
“Kau terkejut, Asha??”
Aku mendengar suara Sena dari dalam ponselku dan baru saja mengingat jika panggilan kami masih terhubung. Aku buru-buru menjawab panggilan itu. “Aku lupa jika panggilanku masih terhubung denganmu, Sena.”
“Kukira kau tidak terkejut??” balasnya. Samar-samar aku mendengar suara tawa kecil darinya.
“Bagaimana aku tidak terkejut, ini Arata, si aktor terkenal yang sedang jadi bahan perbincangan di sana sini dan sedang jadi pusat perhatian??” balasku dengan semangat menggebu-gebu karena merasa kesal. “Dan lagi kenapa harus aku yang jadi korban pertama dalam foto itu? Kenapa mereka mengambil fotoku dan foto Arata bersama dengan Bora-lawan mainnya??”
“Mungkin mereka melihat kedekatanmu dengan Arata lebih menarik dari pada kedekatan Arata dengan lawan mainnya. Mungkin juga ada alasan lain, yang jelas jika kau ingin tahu kau harus bertanya sendiri kepada penggemar Arata.”
Aku terkekeh mendengar jawaban enteng dari Sena. “Kenapa rasanya enteng sekali kau mengatakan hal itu, Sena. Padahal situasi ini sepertinya tidak menguntungkanku. Setelah ini, hidupku mungkin tidak akan tenang. Bagaimana dengan kantor penerbit? Bagaimana reaksi mereka??”
“Hahaha. Aku hanya membuatnya dengan mudah saja, Asha. Aku tidak suka dengan hal rumit karena kehidupan ini sudah terlalu rumit. Masalah di penerbit, selama penjualan bukumu laris, tidak akan ada masalah. Tapi. . . jika sampai mempengaruhi penjualan nantinya terlebih lagi pengumuman novel kelima yang akan terbit akan segera keluar, maka mungkin pengumuman itu akan ditunda dan proses cetak akan diundur lebih dulu.”
Jika Warda yang ada di situasi seperti ini, dia pasti akan menginterogasiku dengan puluhan hingga ratusan pertanyaan. Warda akan memintaku mengatakan semua hal dengan jelas demi menjaga namaku sebagai Author Wallflower. Sekarang editorku adalah Sena yang lebih tenang dan lebih bijaksana dari Warda, kurasa. Dia tidak menanyakan banyak hal padaku dan menjaga privasi kehidupanku. Dia hanya berusaha dengan keras dengan caranya sendiri dengan mengambil jalan tengah antara aku dan penerbit. Sepertinya. . . aku harus bersyukur karena Warda justru mengambil cuti di saat seperti ini. Lagi pula. . . semua akar masalah ini dimulai dari Warda yang membuatku keluar dari persembunyianku dan mengungkap identitasku sebagai Author Wallflower yang selama ini dikenal selalu menyembunyikan dirinya.
Setelah beberapa percakapan kecilku dengan Sena, panggilan yang menghubungkan antara aku dan dia kemudian terputus. Tadinya. . . aku ingin segera kembali ke tempat dudukku dan mendiskusikan hal ini dengan Kak Rama sementara Arata sedang melakukan proses syuting. Tapi. . . satu panggilan masuk lagi menghentikan langkahku dan kali ini adalah panggilan dari seseorang yang sempat muncul dalam benakku beberapa menit yang lalu. Baru saja sosoknya muncul dalam benakku dan aku bersyukur karena dia mengambil cuti di saat seperti ini. Tapi. . . kenapa sekarang dia sudah menghubungiku di saat seharusnya dia sibuk mengurus Auriga??? Warda. . . sepertinya akan berumur panjang kelak.
“Asha, kau!!!!!” Teriakan kencang itu langsung terdengar begitu panggilan itu kuterima. Teriakan kencang itu membuatku telingaku sempat berdengung dan aku harus menjauhkan ponselku dari telingaku demi menyelamatkan masa depan telingaku.
“Bi-bisakah kau tidak berteriak, Warda?? Telingaku sakit mendengar teriakanmu.” Aku berbicara masih dengan menjauhkan ponselku dari telingaku.
__ADS_1
“Kau!!! Kenapa di saat aku cuti, kau justru terlibat masalah seperti ini, Asha??? Hastag apa itu?? Kekasih rahasia Arata? Kemesraaan Arata dan kekasihnya??? Arata adalah penggemar paling beruntung di negeri ini karena berhasil menarik perhatian idolanya??? Kenapa bisa ada fotomu bersama Arata yang begitu mesra di instagram dan sudah dibagikan ratusan ribu kali dalam waktu kurang dari satu jam??” Warda berbicara seolah sama sekali tidak bernafas karena tidak ada jeda dalam ucapannya itu. “Bagaimana kau bisa-“
“Tu-tunggu sebentar, Warda!! Aku akan jelaskan!!” Aku memotong ucapan Warda dengan cepat sebelum pertanyaan yang tak terhitung jumlah muncul dan membuat telingaku sakit mendengarnya. “Itu salah paham. Aku dan Arata tidak ada hubungan apapun. Mungkin penggemar Arata yang mengambilnya karena tahu aku adalah idola Arata. Itu saja.”
