MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
CUKA YANG SANGAT ASAM PART 1


__ADS_3

            “Cut!”


            Hari berikutnya. . . syuting diadakan di lokasi yang berbeda. Jika beberapa hari sebelumnya, syuting diambil di dalam ruangan, maka kali ini syuting diadakan di luar ruangan. Syuting kali ini memiliki adegan di mana pemeran utama pria sedang bernyanyi di atas panggung pada acara sekolah. Lalu pemeran utama wanita berdiri di antara ratusan orang lainnya yang sedang menyaksikan pertunjukan dari pemeran utama pria.


            Love Like Ectasy adalah novel yang aku buat dengan cerita pria dan wanita yang pernah saling jatuh cinta di masa sekolah. Mereka saling jatuh cinta akan tetapi akhirnya cinta mereka hanya bisa berada di dalam hati saja karena campur tangan orang lain. Ketika dewasa tokoh utama wanita membenci cinta dan beranggapan bahwa cinta adalah ekstasi yang hanya akan membuat dirinya mabuk, hilang kendali, kecanduan dan pada akhirnya hanya merasakan sakit hati saja. Sementara tokoh utama pria menganggap cinta adalah ekstasi paling memabukkan dan paling indah yang ada di dunia. Tokoh utama pria yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya itu terus menunggu dan berharap untuk kembali dengan tokoh utama wanita seperti kecanduan ekstasi.


            Dalam novelnya aku membuat pembacaku melihat bagaimana perjuangan tokoh utama pria yang terus menunggu hingga akhirnya mereka bertemu lagi. Perjuangan tokoh utama pria tidak berhenti di titik itu saja, dia masih harus berjuang karena tokoh utama wanita membenci cinta karena kisah mereka di masa lalu. Dan saat ini adalah adegan di masa keduanya masih bertemu dan akan jatuh cinta satu sama lain.


            “Author,” Arata memanggilku dengan panggilan yang biasa diucapkannya padaku.


            “Apa?”


            Arata duduk lagi di kursi milik asisten sutradara dan herannya sutradara maupun asisten sutradara itu tidak menegur perbuatan Arata itu. Ingin sekali aku meminta Kak Rama membawa kursi milik Arata untuk pindah kemari dari pada membuat asisten sutradara berdiri menunggu ketika tugasnya sudah selesai.


            “Apa alasan Author menulis novel Love Like Ectasy ini?” Setelah duduk di kursi milik asisten sutradara, Kak Rama langsung menghampiri Arata, memberinya sapu tangan yang beda dengan kemarin, minuman dan naskah skenario untuk adegan berikutnya.


            “Kenapa kau penasaran?” tanyaku balik.


            “Hanya ingin tahu saja.” Arata meminum minuman yang dibawakan oleh Kak Rama dan kemudian memberi dua botol minuman ke arahku dan ke arah sutradara yang duduk tidak jauh di depanku. “Ini untuk Author dan ini untuk Sutradara.”


            “Terima kasih, Arata,” jawab Sutradara sembari menerima minuman dari Arata. “Setelah ini. . . bersiaplah untuk adegan turun dari panggung dan hati-hati ketika turun. Mengerti?”


            “Mengerti.” Setelah mendengar arahan dari sutradara, Arata kembali melihat ke arahku yang hanya diam sembari memegang botol minuman pemberian darinya. “Kenapa tidak diminum, Author?”


            “Ah, ya. Aku akan meminumnya, nanti. Aku masih belum haus.” Karena percakapan kami sebelumnya mengenai benalu, aku berusaha keras untuk menghindari tatapan langsung antara aku dan Arata. Aku merasakan firasat buruk, ditambah lagi pikiranku terus berkata padaku untuk berhati-hati di sekitar Arata. Karena Arata adalah aktor, maka terkadang aku mungkin saja salah membaca ekspresi dan nada bicara.  Aku tidak bisa terbawa perasaan hanya karena ucapan yang keluar dari mulutnya ketika dia hanya berniat untuk menggodaku atau sekedar ingin dekat denganku seperti apa yang dilakukan oleh kebanyakan penggemar.


            “Author belum menjawab pertanyaanku. Kenapa tidak menjawabnya?”

__ADS_1


            Aku tersentak dari lamunanku dan langsung menolehkan wajahku untuk melihatnya. “Pertanyaan apa?”


            Begitu menolehkan kepalaku dan menatap langsung ke arah matanya, jari telunjuk Arata rupanya sudah menunggu reaksiku itu dan berada di tepat di arah keningku ketika melihat ke arahnya. Ujung jari telunjuk Arata menyentuh keningku.


            “Akhirnya Author melihat dan menatap mataku langsung.”


            Spontan. . . aku langsung menarik wajahku menjauh dari jari telunjuknya itu dan menyentuh keningku sendiri. “Tanganmu itu, tidak bisakah berada di tempatnya dengan baik dan benar?”


            “Di manakah tempat yang baik dan benar itu?” tanyanya balik padaku.


            Aku memberikan contoh dengan meletakkan kedua tanganku di atas kakiku. “Seperti ini.”


