MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
AUTHORKU TERCINTA PART 3


__ADS_3

Tidak lama kemudian kasus pencemaran nama baik yang berhubungan denganku diusut karena berhasil menarik perhatian banyak pihak: penggemar Arata, penggemarku, dunia literasi dan para Author, dan banyak kalangan lainnya. Kasus yang mungkin kelihatannya sederhana itu menjadi buah bibir selama beberapa bulan hingga akhirnya pihak berwajib menangkap Lisa, reporter penyebar artikel dan Bora sebagai dalang dalam pencemaran nama baikku.


            Dengan tertangkapnya Bora, film yang diadaptasi dari novelku mendapat sedikit masalah karena pemeran utama wanita dalam film itu diperankan oleh Bora. Tapi sekali lagi. . . Arata menunjukkan kekuatan popularitas miliknya. Berkat bantuan dari penggemarnya yang  mungkin jumlahnya lebih dari setengah penduduk negeri ini, pemeran utama wanita dalam film Love Like Ectasy tidak perlu diganti dan Arata tidak perlu melakukan syuting ulang untuk film Love Like Ectasy.


            “Bukankah aku hebat, Author?” Arata membanggakan dirinya di depanku ketika memaksa datang ke apartemenku untuk menceritakan apa yang baru saja dilakukannya.


            Dia hanya menyelamatkan dirinya, kru film dan staf dari film Love Like Ectasy, kenapa rasanya dia membanggakan dirinya sendiri seolah dia baru saja menyelamatkan dunia dari kehancuran?? Aku mendengarkan cerita Arata yang menggebu-gebu itu sembari berulang kali menanyakan kalimat itu di dalam benakku.


            “Ya. . . ya. . . kamu hebat, Arata. Kamu dan popularitasmu itu sangat hebat.” Pada akhirnya mulutku ini harus memberi pujian kepada Arata jika ingin Arata berhenti membanggakan dirinya berulang kali di depanku.


            “Nah. . . karena aku sangat hebat dan berhasil menyelamatkan banyak orang,” tambah Arata.


            Benar bukan, dia membanggakan dirinya seolah baru saja menyelamatkan nyawa banyak orang dari kehancuran dunia. Benalu menyebalkan ini benar-benar. . . Aku terus menggerutu di dalam benakku mendengar ucapan Arata itu.


            “. . . beri aku hadiah, Author!”


            Alisku mengerut mendengar kata ‘hadiah’ keluar dari mulut Arata. “Hadiah apa?? Kamu baru saja menyelamatkan dirimu sendiri dari syuting ulang yang kebetulan juga menyelamatkan orang lain, kenapa kamu meminta hadiah padaku ketika aku tidak mendapat apa-apa?”


            “Bukankah aku melakukan ini demi Author?” balas Arata dengan cepat. Arata membuka kedua tangannya dengan lebar dan aku tahu dengan baik hadiah apa yang diinginkan oleh Arata di dalam benaknya. “Cukup beri aku satu pelukan saja, Author. Hadiah itu sudah cukup mewah bagiku.”


            Arata tersenyum padaku masih dengan kedua tangannya yang terbuka lebar. Aku terdiam dan bersikap seolah sedang mengabaikannya selama beberapa menit dengan harapan Arata akan menurunkan kedua tangannya dan mengurungkan niatnya untuk meminta hadiah itu padaku.  Tapi ketika aku menolehkan kepalaku menatapnya lagi, kedua tangan Arata masih terbuka dan senyuman itu masih ada di bibirnya. Arata masih menungguku berlari memeluknya.


            “Ayolah. . . Author tercintaku. Beri kekasihmu yang tampan ini sebuah pelukan yang hangat! Beri benalu yang menyebalkan ini makanan dan sumber energi untuk bertahan hidup!”


            Sial! Benalu menyebalkan ini telah belajar bagaimana caranya merengek dengan baik. Lihat wajahnya itu sekarang, matanya, senyumnya dan raut wajahnya benar-benar memelas layaknya anak kecil yang polos. Jika penggemarnya yang melihat ini mereka pasti akan langsung berlari memberi Arata pelukan dan sialnya. . . aku jadi ikut-ikutan seperti penggemar Arata.

__ADS_1


            “Huh, dasar!!!” Aku berjalan perlahan menuju ke arah kedua tangan Arata yang terbuka lebar dan bersiap untuk menerima tubuhku dalam pelukannya. Tapi. . .


            Ting tong. . . bel apartemenku berbunyi di saat aku hendak tiba di dalam pelukan Arata, Aku langsung membelokkan tubuhku menuju ke arah pintu apartemen dan membuat Arata yang sudah sangat berharap kecewa dalam hitungan detik.


            “Ahhhh,  siapa orang yang datang sekarang dan mengganggu Authorku tercinta yang hendak memberikanku pelukan hangat???”


