADS_3

            Aku sudah menduganya. Sama seperti sahabatku-Mika ketika sekolah dan teman kerjaku-Lara, Arata juga akan meninggalkanku dalam situasi seperti ini. Manusia selalu melakukan hal itu ketika mereka terdesak. Mereka akan berusaha menyelamatkan diri sendiri ketika mereka terdesak atau terpojok.


            “Author, bisakah kau ke balkonmu? Aku harus melihat wajahmu untuk mengatakan kalimat penting ini.”


            Aku tahu Arata akan meninggalkanku demi popularitasnya. Ini adalah hal yang aku harapkan. Dan ketika itu terjadi. . . aku mungkin tidak akan bisa melihatnya lagi. Jadi dengan pikiran bahwa pertemuan ini mungkin adalah pertemuan terakhir kami, kakiku melangkah menuju ke balkon apartemenku.


            “Aku sudah di balkon seperti permintaanmu. Sekarang apa yang ingin kau katakan padaku, Arata?”


            Aku berdiri di balkon apartemenku dan mendapati Arata berdiri di balkon apartemennya, menghadap ke arahku dengan ponsel yang menempel di telinganya sama seperti yang aku lakukan. Arata tersenyum menatapku sama seperti senyuman terakhir kali yang dia perlihatkan padaku. Hanya saja senyuman itu terasa sedikit berat seolah ada sesuatu yang mengganjal hari Arata.


            “Author! Kenapa tidak memakai jaket yang tebal?? Bagaimana nanti jika Author sakit?”     


            Keningku berkedut mendengar omelan Arata. Salah siapa aku keluar ke balkonku di malam hari yang dingin ini dan tidak sempat mengenakan jaket tebal yang hangat??


            “Jika kau khawatir denganku, cepat katakan apa yang ingin kau katakan!!” keluhku pada Arata sembari berusaha menahan dinginnya angin malam yang berembus. “Semakin cepat kau mengatakannya, semakin cepat pula aku segera masuk ke dalam apartemenku, Arata!”


            “Baiklah kalau begitu. Biarkan aku mengambil nafas dulu, Author.”


Aku mendengar Arata beberapa kali mengambil nafas panjang dan mengembuskannya dengan cepat. Aku tidak tahu apa yang hendak dia katakan, tapi rasanya apa yang ingin dia katakan sepertinya adalah sesuatu yang berat hingga membuatnya harus beberapa kali menarik nafas seperti itu.


            “Sudah??” Aku bertanya ketika tidak lagi mendengar suara embusan nafas Arata dari ponsel kami yang terhubung.


            “Sudah, Author.” Arata tersenyum padaku dan kali ini senyuman yang diperlihatkannya adalah senyuman ringan. Sepertinya sesuatu yang mengganjal di hati Arata telah hilang.


            “Jadi, apa yang ingin kau katakan?”


            “Seperti ucapanku sebelumnya, skandal milik Author bisa berhenti jika ada skandal lain yang muncul dan lebih menarik perhatian. Dua hari lagi. . . aku akan mengadakan konferensi pers untuk mengakhiri semua skandal yang ada tentangmu, Author. Lalu pada konferensi pers itu. . . aku akan membawa semua bukti yang akan membersihkan namamu dan juga. . .”


Arata tiba-tiba menghentikan ucapannya dan membuatku penasaran. “Juga apa?”


            “Nantinya. . . aku membuka rahasia kecilku dan itulah satu-satunya jalan untuk mengakhiri ini semua, Author.”


            Alisku mengerut mendengar kata rahasia keluar dari mulut Arata. “Rahasia apa yang kau maksud, Arata?”

__ADS_1


            Arata menggelengkan kepalanya sembari tersenyum padaku. “Aku tidak bisa mengatakannya sekarang pada Author. Untuk mengetahui hal itu, Author harus menunggu hari konferensi pers.”


            Kerutan alisku semakin dalam mendengar Arata kekeh menjaga rahasia yang akan dibukanya dua hari lagi. “Lalu??”


            “Jika nanti setelah mendengar rahasiaku dan Author merasa terharu ketika mendengarnya, bisakah Author keluar dari sangkar itu dan berlari menghampiriku?”


            Aku memiringkan kepalaku karena tidak mengerti maksud dari ucapan Arata. “Kenapa aku harus melakukannya?? Apa kau akan mengorbankan karirmu, Arata? Jika kau mengorbankan karirmu, lebih baik tidak usah melakukan konferensi pers itu!! Biarkan orang-orang berkata buruk tentangku.”


            Arata tersenyum mendengar ucapanku, senyuman itu seolah mengatakan padaku bahwa dia akan baik-baik saja. “Author tidak perlu khawatir. Aku  tidak akan melakukan hal itu.”


            “Syukurlah.” Aku merasa lega jika Arata tidak membahayakan karirnya hanya demi aku, Author yang menolak untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


            “Ingatlah ini, Author!” Arata memberi penekanan pada ucapannya. “Jika Author merasa terharu mendengar ucapanku nanti, Author harus keluar dari sangkar itu dan menghampiriku.”


            “Katakan padaku kenapa aku harus melakukannya, Arata?”


            “Author,” Arata mengabaikan pertanyaanku dan bersikeras membuatku menunggu hingga dua hari. “Untuk bisa bertemu denganmu, kesialan sebanyak apapun akan aku terima. Aku rela menggunakan semua keberuntunganku di dunia, hanya untuk bisa bertemu denganmu.”