            “Hahahahah. . . baik-baik aku akan menurut.”Arata menarik tangannya dan meletakkan tangannya itu di atas kedua kakinya seperti yang aku lakukan. “Jadi apa jawabannya, Author? Apa alasanmu menulis novel ini?”


            “Jika kau ingin tahu katakan padaku, kenapa dari sekian banyak penulis kau menyukai tulisan dan novel-novelku?”


            “Haruskah aku menjawab itu untuk mendapatkan jawaban pertanyaanku, Author?”


            Aku menganggukkan kepalaku. “Ya, kau harus menjawabnya jika ingin aku menjawab pertanyaanmu itu.”


            “Tapi. . . aku yang lebih dahulu bertanya kepada Author. Bukankah ini tidak adil, Author??" Seperti biasa, Arata memprotes ucapanku ketika tidak terima.


            "Hidup ini juga tidak adil, tapi manusia tetap menyukai dunia dan kehidupan di dalamnya, Arata.” Aku memasukkan minuman pemberian Arata ke dalam tasku dan bangkit dari dudukku.


            “Author mau ke mana? Padahal aku sudah duduk di sini dan menemani Author agar tidak bosan di lokasi syuting.” Sekali lagi. . . Arata mengeluarkan protesnya yang kurasa konyol sekali, karena tak sekalipun aku pernah memintanya untuk duduk di dekatku dan menemaniku yang bosan. Tunggu sebentar. . . .


            Aku yang baru saja bangkit dari dudukku menatap ke arah Arata yang menatapku dengan tatapan mata protes. Jadi. . . alasan benalu menyebalkan ini selalu duduk di kursi milik asisten sutradara ketika dia harus menunggu syuting berikutnya adalah karena melihatku bosan?? Siapa yang akan percaya dengan ucapannya itu. Benalu menyebalkan itu duduk di sana karena ingin menggodaku, bukan menemaniku. Ingatlah, Asha! Di mata benalu menyebalkan itu, kau adalah satu dari permainan yang menyenangkannya. Sejak ucapan Arata yang mengatakan dirinya akan menjadi benalu yang menguntungkanku, aku membuat peringatan kepada diriku sendiri untuk berhati-hati kepada Arata.

__ADS_1


Karena bagaimanapun. . . kita tidak akan bisa tahu apa yang ada di dalam pikiran manusia. Mulutnya mungkin berkata manis, tapi siapa yang tahu jika hatinya justru mengatakan hal busuk. Dari pengalaman masa lalu. . . aku sudah sangat cukup mempelajari hal ini.


            “Tunggu! Author mau ke mana? Tidak bisakah melihat usaha penggemarmu ini yang rela duduk di sini menemanimu??”


            Aku sadar dari lamunan kecilku dan menatap tajam ke arah Arata yang masih terus melemparkan protesnya padaku. “Aku hanya ingin ke toilet, puas??”


            Kenapa untuk ke toilet pun, aku harus kesulitan karena benalu menyebalkan ini???, ucapku di dalam benakku sendiri.


            “Haruskah kutemani,  Author??” Kali ini, aku melihat senyuman di bibir Arata dan aku tahu saat ini dia sedang menggodaku.


            Aku mengabaikan Arata dan berbicara dengan Kak Rama yang sejak tadi diam dan melihat kami berdua. “Kak Rama, apa Kakak membawa lakban?”


            “Tidak, Nona Asha. Apa Nona memerlukannya? Saya bisa memintanya kepada kru, jika Nona membutuhkannya?”


            “Tidak usah, Kak Rama. Lain kali, aku akan membawanya sendiri saja.”


            “Kalau boleh tahu untuk apa Nona membutuhkannya??”


            Aku melirik tajam ke arah Arata sembari menjawab pertanyaan dari Kak Rama. “Aku ingin menutup mulut benalu menyebalkan ini dan membuatnya berhenti mengatakan sesuatu yang tidak perlu, Kak.”


            Setelah mengatakan itu, aku langsung pergi menuju ke toilet untuk membasuh mukaku dan menghilangkan rasa kantuk yang menyerangku. Byur. Aku membasahi wajahku dengan air yang mengalir dari kran sembari melihat wajahku di cermin di depanku.


            “Author bisa menggunakan ini.” Tiba-tiba seseorang menyodorkan sapu tangan ke arahku.


            “Tidak perlu, aku bawa tisu.” Aku mengambil tisu milikku dan melihat wajah dari tangan yang menyodorkan sapu tangan ke arahku itu. Sosok itu adalah Bora, pemeran utama wanita dalam film Love Like Ectasy.


            “Author bisa menggunakan ini dari pada tisu yang mungkin akan menempel di wajah Author. Bukankah sebelumnya Author juga menggunakan sapu tangan milik Arata? Kenapa tidak bisa menggunakan milikku??”

__ADS_1


            Mendengar ucapannya itu, benakku membuatku teringat dengan bagaimana beberapa kali Bora melemparkan tatapan tajamnya ke arahku ketika Arata mendatangiku. Dalam waktu singkat, aku merasakan firasat buruk menjalar ke seluruh tubuhku.


__ADS_2