            Dari arah belakang aku mendengar omelan Arata yang gagal mendapatkan hadiahnya setelah memasang wajah memelas dan berusaha merayuku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar omelan itu dan menikmati sedikit rasa kesal di wajah Arata saat ini.


            Ting tong. . .


            Bel apartemenku berbunyi lagi dan membuatku langsung membuka pintu itu tanpa melihat siapa pengunjung yang datang hari ini melalui lubang di pintu.


            “Selamat sore, Author Wallflower.”


            Sapaan itu terdengar dari suara yang serak dan dalam yang cukup membuatku terkejut ketika mendengarnya. Aku menatap sosok tamuku itu dari atas kepala hingga ke kakinya karena merasa asing dengan sosoknya. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam dengan aksesoris topi hitam bulat di kepalanya dan kacamata hitam di wajahnya.


            “Apakah Arata ada di dalam?? Sejak tadi aku menekan bel sebelah tidak mendapatkan jawaban dan kurasa Arata sekarang ada di apartemen Author.”


            Aku memiringkan kepalaku karena sosok tamuku kali ini mengenal Arata dan tahu bahwa Arata ada di dalam apartemenku. Mungkin dia kenalan Arata, itulah yang aku pikirkan mengingat sosok tamuku itu tahu Arata ada di dalam apartemenku. Jadi. . . karena tidak ingin membiarkan orang yang bukan tamuku masuk ke dalam apartemenku, aku memanggil Arata sebagai gantinya.


            “Tunggu sebentar, Tuan. Aku akan memanggilnya untukmu.” Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan berteriak. “Hei, Arata! Ada seseorang yang mencarimu!”


            “Siapa, Author?”


            “Maaf dan permisi, Author Wallflower!”

__ADS_1


            Sosok itu melewatiku begitu setelah mengatakan tiga kata itu dan kemudian menerobos masuk ke dalam apartemenku begitu saja.


            “Hei anak nakal!!!”


            Aku mendengar teriakan suara yang kencang dari suara serak dan dalam itu ketika sosok tamuku itu masuk ke dalam apartemenku dan menemukan Arata di dalamnya. Aku langsung berlari masuk ke dalam apartemenku dan menemukan sosok tamuku itu sedang bermain kejar-kejaran dengan Arata di dalam apartemenku. Melihat hal itu, sontak aku berpikir jika apartemenku sudah berubah menjadi landasan balapan untuk dua orang pria itu.


            “Guru!!! Berhenti mengejarku!!! Kenapa kau selalu begini setiap kali bertemu denganku???”


            “Kauuu!!! Sudah kuduga kau akan membuat masalah!!! Aku membuatmu jadi muridku dan berharap bisa terkenal seperti aku, tapi kenapa kau juga ikut-ikutan membuat sensasi seperti aku??? Bahkan membuat Rama bekerja dengan keras untuk mengatasi masalah yang kau buat!!!”


            Arata dan sosok itu terus berlari di dalam apartemenku seolah lupa jika ini adalah apartemenku dan aku melihat mereka berlari.


            “Bukankah itu alasan guru memberi Kak Rama sebagai manajerku??? Guru tahu aku akan membuat masalah sepertimu!!!”


            “Ya, aku tahu kau akan membuat masalah, Arata!!! Tapi aku tidak menduga jika masalah yang kau buat akan seheboh ini!!! Kau nyaris saja membuat film itu gagal release!!! Kenapa kau tidak menunggu hingga film itu release lebih dulu baru membuka kedok Bora, huh??”


            “Stop!!!!” Aku berteriak dengan sangat kencang dan berhasil menghentikan dua orang pria di depanku itu bermain kejar-kejaran.


            “Maaf, Author,” ucap Arata dengan napas tersengal-sengal.


            Sosok tamuku itu memandangku dan aku melihat jika dirinya masih bernafas dengan baik bahkan setelah berputar-putar selama beberapa menit. Sosok itu membuka topi dan kacamata hitam yang berada di atas kepala dan wajahnya, dan membuatku melihat bagaimana rupanya yang sebenarnya.


            “Maaf atas ketidaksopananku, Author Wallflower. Perkenalkan aku Rangga-aktor yang terkenal selalu membuat masalah, skandal dan sensasi.”


            “Maaf, Author!! Guruku selalu seperti ini ketika kami bertemu,” tambah Arata.

__ADS_1


            Aku menatap dua orang pria di hadapanku itu dengan tatapan tidak percaya. Ah. . . hidupku ini. . . Belum cukup aku mengatasi satu aktor yang seenaknya sendiri dan sekarang aktor lain yang terkenal membuat masalah datang dalam hidupku lagi. Aku mengeluh di dalam hatiku memandang dua pria yang datang ke dalam hidupku.


 


__ADS_2