MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
SKENARIO DAN DRAMA KEHIDUPAN PART 2


__ADS_3

Narator’s POV


            “Sial!!!” Bora melemparkan ponsel miliknya ketika melihat artikel mengenai Author Wallflower yang mendukung dirinya.


            “Ada apa, Bora?” Ulfa yang terkejut mendengar suara bantingan ponsel milik Bora dan umpatan Bora langsung menghampiri Bora. “Apa kau lelah? Haruskah aku memijat tubuhmu??”


            Bora menggelengkan kepalanya  berniat untuk mengusir Ulfa, tapi.  . kedua kakinya memang terasa sangat lelah karena syuting hari ini. Waktu Bora untuk berinteraksi dengan Arata semakin singkat saja karena syuting sebentar lagi akan berakhir dan hanya beberapa event saja Bora bisa bertemu dengan Arata lagi. Setelah ini Bora yakin akan sulit untuk menemui Arata atau bekerja sama dengannya lagi seperti saat ini.


            “Kau bisa memijat kedua kakiku, Ulfa?? Hari ini. . . aku benar-benar lelah karena harus berdiri dalam waktu yang lama.”


            Ulfa mendekat ke arah Bora dan memijat dua kaki Bora dengan hati-hati. “Aku sudah menduganya. Hari ini entah kenap Arata berulang kali membuat kesalahan dan membuatmu harus mengulang adegan yang sama hingga belasan kali.”


            “Ya. . .” ucap Bora memejamkan matanya sembari memikirkan rencana lain untuk menjatuhkan nama baik Author Wallflower.


            “Apa mungkin karena idola Arata sedang diterpa masalah hingga dia tidak bisa fokus bekerja dengan baik?” celetuk Ulfa sembari terus memijat kedua kaki Bora di sofa apartemen Bora.


            Bora membuka matanya dan melirik ke arah Ulfa. “Bagaimana pendapatmu tentang Author Wallflower itu, Ulfa?”            


            “Beberapa kali melihatnya di lokasi syuting, aku rasa dia bukanlah tipe orang yang akan merundung orang lain. Bahkan menatap mata orang lain secara langsung saja, dia berpikir dua kali untuk melakukannya. Aku rasa. . . artikel pertama yang mengatakan bahwa di masa lalu dia pernah merundung teman sekolahnya adalah salah. . .”


            Jawaban Ulfa itu jelas membuat Bora semakin kesal saja ketika mendengarnya. “Kau tidak akan pernah tahu bagaimana seseorang hanya karena melihatnya beberapa kali, Ulfa!!!”


            “Yah. . . itu memang benar juga.” Ulfa melirik sekali ke arah Bora, sebelum kembali memijat kedua kaki Bora.


            Bora memejamkan matanya lagi dan kali ini berusaha untuk memikirkan rencana lain untuk membuat Author Wallflower menjauh dari Arata miliknya. Aku masih punya materi lain untuk menjatuhkan penulis tidak tahu diri itu. Kita lihat. . . setelah artikel ketiga keluar, apa yang akan terjadi selanjutnya?


            Bora tersenyum membayangkan wajah hancur dari Author Wallflower dan kemenangannya mendapatkan hati Arata.


*

__ADS_1


            Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh Sena untuk bisa datang kemari, tapi sepertinya dia berhasil menyelinap ke gedung apartemenku tanpa tertangkap oleh satu pun reporter di depan gedung apartemenku.


            “Ba-bagaimana kau bisa datang kemari??” Aku bertanya pada Sena ketika membuka pintu apartemen dan melihat dirinya.


            “Kukira kau mengunci dirimu dan tidak akan mau menemuiku atau Kak Warda lagi karena isu itu. . .” Sena tersenyum kecil mendengar pertanyaanku.


            “Khusus kalian berdua. . . aku akan membukakan pintu dan membiarkan kalian masuk.” Setelah memastikan Sena masuk ke dalam apartemenku, aku langsung menutup pintu apartemenku.


            “Ah. . . senang mendengarnya, Asha.” Sena meletakkan tas yang dibawanya di atas meja makanku. “Ini makanan dari Kak Warda dan ini. . .”


            Aku menatap kumpulan amplop hitam yang dibawa Sena dengan wajah sedikit terkejut. Aku tahu dengan baik apa isi amplop hitam itu. Tadinya. . . sejak isu miring tentangku muncul, amplop itu akan berhenti datang karena aku sudah tidak lagi dekat dengan Arata.


            “Kau membawa semua surat di kotak suratku?” Aku berusaha menyembunyikan semua ekspresi terkejut dari Sena dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja, termasuk surat ancaman yang datang dari penggemar Arata itu.


            “Ya. . .” Sena melihatku dengan sedikit ekspresi bingung di wajahnya. Kurasa dia sedikit menangkap ekspresi terkejutku. “Apa aku melakukan sesuatu yang tidak perlu?”