“Apa???? Kau tidak ada hubungannya dengan Arata??” tegas Warda memastikan.
“Itu benar.”
“Kenapa??? Kenapa tidak ada hubungan???”
Alisku mengerut mendengar pertanyaan aneh dari Warda itu. Bukankah tadi Warda menghubungiku karena marah padaku?? Kenapa sekarang sepertinya, aku mendengar pertanyaan yang tidak sesuai dengan kemarahan Warda padaku??
“Apa maksudnya dengan kenapa??” tanyaku balik tidak mengerti.
“Tunggu sebentar, Warda!!” Aku berusaha untuk menjernihkan situasi yang sedang kuhadapi ini. “Bukankah kau sedang marah padaku karena aku terlibat skandal dengan Arata???”
“Aku? Marah padamu?” Warda berbalik bertanya padaku dengan nada suara terkejut. “Kapan aku melakukannya, Asha?”
“Tadi, baru saja.”
“Siapa yang bilang aku marah?? Aku hanya kesal karena kau tidak memberi tahu apapun padaku dan justru membuatku tahu hubunganmu dengan Arata dari instagram milik penggemar Arata. Sebagai teman dan rekan kerjamu, harusnya aku yang tahu pertama kali jika kau berkencan dengan Arata.”
__ADS_1
Sial! Aku mengumpat di dalam benakku ketika mendengar penjelasan Warda mengenai ekspresi dan perasaannya saat ini ketika melihat foto itu. Kukira dia marah besar padaku.
“Kenapa kau tidak marah, Warda? Sebagai editorku dan rekan kerjaku, harusnya kau marah jika aku terlibat skandal yang mungkin akan merugikan penjualan bukuku di masa depan??” Menghadapi situasi seperti ini, aku kembali mengingat kenangan pahit di masa sekolahku. Di masa itu ada satu orang teman yang awalnya selalu membelaku dan bersedia menemaniku ketika menjadi korban perundungan. Tapi pada akhirnya dia pergi dan menyalahkanku karena dia juga menjadi korban perundungan sama seperti aku.
“Aku adalah editormu, Asha. Aku juga adalah rekan kerjamu, tapi selain dua peran itu aku juga punya peran lain, Asha. Aku juga temanmu. Kau lupa itu, Asha??”
Mendengar ucapan Warda itu, air mataku serasa ingin jatuh. Aku tidak mengira jika diriku yang selalu merepotkan Warda ternyata telah dianggapnya sebagai teman yang berarti baginya.
“A-aku tidak lupa, Warda.”
“Jadi sekarang katakan padaku. . . kenapa kau tidak ada hubungan dengan Arata???”
Baru saja. . . aku merasa terharu dengan ucapan Warda dan sekarang-baru beberapa menit berlalu, aku harus merasa kesal karena ucapannya.
“Karena memang tidak ada apapun yang terjadi antara aku dan Arata. Aku bisa bertemu dengan Arata karena kebetulan kami bekerja sama dan itu hanya sebulan saja. Setelah sebulan berlalu, aku akan kembali ke kehidupan lamaku dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengan Arata-kurasa.” Meski mulutku mengatakan aku mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengn Arata, tapi ada satu kesempatan di mana aku mungkin masih bisa bertemu dengan Arata. Fakta bahwa kami adalah tetangga adalah kesempatan kecil yang membuatku masih bisa bertemu dengan Arata.
“Baiklah jika kau memang tidak ada hubungan dengan Arata. Tapi. . . setelah ini, kehidupanmu mungkin akan menjadi sorotan banyak orang terutama penggemar Arata. Dan mungkin mereka akan menemukan masa lalu kelam milikmu, Asha. Apa kau siap menghadapinya?”
“Entahlah. . aku tidak tahu.”
“Jika hal itu benar-benar terjadi, apa kau akan menolak keluar lagi dari apartemenmu seperti sebelumnya??” Warda bertanya padaku dengan nada khawatir. Sepertinya. . . alasan besarnya menghubungku setelah melihat foto itu adalah menanyakan kalimat ini kepadaku.
__ADS_1
Karena Warda adalah temanku yang tahu bagaimana rahasia kelam milikku di masa lalu, maka aku harus memberikan jawaban jujur kepadanya. “Jika aku tidak sanggup menahannya, aku mungkin akan berdiam diri dan menolak keluar dari apartemenku seperti sebelumnya.”