            “Apa maksudnya itu, Arata??”


            Setelah mengabaikan pertanyaanku, Arata memutus panggilannya dan segera masuk ke dalam apartemennya. Arata pergi begitu saja dan meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan dan kebingungan yang memenuhi benakku. Sebenarnya. . . apa maksud dari ucapan Arata dan permintaannya yang aneh itu?


*


            Dua hari kemudian. . .


            Drrrttttt. . . ponselku tidak henti-hentinya bergetar karena panggilan yang telah dilakukan oleh Warda sebanyak sepuluh kali. Aku yang baru saja membersihkan diriku setelah sibuk mengerjakan novel keenamku, akhirnya mengangkat panggilan kesebelas yang dibuat oleh Warda.


            “Hya. . . Asha!!! Ke mana saja kau?? Kenapa tidak menerima panggilanku sejak tadi???”


            Aku menekan tombol speker pada ponselku, sembari mengeringkan rambutku yang basah. “Aku baru saja mandi, Warda. kenapa kau heboh sekali??”


            “Ah benar. . . cepat nyalakan TV mu dan buka saluran  LBS sekarang juga!!!”

__ADS_1


            “Ada apa memangnya??” Aku mengambil remote TV dan mengganti saluran TV menjadi LBS seperti yang diminta oleh Warda.


            “Arata. . . itu Arata,” Aku mendengar nada suara Warda yang sepertinya penuh dengan semangat membara dan menggebu-gebu. “Dia sedang melakukan konferensi pers.”


            Saluran LBS yang muncul di TV ku kemudian membuatku melihat wajah Arata yang sedang melakukan konferensi pers bersama dengan manajernya.


            “Apa kau melihatnya, Asha?” Warda bertanya padaku untuk memastikan.


            “Ya, aku melihatnya.” Aku melihat ke arah judul yang muncul di bagian bawah layar TV ku di mana tertulis konferensi pers Arata tentang hubungannya dengan Author Wallflower. Aku tersenyum mengingat dua hari yang lalu, Arata berpesan bahwa dirinya akan melakukan konferensi pers untuk mengakhiri segalanya. Jam segini rupanya acara yang Arata maksud.


Aku menatap wajah Arata dari TV milikku dan tersenyum melihat apa yang sedang dilakukan Arata saat  ini.  Dia benar-benar melakukannya rupanya dan sepertinya setelah ini. . . aku hanya bisa melihat wajah benalu menyebalkan ini dari dalam layar kaca seperti sebelumnya.


            “Tadi. . . ketika kau sedang mandi, Arata membahas tentang skandal perundungan yang menimpamu, Asha. Arata sudah memanggil beberapa saksi kunci dan bukti-bukti yang menegaskan bahwa kau adalah korban dari kasus perundungan itu dan bukan pelaku yang sebenarnya.”


            Reporter 1: Jadi. . . skandal dan artikel yang mengatakan bahwa Author Wallflower adalah pelaku perundungan di masa sekolahnya adalah salah. Benarkah itu Tuan Arata?


            Arata: Ya, itu benar. Kalian semua sudah mendengar pernyataan saksi-saksi yang saya baru saja. Setelah acara ini berakhir, saya akan mengirim kasus ini ke kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik dan kerugian yang dialami oleh Author Wallflower karena artikel tidak bertanggung jawab itu. Saya akan menuntut pelaku-pelaku itu agar kelak di masa depan hal yang sama tidak terjadi lagi.  


            Reporter 2: Saya dengar Tuan Arata adalah penggemar dari Author Wallflower, sekarang menjadi rekan kerja karena Tuan bermain dalam film yang diadaptasi dari novel milik Author Wallflower dan juga baru-baru ini diketahui Tuan Arata adalah tetangga dari Author Wallflower. Apakah alasan tiga keadaan inilah yang membuat Tuan Arata berada di sini dan membersihkan nama baik Author Walflower yang sedang tercemar?


            Arata: Selama ini. . . kalian semua selalu penasaran dengan kisah cinta saya bukan?


            All reporter: Itu benar.


            Arata: Selama ini saya tidak pernah mengatakan dan menceritakan tentang kisah cinta saya, karena saya tidak pernah tahu nama dari wanita yang saya sukai itu hingga beberapa waktu lalu.


            Reporter 2: Maksud Tuan Arata?


            Glek. Aku menelan ludahku seperti para reporter yang sedang penasaran menunggu jawaban dari Arata. Di luar sana. . . pasti semua  penggemar Arata pun merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Tapi. . . . mendengar jawaban yang diberikan Arata itu, aku bertanya-tanya di dalam benakku: apa hubungan kisah cinta Arata dengan dia yang berusaha menolongku?


            Dan . . . tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk mendapatkan jawabannya.


            Arata: Wanita yang saya sukai itu adalah Asha yang tidak lain kalian kenal dengan nama penanya Author Wallflower.

__ADS_1


            Deg. Jantungku berdetak dengan kencang mendengar ucapan Arata saat sedang melakukan konferensi pers. Apa kau gila, Arata? Bukankah kau bilang kau ingin menyelesaikan skandal ini?? Tapi kenapa kau malah membuat pengakuan menyukaiku??


           


__ADS_2