            “Tidak. Aku sangat berterima kasih untuk ini.”  Aku langsung mengambil semua amplop hitam di tangan Sena. “Kurasa ini adalah surat-surat dari penggemarku untukku. Karena tidak ingin keluar dari apartemenku, aku jadi tidak bisa mengambil surat-surat ini. Sekali lagi terima kasih, Sena.”


            Aku mengecek semua kotak makanan yang dibawakan oleh Sena dan menemukan banyak menu baru di sana. Kurasa. . . Warda sangat mengkhawatirkan aku hingga meminta ibunya untuk memasakkan menu baru untukku agar aku merasa lebih baik. Setelah melihat makanan yang sedikit mengunggah selera itu, aku menatap ke arah Sena dengan senyuman kecilku. “Kau sudah makan, Sena??”


            Sena menggelengkan kepalanya. “Belum.”


            “Kalau begitu pas sekali, mau makan bersamaku di sini?”


            “Tentu, kehormatan bagiku bisa makan bersamamu di sini, Asha.”


            “Kau terlalu berlebihan, Sena.”


            Aku kemudian mengambil dua piring, dua sendok dan garpu dan dua gelas untuk aku dan Sena makan bersama. Sementara aku menyiapkan dua set peralatan makan, Sena membuka setiap kotak makanan dari Warda dan meletakkannya di tengah meja makan agar kami bisa memakannya bersama.

__ADS_1


            Ini adalah makan pertamaku bersama dengan Sena setelah beberapa bulan ini dia selalu mengunjungiku di apartemenku hanya untuk masalah pekerjaanku dengannya. Dan rupanya. . . makan bersama Sena tidaklah buruk. Sena orang yang menyenangkan rupanya. Meski awalnya dia terlihat seperti orang yang sangat sopan, Sena ternyata juga pandai membuat lelucon kecil yang cukup lucu.


            “Untuk buku kelimamu, mungkin akan diterbitkan sedikit lebih lama dari jadwal yang ada, Asha. Para petinggi menilai isu miring yang sedang menerpamu saat ini mungkin akan membawa masalah dalam penjualan novelmu ini.” Sena membuka mulutnya dan mulai bicara sedikit serius ketika makanan yang kami santap telah habis, sembari mencuci semua piring kotor yang ada di wastafel dapurku sebagai bayaran untuk makanan yang diterimanya dariku.


            “Aku tahu itu, Sena. Aku sudah menduganya dan lagi masalah itu hanya diundur saja. Aku tidak akan kehabisan uang hanya karena penjualan novelku ditunda.” Aku membuka kulkasku dan mengambil beberapa buah di sana. Aku menawari Sena yang mungkin ingin makan buah sebagai pencuci mulut. “Kau ingin makan buah apa, Sena?”


            “Sesuatu yang asam, apakah ada?” Sena bertanya sembari terus mencuci piring dan gelas kotor di wastafel dapurku.


            “Stroberi atau jeruk, mana yang kamu mau, Sena?”


            “Stroberi.”


            Setelah selesai mencuci semua piring dan gelas kotor, Sena dan aku duduk di depan jendela di depan balkon apartemenku sembari memakan buah-buahan untuk mencuci mulut kami.


            “Novelmu selanjutnya, apakah sudah ada plot yang muncul di benakmu?” Sena bertanya lagi setelah memakan beberapa buah stroberi.


            “Ada beberapa. Tapi aku masih belum yakin plot mana yang akan aku pilih.” Aku mengambil satu buah stroberi, memasukkannya ke dalam mulutku, mengunyahnya dan kemudian menelannya. “Bagaimana penjualan novel akhir-akhir ini? Genre apa yang sedang laris di kalangan pembaca?”


            Sena menelan stroberinya sebelum menjawab pertanyaanku. “Ehm, tetap romance yang paling laris. Tapi beberapa cerita fantasi juga sedang laris. Apa kau akan menulis cerita fantasi lagi seperti novelmu yang keempat?”


            Tiba-tiba aku melihat kedua mata Sena yang berbinar seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkannya.


            “Ehm. . . aku punya satu plot fantasi. Mengambil  latar setting yang sama dengan novel keempatku, hanya saja waktunya berbeda.”


            “Itu menarik. . . menarik sekali. Akan sangat menyenangkan bisa menjadi editor untuk novel keenam itu. Tapi sayang sekali. . . ketika hal itu terjadi, mungkin aku tidak akan menjadi editormu lagi, Asha.”


            Aku ingat bulan depan, Warda harusnya sudah kembali bekerja dan kembali sebagai editorku seperti sebelumnya. Jika hal itu terjadi, bagaimana dengan nasib Sena? Aku bertanya-tanya tentang hal itu, mengingat dia adalah editor yang cukup baik meski sedikit lebih kejam dari Warda.


            “Kenapa kau menjadi penulis?”

__ADS_1


Aku terkejut mendengar Sena tiba-tiba bertanya tentang hal itu. Tiba-tiba saja, aku teringat  aku pernah mengatakan hal ini kepada seseorang di masa lalu.


           


__ADS_2